ホーム / Urban / Hestia / Chapter 5 - Steamy Start

共有

Chapter 5 - Steamy Start

作者: Dyara
last update 公開日: 2026-02-12 16:07:44

Jumat malam itu waktu kebanyakan orang berlomba-lomba mencari cara dan transportasi untuk pulang ke rumah. Patra juga merasakan hal yang sama, tetapi berhubung permen karet Odi sialan masih menyangkut di rambut—disinilah ia berada. Di depan Hestia Salon. Kedua matanya terpaku pada Talia yang sedang duduk termenung. Memandang kosong ke layar ponsel perempuan itu. 

Kenapa anak magang kerja sampai malam, ya? Apa dia bakal ketemu lagi sama cowok itu? Air muka Patra sontak memberengut mengingat pelototan sinis si cowok berhoodie marun itu. Ganteng, sih, hidungnya mancung, bentuk matanya nggak bulet tapi tajem … apa tipe Talia begitu?

“Patra!” Si pemilik nama tersentak. Talia sudah membuka pintu salon dan tertawa kecil. “Ngapain bengong di sini?” Perempuan itu semakin berusaha menghentikan tawa kala melihat benda warna merah muda yang sedikit pucat—menempel di beberapa pucuk helai rambut Patra. Bahkan sampai Patra duduk manis dengan wajah semerah tomat, Talia masih terkekeh bahagia. “Berkat lo, hari gue nggak lagi ngebosenin, Kak! BUAHAHAHAHA!” 

“Gue nggak pernah minta orang nempelin permen karet!” sahut Patra ketus, bersedekap dada. 

“Pemikiran gue juga nggak sebodoh itu, pfft! Makasih, ya!” balas Talia riang. 

Selagi Talia membuka jubah, memasangkannya ke depan dada Patra, lalu menggeser laci beroda dengan berbagai botol spray, sampo, vitamin rambut—laki-laki itu melirik wajah manis Talia. Malam itu, Talia menggerai rambutnya yang panjang sepunggung. 

“Lo pasti mikir gue mesum.” Ucapan Patra membuat kedua tangan Talia yang sudah siap memegang rambutnya mengambang di udara. Patra memberanikan diri melihat lurus ke pantulannya dan Talia di cermin. Menatap lurus manik mata perempuan itu yang juga balik memandangnya. “Gue nggak bisa sembarangan ke salon lain, dan semua orang tau….”

Talia melipat kedua tangannya di dada. Posisi berdirinya bersandar pada salah satu kaki, sembari perempuan itu memiringkan kepala sedikit. “Gue pernah ketemu cowok yang tepat dipanggil mesum. Lo bukan salah satunya dari mereka. Tapi, gue penasaran—apa dari kecil lo udah cepet naik kayak sekarang?”

Seraya memandangi gaya rambutnya yang belum panjang, tetapi malah dihiasi permen karet, Patra menarik napas dalam. 

Bayangan masa lalu ayahnya kesulitan menggunting rambut Patra di rumah, sampai akhirnya pria itu menikah lagi dan memberikan putranya ibu baru, Charissa. Wanita yang juga sudah menikah dan memiliki dua anak itulah yang membantu kesulitan Patra. “Waktu kecil, gue dan papa pikir … cuma rasa geli, kegelian aja—tapi, ternyata pas SMP, pas gue sentuh sendiri, itu sampai buat yang di bawah … naik.” 

Di tengah penjelasan Patra, napasnya tercekat. Pasalnya Talia sudah menyusupkan kelima jari tangan kiri di sisi kiri kepala Patra. Si empunya sontak merendahkan telinga kiri ke pundak. “Semua orang punya rahasia, Pat.” Talia tidak langsung melepaskan genggaman dan terus mengayunkan bilah gunting ke bagian rambut yang terkena permen karet. 

Bahkan ketika salah satu tangan Patra sudah mencengkram pergelangan tangan Talia, dan lengan kursi. “Rahasia lo lebih risky karena tubuh langsung nunjukin reaksinya, tapi buat beberapa orang kayak gue … kejujuran kayak gitu sulit ditunjukin.” 

Dengan cepat Talia sudah memangkas helai-helai rambut di puncak kepala si pelanggan. Patra juga sudah melepaskan cengkeramannya pada tangan Talia. Walaupun tubuh Patra belum sepenuhnya berdiri tegak. “Hah … hah…!” Napas terengah-engah Patra memenuhi ruang ber-AC itu yang mendadak panas. Tanpa Patra ketahui, Talia memilih cara cepat untuk menyesuaikan bagian cukut dengan puncak kepala Patra. 

Kalimat pertanyaan perempuan yang mengecohkan Patra terdengar sangat tenang. “Udah seberapa sering rambut lo disentuh mantan, Kak?” 

