ログイン
Patra Baxter akan bertemu calon kekasihnya.
Seorang anak magang yang dikenalkan salah satu teman kantor Patra. “Jalan Merpati tiga nomer sepuluh—kiosnya paling ujung….” Isi kepala laki-laki bertopi kupluk navy itu tanpa henti menggumamkan sebaris perintah tadi, setiap langkah yang melompati trotoar—menjejak keluar bus. Alamat salon mulai tidak lagi terdengar digumamkan otak Patra, karena laki-laki itu sudah berdiri tepat di depan pintu kaca. Teman kantor Patra, sekaligus staff HRD agensi, bernama Hardi. Pria itu sampai menuliskan surat peringatan berdasarkan perintah langsung dari CEO yang tidak sengaja berpapasan dengan Patra di lift. Surat yang berbunyi, ‘Mohon utamakan profesionalitas dalam kenyamanan tim dan ruang aman ketika bekerja.’ Patra sampai merenung berjam-jam. Sejelek itukah rambut gondrong gue…? Tentu saja Patra tidak lupa teriakan kaget membahana CEO agensi digital tempatnya bekerja, saat ia tiba-tiba muncul di pandangan atasannya itu. Selain risih, beberapa karyawan di agensi mengaku jantung mereka nyaris lepas dari rongga setiap kali Patra berlalu-lalang. Patra yang sejak kecil memang tinggal berdua saja dengan ayahnya, juga bingung bagaimana memotong rambutnya, tanpa harus terangsang ketika merasa sentuhan tangan dari si hairdresser. “Kenapa ramah tamah lo mesti pilih-pilih begitu?! Apa bedanya pelanggan tadi sama, tuh, cow—AAA!!” Resepsionis bername tag Paula melompat di kursinya sendiri. Lantaran ketika menengok, matanya langsung bertemu dengan milik Patra di balik poni dan bayangan kupluk hoodie. Patra langsung berteriak meminta maaf begitu sadar kehadirannya lagi-lagi nyaris membuat jantung orang lain copot. Paula sendiri masih mengelus dada sambil meringis. Penampilan laki-laki itu benar-benar seperti Mbak Kunti bercelana jins. “Siang, Mas–eh, bener ‘Mas’, kan? Atau Mbak, nih?” tanya Paula sembari cengengesan. “Betul, kok, Kak! Saya cowok,” sahut Patra. Ketika Paula bertanya tentang ‘mau dikeramas juga atau nggak,’ Patra melirik si hairdresser yang sudah siap-siap mengambil botol sampo dan handuk. Setelah menjawab Paula, Patra cepat-cepat duduk di salah satu kursi. “Gaya rambutnya mau yang seperti apa, Kak?” tanya perempuan di balik punggung Patra. Patra gelagapan menjawab, “Yang penting … saya bisa lihat orang-orang, Kak!” Hairdresser perempuan itu tertawa kecil sampai kedua mata bulatnya melengkung seperti bulan sabit. Jangan lupa lesung pipi di kedua pipi atasnya yang membuat Patra terpana beberapa menit. Sepasang mata Patra mencari-cari name tag di seragam salon si hairdresser, tetapi nihil. Apa dia Hestia yang Hardi maksud? Kedua mata Patra membelalak kaget bukan main saat si hairdresser menarik sejumput rambut di dekat telinganya. “Kalau cuma biar lihat orang, disisipin ke sini bisa, kan?” Patra memajukan tubuh mendekat ke cermin. Menjauh dari jangkauan jemari Talia, hingga poninya kembali jatuh menutupi wajah. “S-Saya mau kelihatan rapi! Iya! Biar