LOGINKeesokan harinya, sepulang kerja Patra kembali memesan ojek untuk mengantarnya lebih dulu ke salon. Tempat ia bertemu sang hairdresser murah senyum. “Tunggu sebentar, ya, Pak. Saya cuma mau balikin barang, kok,” pinta Patra pada si ojek.
Saking ragu, gugup, dan penasaran saat itu, ia sampai tidak membaca nama tempatnya. Cukup alamat yang diberikan Hardi saja. “Permisi,” sapa Patra. Anehnya isi salon sepi. Bahkan resepsionis galak yang ia temui kemarin tidak ada, begitu pula si hairdresser ramah. Tangan Patra merogoh selembar uang berwarna merah dari kantong celana. Pria di akhir usia dua puluhan itu berniat meletakkan saja jubah yang tidak sengaja dibawanya kemarin beserta uang di bawah vas bunga yang menghiasi meja resepsionis. “Kita bisa coba lagi, Hes! Aku nggak pernah buat salah selama kita pacaran!” Tiba-tiba ada suara di balik dinding yang mengejutkan Patra. “Uhuk!” Patra tersedak saliva sendiri. Setelah mendengar itu, Patra juga mendengar suara benda-benda kecil, seperti botol sampo dan kondisioner, berjatuhan ke lantai. Kemudian Seorang laki-laki berjalan terbirit-birit dari balik dinding. Kelihatannya laki-laki itu masih mahasiswa, berambut hitam halus yang tersisir ke belakang, mengenakan hoodie marun dan sekilas melirik Patra dengan tatapan sinis. “Oh, halo, Kak. Ada yang bisa dibantu?” sapa wanita bername tag Paula selayaknya tugas sebagai resepsionis. “Hai!” sapa Patra terlalu bersemangat sampai ia sadar si hairdresser yang ditunggu-tunggu tampaknya dalam keadaan bad mood. “Saya mau balikin ini, Kak.” ujar Patra seraya menepuk jubah dan uang di atas meja resepsionis. Tiba-tiba Patra tersadar karena sorot mata si hairdresser mengarah ke bagian celananya, meskipun hanya sepersekian detik. Tepat sebelum Patra melangkah keluar pintu salon, hairdresser dengan rambutnya yang agak ikal diikat satu tinggi, mendadak bersuara tidak rendah. “Kakak suka ‘naik sendiri’ kalau rambutnya lagi ditarik, ya?” Patra berdiri mematung, masih di posisi ketika hairdresser menanyakan reaksi adik kecilnya setiap rambut pria itu ditarik. Perempuan itu sudah berjalan mendekat. Mereka hanya berjarak kurang dari satu meter, dan keingintahuan sang hairdresser terpotong panggilan dari seseorang. “Ngapain ngasih tau second account gue ke sembarang orang!!” teriak seseorang dari seberang panggilan yang loudspeakernya dinyalakan. “Hari ini gue udah ngaku, kok. Gue bukan Hestia, dan dia deketin gue cuma buat fwb-an,” tutur si hairdresser santai. Setelah menyuruh orang di seberang memblokir nomor pelanggan laki-laki yang datang sebelum Patra, perempuan itu tampak mematikan panggilan sepihak, memasukkan gadget pipih tipisnya ke dalam saku celana, lalu mengulurkan tangan padanya. “Talia. Nama kakak?” “Saya Patra … berarti kamu bukan Hestia?” Talia mengangkat satu alis, kaget dan penasaran. Berarti pria di hadapannya ini sudah ada rencana bertemu Hesti. Talia lantas menjelaskan Hestia adalah gabungan nama anak perempuan tunggal serta pemilik salon—Hesti dan ibunya, Tante Tiara. Patra terlalu fokus terpesona dengan pahatan batang hidung, tulang pipi, sampai ke manik mata teduh Talia. Sekilas ia mendengar Talia menyebut Hesti, sahabatnya, sudah menjadi anak yatim, sehingga bisnis salon seharusnya dilanjutkan teman Talia itu. Atensi Patra belum sepenuhnya tertarik ke bumi, sampai Talia berkata, “Gue dulu suka pake nama Hesti, buat ngetes