Home / Urban / Hestia / Chapter 2 - The Real Hestia

Share

Chapter 2 - The Real Hestia

Author: Dyara
last update publish date: 2026-02-12 15:58:35

Keesokan harinya, sepulang kerja Patra kembali memesan ojek untuk mengantarnya lebih dulu ke salon. Tempat ia bertemu sang hairdresser murah senyum. “Tunggu sebentar, ya, Pak. Saya cuma mau balikin barang, kok,” pinta Patra pada si ojek.

Saking ragu, gugup, dan penasaran saat itu, ia sampai tidak membaca nama tempatnya. Cukup alamat yang diberikan Hardi saja.

“Permisi,” sapa Patra. Anehnya isi salon sepi.

Bahkan resepsionis galak yang ia temui kemarin tidak ada, begitu pula si hairdresser ramah.

Tangan Patra merogoh selembar uang berwarna merah dari kantong celana. Pria di akhir usia dua puluhan itu berniat meletakkan saja jubah yang tidak sengaja dibawanya kemarin beserta uang di bawah vas bunga yang menghiasi meja resepsionis.

“Kita bisa coba lagi, Hes! Aku nggak pernah buat salah selama kita pacaran!” Tiba-tiba ada suara di balik dinding yang mengejutkan Patra.

“Uhuk!” Patra tersedak saliva sendiri. Setelah mendengar itu, Patra juga mendengar suara benda-benda kecil, seperti botol sampo dan kondisioner, berjatuhan ke lantai. Kemudian Seorang laki-laki berjalan terbirit-birit dari balik dinding. Kelihatannya laki-laki itu masih mahasiswa, berambut hitam halus yang tersisir ke belakang, mengenakan hoodie marun dan sekilas melirik Patra dengan tatapan sinis.

“Oh, halo, Kak. Ada yang bisa dibantu?” sapa wanita bername tag Paula selayaknya tugas sebagai resepsionis.

“Hai!” sapa Patra terlalu bersemangat sampai ia sadar si hairdresser yang ditunggu-tunggu tampaknya dalam keadaan bad mood. “Saya mau balikin ini, Kak.” ujar Patra seraya menepuk jubah dan uang di atas meja resepsionis. Tiba-tiba Patra tersadar karena sorot mata si hairdresser mengarah ke bagian celananya, meskipun hanya sepersekian detik.

Tepat sebelum Patra melangkah keluar pintu salon, hairdresser dengan rambutnya yang agak ikal diikat satu tinggi, mendadak bersuara tidak rendah. “Kakak suka ‘naik sendiri’ kalau rambutnya lagi ditarik, ya?”

Patra berdiri mematung, masih di posisi ketika hairdresser menanyakan reaksi adik kecilnya setiap rambut pria itu ditarik. Perempuan itu sudah berjalan mendekat. Mereka hanya berjarak kurang dari satu meter, dan keingintahuan sang hairdresser terpotong panggilan dari seseorang.

“Ngapain ngasih tau second account gue ke sembarang orang!!” teriak seseorang dari seberang panggilan yang loudspeakernya dinyalakan.

“Hari ini gue udah ngaku, kok. Gue bukan Hestia, dan dia deketin gue cuma buat fwb-an,” tutur si hairdresser santai. Setelah menyuruh orang di seberang memblokir nomor pelanggan laki-laki yang datang sebelum Patra, perempuan itu tampak mematikan panggilan sepihak, memasukkan gadget pipih tipisnya ke dalam saku celana, lalu mengulurkan tangan padanya. “Talia. Nama kakak?”

“Saya Patra … berarti kamu bukan Hestia?”

