/ Urban / Hestia / Chapter 1 - Barber Cape

공유

Hestia
Hestia
작가: Dyara

Chapter 1 - Barber Cape

작가: Dyara
last update 게시일: 2026-02-12 15:54:18

Patra Baxter akan bertemu calon kekasihnya.

Seorang anak magang yang dikenalkan salah satu teman kantor Patra. 

“Jalan Merpati tiga nomer sepuluh—kiosnya paling ujung….”

Isi kepala laki-laki bertopi kupluk navy itu tanpa henti menggumamkan sebaris perintah tadi, setiap langkah yang melompati trotoar—menjejak keluar bus. 

Alamat salon mulai tidak lagi terdengar digumamkan otak Patra, karena laki-laki itu sudah berdiri tepat di depan pintu kaca.  

Teman kantor Patra, sekaligus staff HRD agensi, bernama Hardi. Pria itu sampai menuliskan surat peringatan berdasarkan perintah langsung dari CEO yang tidak sengaja berpapasan dengan Patra di lift. Surat yang berbunyi, ‘Mohon utamakan profesionalitas dalam kenyamanan tim dan ruang aman ketika bekerja.’ Patra sampai merenung berjam-jam. Sejelek itukah rambut gondrong gue…? Tentu saja Patra tidak lupa teriakan kaget membahana CEO agensi digital tempatnya bekerja, saat ia tiba-tiba muncul di pandangan atasannya itu. 

Selain risih, beberapa karyawan di agensi mengaku jantung mereka nyaris lepas dari rongga setiap kali Patra berlalu-lalang. Patra yang sejak kecil memang tinggal berdua saja dengan ayahnya, juga bingung bagaimana memotong rambutnya, tanpa harus terangsang ketika merasa sentuhan tangan dari si hairdresser. 

“Kenapa ramah tamah lo mesti pilih-pilih begitu?! Apa bedanya pelanggan tadi sama, tuh, cow—AAA!!” Resepsionis bername tag Paula melompat di kursinya sendiri. Lantaran ketika menengok, matanya langsung bertemu dengan milik Patra di balik poni dan bayangan kupluk hoodie. Patra langsung berteriak meminta maaf begitu sadar kehadirannya lagi-lagi nyaris membuat jantung orang lain copot.  

Paula sendiri masih mengelus dada sambil meringis. Penampilan laki-laki itu benar-benar seperti Mbak Kunti bercelana jins. “Siang, Mas–eh, bener ‘Mas’, kan? Atau Mbak, nih?” tanya Paula sembari cengengesan. 

“Betul, kok, Kak! Saya cowok,” sahut Patra. 

Ketika Paula bertanya tentang ‘mau dikeramas juga atau nggak,’ Patra melirik si hairdresser yang sudah siap-siap mengambil botol sampo dan handuk. Setelah menjawab Paula, Patra cepat-cepat duduk di salah satu kursi. “Gaya rambutnya mau yang seperti apa, Kak?” tanya perempuan di balik punggung Patra. 

Patra gelagapan menjawab, “Yang penting … saya bisa lihat orang-orang, Kak!”

Hairdresser perempuan itu tertawa kecil sampai kedua mata bulatnya melengkung seperti bulan sabit. Jangan lupa lesung pipi di kedua pipi atasnya yang membuat Patra terpana beberapa menit. Sepasang mata Patra mencari-cari name tag di seragam salon si hairdresser, tetapi nihil. Apa dia Hestia yang Hardi maksud?

Kedua mata Patra membelalak kaget bukan main saat si hairdresser menarik sejumput rambut di dekat telinganya. “Kalau cuma biar lihat orang, disisipin ke sini bisa, kan?”

Patra memajukan tubuh mendekat ke cermin. Menjauh dari jangkauan jemari Talia, hingga poninya kembali jatuh menutupi wajah. “S-Saya mau kelihatan rapi! Iya! Biar rapi, Kak!”

“Oh, oke, oke….” Perempuan itu tersenyum kikuk, lalu segera mulai memangkas rambut Patra. 

“Saya ka-kaget aja, kok! Maaf juga….” Jantung Patra berdebar kencang. Bukan hanya karena akhirnya melihat perempuan yang teman kantornya bilang cocok dijadikan pacar, tetapi juga karena sensasi panas sekaligus nyeri menjalar di ‘area bawah’ milik Patra. Laki-laki itu sampai menarik turun jubah yang melingkar di leher sampai dadanya, agar adik kecilnya tertutup dari pandangan si hairdresser. 