cowok-cowok yang mau pacaran sama gue.” Bibir Talia mengulum senyum geli saat mendapati mulut Patra yang melongo tidak percaya pada informasi itu, lalu berganti dengan ekspresi mencemooh angin kosong di sebelahnya. “Kalau kakak masih berusaha deketin si anak Tante Tiara, dia udah punya pacar,” tambah Talia sambil mengayunkan ponsel di tangannya. Jelas saja ucapan Talia semakin memperparah rencana konfrontasi Patra nanti ke Hardi. Sekaligus harga diri Patra setelah si perempuan menyaksikan reaksi biologis yang selama ini ia rahasiakan. “Saya minta maaf sebelumnya kalau … reaksi nggak wajar saya—bikin kamu nggak nyaman.” “Nggak nyaman? Nggak juga, saya nggak pernah ngerasain dorongan seksual waktu ciuman sama pacar pertama, makanya kaget banget lihat reaksi kakak hanya dari—rambut yang ditarik,” urai Talia. Perempuan itu langsung membuang muka, karena Patra kini menatapnya terkejut. Ini baru kedua kali mereka bertemu. “Saya selalu muntah kalau maksain diri lebih intim ke mantan pacar, dulu.” Jelas saja Patra syok ada seseorang seterbuka Talia yang mudah berbicara kegelisahannya. Pria itu sedikit iri. Berbeda dengan Patra. Menceritakan permasalahannya berarti membuka luka masa lalu. Tidak lama keheningan menyelimuti kedua orang itu, Paula kembali dengan bungkus nasi padang untuk makan siangnya. “Oh, udah bayar?” celetuk si resepsionis. Setelah melihat anggukkan kepala si anak magang, Paula naik ke lantai dua agar bisa menyantap makan siangnya dengan tenang. “Kakak izin dari kantor, atau sekalian habisin jam istirahat?” tanya Talia seraya menunjuk name tag yang tergantung dari leher sampai ke depan dada Patra. “Yah, sambil istirahat siang,” jawab Patra. “Kalau gitu, saya permisi–” “Gimana cara kakak nahan reaksinya waktu, sama orang lain?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Talia. Patra tersenyum tipis sambil menarik dan menghembuskan napas letih pada pertanyaan yang ia sendiri, belum memiliki jawaban. “Saya menghindar. Tolong jangan kasih tau soal ini ke siapa-siapa, ya, Kak. Saya janji nggak bakal dateng lagi dan buat kakak atau staf lain merasa nggak nyaman...." Walaupun Patra sedikit kecewa karena tidak akan pernah bertemu lagi perempuan sejujur Talia-yang-bukan-Hestia, laki-laki itu tetap mengutamakan batasan. Garis yang selalu dihormati sesuai ajaran ayahnya. Talia menarik keluar ponsel, yang ternyata loudspeaker nya sejak tadi hanya dimatikan, tetapi Hesti masih bisa mendengar usaha PDKT temannya dari seberang. Kedua mata Talia masih menatap punggung Patra yang kian menjauh di balik pintu kaca salon. "Kok lo nggak minta nomornya, Tal?!" seru Hesti begitu Talia menempelkan layar ponsel ke telinga. Belum sempat Talia mengeluh, suara pacar Hesti menimpali, “Jangan nyerah, Tal! Gue banyak temen cowok, nih, tapi mereka nggak turn on kalau rambutnya dipegang-pegang!" “Nggak mau.” Talia menyahut tegas. Tanpa melepas arah tatapnya ke Patra—yang sempat menoleh sedetik ke salon.Talia memutar anak kunci rumah pelan-pelan setelah matahari benar-benar tenggelam di balik deretan bangunan Petojo. Bahunya pegal setelah seharian menghadapi rapat yang tidak selesai-selesai, sementara gerimis tipis membuat udara sore terasa jauh lebih dingin daripada biasanya. Begitu pintu terbuka, matanya langsung tertuju pada sebuah kotak panjang yang diletakkan rapi di atas meja makan.Di atas kotak itu tertempel secarik memo kecil dengan tulisan tangan yang sudah sangat ia hafal. Tinta hitamnya sedikit miring ke kanan, seolah ditulis terburu-buru, tetapi setiap hurufnya tetap rapi seperti kebiasaan Patra selama ini. Talia mengembuskan napas pelan sebelum mengambil kertas itu.