Talia mengangkat satu alis, kaget dan penasaran. Berarti pria di hadapannya ini sudah ada rencana bertemu Hesti. Talia lantas menjelaskan Hestia adalah gabungan nama anak perempuan tunggal serta pemilik salon—Hesti dan ibunya, Tante Tiara. Patra terlalu fokus terpesona dengan pahatan batang hidung, tulang pipi, sampai ke manik mata teduh Talia. Sekilas ia mendengar Talia menyebut Hesti, sahabatnya, sudah menjadi anak yatim, sehingga bisnis salon seharusnya dilanjutkan teman Talia itu. Atensi Patra belum sepenuhnya tertarik ke bumi, sampai Talia berkata, “Gue dulu suka pake nama Hesti, buat ngetes cowok-cowok yang mau pacaran sama gue.”

Bibir Talia mengulum senyum geli saat mendapati mulut Patra yang melongo tidak percaya pada informasi itu, lalu berganti dengan ekspresi mencemooh angin kosong di sebelahnya. “Kalau kakak masih berusaha deketin si anak Tante Tiara, dia udah punya pacar,” tambah Talia sambil mengayunkan ponsel di tangannya.

Jelas saja ucapan Talia semakin memperparah rencana konfrontasi Patra nanti ke Hardi. Sekaligus harga diri Patra setelah si perempuan menyaksikan reaksi biologis yang selama ini ia rahasiakan. “Saya minta maaf sebelumnya kalau … reaksi nggak wajar saya—bikin kamu nggak nyaman.”

“Nggak nyaman? Nggak juga, saya nggak pernah ngerasain dorongan seksual waktu ciuman sama pacar pertama, makanya kaget banget lihat reaksi kakak hanya dari—rambut yang ditarik,” urai Talia. Perempuan itu langsung membuang muka, karena Patra kini menatapnya terkejut. Ini baru kedua kali mereka bertemu. “Saya selalu muntah kalau maksain diri lebih intim ke mantan pacar, dulu.”

Jelas saja Patra syok ada seseorang seterbuka Talia yang mudah berbicara kegelisahannya. Pria itu sedikit iri. Berbeda dengan Patra. Menceritakan permasalahannya berarti membuka luka masa lalu.

Tidak lama keheningan menyelimuti kedua orang itu, Paula kembali dengan bungkus nasi padang untuk makan siangnya. “Oh, udah bayar?” celetuk si resepsionis. Setelah melihat anggukkan kepala si anak magang, Paula naik ke lantai dua agar bisa menyantap makan siangnya dengan tenang.

“Kakak izin dari kantor, atau sekalian habisin jam istirahat?” tanya Talia seraya menunjuk name tag yang tergantung dari leher sampai ke depan dada Patra.

“Yah, sambil istirahat siang,” jawab Patra. “Kalau gitu, saya permisi–”

“Gimana cara kakak nahan reaksinya waktu, sama orang lain?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Talia.

Patra tersenyum tipis sambil menarik dan menghembuskan napas letih pada pertanyaan yang ia sendiri, belum memiliki jawaban. “Saya menghindar. Tolong jangan kasih tau soal ini ke siapa-siapa, ya, Kak. Saya janji nggak bakal dateng lagi dan buat kakak atau staf lain merasa nggak nyaman...." Walaupun Patra sedikit kecewa karena tidak akan pernah bertemu lagi perempuan sejujur Talia-yang-bukan-Hestia, laki-laki itu tetap mengutamakan batasan. Garis yang selalu dihormati sesuai ajaran ayahnya.

Talia menarik keluar ponsel, yang ternyata loudspeaker nya sejak tadi hanya dimatikan, tetapi Hesti masih bisa mendengar usaha PDKT temannya dari seberang. Kedua mata Talia masih menatap punggung Patra yang kian menjauh di balik pintu kaca salon.

"Kok lo nggak minta nomornya, Tal?!" seru Hesti begitu Talia menempelkan layar ponsel ke telinga.

Belum sempat Talia mengeluh, suara pacar Hesti menimpali, “Jangan nyerah, Tal! Gue banyak temen cowok, nih, tapi mereka nggak turn on kalau rambutnya dipegang-pegang!"