rapi, Kak!” “Oh, oke, oke….” Perempuan itu tersenyum kikuk, lalu segera mulai memangkas rambut Patra. “Saya ka-kaget aja, kok! Maaf juga….” Jantung Patra berdebar kencang. Bukan hanya karena akhirnya melihat perempuan yang teman kantornya bilang cocok dijadikan pacar, tetapi juga karena sensasi panas sekaligus nyeri menjalar di ‘area bawah’ milik Patra. Laki-laki itu sampai menarik turun jubah yang melingkar di leher sampai dadanya, agar adik kecilnya tertutup dari pandangan si hairdresser. “Kalau mushroom cut ala korean male gimana, Kak? Terlalu kependekan?” Patra mendongak sedikit mengikuti arah telunjuk hairdresser ke salah satu foto di barisan jenis gaya rambut pria. Saking gugupnya Patra hanya mengangguk-angguk brutal sebagai jawaban. Selama rambut awut-awutannya di pangkas sedikit demi sedikit, Patra mati-matian menahan napas, dan dadanya yang hendak membusung akibat sensasi kulit kepalanya yang tertarik. Kedua bahu Patra mengejang kaget, dan kesepuluh jari kakinya reflek melepaskan diri dari sepatu. Seiring kesepuluh jari si hairdresser menyibak dan kedua telapak tangannya menekan kepalanya agar tidak miring, jari-jari Patra bergulung ke dalam telapak kaki. Napas Patra menderu keras dari hidung, karena jika mulutnya yang terbuka, “Haa–ngh!” suara laknat yang akan terdengar oleh si hairdresser. Diam-diam Patra melirik perempuan itu. Untungnya ia hanya diam. Namun, Patra tiba-tiba menjatuhkan kepalanya ke sisi kiri. Kedua tangannya setia menarik jubahnya turun sampai lutut. Semua itu terjadi karena hairdresser perempuan yang rambutnya dikuncir satu tinggi, menarik sebagian helai poni untuk dipotong layaknya jamur—sebelum diberi tekstur dan volume. “Tolong kepalanya jangan bergerak, ya. Nanti potongan rambutnya jadi nggak sesuai,” tutur si hairdresser. Patra ingin sekali menuruti perintah orang yang sedang memotong rambutnya agar rapi, sesuai keinginan CEO dan kenyamanan teman-teman kantor. Hanya saja sendi dan otot Patra seketika bergetar tidak berdaya—gara-gara sentuhan di puncak kepalanya. Mendengar nada suara perempuan itu yang mendadak dingin, Patra bergumam setuju. Laki-laki itu kembali menegakkan punggung sambil menarik napas dalam-dalam, lalu ia hembuskan kelewat keras. Patra menarik dan membuang napas seperti itu tiga kali. Sampai si perempuan hairdresser mengangkat kedua alisnya keheranan ketika tatapan mereka bertemu di cermin. “Maaf….” Akhirnya Patra hanya bisa meminta maaf karena sikap belingsatannya mengganggu kerja si hairdresser intern Hestia Salon. Setiap segelintir rambutnya tertarik, bunyi gunting rambut yang dekat sekali di wajahnya, dan … ujung jari-jari milik hairdresser perempuan Hestia Salon itu menyentuh ringan kulit kepalanya—Patra tetap tidak bisa menahan adik kecilnya yang semakin mengacung tegak! Akhirnya setelah satu jam berkali-kali melakukan teknik mengatur napas, Talia melepas jubah yang menjadi tempat jatuhnya sisa-sisa rambut Patra. “Karena kakak nggak cuci rambut, jadi nggak