ANMELDEN"Mas Harsa?" Harsa menggeleng, dan Kamila langsung paham. Dia tidak boleh bertindak anarkis karena semua orang merekam mereka. Akhirnya, dia mundur dan memeluk suaminya yang tengah menggendong Fiona. "Serahkan saja urusan ini ke polisi. Sebentar lagi mereka ke sini.""Kok mereka cepet datangnya, Mas?"Harsa tidak menjawab. Kamila mendongak dan mendapati suaminya mengangguk kecil sambil melihat seseorang. Dia mengikuti arah pandangan Harsa, dan orang itu adalah Rendra. Beberapa saat kemudian, dua orang polisi datang. Mereka langsung mengamankan Dewi beserta pisau sebagai barang bukti. "Semoga kamu mati setelah ini! Dasar jalang!" teriak Dewi ketika melewati Kamila. Polisi yang membawa Dewi langsung menyeret wanita itu dengan paksa karena ada indikasi akan menyerang Kamila lagi. "Aku harap kamu menderita selamanya! Dasar l*nte!" Kamila menatap kepergian Dewi dengan hati yang nyeri. Orang yang dia anggap sebagai sahabatnya selama ini, ternyata menginginkannya mati. Kedua matanya l
"Ma, papa nggak dibangunin?" Kamila yang sejak tadi sibuk melihat-lihat ponsel Harsa, menoleh. "Papa masih mengantuk, Fio. Tadi malam tidurnya telat. Biarin aja. Nanti takutnya masih ngantuk saat dalam perjalanan." Setelah menunaikan sholat Subuh, Harsa memang tidur lagi karena masih mengantuk. Kemarin malam, mereka tidur jam 2 setelah kembali mengobrol ngalor-ngidul."Kalau begitu sarapannya di sini aja. Jangan di resto." Kening Kamila berkerut. Tidak biasanya Fiona lebih suka di dalam kamar daripada di luar. Padahal, anak itu sejak kemarin terus mengoceh ingin menikmati indahnya pantai di pagi hari."Nggak jadi lihat pantai? Mumpung matahari belum terbit. Nanti biar bisa melihat sunrise" Fiona terlihat berpikir. Kamila kembali melanjutkan kegiatannya melihat-lihat ponsel Harsa. Ada pesan dari Erik mengenai video kejadian kemarin yang viral di medsos. Beruntung wajah Kamila tidak kelihatan karena Harsa menghalanginya.[Suruh Rendra memecat karyawan itu. Setelah itu dia harus meng
Teriakan Dewi begitu keras, sampai-sampai Rendra dengan cepat melihat ke sekitarnya untuk memastikan bahwa tidak ada orang di sana. "Ngapain kamu ke sini? Sudah kubilang, kembali ke kamarmu dan renungi kesalahanmu. Besok, kamu kuantar pulang," kata Rendra dengan kening berkerut, merasa tidak suka. "Kenapa? Biar kamu bisa bebas mengejar si jalang itu?" "Dewi! Jaga mulut kamu!" Tangan kanan Rendra terangkat hendak menampar Dewi, tapi dia tahan. Rahangnya mengeras. "Memang dia jalang kok. Dulu waktu masih sama Putra aja, dia udah selingkuh sama kakak iparnya. Dan sekarang? Malah beneran ninggalin suaminya demi menikah sama kakak iparnya. Apa lagi sebutannya kalau bukan jalang?" PLAK! Baik Dewi maupun Novita terlihat syok. Bedanya, Novita syok karena melihat perempuan tak jelas yang tiba-tiba berkata kasar pada Rendra. Selama mengenal pria itu, Rendra tidak pernah kasar pada perempuan. Pasti perempuan itu sudah keterlaluan. "Kamila jauh lebih baik darimu. Dia menikahi kakak iparnya
"Memiliki anak itu bukanlah sebuah perlombaan. Bukan sebagai tanda bahwa pernikahan itu bahagia. Tidak sesederhana itu. Banyak yang lupa atau bahkan tidak tahu bahwa anak adalah titipan dari Allah yang harus kita jaga sebaik mungkin. Kelak, kita akan dimintai pertanggungjawaban mengenai anak kita, terutama aku sebagai ayah." Harsa masih ingat betul nasehat dari kakeknya. Setakut itu dengan pertanggungjawaban di akhirat kelak, sampai-sampai beliau hanya memiliki dua anak saja. Tidak seperti kebanyakan orang-orang jaman dulu yang berlomba-lomba untuk memperbanyak anak. "Kita nggak bisa hanya melihat anak sebagai investasi di akhirat kelak. Sebelum menyuruh anak untuk mendoakan kita, tentu kita harus mendidiknya dengan benar dan memberinya kasih sayang terlebih dulu. Dan di tahap itu, kebanyakan laki-laki gagal karena lalai. Karena tergoda oleh wanita lain atau tidak mau menafkahi. Mereka melimpahkan kewajiban itu pada istrinya. Padahal, itu adalah kewajiban dari ayah."Selama hidupnya