Belum sempat Patra menjawab, suara bising dari alat yang tidak pernah ia atau orang lain pakai, napas laki-laki itu kembali tercekat. “Haa–ngh!!” Sedetik setelah bunyi alat cukur rambut elektrik berdengung, Patra sudah merasakan besi dingin itu menyentuh cukut rambutnya. 

Tubuh Patra reflek condong ke depan, dengan salah satu tangan Talia yang melingkar di depan dadanya—menekan tangan kirinya pada bahu kanan Patra. “C-cuma sama … papa danh mama…!” 

“I see….” Patra mendengus terhadap respons Talia barusan. Di tengah hembusan dan desahan yang meluncur brutal dari mulutnya, dari pundak sampai kepala Patra gemetar hebat. Kedua matanya juga sudah berkabut. Patra sampai mengira ada dua pantulan Talia di cermin. 

Usai proses menggunting rambut, Patra kembali menghempaskan punggungnya ke kepala kursi. Bersandar sambil mengatur napasnya yang tersengal. Pandangannya mulai jernih. Patra sudah bisa melihat pantulan Talia yang meletakkan kedua tangannya di kiri-kanan lengan kursi tempat ia duduk. Kedua mata perempuan itu melihat ke arah ‘adik kecil’ Patra yang berdiri di balik fabrik celana katunnya. Suara Talia kembali terdengar. “Butuh bantuan, Pat?” Menarik Patra ke kesadaran penuh. 

“Ternyata ini niat lo waktu minta nomor gue.”

Talia mengangkat kedua bahu tidak acuh pada getar ketakutan yang terpancar dari kedua mata Patra. “Lo harus latihan biar rambutnya terbiasa dipegang orang lain.” Kemudian Talia menunjuk diri sendiri dan berkata, “Gue perlu cari cara biar bisa ‘naik’.”

Patra mengkerutkan kening begitu mendengar pengakuan Talia. “Dengan cara memuaskan milik gue?!”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Hestia   Chapter 41 - Love in Paradise

    Ketika kepercayaan membayangi setiap langkah Patra, tidak terasa tujuh bulan berlalu. Selama itu ia mengikat pikiran, hati, dan tubuhnya untuk Hestia. Oh, salah. Talia. Patra terlalu serius tenggelam dalam sajak-sajak Nikita Gill. Dagu Patra mendongak ke belakang—jam dinding di ruang divisi PR kantornya. Masih agensi yang sama. Pandangan mata Patra yang berbinar karena jam sudah menunjukkan waktu pulang kerja, beralih ke mejanya. Ada sebuah plakat kecil bertuliskan Manajer PR. Patra terbiasa menyembunyikan benda yang terasa menggemakan jabatannya itu di dalam laci meja, tetapi Hardi memperingatkan agar jangan disembunyikan. ‘Mimpin yang humble itu emang bener, Pat, tapi lo kasih batas, ingetin anak-anak divisi lo untuk tau batas dan ngehargain kepala divisi mereka.’ Patra sudah meninggalkan keyakinan bahwa ia masih memiliki harga diri, sejak empat, atau lima tahun lalu. Kepala Patra sudah semakin lelah mengumandangkan nama pelaku yang bebas dari hukum tahanan. Talia menghargai bat

  • Hestia   Chapter 40 - Your Honesty is An Excuse

    “Kita berdua udah punya komitmen masing-masing,” pungkas Patra sembari bangun dari posisi duduknya, “dan gue punya pengalaman buruk sama cowok. Jadi, jangan lewatin batas lagi. Gue risih. Gue nggak masalah bertemen sama biseks, gay, apapun itu. Tapi, gue nggak mau punya temen baru yang … asal selingkuh kayak orang nggak punya nalar.” Nero yang memang tidak duduk, tetap di posisi berdiri, menatap balik Patra tanpa ekspresi marah atau kaget. Patra sendiri sudah menduga Nero akan menepis prasangka. Lagipula Patra sudah mulai terbiasa melihat seseorang, seperti Nero, selalu bertingkah defensif. “Orang yang bahasa citanya afirmasi … selalu jujur sebrutal ini ya.” Mata Nero menjelajah jauh ke setiap orang atau elemen tempat yang berada di belakang Patra—jalan perumahan, wanita yang mendorong stroller bayinya, dan anak-anak yang mengejar kucing. “Memang iya, jujur itu akarnya afirmasi, dan lo harusnya bisa mencoba ngerti situa–” Sayangnya jawaban Patra dipotong kejujuran seorang Nero.