“Nggak mau.” Talia menyahut tegas. Tanpa melepas arah tatapnya ke Patra—yang sempat menoleh sedetik ke salon.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hestia   Chapter 83 - New Girl at Intimate Beauty

    Tiga hari setelah tidak lagi tinggal serumah dengan Talia, Patra mulai membiasakan dirinya menghabiskan lebih banyak waktu di kantor kecil agensi ghostwriting miliknya bersama Odi. Tempat itu sebenarnya hanya ruko dua lantai yang disulap seadanya—lantai bawah dipenuhi meja kerja dan rak buku, sedangkan lantai atas dipakai untuk meeting daring dan menyimpan barang cetak dari proyek-proyek lama mereka.Pukul sebelas siang, hujan turun tipis di luar jendela. Aroma kopi sachet dan roti panggang dari pantry kecil bercampur dengan suara keyboard Odi yang sejak tadi tidak berhenti berbunyi.“Lo tidur nggak semalam?” tanya Odi sambil tetap menatap layar laptopnya.Patra mengangkat wajah dari draft proposal penerbitan. “Tidur.”“Berapa jam?”Patra diam sebentar. “Dua.”Odi mendecih pelan. Ia mendorong satu bungkus biskuit ke arah Patra tanpa menoleh. “Kalau mati mendadak gara-gara insomnia, jangan di kantor gue.”Sudut bibir Patra terangkat tipis. Itu sudah termasuk kemajuan dibanding tiga ha

  • Hestia   Chapter 82 - Where Do All of Our Loves Go?

    Patra tidak kembali ke apartemen Talia malam itu. Setelah percakapan mereka di rooftop kafe Athena berakhir dengan suara kursi bergeser dan langkah kaki yang menjauh satu sama lain, Patra justru memesan ojek ke rumah ayahnya. Rumah yang sejak dulu terasa terlalu penuh oleh kenangan buruk, tetapi tetap menjadi tempat pertama yang ia pikirkan ketika hidupnya runtuh. Gerbang rumah Baxter terbuka pelan ketika satpam mengenali wajah Patra. Udara malam membawa aroma tanah basah dan bunga melati dari halaman depan. Patra berdiri beberapa detik di teras sebelum masuk, seolah tubuhnya lupa bagaimana cara pulang ke tempat yang pernah membuatnya ingin kabur. Lampu ruang tamu masih menyala redup. Dari arah dapur terdengar suara seseorang mencuci piring pelan, disusul tawa kecil anak-anak dari televisi yang volumenya dikecilkan. “Pat?” Patra menoleh cepat. Artemis berdiri di ambang dapur sambil membawa gelas air putih. Rambut panjangnya diikat asal, kaus kebesaran Cassandra menggantung longgar

  • Hestia   Chapter 81 - “You Gotta be F*cking Joking Me”

    Hujan di luar rooftop mulai turun lebih deras. Bunyi rintiknya menghantam kanopi kaca tipis di atas mereka, sementara toast ulang tahun Talia perlahan mendingin di meja.Patra masih memegang ponsel Talia yang tadi disodorkan ke arahnya. Foto dirinya dan Nero terasa jauh lebih berat dibanding benda pipih itu sendiri.Getaran notifikasi mendadak memecah keheningan mereka. Talia menunduk sekilas ke layar ponselnya sendiri sebelum menghela napas kecil.“Rapat online dadakan,” gumamnya lirih. Jemarinya buru-buru mengetik sesuatu ke grup kantor Intimate Beauty.Patra memperhatikan tunangannya tanpa suara. Cara Talia tetap berusaha tenang di tengah kekacauan hubungan mereka justru membuat dadanya semakin sesak.“Aku kayaknya harus turun bentar,” ujar Talia sambil membuka aplikasi meeting. “Campaign minggu depan—”“Kamu nggak perlu capek-capek berusaha buat pembohong kayak aku.”Kalimat Patra memotong ucapan Talia begitu saja.Perempuan itu langsung mendongak. Raut wajahnya berubah dalam hitu