*"Maaf karena aku ceroboh. Aku tahu ini nggak akan benar-benar mengganti sweater kamu yang lama, tapi semoga bisa nemenin kamu kalau hujan lagi. Maaf ya, Tal."*Talia tidak langsung membuka kotaknya. Ia justru berdiri beberapa detik sambil memandangi memo itu, lalu tanpa sadar menggigit bibir bawahnya sendir
Pagi berikutnya datang dengan matahari yang terlalu cerah untuk rumah yang semalam dipenuhi kesunyian. Patra bangun lebih dulu dan mendapati sisi ranjang Talia sudah kosong, hanya menyisakan lipatan selimut yang mulai kehilangan hangat. Ia mengusap wajah pelan sebelum melangkah ke dapur, berharap bisa memperbaiki suasana lewat hal sederhana. Di meja makan, Talia sedang menyiapkan bekal makan siang dengan gerakan yang tenang dan teratur. Sweater yang semalam mereka perdebatkan digantung rapi di dekat jendela, masih tampak sedikit berubah bentuk setelah keluar dari mesin cuci. Patra berdiri beberapa detik di ambang pintu sebelum akhirnya memberanikan diri mendekat. "Aku bikinin kopi?" tanya Patra pelan. Talia mengangguk tanpa mengangkat kepala. "Boleh." Jawaban singkat itu tetap terdengar lebih baik daripada diam sepenuhnya. Patra segera menggiling biji kopi dan menyalakan ketel, berusaha mengingat kembali ritme pagi mereka sebelum semuanya terasa rapuh seperti sekarang. Suara air
Sabtu pagi diwarnai suara lakban yang disobek, kardus yang digeser, dan langkah kaki yang mondar-mandir memenuhi lorong hunian vertikal tempat Talia tinggal selama beberapa tahun terakhir. Matahari baru naik sempurna ketika Patra sudah berkeringat mengangkat dua kardus berisi buku menuju lift, sementara Talia memastikan tidak ada barang yang tertinggal di setiap sudut kamar. Hari itu akhirnya tiba juga. Hari pertama mereka benar-benar pindah ke rumah baru di Petojo Utara."Aku masih nggak nyangka kita punya rumah sendiri," gumam Patra pelan sambil menekan tombol lift. Talia yang berdiri di sampingnya hanya mengangguk kecil, jemarinya masih menggenggam daftar barang yang semalaman ia tulis agar tidak ada satu pun yang terlupakan. Lift terbuka, lalu mereka berdua saling berpandangan sesaat sebelum tertawa kecil karena sama-sama terlihat gugup.Di lantai dasar, sebuah mobil bak terbuka sudah terparkir. Odi melambaikan tangan dari dekat bagasi sambil mengangkat satu gulung karpet di pun
Laptop Patra akhirnya tertutup tepat ketika matahari mulai turun di balik deretan ruko seberang Salon Hestia. Sejak siang ia dan Odi menyelesaikan revisi naskah terakhir untuk dua klien baru yang sama-sama akan memasuki tahap penyusunan proposal penerbitan. Satu proyek merupakan buku dongeng bergambar untuk komunitas belajar anak-anak di pesisir, sementara satu lagi berupa couple journaling series yang akan menjadi merchandise podcast pasangan suami istri terkenal di kalangan milenial dan generasi Z. "Kita tinggal rapat daring hari Senin, kan?" tanya Odi dari layar laptopnya sambil meregangkan bahu. "Dua klien itu udah minta timeline final." Patra mengangguk kecil sembari mengecek agenda di tablet digitalnya, lalu menjawab pelan, "Yang dongeng bahas ilustrasi, yang journaling bahas struktur latihan refleksinya." "Siap." Odi menguap lebar sebelum tersenyum tipis. "Kalau gitu gue cabut dulu. Jangan lupa makan." Patra hanya mengangkat tangan kecil sebagai balasan sebelum sambungan vide
