Vanessa perlahan mengangkat wajahnya. Tatapan merahnya langsung bertemu dengan mata Arka, dan di dalam pupil yang mulai kehilangan kendali itu hanya ada satu bayangan yang terpantul. Kerinduan, cinta, ketergantungan, dan rasa sakit bercampur menjadi satu, membentuk gejolak yang nyaris meluap.Tanpa sepatah kata lagi, Vanessa kembali meraih wajah Arka dan menciumnya. Ciuman itu sama sekali tidak ragu ataupun malu. Ia menciumnya dengan seluruh kerinduan yang selama ini dipendam, seolah ingin memastikan pria di hadapannya benar-benar telah kembali."Arka... Arka..."Di sela napas yang tidak teratur, nama itu terus terucap lirih.Arka sempat kehilangan ritme. Ia bisa merasakan tubuh Vanessa terus bergetar, napasnya memburu, dan detak jantungnya berpacu begitu cepat hingga seakan hendak meledak."Vanessa... jangan..." Ia baru hendak berbicara ketika Vanessa kembali membungkamnya.Begitu gejolak yang selama ini ditekan menemukan tempat untuk diluapkan, semuanya berubah menjadi arus yang sul
Baca selengkapnya