Se connecterSepanjang sisa waktu istirahat siang Patra di kantor habis karena terus melamun. Pikirannya justru melayang ke ekspresi lega sekaligus bahagia Talia. Perempuan itu kemarin terlihat berangsur-angsur bingung dan kecewa. Kenyataan ayah kandungnya sendiri mengetahui keanehan pada reaksi akan sentuhan pada akar rambut, sudah membuat Patra malu setengah mati. Apalagi orang asing yang baru ia kenal.
Sebenernya, dia juga buka rahasia, batin Patra menimbang-nimbang ragu. Haruskah ia kembali ke salon. Ada perasaan mengganjal di hati—bahwa Patra ingin mereka saling mengenal lebih jauh. Namun, Talia bukan perempuan bernama Hestia seperti yang direkomendasikan teman kantornya. Hardi sampai sudah minta maaf dan mentraktir Patra makan agar sahabatnya melupakan insiden memalukan, serta fakta si Hesti asli sudah tidak berstatus lajang. Mungkin nggak ada salahnya temenan dulu sama Talia...? Di tengah harapan dan ketakutannya terlalu membuka diri, sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Patra. Teks dari Charissa, ibu angkatnya bertuliskan, from: Mama Charis Maaf, ya, tempo hari gara-gara arisan mama, kamu jadi gabisa mampir. Akhir pekan ini nggak ada tamu, Patra dateng, ya! Kamu belum pernah ketemu anaknya Arte dan Casey, kan? Patra membalas pesan itu bersemangat. Ia rindu sekali dengan Artemis dan teman hidupnya, Cassandra. Padahal mereka berada di satu kota yang sama. Akan tetapi, pekerjaan dan kesibukan aktivitas lain memang menguras waktu luang yang sebenarnya bisa diambil. Setiap hari Patra biasanya antusias menunggu kelanjutan serial TV yang naskahnya ditulis Artemis. Sayangnya belakangan ini, tidak ada nama Artemis di dua episode terakhir. Beberapa detik kemudian, muncul seorang anak laki-laki SD. Anak itu langsung duduk tepat di samping Patra dengan pandangan kosong. Patra memandang aneh si bocah kecil dengan nama Archer De Rucci di bagian dada kiri kemeja seragamnya. Jarang sekali ia melihat anak berseragam SD naik transportasi umum. Kalau angkot masih bisa dimaklumi karena hanya perlu memberi uang kepada sopir, sedangkan bus? Penumpang biasanya harus pakai kartu akses sebagai alat pembayaran. “Adek biasa pulang sendiri?” tanya Patra berbasa-basi, “selalu ingat bawa kartu, ya? Keren!” lanjutnya. Anak bernama Archer itu gelagapan di tempat. “Iya! Aku emang biasa pulang sendiri, kok, Kak … P-A, Kak Patra!” eja mulut Archer. Mumpung banyak orang yang menaiki bus itu sedang berjalan pelan-pelan menjelang turun lewat anak tangga di ambang pintu, Patra memastikan sekali lagi kalau anak laki-laki di sebelahnya betul-betul bisa pulang sendiri. "Kamu beneran tau, nih, pulangnya ke arah mana?" Patra mengangkat kedua alis keheranan melihat gelagat Archie. "Dek?" panggil Patra ragu, sedangkan antrian orang-orang yang turun bus semakin sedikit. "Bus tujuan aku nanti kayaknya dateng, kok. Kakak mau pulang, ya?" Mendengar balasan Archer, Patra kian was-was. Kok adek ini ngomong 'kayaknya', ya? batin laki-laki itu. Namun, ekspresi sungguh-sungguh dan gerak kepala Archer yang selalu membuang muka membuat Patra berusaha meyakinkan diri, anak ini mungkin memang sudah tahu cara pulang, tetapi jadi turut ragu karena ia meremehkannya. Akhirnya Patra tersenyum simpul seraya menepuk puncak kepala Archie, yang balas menatap sorot mata oranye kecokelatan teduh milik Patra. "Kalau gitu kamu hati-hati, ya! Ini bus kakak," pamit Patra. Baru saja Patra menaiki anak tangga bus, suara melengking sarat tangis Archer terdengar, "Aku jatuh, Pak! Aku mau baca rute bus!" Pria yang mencengkeram kerah kemeja seragam Archer menggeram sambil menunjuk puntung rokok yang masih sisa setengah di dekat sepatunya. "Lo kira uang jajan bisa ganti rokok gue?! Anak sialan!!" Tangan pria perokok yang tadinya menunjuk ke bawah, langsung mengepal dan bersiap melayang ke wajah Archer. Untung Patra berdiri di dekat pria itu, menahan lengan gempalnya, lantas menekankan selembar lima puluh ribu ke dada si perokok. "Nih, saya ganti. Kayak habis kehilangan puluhan batang aja!" Patra sengaja berteriak, sayangnya orang-orang sekitar hanya berlalu lalang. Tidak ada yang menyindir si pria