Kamila masih ingat betul wanita yang saat ini tengah memeluknya dengan tubuh gemetaran dan berlinang air mata. Wanita yang dulu memberi Kamila tisu ketika menangis di Prince Swalayan karena perkataan Bu Karlina. "Mbak, tolong bawa aku pergi dari dia," pinta wanita yang bahkan tidak dia tahu namanya itu dengan suara gemetar. "Kamu siapa? Jangan ikut campur urusan rumah tangga saya!" bentak suami wanita itu. Pria itu menarik tangan istrinya, tapi Kamila langsung menahan. "Jangan memaksa perempuan. Kalau dia nggak mau ya nggak mau," ucap Kamila sambil menarik wanita dalam pelukannya itu. Tidak Kamila sangka, pria itu malah menarik istrinya secara paksa dan mendorong Kamila hingga tubuhnya sempoyongan. "Hei! Jangan kasar pada perempuan!" bentak Harsa. Untung suaminya dengan sigap menahan tubuhnya yang hampir terjatuh karena kakinya tersandung. Dia syok bukan main. Pria yang dulu ikut melindunginya dari sorotan kamera publik, kini berbuat kasar pada istrinya sendiri. "Mas! Gara-gar
Meskipun mereka sudah puluhan kali berhubungan intim, tapi tetap saja Harsa merasa berdebar seperti remaja yang sedang kasmaran ketika Kamila mencium bibirnya dengan lembut. Ah, hatinya terasa berbunga-bunga. Memiliki wanita yang selama ini dia idamkan, membuatnya begitu bahagia. Dia mencium puncak kepala istrinya yang kini sedang memeluknya dengan erat. "Aku cemburu. Aku nggak suka Rendra terus menatap kamu dengan penuh cinta begitu. Aku nggak rela," ulangnya, merasa senang karena Kamila sepertinya bahagia mendengar kata-kata itu. Sejak melihat kehadiran Rendra di restoran, Harsa langsung merasa terganggu. Dia merasakan panas di hati dan amarah yang baru kali ini begitu membakar. Apalagi sorot mata Rendra terlihat begitu jelas, meskipun pria itu datang bersama Dewi. Harsa tahu Rendra selama ini memendam rasa cinta pada istrinya sejak lama. Dia masih ingat bagaimana pria itu terus memuji Kamila dan terlihat begitu bersemangat ketika membahas tentang wanita itu, ketika dia bertanya
Suara pintu dibuka dengan kasar membuat Harsa terbangun. "Mas Harsa! Kamu terluka?"Kening Harsa berkerut. Kenapa Kamila bisa berada di sini? Bukankah wanita itu berada di rumahnya yang ada di kota? Sepertinya, dia mulai gila karena cinta terlarang yang tak kunjung padam."Ya Allah, kenapa dia mal
Putra mengerem mobilnya secara mendadak di depan pintu pagar yang terbuka. Rebecca yang mondar-mandir di teras, langsung mendekati pria itu."Kamu kemana aja sih, Mas? Kenapa aku ditinggal?" protes Rebecca sambil berlari ke arahnya."Masuk!""Tapi...""MASUK! JANGAN BANYAK OMONG!"Rebecca malah kem
"BU! BUKA PINTUNYA!"Suara teriakan dan gedoran di pintu depan membuat Harsa yang sempat ketiduran di ruang tamu, langsung terbangun. Sengaja dia mematikan lampu agar bisa mengintip tamu tak diundang yang sudah dia duga akan datang ke sini."BUKA!"Terdengar suara langkah tergesa-gesa dari belakang
Pukul 11 malam, Kamila tidak bisa tidur. Dia melirik Fiona yang baru bisa tertidur pulas setelah sebelumnya terus rewel dan mencari-cari Harsa. Bahkan Toni pun tidak bisa menenangkan gadis kecil itu.Dia memutuskan untuk keluar dari kamar. Pandangannya menyapu rumah mewah yang terletak di kota. Mes







