LOGINKamila masih ingat betul wanita yang saat ini tengah memeluknya dengan tubuh gemetaran dan berlinang air mata. Wanita yang dulu memberi Kamila tisu ketika menangis di Prince Swalayan karena perkataan Bu Karlina. "Mbak, tolong bawa aku pergi dari dia," pinta wanita yang bahkan tidak dia tahu namanya itu dengan suara gemetar. "Kamu siapa? Jangan ikut campur urusan rumah tangga saya!" bentak suami wanita itu. Pria itu menarik tangan istrinya, tapi Kamila langsung menahan. "Jangan memaksa perempuan. Kalau dia nggak mau ya nggak mau," ucap Kamila sambil menarik wanita dalam pelukannya itu. Tidak Kamila sangka, pria itu malah menarik istrinya secara paksa dan mendorong Kamila hingga tubuhnya sempoyongan. "Hei! Jangan kasar pada perempuan!" bentak Harsa. Untung suaminya dengan sigap menahan tubuhnya yang hampir terjatuh karena kakinya tersandung. Dia syok bukan main. Pria yang dulu ikut melindunginya dari sorotan kamera publik, kini berbuat kasar pada istrinya sendiri. "Mas! Gara-gar
Meskipun mereka sudah puluhan kali berhubungan intim, tapi tetap saja Harsa merasa berdebar seperti remaja yang sedang kasmaran ketika Kamila mencium bibirnya dengan lembut. Ah, hatinya terasa berbunga-bunga. Memiliki wanita yang selama ini dia idamkan, membuatnya begitu bahagia. Dia mencium puncak kepala istrinya yang kini sedang memeluknya dengan erat. "Aku cemburu. Aku nggak suka Rendra terus menatap kamu dengan penuh cinta begitu. Aku nggak rela," ulangnya, merasa senang karena Kamila sepertinya bahagia mendengar kata-kata itu. Sejak melihat kehadiran Rendra di restoran, Harsa langsung merasa terganggu. Dia merasakan panas di hati dan amarah yang baru kali ini begitu membakar. Apalagi sorot mata Rendra terlihat begitu jelas, meskipun pria itu datang bersama Dewi. Harsa tahu Rendra selama ini memendam rasa cinta pada istrinya sejak lama. Dia masih ingat bagaimana pria itu terus memuji Kamila dan terlihat begitu bersemangat ketika membahas tentang wanita itu, ketika dia bertanya
Rendra menggertakkan rahangnya dengan tangan terkepal erat. Dia menatap kamar yang dia sewa dengan dua ranjang di sana. Entah apa yang dipikirkannya ketika menerima permintaan Intan alias Dewi untuk ikut ke Malang, padahal dia berniat untuk pulang kampung mumpung pabrik libur 3 hari karena tanggal merah dan cuti bersama di akhir pekan. "Kenapa susah sekali mencari wanita yang bener seperti Kamila?" gumamnya sebelum menghisap rokoknya yang hanya tinggal sedikit, lalu membuangnya ke lantai yang diplester semen dan menginjaknya. Dia memilih untuk berbalik menjauhi kamar itu. Tidak berminat untuk mengkonfrontasi Dewi. Toh, mereka belum memiliki hubungan apa-apa. Hanya sekedar dekat, meskipun Rendra mulai mempertimbangkan untuk serius dengan Dewi. Tidak! Siapa yang dia bohongi? Dia masih mencintai Kamila dan berharap ada keajaiban. Dia pernah mendengar bahwa presiden komisaris Unilion pusat akhirnya menikah, tapi dia tidak menyangka bahwa yang dinikahi adalah Kamila. Sekarang, dia menye
"Mas, nanti kamu nggak bisa membeli kebutuhan kamu. Kalau kamu butuh makan di luar gimana? Kalau ada apa-apa di jalan gimana? Aku nggak terbiasa memegang uang sebanyak ini." Harsa tersenyum mengingat reaksi istrinya yang langsung panik ketika dia menyerahkan semua kartunya. Tidak seperti bayangannya. Dia pikir, Kamila akan langsung bahagia dan berteriak kegirangan karena akhirnya bisa menguasai semua hartanya. Tapi, wanita itu malah memberinya uang cash 500 ribu sebagai pegangan. "Kamu nggak takut aku macam-macam jika aku memegang uang?" Harsa tahu, wanita akan trauma setelah diselingkuhi. Setidaknya itu yang dibilang oleh ibunya. Mereka akan berubah menjadi posesif dan melakukan segala cara agar pasangan barunya tidak memegang uang, karena takut akan selingkuh juga. "Kalau kamu mau macam-macam, pastilah sebelum menikah sama aku sudah sering melakukannya karena masih bebas. Seandainya kamu memiliki niat untuk memilih jalan seperti yang dipilih oleh Putra, silahkan. Toh, kamu send