perokok, paling tidak melempar tatapan sinis, supaya si perokok temperamental itu meninggalkan Patra. Pembelaan Patra yang lantang serta sosok kecil Archer bersembunyi di balik kedua kaki jenjangnya pria itu. Baru saja Patra melirik Archer sekilas, sebuah kepalan tangan meninju pipi kanannya. “KAKAK!” Archer berteriak panik setengah menangis. Salah satu tangan Patra mendorong tubuh bocah itu pelan ke dekat halte sebelum akhirnya turut melayangkan tinju ke hidung si perokok. Batang tembakau yang baru dihisap sekali jatuh, dan kedua mata si perokok menyala marah. Siap untuk ronde kedua. Patra mengusap darah yang memercik sedikit di sudut bibir. Baru saja si perokok mendekat dengan gaya sok galak, salah satu kaki Patra yang kini terayun—menendang dada si perokok sampai ia terhempas menabrak tong sampah. Kepala si perokok membentur tiang besi dekat tong sampah, sehingga langsung terkapar lemas di trotoar. Patra berjengit di tempatnya berdiri kala mendengar suara familiar berteriak ke arah halte. "Archie!!" Saat ia dan Archer menoleh ke sumber suara, balasan bocah yang ditolong itu semakin membuat jantungnya berdebar keras. "Aunty Talia?"Patra membuka pintu unit perlahan, berusaha tidak menimbulkan bunyi apa pun. Lampu apartemen sudah mati semua, menyisakan cahaya kota dari balik tirai tipis yang memantul samar di lantai. Tubuhnya terasa berat. Bukan cuma karena lembap hujan yang menempel di jaket dan rambutnya, tetapi karena dadanya seperti dipenuhi sesuatu yang mengeras sejak Apollo mencengkeram kerah bajunya siang tadi. Talia sudah tidur ketika Patra masuk kamar. Perempuan itu membelakanginya, tubuhnya tenggelam setengah di balik selimut abu-abu muda yang selalu dipakai kalau hujan turun. Patra mengganti pakaian dengan gerakan kecil-kecil. Ia lalu menyelusup masuk ke balik selimut, hati-hati agar kasur tidak terlalu berguncang dan membangunkan Talia. Namun, begitu punggungnya menyentuh kasur, napas Patra langsung terasa pendek. Kepalanya mendadak dipenuhi bayangan tangan Apollo yang dulu menahan pergelangan tangannya terlalu kuat. Suara Apollo siang tadi kembali menggema. Lo sengaja nikahin sepupu sendiri biar
Patra seharusnya sudah pulang satu jam lalu. Namun revisi naskah klien yang mendadak berubah total membuat dirinya tertahan di kafe kecil dekat kantor sampai malam turun bersama gerimis tipis Jakarta.Laptopnya masih menyala ketika kursi di depannya ditarik seseorang tanpa izin.Patra langsung membeku.Apollo duduk santai sambil menyandarkan tubuh ke kursi. Jaket hitamnya sedikit basah terkena hujan, sedangkan tatapannya terlihat jauh lebih kacau dibanding terakhir kali mereka bertemu di rumah Charissa.“Kaget?” tanya Apollo sambil tersenyum tipis.Jantung Patra langsung berdetak terlalu cepat. Akan tetapi, ia berusaha menjaga wajahnya tetap datar meskipun jemarinya mulai dingin di atas keyboard laptop.“Lo ngapain ke sini?” tanya Patra pelan.Apollo tertawa kecil. “Nemuin adik gue nggak boleh?”Patra hampir muntah mendengar sebutan itu.Ia buru-buru menutup laptopnya sebelum suara getaran di dadanya semakin terdengar jelas. Kafe mulai sepi karena jam pulang kantor sudah lewat, menyis
Patra jarang pulang malam ke rumah Charissa sejak bertunangan dengan Talia. Biasanya ia hanya mampir sebentar untuk mengambil dokumen kerja, pakaian lama, atau sekadar memastikan ibunya masih mau makan dengan benar setelah sibuk seharian.Namun, malam itu berbeda.Talia ikut bersamanya. Bahkan perempuan itu masih menggenggam ujung lengan jaket Patra ketika mereka berjalan memasuki halaman rumah keluarga Baxter yang terlalu sunyi untuk ukuran akhir pekan.“Aku nervous,” gumam Talia pelan.Patra menoleh sebentar sambil terkekeh kecil. “Harusnya aku yang ngomong begitu.”Lampu ruang makan sudah menyala terang ketika mereka masuk. Aroma sup ayam dan bawang putih langsung menyambut dari arah dapur.Charissa muncul sambil membawa mangkuk besar. Wajah perempuan itu tampak sedikit lelah, tetapi matanya langsung melembut melihat Talia dan Patra datang bersamaan.“Kalian akhirnya dateng juga,” sambut Charissa. “Mama kira jadi makan di luar.”Patra buru-buru mengambil mangkuk dari tangan ibunya.