“Kalau mushroom cut ala korean male gimana, Kak? Terlalu kependekan?” Patra mendongak sedikit mengikuti arah telunjuk hairdresser ke salah satu foto di barisan jenis gaya rambut pria. Saking gugupnya Patra hanya mengangguk-angguk brutal sebagai jawaban. 

Selama rambut awut-awutannya di pangkas sedikit demi sedikit, Patra mati-matian menahan napas, dan dadanya yang hendak membusung akibat sensasi kulit kepalanya yang tertarik. 

Kedua bahu Patra mengejang kaget, dan kesepuluh jari kakinya reflek melepaskan diri dari sepatu. Seiring kesepuluh jari si hairdresser menyibak dan kedua telapak tangannya menekan kepalanya agar tidak miring, jari-jari Patra bergulung ke dalam telapak kaki. 

Napas Patra menderu keras dari hidung, karena jika mulutnya yang terbuka, “Haa–ngh!” suara laknat yang akan terdengar oleh si hairdresser. Diam-diam Patra melirik perempuan itu. Untungnya ia hanya diam. 

Namun, Patra tiba-tiba menjatuhkan kepalanya ke sisi kiri. Kedua tangannya setia menarik jubahnya turun sampai lutut. Semua itu terjadi karena hairdresser perempuan yang rambutnya dikuncir satu tinggi, menarik sebagian helai poni untuk dipotong layaknya jamur—sebelum diberi tekstur dan volume. “Tolong kepalanya jangan bergerak, ya. Nanti potongan rambutnya jadi nggak sesuai,” tutur si hairdresser. Patra ingin sekali menuruti perintah orang yang sedang memotong rambutnya agar rapi, sesuai keinginan CEO dan kenyamanan teman-teman kantor. Hanya saja sendi dan otot Patra seketika bergetar tidak berdaya—gara-gara sentuhan di puncak kepalanya. 

Mendengar nada suara perempuan itu yang mendadak dingin, Patra bergumam setuju. Laki-laki itu kembali menegakkan punggung sambil menarik napas dalam-dalam, lalu ia hembuskan kelewat keras. Patra menarik dan membuang napas seperti itu tiga kali. Sampai si perempuan hairdresser mengangkat kedua alisnya keheranan ketika tatapan mereka bertemu di cermin. “Maaf….” Akhirnya Patra hanya bisa meminta maaf karena sikap belingsatannya mengganggu kerja si hairdresser intern Hestia Salon.  

Setiap segelintir rambutnya tertarik, bunyi gunting rambut yang dekat sekali di wajahnya, dan … ujung jari-jari milik hairdresser perempuan Hestia Salon itu menyentuh ringan kulit kepalanya—Patra tetap tidak bisa menahan adik kecilnya yang semakin mengacung tegak!

Akhirnya setelah satu jam berkali-kali melakukan teknik mengatur napas, Talia melepas jubah yang menjadi tempat jatuhnya sisa-sisa rambut Patra. “Karena kakak nggak cuci rambut, jadi nggak perlu dikering–eh?” 

Talia terbengong. Tatapannya tidak sengaja tertumbuk pada cermin kotak besar yang memantulkan benda di antara kedua paha Patra. 

Patra yang masih setengah tersadar dari efek sentuhan yang terasa seperti sengat listrik—perlahan mengikuti gerak mata Talia. Sial!! jerit batin Patra. 

“Ma-maaf, Kak!” teriak Patra seraya berlari keluar dari salon. Saking malu dan marah pada dirinya sendiri, Patra tidak sanggup menoleh lagi ke belakang. Apalagi bertemu dengan si hairdresser cantik tadi. Image Patra hancur. Ia bahkan sudah tidak yakin masih bisa berharap perempuan tadi bersedia menjalin hubungan lebih dari strangers—ketika perempuan itu pasti berasumsi kalau Patra stranger paling freak yang pernah ia temui.  

