INICIAR SESIÓNPatra melirik jam tangan baby blue sebelum kembali menghempaskan kembali punggungnya ke kepala sofa lobi kampus. Universitas Moonsheer terlihat sangat sepi di akhir pekan, setidaknya itu yang dikatakan satpam pada Patra. Dikarenakan ia bukan mahasiswa dengan ID card, laki-laki itu tidak bisa naik ke perpustakaan seperti usul Talia. Sekarang laki-laki itu merasa bodoh karena terburu-buru datang sebelum pukul satu siang. Berkat suara Hesti dan Rendi yang nimbrung ketika Talia meneleponnya, tepat setelah Patra membalas ‘belum’ untuk pesan ‘udah makan siang?’ dari perempuan itu, kini laki-laki itu duduk sendirian sambil memeluk buket hollyhock. Perhatian Patra cukup teralihkan lewat unggahan media sosial yang sudah dikerjakan—maupun masih dibuat ulang, oleh tim konten tempatnya bekerja. Akan tetapi, suara seseorang dari arah pintu utama mengacaukan pusat atensi Patra. Ia mengenal mahasiswa, yang tidak lagi memakai hoodie marun, melainkan jaket berwarna semerah ceri. Saat mahasiswa beram
Tanpa Patra duga, Talia mengeluarkan sarung tangan plastik dari salah satu laci dekat rak botol-botol cat rambut. “Gue udah ngobrol sama ChatGPT, siapa tau kulit lo termasuk yang sensitif. Tangan gue juga dingin, lama-lama di bawah AC sini dari sia—”“Bukan itu!” Patra reflek menepis sepasang sarung tangan plastik di genggaman Talia. Walaupun merasa bersalah karena wajah perempuan itu langsung keruh, Patra berusaha memberitahu, “Cuma gue yang pernah pegang … gue nggak pernah dipegang orang lain….”Air muka Talia langsung berubah cerah dengan mulut berbentuk o dan bersuara, “Oh” yang panjang. “Ini juga pertama kalinya gue niat megang, kok, Kak.”Patra mengkerutkan kening. “Emang sebelumnya pernah?”“Pernah, tapi nggak niat. Karena dipaksa.”“Kok lo mau aja disuruh begitu?!”“Usia gue udah legal, emang nggak boleh ngikutin film-film yang delapan belas plus?”Patra menggaruk tengkuk yang tidak gatal, sambil sesekali mengapitkan kedua paha. Ia bingung menjawab di situasi terdesak. Patra m
Jumat malam itu waktu kebanyakan orang berlomba-lomba mencari cara dan transportasi untuk pulang ke rumah. Patra juga merasakan hal yang sama, tetapi berhubung permen karet Odi sialan masih menyangkut di rambut—disinilah ia berada. Di depan Hestia Salon. Kedua matanya terpaku pada Talia yang sedang duduk termenung. Memandang kosong ke layar ponsel perempuan itu. Kenapa anak magang kerja sampai malam, ya? Apa dia bakal ketemu lagi sama cowok itu? Air muka Patra sontak memberengut mengingat pelototan sinis si cowok berhoodie marun itu. Ganteng, sih, hidungnya mancung, bentuk matanya nggak bulet tapi tajem … apa tipe Talia begitu?“Patra!” Si pemilik nama tersentak. Talia sudah membuka pintu salon dan tertawa kecil. “Ngapain bengong di sini?” Perempuan itu semakin berusaha menghentikan tawa kala melihat benda warna merah muda yang sedikit pucat—menempel di beberapa pucuk helai rambut Patra. Bahkan sampai Patra duduk manis dengan wajah semerah tomat, Talia masih terkekeh bahagia. “Berkat
Di depan kantor agensi digital Daijobu GensPatra benar-benar diantar balik ke kantor oleh Talia. Keduanya menaiki motor yang Talia kendarai, dengan Archie duduk di antara mereka."Dadah, Kak Patra! Makasih, ya!" ujar Archie melonjak-lonjak di atas jok sambil melambaikan satu tangannya ceria ke laki-laki yang sudah turun dan berdiri tepat di depan pintu kaca kantor agensi. "Sebentar!" seru Talia sembari menurunkan standar dan membiarkan posisi motor diparkir miring. Patra menatap keterangan Talia yang berjalan mendekat, lalu memberikan ponsel dengan layar menunjukkan keypad panggilan. "Boleh simpen nomer lo?"Kedua telinga Patra memerah. Sepadam tomat. Kedua mata laki-laki itu mengerjap berkali-kali dengan mulut setengah terbuka. Sedikit bingung pada sikap agresif Talia—Patra merasa didahului, dan tidak memiliki kesempatan memulai. Akan tetapi, dengan keanehan pada kepalanya, Patra pikir wajar saja ia membiarkan Talia mendekatinya lebih dulu. Patra menelan saliva gugup sebelum bert
Sepanjang sisa waktu istirahat siang Patra di kantor habis karena terus melamun. Pikirannya justru melayang ke ekspresi lega sekaligus bahagia Talia. Perempuan itu kemarin terlihat berangsur-angsur bingung dan kecewa. Kenyataan ayah kandungnya sendiri mengetahui keanehan pada reaksi akan sentuhan pada akar rambut, sudah membuat Patra malu setengah mati. Apalagi orang asing yang baru ia kenal. Sebenernya, dia juga buka rahasia, batin Patra menimbang-nimbang ragu. Haruskah ia kembali ke salon. Ada perasaan mengganjal di hati—bahwa Patra ingin mereka saling mengenal lebih jauh. Namun, Talia bukan perempuan bernama Hestia seperti yang direkomendasikan teman kantornya. Hardi sampai sudah minta maaf dan mentraktir Patra makan agar sahabatnya melupakan insiden memalukan, serta fakta si Hesti asli sudah tidak berstatus lajang. Mungkin nggak ada salahnya temenan dulu sama Talia...?Di tengah harapan dan ketakutannya terlalu membuka diri, sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Patra. Teks da
Keesokan harinya, sepulang kerja Patra kembali memesan ojek untuk mengantarnya lebih dulu ke salon. Tempat ia bertemu sang hairdresser murah senyum. “Tunggu sebentar, ya, Pak. Saya cuma mau balikin barang, kok,” pinta Patra pada si ojek. Saking ragu, gugup, dan penasaran saat itu, ia sampai tidak membaca nama tempatnya. Cukup alamat yang diberikan Hardi saja. “Permisi,” sapa Patra. Anehnya isi salon sepi. Bahkan resepsionis galak yang ia temui kemarin tidak ada, begitu pula si hairdresser ramah.Tangan Patra merogoh selembar uang berwarna merah dari kantong celana. Pria di akhir usia dua puluhan itu berniat meletakkan saja jubah yang tidak sengaja dibawanya kemarin beserta uang di bawah vas bunga yang menghiasi meja resepsionis. “Kita bisa coba lagi, Hes! Aku nggak pernah buat salah selama kita pacaran!” Tiba-tiba ada suara di balik dinding yang mengejutkan Patra.“Uhuk!” Patra tersedak saliva sendiri. Setelah mendengar itu, Patra juga mendengar suara benda-benda kecil, seperti bo