perlu dikering–eh?” Talia terbengong. Tatapannya tidak sengaja tertumbuk pada cermin kotak besar yang memantulkan benda di antara kedua paha Patra. Patra yang masih setengah tersadar dari efek sentuhan yang terasa seperti sengat listrik—perlahan mengikuti gerak mata Talia. Sial!! jerit batin Patra. “Ma-maaf, Kak!” teriak Patra seraya berlari keluar dari salon. Saking malu dan marah pada dirinya sendiri, Patra tidak sanggup menoleh lagi ke belakang. Apalagi bertemu dengan si hairdresser cantik tadi. Image Patra hancur. Ia bahkan sudah tidak yakin masih bisa berharap perempuan tadi bersedia menjalin hubungan lebih dari strangers—ketika perempuan itu pasti berasumsi kalau Patra stranger paling freak yang pernah ia temui. Dari kejauhan Patra bisa mendengar suara si resepsionis memanggil-manggil, “KAK! KAKAK BELUM BAYAR!!” Akan tetapi, ia semakin kencang berlari. Menjauhi bayangan ekspresi bingung dan kaget, dari perempuan yang memotong rambutnya tadi.Ketika kepercayaan membayangi setiap langkah Patra, tidak terasa tujuh bulan berlalu. Selama itu ia mengikat pikiran, hati, dan tubuhnya untuk Hestia. Oh, salah. Talia. Patra terlalu serius tenggelam dalam sajak-sajak Nikita Gill. Dagu Patra mendongak ke belakang—jam dinding di ruang divisi PR kantornya. Masih agensi yang sama. Pandangan mata Patra yang berbinar karena jam sudah menunjukkan waktu pulang kerja, beralih ke mejanya. Ada sebuah plakat kecil bertuliskan Manajer PR. Patra terbiasa menyembunyikan benda yang terasa menggemakan jabatannya itu di dalam laci meja, tetapi Hardi memperingatkan agar jangan disembunyikan. ‘Mimpin yang humble itu emang bener, Pat, tapi lo kasih batas, ingetin anak-anak divisi lo untuk tau batas dan ngehargain kepala divisi mereka.’ Patra sudah meninggalkan keyakinan bahwa ia masih memiliki harga diri, sejak empat, atau lima tahun lalu. Kepala Patra sudah semakin lelah mengumandangkan nama pelaku yang bebas dari hukum tahanan. Talia menghargai bat
“Kita berdua udah punya komitmen masing-masing,” pungkas Patra sembari bangun dari posisi duduknya, “dan gue punya pengalaman buruk sama cowok. Jadi, jangan lewatin batas lagi. Gue risih. Gue nggak masalah bertemen sama biseks, gay, apapun itu. Tapi, gue nggak mau punya temen baru yang … asal selingkuh kayak orang nggak punya nalar.” Nero yang memang tidak duduk, tetap di posisi berdiri, menatap balik Patra tanpa ekspresi marah atau kaget. Patra sendiri sudah menduga Nero akan menepis prasangka. Lagipula Patra sudah mulai terbiasa melihat seseorang, seperti Nero, selalu bertingkah defensif. “Orang yang bahasa citanya afirmasi … selalu jujur sebrutal ini ya.” Mata Nero menjelajah jauh ke setiap orang atau elemen tempat yang berada di belakang Patra—jalan perumahan, wanita yang mendorong stroller bayinya, dan anak-anak yang mengejar kucing. “Memang iya, jujur itu akarnya afirmasi, dan lo harusnya bisa mencoba ngerti situa–” Sayangnya jawaban Patra dipotong kejujuran seorang Nero.