Pintu hunian vertikal terbuka perlahan tanpa suara. Talia melepaskan sepatu dan tasnya di dekat rak, lalu mendapati ruang tamu masih diterangi cahaya laptop yang belum dimatikan. Patra tertidur di meja bundar dengan kepala bertumpu di atas lipatan kedua lengannya, sementara layar laptop masih memperlihatkan dokumen naskah yang belum selesai ia sunting. Talia berdiri cukup lama memandangi laki-laki itu. Rambut Patra berantakan karena beberapa kali mungkin ia mengusapnya sendiri saat berpikir, sedangkan jemari kirinya masih menggenggam pena yang tintanya mulai mengering. Entah sejak kapan tunangannya tertidur dalam posisi tidak nyaman seperti itu. Ia tidak membangunkannya. Talia memilih masuk ke kamar lebih dulu, berganti pakaian rumah, lalu mencuci wajah dan mengikat rambutnya. Ketika kembali ke dapur kecil mereka, ia membuka kulkas sekadarnya dan menemukan dua kotak tupperware yang diberi label tulisan tangan Patra menggunakan spidol hitam. "Semur." "Tumis timun." Sudut bibir Ta
Keesokan paginya, Talia mengirim pesan ke grup kantor Intimate Beauty untuk meminta izin datang setelah jam makan siang. Ia beralasan perlu mengurus urusan keluarga terlebih dahulu dan akan langsung menuju Salon Hestia sore nanti, sekalian membantu operasional hingga tutup. Tidak lama kemudian Boris membalas singkat, Take your time, membuat Talia mengembuskan napas lega. Sesudah mandi dan berganti pakaian sederhana, Talia mampir ke dapur membantu Janette menyiapkan sarapan. Dua mangkuk bubur ayam, potongan buah, dan secangkir teh hangat ia tata di atas nampan kayu. Janette hanya mengusap lengan putrinya pelan sebelum membiarkannya berjalan menuju kamar yang berada di ujung lorong lantai dua. Pintu kamar Oma Claire terbuka sedikit. Perempuan tua itu sudah duduk bersandar di ranjang sambil memandangi taman melalui jendela yang dibuka separuh, seolah sengaja menunggu cucunya datang. Rambut putihnya yang tipis tersisir rapi, sementara garis-garis tua di wajahnya justru membuat senyumnya
Keesokan paginya, Patra terbangun sendirian. Tidak ada Talia tempatnya terlelap. Setelah tiga jam mengalami insomnia parah. ‘Jelaslah dia pergi, gue harus jaga sikap sampe kita punya rumah dan keluarga sendiri,’ ucap Patra menghibur dirinya sendiri sambil mengenakan sandal tidur. Laki-laki itu te
“Kamu yakin nggak ada masalah yang mau kamu ceritain?” tanya Talia sambil menatap Patra lekat-lekat. Patra sangat tidak nyaman. Apalagi mereka sedang tidak di tempat yang bisa membicarakan masalah privasi masing-masing. “Kenapa kamu nanya begitu?” balas Patra malas. Talia membuang napas keras.
Sehari sebelum ulang tahun neneknya Talia, Patra diajak kekasihnya itu melepas penat bersama kakak perempuan tiri dan suaminya. Hera dan Remi. Ya, Patra juga berbohong tentang alasan ia menangis beberapa hari sebelumnya—keletihan karena jadwal kerja yang menyita akhir pekan. Malam itu,Talia pulang
Jumat malam itu waktu kebanyakan orang berlomba-lomba mencari cara dan transportasi untuk pulang ke rumah. Patra juga merasakan hal yang sama, tetapi berhubung permen karet Odi sialan masih menyangkut di rambut—disinilah ia berada. Di depan Hestia Salon. Kedua matanya terpaku pada Talia yang sedang







