Share

Bab 167

Penulis: Skyy
last update Tanggal publikasi: 2026-04-28 22:57:30

Arka tetap tenang. Tatapannya lurus, tidak bergeming sedikit pun.

“Panggil saja aku Ravok,” ujar pria itu singkat sambil menunjuk ke arah truk pikap. “Nak, tempat ini tidak aman. Setiap setengah jam selalu ada patroli lewat, pasukan pemerintah, milisi lokal, atau orang-orang Kelompok Taring Ular. Jika berpapasan dengan mereka, urusannya akan panjang. Naiklah.”

Mereka segera naik ke bak belakang yang tertutup terpal. Karung-karung, kotak peralatan, dan peti kayu berserakan di dalam, bercampur ba
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 372

    Sesaat kemudian., seluruh retakan di permukaan Celah Mahesa memancarkan cahaya merah secara bersamaan. Lalu bencana itu pun datang, yang terjadi bukan sekadar ledakan, melainkan gunung itu runtuh.BANG! BANG! BANG!Seluruh batuan bagian atas Celah Mahesa pecah dan ambruk bersamaan, diiringi rentetan dentuman yang mengguncang bumi.Bongkahan-bongkahan batu raksasa beterbangan ke segala arah, dinding gunung terbelah, dan bangunan-bangunan di desa utama tercabik seperti mainan rapuh sebelum lenyap ditelan lautan debu. Gelombang kejut menyapu seluruh kawasan, merobohkan pepohonan, menghancurkan bebatuan, dan melumat apa pun yang berada di jalurnya.Tak ada yang mampu bertahan, semuanya lenyap dalam sekejap.Sebuah bongkahan batu sebesar truk meluncur lurus ke arah Morgan. Bahkan tekanan angin yang dibawanya sudah cukup untuk membuat tubuhnya nyaris tercabik sebelum hantaman itu benar-benar tiba.Di ambang kehilangan kesadaran, hanya satu pemandangan yang tertanam kuat di dalam ingatannya.

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 371

    Perintah itu langsung dijalankan tanpa ragu. Para tentara bayaran mendobrak setiap pintu, memeriksa seluruh ruangan, bahkan menggeledah ruang penyimpanan dan gudang kecil, tetapi yang mereka temukan hanyalah bercak darah, perlengkapan yang tertinggal, serta jejak evakuasi yang tergesa-gesa.Tak ada satu pun anggota Keluarga Mahesa, tidak ada korban yang masih hidup, bahkan tidak ditemukan mayat baru selain mereka yang gugur di garis pertahanan terakhir. Seluruh desa utama terlihat seperti telah ditinggalkan beberapa saat sebelum mereka tiba."Lapor! Seluruh kompleks bangunan telah diamankan. Tidak ditemukan musuh.""Lapor! Dataran tinggi sudah berada dalam kendali. Tidak ada aktivitas penembak jitu.""Lapor! Perimeter aman."Laporan demi laporan terus memenuhi saluran komunikasi.Tak lama berselang, Morgan akhirnya memasuki desa utama dengan dikawal beberapa anggota inti Organisasi Blackwing. Langkahnya tenang saat melewati puing-puing pertahanan yang telah hancur, sementara embusan a

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 370

    Dor!Tepat ketika ujung bayonet hendak menembus dadanya, sebuah peluru melesat lebih dahulu.Pria yang mengacungkan bayonet itu langsung terhuyung dengan lubang menganga di antara kedua alisnya sebelum ambruk tanpa suara.Garda membeku sesaat lalu menoleh ke arah asal tembakan. Di tikungan jalur pegunungan, Arga memimpin lima orang keluar dari balik hutan. Mereka tidak datang dari arah garis pertahanan, melainkan menyusup melalui sisi sayap layaknya belati tajam yang membelah formasi Keluarga Montara.Dor-dor-dor!Senapan otomatis di tangan Arga memuntahkan rentetan peluru yang seketika merobohkan lima hingga enam musuh. Lima anggota di belakangnya juga merupakan petarung pilihan dengan koordinasi yang sangat rapi. Setiap tembakan dilepaskan dengan presisi tinggi hingga barisan Keluarga Montara langsung kacau."Bala bantuan! Bala bantuan datang!"Semangat para pengawal Keluarga Mahesa yang sempat runtuh kembali menyala.Arga tidak menghentikan langkahnya. Begitu mencapai posisi Garda,