Dari kejauhan Patra bisa mendengar suara si resepsionis memanggil-manggil, “KAK! KAKAK BELUM BAYAR!!” Akan tetapi, ia semakin kencang berlari. Menjauhi bayangan ekspresi bingung dan kaget, dari perempuan yang memotong rambutnya tadi.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (1)
goodnovel comment avatar
Athena
wkwk kebayang pas Patra lari masih pake jubah cukuran ......
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Hestia   Chapter 115 - New Treatment, More Confessions

    Laptop Patra akhirnya tertutup tepat ketika matahari mulai turun di balik deretan ruko seberang Salon Hestia. Sejak siang ia dan Odi menyelesaikan revisi naskah terakhir untuk dua klien baru yang sama-sama akan memasuki tahap penyusunan proposal penerbitan. Satu proyek merupakan buku dongeng bergambar untuk komunitas belajar anak-anak di pesisir, sementara satu lagi berupa couple journaling series yang akan menjadi merchandise podcast pasangan suami istri terkenal di kalangan milenial dan generasi Z. "Kita tinggal rapat daring hari Senin, kan?" tanya Odi dari layar laptopnya sambil meregangkan bahu. "Dua klien itu udah minta timeline final." Patra mengangguk kecil sembari mengecek agenda di tablet digitalnya, lalu menjawab pelan, "Yang dongeng bahas ilustrasi, yang journaling bahas struktur latihan refleksinya." "Siap." Odi menguap lebar sebelum tersenyum tipis. "Kalau gitu gue cabut dulu. Jangan lupa makan." Patra hanya mengangkat tangan kecil sebagai balasan sebelum sambungan vide

  • Hestia   Chapter 114 - Petals of Sweet Nothings

    Pintu hunian vertikal terbuka perlahan tanpa suara. Talia melepaskan sepatu dan tasnya di dekat rak, lalu mendapati ruang tamu masih diterangi cahaya laptop yang belum dimatikan. Patra tertidur di meja bundar dengan kepala bertumpu di atas lipatan kedua lengannya, sementara layar laptop masih memperlihatkan dokumen naskah yang belum selesai ia sunting. Talia berdiri cukup lama memandangi laki-laki itu. Rambut Patra berantakan karena beberapa kali mungkin ia mengusapnya sendiri saat berpikir, sedangkan jemari kirinya masih menggenggam pena yang tintanya mulai mengering. Entah sejak kapan tunangannya tertidur dalam posisi tidak nyaman seperti itu. Ia tidak membangunkannya. Talia memilih masuk ke kamar lebih dulu, berganti pakaian rumah, lalu mencuci wajah dan mengikat rambutnya. Ketika kembali ke dapur kecil mereka, ia membuka kulkas sekadarnya dan menemukan dua kotak tupperware yang diberi label tulisan tangan Patra menggunakan spidol hitam. "Semur." "Tumis timun." Sudut bibir Ta

  • Hestia   Chapter 113 - I Hope We Don't Change

    Keesokan paginya, Talia mengirim pesan ke grup kantor Intimate Beauty untuk meminta izin datang setelah jam makan siang. Ia beralasan perlu mengurus urusan keluarga terlebih dahulu dan akan langsung menuju Salon Hestia sore nanti, sekalian membantu operasional hingga tutup. Tidak lama kemudian Boris membalas singkat, Take your time, membuat Talia mengembuskan napas lega. Sesudah mandi dan berganti pakaian sederhana, Talia mampir ke dapur membantu Janette menyiapkan sarapan. Dua mangkuk bubur ayam, potongan buah, dan secangkir teh hangat ia tata di atas nampan kayu. Janette hanya mengusap lengan putrinya pelan sebelum membiarkannya berjalan menuju kamar yang berada di ujung lorong lantai dua. Pintu kamar Oma Claire terbuka sedikit. Perempuan tua itu sudah duduk bersandar di ranjang sambil memandangi taman melalui jendela yang dibuka separuh, seolah sengaja menunggu cucunya datang. Rambut putihnya yang tipis tersisir rapi, sementara garis-garis tua di wajahnya justru membuat senyumnya

  • Hestia   Chapter 112 - Tale as Old as Time

    Hujan masih mengguyur ketika Talia memarkirkan motornya di halaman rumah keluarga De Rucci. Rambutnya menempel di pipi, jaketnya basah kuyup, sementara napasnya masih berantakan akibat pertengkaran yang belum benar-benar selesai bersama Patra. Gerald yang baru hendak mematikan lampu ruang keluarga langsung bangkit dari sofa begitu melihat putrinya berdiri gemetar di depan pintu. "Talia?" seru Gerald kaget. Janette yang sedang membawa secangkir teh dari dapur ikut menoleh dan buru-buru menghampiri anak bungsunya. "Ya Tuhan... kenapa kamu hujan-hujanan begini?" Talia memaksakan senyum tipis. "Aku cuma... pengin pulang sebentar." Janette tidak bertanya apa-apa lagi. Ia hanya menggenggam tangan putrinya yang sedingin es lalu mengajaknya masuk, sementara Gerald mengambil handuk besar dari lemari dekat ruang tamu dan menyampirkannya ke bahu Talia. "Ayah bikinin air hangat dulu." "Nggak usah, Yah." Gerald tetap berjalan ke dapur. "Boleh kuat di kepala, tapi badan jangan diajak keras ke