  • Hestia   Chapter 80 - First and Last Burnt Toasts

    Awal Juli selalu identik dengan hujan kecil dan udara dingin bagi Talia. Karena itu Patra sengaja memesan lantai atas kafe milik Athena jauh-jauh hari untuk merayakan ulang tahun tunangannya secara sederhana. Lampu-lampu gantung kecil dipasang Odi di dekat jendela. Athena bahkan membantu menyiapkan playlist lagu favorit Talia diam-diam dari akun musik perempuan itu. “Romantis juga lo ternyata,” goda Athena sambil menyusun lilin kecil di atas toast. Patra terkekeh gugup sambil memeriksa ulang susunan piring dan hadiah kecil yang ia bungkus sendiri malam sebelumnya. “Gue takut dia malah ilfeel,” gumam Patra jujur. Odi yang sedang berdiri di atas kursi untuk membetulkan lampu langsung tertawa keras. “Kalau Kak Talia ilfeel, berarti standar manusianya udah nggak realistis!” serunya. Athena reflek melempar serbet ke arah kepala adik tirinya itu. Menjelang malam, hujan rintik mulai turun di luar jendela kaca kafe. Pantulan lampu jalan dan kendaraan membuat suasana lantai atas terasa ha

  • Hestia   Chapter 79 - Slow, but Cold

    Hari pertama setelah pertengkaran di kamar mandi itu terasa biasa saja. Talia masih membuat kopi untuk Patra sebelum berangkat kerja, masih mengingatkan laki-laki itu minum obat, bahkan sempat merapikan kerah kaus Patra sebelum keluar apartemen.Namun, semua itu terasa seperti rutinitas yang dilakukan tanpa benar-benar hadir. Tidak ada lagi kecupan singkat di kening Patra. Tidak ada lagi tangan Talia yang diam-diam menyelip ke sela jemarinya saat mereka berdiri berdampingan di dapur.Patra mulai menghabiskan cuti kantor lebih banyak di rumah. Ia memindahkan sebagian besar pekerjaannya ke apartemen Talia sambil mengurus revisi naskah klien agensi ghostwriting mereka.Sesekali Odi datang bertamu sambil membawa kopi atau ide campaign baru. Kehadiran laki-laki itu cukup membantu Patra melupakan kecanggungan yang semakin menebal di antara dirinya dan Talia.“Lo keliatan kayak orang abis ditinggal nikah,” celetuk Odi suatu siang sambil membuka bungkus donat. Patra langsung menendang pelan k

  • Hestia   Chapter 78 - Throw Your Minds to My Heartless Skin

    Talia menggelar handuk kecil di bahunya sendiri sebelum menepuk pinggir bathtub pelan. “Sini,” ujarnya pendek. Patra yang sejak tadi duduk di lantai kamar sambil mengecek ponsel akhirnya berdiri dan berjalan mendekat tanpa banyak bicara.Malam itu apartemen mereka terlalu sunyi. Bahkan suara kendaraan dari jalan raya terdengar lebih hidup dibanding ruang mandi yang hanya dipenuhi bunyi air dan napas mereka sendiri.Patra duduk di depan bathtub dengan posisi bersandar di bibirnya. Kedua kaki laki-laki itu terjulur lurus, sementara Talia duduk di belakangnya. Jemari perempuan itu perlahan menyisir rambut Patra sebelum shower dinyalakan.Air hangat jatuh mengenai kepala Patra perlahan. Bahunya refleks turun santai. “Enak?” tanya Talia lirih.Patra mengangguk kecil sambil memejamkan mata. “Banget….” Suaranya serak karena kantuk dan rasa nyaman yang perlahan menjalari tubuhnya.Talia mulai menuangkan sampo ke telapak tangan. Aroma floral dan mint langsung memenuhi kamar mandi sempit itu. P

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status