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 369

    "Arka," ujar Adhyaksa dengan suara pelan, "Serangan dari sisi barat ternyata benar seperti perkiraanmu.""Hmm…" Arka tetap fokus memeriksa Titan-13 di tangannya tanpa mengangkat kepala."Organisasi Blackwing diisi oleh tentara bayaran profesional. Mereka tidak mungkin hanya menyerang dari satu arah. Tebing memang jalur yang paling sulit ditembus, tetapi justru karena itulah pertahanannya sering dianggap aman. Jadi, aku menyiapkan sedikit 'kejutan' di sana."Ujung jarinya menyusuri laras senapan dengan tenang sebelum kembali melanjutkan, "Aku hanya tidak menyangka kemampuan mereka setinggi itu. Dari dua puluh orang yang memanjat, masih ada satu yang berhasil naik ke bibir tebing meski dihujani tembakan penembak jitu.""Orang itu jelas bukan prajurit biasa." Adhyaksa mengernyit. "Aku harus mengirim bala bantuan ke sana.""Tidak perlu." Arka akhirnya mengangkat wajahnya. Sorot matanya sedingin es. "Niko sudah bergerak."Kalimat itu baru saja selesai diucapkan ketika suara ledakan menggem

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 368

    Dor!Peluru menghantam titik yang baru saja ditinggalkannya hingga serpihan batu beterbangan. Ia segera mengangkat senapan dan membidik balik, tetapi penembak lawan sudah lebih dulu menghilang ke balik celah batu, hanya menyisakan posisi kosong yang mustahil ditembak.Orang keempat adalah tentara bayaran yang bahunya tertembus peluru.Alih-alih berusaha mencapai bibir tebing, ia memanfaatkan momentum saat tubuhnya melonjak ke atas untuk melempar granat yang pin pengamannya telah lebih dulu dicabut ke arah celah tempat rentetan tembakan berasal."MATILAH!"DUAAR!Granat itu meledak tepat di dalam celah batu.Gelombang kejutnya menghancurkan dinding batu di sekitarnya hingga serpihan dan debu beterbangan ke segala arah. Di tengah ledakan, terdengar jeritan singkat yang segera lenyap bersama runtuhnya bebatuan.Posisi penembak itu akhirnya membisu.Kruger terbaring di permukaan tebing sambil mengatur napas yang memburu. Tatapannya segera menyapu sekeliling dan membuat wajahnya mengeras.

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 367

    Kruger meraih sebuah pipa pelontar dari sabuk perlengkapannya. Senjata sederhana itu menggunakan anak panah bius khusus yang ujungnya dilapisi neurotoksin berkekuatan tinggi, cukup untuk melumpuhkan seekor kerbau hanya dalam hitungan detik.Ia menarik napas perlahan.Whoooss!Anak panah melesat nyaris tanpa suara.Sekitar dua puluh meter di atas sana, seorang penjaga Keluarga Mahesa yang sedang mengawasi tepi tebing hanya sempat menggoyangkan bahunya sebelum tubuhnya kehilangan tenaga dan roboh tak bergerak. Bahkan ia tidak sempat menyadari apa yang telah mengenainya."Bersih," bisik Kruger. "Lanjut naik."Tim Talon kembali bergerak. Jarak mereka kini tinggal sekitar lima meter dari bibir tebing.Dor!Suara tembakan mendadak memecah kesunyian.Peluru itu bukan berasal dari atas tebing, melainkan dari sisi kanan sekitar tiga puluh meter jauhnya, ketika sebuah laras senapan muncul dari balik celah bebatuan yang sebelumnya sama sekali tidak mencurigakan.Peluru pertama menghantam dada sa

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 211

    Ruangan VIP itu langsung sunyi ketika Peter berdiri.Dentuman tembakan dari lantai bawah terus terdengar samar. Kadang diselingi suara kaca pecah dan jeritan panik yang samar tertahan oleh lapisan peredam suara tebal.Peter melangkah perlahan menuju meja minuman. Ia mengambil segelas whiskey yang s

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 210

    Di dalam mobil, Bramanta duduk sambil mengetuk setir perlahan menggunakan jemarinya. Sebatang cerutu belum menyala menggantung di sudut bibirnya.Di kursi sebelah duduk seorang pria muda berwajah tampan bernama Raditya, anggota cabang keluarga Mahesa yang dipilih khusus untuk malam ini. Wajahnya as

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 209

    Dan tanpa sadar, satu huruf kembali muncul di kepalanya.A.Pesan terakhir intelijen Astera yang mati di Kota Mahatara. Pesan yang bahkan belum sempat selesai dikirim. Pesan itu awalnya diterima Akari, dan akhirnya sampai ke tangannya.“A…” Rama bergumam pelan dalam gelap.Alisnya perlahan berkerut

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 207

    “Baik, baik… cukup.”Rama perlahan mengangkat kedua tangan sambil mundur setengah langkah. Cahaya lampu darurat yang berkedip membuat wajahnya tampak semakin gelap, sementara bekas luka di bawah mata kirinya memberi kesan jauh lebih mengancam.Ia memberi isyarat agar anak buahnya menahan diri sebel

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status