Mobil terus melaju liar.Beberapa menit kemudian, kendaraan menghentak keras di depan Rumah Sakit Keluarga Darmawan.CKIIIITTTT—!Ban berdecit di atas aspal.Tim medis yang telah siaga langsung berlari membawa tandu.Arka membuka pintu dan mengangkat Vanessa dengan hati-hati, memindahkannya ke atas tandu. Napas wanita itu semakin tipis. Darah masih merembes pelan dari wajahnya. Keadaannya menyayat mata, tetapi kedua pupil yang kabur itu tetap berusaha mengikuti sosok Arka.Tandu didorong cepat menyusuri koridor.Lampu putih rumah sakit memantul dingin di lantai mengilap.Arka berjalan di sisi tandu, menggenggam tangan Vanessa yang mulai dingin.“Arka...”Suara itu tipis sekali, nyaris seperti hembusan napas terakhir.“Apa aku... jelek... begini...?”Langkah Arka terhenti sepersekian detik.Bahkan di ambang maut, wanita ini masih memikirkan bagaimana dirinya terlihat di depan pria yang ia sukai.Rasa sesak menekan dada Arka begitu keras. Ia menggenggam tangan Vanessa lebih erat. “Tidak
Mehr lesen