Rumah Sakit Medika Mahatara.Setelah menanyakan nomor bangsal, Arka Mahendra berjalan cepat menyusuri koridor. Begitu pintu terbuka, pandangannya langsung tertuju pada sosok di ranjang dekat jendela.Mahendra Wiratma.Tubuh lelaki tua itu tampak jauh lebih kurus dari yang ia ingat. Wajahnya pucat, napasnya dibantu selang oksigen, dan jarum infus menancap di tangan yang dulu begitu kuat. Hanya beberapa tahun berlalu, tetapi pria yang dulu mampu memanggul beban berat bermil-mil tanpa mengeluh kini tampak rapuh seperti lilin yang hampir padam.“Kakek…” suara Arka Mahendra serak.Kelopak mata Mahendra Wiratma perlahan terbuka. Keterkejutan melintas, lalu berubah menjadi kekhawatiran. “Arka? Kenapa kau kembali? Bagaimana dengan—”“Aku sudah pensiun.” Arka Mahendra duduk di samping ranjang, menggenggam tangan keriput itu dengan hati-hati. “Kenapa tidak memberi tahuku kalau Kakek sakit?”“Batuk biasa saja, Kakek akan sembuh kalau istirahat,” jawab Mahendra Wiratma keras kepala, “UHUK—” sebel
Read more