Minggu pagi di kamar Talia berjalan lambat. Tidak ada alarm yang berbunyi terlalu keras, tidak ada suara orang bertengkar dari lantai bawah rumah De Rucci, bahkan matahari yang masuk dari sela gorden terasa malu-malu.Patra terbangun lebih dulu lagi. Bedanya, kali ini ia tidak langsung panik oleh isi kepalanya sendiri.Talia masih tidur membelakanginya dengan rambut sedikit berantakan di bantal. Kaos oversized perempuan itu terangkat sedikit di bagian pinggang, memperlihatkan kulit pucat yang membuat Patra reflek menahan napas.Namun, ia tidak menyentuhnya.Bukan karena takut. Bukan juga karena tidak mau. Patra hanya sedang belajar menikmati fakta bahwa dirinya tidak harus melakukan apa pun terhadap tubuh seseorang hanya karena diberi izin.Hal kecil itu terdengar sederhana, tetapi bagi Patra rasanya seperti belajar berjalan ulang.Ia akhirnya bangkit pelan dari kasur. Baru saja kedua kakinya menapak lantai, suara serak Talia terdengar dari belakang. “Kamu mau ke mana?”Patra menoleh
Patra terbangun sebelum subuh. Langit di luar jendela kamar Talia masih gelap kebiruan, tetapi tubuhnya sudah terlalu sadar untuk kembali tidur.Ia bisa merasakan hangat kulit Talia yang menempel di lengannya dari balik selimut tipis. Hangat yang tenang. Tidak terburu-buru. Tidak menuntut apa-apa.Talia masih tidur menyamping menghadap dirinya. Napas perempuan itu pelan, teratur, dan sesekali mengenai ujung dagu Patra.Patra menelan ludah.Ia tidak berani bergerak terlalu banyak. Bukan karena takut membangunkan Talia, melainkan karena tubuhnya sendiri mulai mengingat terlalu banyak hal.Kulit memang aneh. Tubuh manusia bisa lupa suara, lupa wajah, lupa urutan kejadian, tetapi kulit menyimpan semuanya seperti arsip rahasia.Patra perlahan menurunkan pandangan ke tangan Talia yang tertidur di dekat dadanya. Jemari perempuan itu sedikit melengkung, seolah bahkan dalam tidur pun Talia masih ragu menyentuh orang lain terlalu erat.Malam tadi Talia memberi izin.Kalimat itu terus terngiang
Hari pertama pertunangan mereka justru terasa lebih sunyi dibanding hari lamaran. Tidak ada keluarga besar, tidak ada ucapan selamat yang terus berdatangan, dan tidak ada Boris yang sengaja memotret candid mereka diam-diam lalu mengirimkannya ke grup keluarga.Hanya ada Sabtu pagi yang lambat di kamar Talia.Patra datang membawa tote bag berisi pakaian ganti, laptop kerja, charger, dan sikat gigi baru yang tadi dibelinya di minimarket dekat apartemen. Talia sempat tertawa kecil melihat isi tas tunangannya yang terlalu rapi seperti orang mau pindahan dadakan.“Kamu nervous banget, ya?” goda Talia sambil membuka pintu kamar lebih lebar.Patra menggaruk tengkuknya malu. “Aku takut salah.”Talia tidak langsung menjawab. Ia hanya menarik tas Patra masuk ke kamar sebelum menutup pintu perlahan.Hari itu mereka memang sepakat latihan menghabiskan waktu bersama. Dari Sabtu pagi sampai Minggu pagi. Sesederhana makan bersama, bekerja berdampingan, atau tidur di kasur yang sama tanpa perlu buru-
“Gue susah definisiin situasi lo … maaf ya, gue nggak pernah punya pengalaman sama orang yang nggak terlalu intim—tapi gue bisa bantu lo fokus bersyukur sama keadaan sekarang,” komentar Tashi sambil mengunyah keripik kentang, kudapan Cherry, anak perempuannya yang sedang bermain dengan Archie. Pere
Tanpa Patra duga, Talia mengeluarkan sarung tangan plastik dari salah satu laci dekat rak botol-botol cat rambut. “Gue udah ngobrol sama ChatGPT, siapa tau kulit lo termasuk yang sensitif. Tangan gue juga dingin, lama-lama di bawah AC sini dari sia—”“Bukan itu!” Patra reflek menepis sepasang sarun
Archie terlelap dengan posisi telentang di atas karpet. Karpet ruang tamu tempat Archie dan kedua ibunya menginap. Usai berjuang keras mengimbangi skor dengan kedua orang dewasa di atas papan cookie box, anak laki-laki SD itu lelah. Patra hanya tertawa saat Talia menyarankan Archie agar bocah itu
Patra melirik jam tangan baby blue sebelum kembali menghempaskan kembali punggungnya ke kepala sofa lobi kampus. Universitas Moonsheer terlihat sangat sepi di akhir pekan, setidaknya itu yang dikatakan satpam pada Patra. Dikarenakan ia bukan mahasiswa dengan ID card, laki-laki itu tidak bisa naik k