“Lo kayak nenek-nenek, Pat,” kekeh Nero di belakang dua kursi bersebelahan yang diduduki Patra dan Shannon. Talia meninggalkan Patra yang rambutnya sudah digulung rod kecil dan sedang, untuk mencari krim pengeriting atau obat perming. Sementara itu, rambut kekasih Nero sedang digunting oleh Ifa. “Awas lo, ya, liat aja nanti pas gue udah ganteng!” geram Patra pura-pura marah dengan senyum jenaka terselip pada Shannon yang tertawa di sampingnya. Patra pun berakhir terkekeh. Sampai Talia kembali dari balik lemari penyimpan botol-botol krim dan cairan obat atau pewarna rambut.Gerak manik mata ragu dan tenggorokan Patra yang menelan saliva berkali-kali tidak luput dari pandangan Nero. Begitu juga dengan pertanyaan Talia yang tertangkap sebagai aba-abai bagi Nero. “Siap?” Patra mengangguk sebagai jawaban. Nero memang sudah mengetahui sejak lama tentang sensitivitas kepala dan rambut Patra. Dari mulut laki-laki itu sendiri. Jadi, ia paham ekspresi Patra memejamkan mata—tetapi bukan gestur
Giliran Patra yang membulatkan mata. “Emang lo nggak merasa ganteng?”“Lo muji gue?” tanya Nero lagi. Benar-benar kelihatan ingin memastikan. Tidak bisa Patra pungkiri. Wajah kaget Nero barusan karena ia sebut ganteng cukup menghiburnya. “Gue nggak kepikiran kasih lo afirmasi, Ro … kan lo emang ganteng. Buktinya bisa main-main sama banyak cewek.”Binar di kedua mata Nero langsung lenyap. “Sialan,” ujarnya berbalik masuk ke toko. Meninggalkan Patra yang gantian mendengus puas bisa menyentil rekam jejak Nero. “Kadang Nero nggak nyadar aja, Kak,” ucap Shannon berjalan perlahan dari balik rolling door. Membawa uang kembalian untuk Patra. “Dia nggak nyadar dan nggak mau ngaku … kalau kadang dia juga enjoy afirmasi, atau dipuji.” Patra mengangguk-angguk kecil. Tadinya tidak berminat bertanya lebih jauh. Akan tetapi, Nero pernah menanyakan apa bagusnya words of affirmation—yang menurut Patra justru sangat perlu di dalam hubungan. “Lo juga gantian nginep di rumah Nero?” Sebelum perkataanny
Rumah baru Talia sedikit mirip seperti rumah susun. Akan tetapi, sejauh mata Patra memandang tempat baru pacarnya, suasananya lebih tenang. Bukan hanya karena penyewaan rumah vertikal Boris operasikan bersama sebuah organisasi di dalam perumahan—yang memiliki taman bersama, dekat stasiun kereta, dan kolam renang umum.Mungkin karena desainnya yang lebih minimalis, hanya terdiri dari tiga lantai dengan sembilan kamar. Jangan lupa book cafe yang menemani teras rumah vertikal, yang kata Boris, tadinya hanya dihias jalan setapak, kolam ikan, dan pot-pot berisi tanaman hias. Ruang yang sudah menjelma menjadi kafe penuh rak-rak buku tadinya adalah sebuah bengkel. Bengkel bekas pemilik lama rumah itu. Setidaknya hanya itu sejarah dari cerita Talia usai Boris sekeluarga pulang setelah membantunya pindahan—yang Patra ingat. Patra menghabiskan tiga jam lebih lama daripada kehadiran Boris, Patra, dan Cherry yang berkeliling melihat-lihat isi kamar Talia. Selepas mengeringkan tubuhnya yang berk
“Tante Talia bisa pacaran? Sejak kapan?”Patra melenguh seraya meregangkan otot-otot dan sendi tubuhnya. Laki-laki itu mendorong sedikit kedua tangan Talia yang bergelung di bawah kepala dan lehernya. Ketika kedua kelopak mata Patra terbuka, seorang remaja laki-laki berpakaian kemeja cokelat polos dengan jins berdiri menjulang di atas wajahnya.‘Mukanya kayak pernah liat,’ pikir Patra. “Aku Jamie, kalau Om Patra lupa,” ujar remaja laki-laki itu. Sesaat kemudian, kedua mata Patra membeliak dan ia langsung terbangun dari posisi tidur di ruang tamu. Jamie sendiri tetap pada posisi berdirinya sejak tadi. Kedua tangan anak laki-laki di usia tanggung itu terselip di saku celana jins. Air muka Jamie menatap bergantian Patra yang menyibak selimut dan Talia yang masih tertidur. Tampak bosan dan tidak tertarik, tetapi jauh berbeda dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut bocah itu. “Om pacaran sama tante buat main-main doang, atau serius sampe jadi orang tua?” Patra meneguk saliva susah