  • Hestia   Chapter 39 - We Should Be More Honest, from the start

    “Lo kayak nenek-nenek, Pat,” kekeh Nero di belakang dua kursi bersebelahan yang diduduki Patra dan Shannon. Talia meninggalkan Patra yang rambutnya sudah digulung rod kecil dan sedang, untuk mencari krim pengeriting atau obat perming. Sementara itu, rambut kekasih Nero sedang digunting oleh Ifa. “Awas lo, ya, liat aja nanti pas gue udah ganteng!” geram Patra pura-pura marah dengan senyum jenaka terselip pada Shannon yang tertawa di sampingnya. Patra pun berakhir terkekeh. Sampai Talia kembali dari balik lemari penyimpan botol-botol krim dan cairan obat atau pewarna rambut.Gerak manik mata ragu dan tenggorokan Patra yang menelan saliva berkali-kali tidak luput dari pandangan Nero. Begitu juga dengan pertanyaan Talia yang tertangkap sebagai aba-abai bagi Nero. “Siap?” Patra mengangguk sebagai jawaban. Nero memang sudah mengetahui sejak lama tentang sensitivitas kepala dan rambut Patra. Dari mulut laki-laki itu sendiri. Jadi, ia paham ekspresi Patra memejamkan mata—tetapi bukan gestur

  • Hestia   Chapter 38 - Curl Them All

    Giliran Patra yang membulatkan mata. “Emang lo nggak merasa ganteng?”“Lo muji gue?” tanya Nero lagi. Benar-benar kelihatan ingin memastikan. Tidak bisa Patra pungkiri. Wajah kaget Nero barusan karena ia sebut ganteng cukup menghiburnya. “Gue nggak kepikiran kasih lo afirmasi, Ro … kan lo emang ganteng. Buktinya bisa main-main sama banyak cewek.”Binar di kedua mata Nero langsung lenyap. “Sialan,” ujarnya berbalik masuk ke toko. Meninggalkan Patra yang gantian mendengus puas bisa menyentil rekam jejak Nero. “Kadang Nero nggak nyadar aja, Kak,” ucap Shannon berjalan perlahan dari balik rolling door. Membawa uang kembalian untuk Patra. “Dia nggak nyadar dan nggak mau ngaku … kalau kadang dia juga enjoy afirmasi, atau dipuji.” Patra mengangguk-angguk kecil. Tadinya tidak berminat bertanya lebih jauh. Akan tetapi, Nero pernah menanyakan apa bagusnya words of affirmation—yang menurut Patra justru sangat perlu di dalam hubungan. “Lo juga gantian nginep di rumah Nero?” Sebelum perkataanny

  • Hestia   Chapter 37 - You Don't Think You're Handsome?

    Rumah baru Talia sedikit mirip seperti rumah susun. Akan tetapi, sejauh mata Patra memandang tempat baru pacarnya, suasananya lebih tenang. Bukan hanya karena penyewaan rumah vertikal Boris operasikan bersama sebuah organisasi di dalam perumahan—yang memiliki taman bersama, dekat stasiun kereta, dan kolam renang umum.Mungkin karena desainnya yang lebih minimalis, hanya terdiri dari tiga lantai dengan sembilan kamar. Jangan lupa book cafe yang menemani teras rumah vertikal, yang kata Boris, tadinya hanya dihias jalan setapak, kolam ikan, dan pot-pot berisi tanaman hias. Ruang yang sudah menjelma menjadi kafe penuh rak-rak buku tadinya adalah sebuah bengkel. Bengkel bekas pemilik lama rumah itu. Setidaknya hanya itu sejarah dari cerita Talia usai Boris sekeluarga pulang setelah membantunya pindahan—yang Patra ingat. Patra menghabiskan tiga jam lebih lama daripada kehadiran Boris, Patra, dan Cherry yang berkeliling melihat-lihat isi kamar Talia. Selepas mengeringkan tubuhnya yang berk

  • Hestia   Chapter 36 - Jamie once says, ‘You’re not interesting enough.”

    “Tante Talia bisa pacaran? Sejak kapan?”Patra melenguh seraya meregangkan otot-otot dan sendi tubuhnya. Laki-laki itu mendorong sedikit kedua tangan Talia yang bergelung di bawah kepala dan lehernya. Ketika kedua kelopak mata Patra terbuka, seorang remaja laki-laki berpakaian kemeja cokelat polos dengan jins berdiri menjulang di atas wajahnya.‘Mukanya kayak pernah liat,’ pikir Patra. “Aku Jamie, kalau Om Patra lupa,” ujar remaja laki-laki itu. Sesaat kemudian, kedua mata Patra membeliak dan ia langsung terbangun dari posisi tidur di ruang tamu. Jamie sendiri tetap pada posisi berdirinya sejak tadi. Kedua tangan anak laki-laki di usia tanggung itu terselip di saku celana jins. Air muka Jamie menatap bergantian Patra yang menyibak selimut dan Talia yang masih tertidur. Tampak bosan dan tidak tertarik, tetapi jauh berbeda dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut bocah itu. “Om pacaran sama tante buat main-main doang, atau serius sampe jadi orang tua?” Patra meneguk saliva susah

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status