Keesokan harinya, sepulang kerja Patra kembali memesan ojek untuk mengantarnya lebih dulu ke salon. Tempat ia bertemu sang hairdresser murah senyum. “Tunggu sebentar, ya, Pak. Saya cuma mau balikin barang, kok,” pinta Patra pada si ojek. Saking ragu, gugup, dan penasaran saat itu, ia sampai tidak membaca nama tempatnya. Cukup alamat yang diberikan Hardi saja. “Permisi,” sapa Patra. Anehnya isi salon sepi. Bahkan resepsionis galak yang ia temui kemarin tidak ada, begitu pula si hairdresser ramah.Tangan Patra merogoh selembar uang berwarna merah dari kantong celana. Pria di akhir usia dua puluhan itu berniat meletakkan saja jubah yang tidak sengaja dibawanya kemarin beserta uang di bawah vas bunga yang menghiasi meja resepsionis. “Kita bisa coba lagi, Hes! Aku nggak pernah buat salah selama kita pacaran!” Tiba-tiba ada suara di balik dinding yang mengejutkan Patra.“Uhuk!” Patra tersedak saliva sendiri. Setelah mendengar itu, Patra juga mendengar suara benda-benda kecil, seperti bo
Última actualización : 2026-02-12 Leer más