"Kamila! Lama banget kita nggak ketemu..." Rendra hampir saja memeluk Kamila seperti kebiasaannya ketika kuliah dulu, ketika seseorang menahannya. Baik Kamila maupun Rendra menoleh. Harsa menahan lengan Rendra dengan wajah datar. "Dia istriku. Jangan sembarangan memeluk." Rendra kaget dan langsung menarik kedua tangannya. "Eh? Pak Harsa? Bukannya suami Kamila itu..." Harsa melingkarkan lengannya di pundak Kamila dengan posesif. "Dia istri saya sekarang. Kenapa kamu sembarangan mau memeluk perempuan di tempat umum? Apa kamu terbiasa dengan gaya hidup bebas?" Nada bicara Harsa terdengar dingin, dan Rendra langsung mengusap tengkuknya tanpa sadar. Kamila sendiri meringis mendengar suaminya ternyata bisa sedingin ini. Padahal, biasanya lelaki itu suka bermanja-manja padanya."Eh, ma-maaf Pak. Saya terbiasa memeluk Kamila waktu kuliah dulu karena dia sahabat saya..." "APA?" "Sayang, dia cuma bercanda," jawab Kamila buru-buru sambil mengelus-elus tangan suaminya yang berada di pundak
Sejak insiden Delina tiba-tiba dengan lancang masuk ke toko bangunan, Harsa akhirnya pulang setiap jam 11 pagi sampai jam 1 siang. Dia akan makan siang di rumah bersama istri dan anaknya, dan itu membuat Fiona bahagia bukan main. Harsa juga meliburkan tokonya di hari Minggu untuk menikmati waktu bersama keluarganya. Entah itu dengan berjalan-jalan di tempat-tempat wisata dalam kota, atau sesekali keluar kota. Keputusan itu didukung penuh oleh Bu Aminah. Rumah tangga akan semakin harmonis dengan menghabiskan waktu bersama setiap minggu, atau meluangkan waktu selama satu atau dua jam setiap harinya untuk sekedar bercerita. "Terima kasih ya, Dek." "Hmm?" Kamila mengangkat kepalanya dari bahu sang suami untuk melihat wajah pria itu. Sinar matahari tenggelam yang menyoroti wajah Harsa, menambah indah suasana senja di pinggir pantai. Mereka memang sengaja pergi ke pantai Teluk Asmara di Malang untuk melihat sunset, mumpung Fiona liburan sekolah setelah selesai ujian semester. "Kamu me
Jantung Harsa berdebar tak karuan ketika lampu teras dimatikan. Dia salah karena pulang di atas jam 9 malam dan tidak berpamitan pada istrinya. Kamila pasti semakin marah. Kalau pintunya dikunci dari dalam, dia harus mengetuk pintu, pulang ke rumah ibunya, atau tidur di teras?Harsa menoleh ke bela
"Jadi, kamu nggak bilang ke istrimu kalau ada acara di rumahku? Oalah, gimana to bro...bro?" Ilham menepuk dahinya. "Dia marah-marah, Ham. Aku takut dia makin marah kalau mengajaknya ke sini," jawab Harsa pasrah. "Astaga! Lebih marah lagi kalau kamu nggak mengajak dia ke sini. Dia pasti mikir kal
Sore hari, setelah toko ditutup, Kamila sedikit membanting laporan keuangan selama 2 tahun terakhir ke atas meja. "Banyak kesalahan dalam laporan keuangan ini. Apa kamu nggak pernah mengeceknya selama ini?" Nada suara Kamila masih tenang. Dia merasa lelah setelah berkutat dengan laporan itu selam
Fiona asyik bermain di sekitar material bangunan ketika seorang perempuan muda tiba-tiba menghampirinya. Dia sempat mendongak, tapi kemudian kembali asyik pada kegiatannya. "Heh! Kamu ngapain di sini? Ini bukan tempat untuk bermain! Pergi sana! Ibunya ke mana sih?" gerutu perempuan itu. Fiona mas