  • Hestia   Chapter 111 - Our Reds and Blues

    Hujan turun tidak lama setelah pintu rumah menutup di belakang Talia. Patra berdiri cukup lama di dekat rak sepatu, memandangi payung hitam yang biasa mereka pakai bergantian ketika salah satu lupa membawa jas hujan. Jemarinya sempat bergerak hendak mengambil gagangnya, tetapi suara Talia beberapa jam lalu menggema lagi di kepalanya—cukup tunggu di rumah saja. Ia terduduk di sofa ruang tamu yang belum lama mereka beli, sementara air hujan memukul genting dan jendela tanpa jeda. Rumah yang beberapa hari lalu terasa seperti permulaan hidup baru kini terdengar terlalu luas hanya karena satu orang keluar. Patra baru sadar, suara napas Talia rupanya selama ini memenuhi banyak sudut rumah yang tidak pernah ia sadari. Patra membuka ponselnya, menatap nama Talia beberapa detik sebelum akhirnya menekan ikon panggilan. Nada sambung pertama berbunyi panjang, lalu berhenti begitu saja tanpa jawaban. Ia menarik napas, mengusap wajahnya sendiri, kemudian mencoba sekali lagi. Nada sambung kedua t

  • Hestia   Chapter 110 - Fight Like A Re Couple

    Pagi itu, apartemen terasa terlalu sunyi. Talia sudah bersiap berangkat kerja sejak subuh, tetapi tidak sekali pun mengucapkan selamat pagi atau sekadar bertanya apakah Patra sudah sarapan. Patra hanya mendengar bunyi lemari dibuka, laci ditutup, lalu langkah kaki yang bergerak dari kamar menuju ruang tamu.Biasanya Talia akan mampir sebentar ke meja makan, mengusap rambut Patra sebelum berangkat. Hari itu tidak ada apa-apa selain bunyi gelas yang diletakkan pelan di wastafel. Patra tahu, diam seperti ini jauh lebih menakutkan dibandingkan pertengkaran.Sampai menjelang siang, mereka tetap berada di bawah atap yang sama tanpa benar-benar hidup di ruang yang sama. Patra mencoba menyibukkan diri membalas revisi naskah klien, sedangkan Talia berkali-kali keluar masuk kamar sambil memeriksa dokumen kantor. Tidak ada percakapan, bahkan ketika mata mereka sempat bertemu.Menjelang sore, Talia akhirnya menghampiri meja kerja Patra. Tanpa duduk, perempuan itu menyodorkan ponselnya begitu saja

  • Hestia   Chapter 98 - Don't Go to A Way You Don't Belong

    Patra sudah tahu Talia akan pulang lebih malam dari biasanya. Sejak pagi, tunangannya itu beberapa kali mengeluhkan jadwal monitoring karyawan baru Intimate Beauty yang mendadak padat karena beberapa divisi sedang melakukan evaluasi triwulanan. Karena itu, ketika jam menunjukkan pukul tujuh malam d

  • Hestia   Chapter 97 - Kiss Me and I Might--

    Patra datang lima belas menit lebih awal dari waktu yang dijanjikan Talia. Ia memilih duduk di bangku panjang dekat pintu masuk restoran sambil sesekali mengecek jam di ponselnya. Di luar gedung, lampu-lampu kota mulai menyala dan memantul di kaca jendela seperti kumpulan bintang yang tersesat ke p

  • Hestia   Chapter 93 - She's A Fan

    Archie sudah menagih kehadiran mereka sejak tiga hari lalu. Karena itulah Sabtu sore itu Patra dan Talia berakhir menginap di rumah Artemis dan Cassandra, sebuah rumah yang selalu terasa lebih hidup daripada ukurannya sendiri.Begitu mereka datang, Archie langsung menyeret Talia ke meja belajar. An

  • Hestia   Chapter 89 - Pick Me Over Him

    Pagi itu, Patra bangun tanpa mimpi buruk untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir. Perasaan ringan itu bertahan sampai ia dan Nero turun ke restoran hotel untuk sarapan sebelum check out. Bahkan kopi hotel yang terlalu pahit pun tidak berhasil merusak suasana hatinya.“Lo yakin nggak ma

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status