INICIAR SESIÓNJumat malam itu waktu kebanyakan orang berlomba-lomba mencari cara dan transportasi untuk pulang ke rumah. Patra juga merasakan hal yang sama, tetapi berhubung permen karet Odi sialan masih menyangkut di rambut—disinilah ia berada. Di depan Hestia Salon. Kedua matanya terpaku pada Talia yang sedang duduk termenung. Memandang kosong ke layar ponsel perempuan itu.
Kenapa anak magang kerja sampai malam, ya? Apa dia bakal ketemu lagi sama cowok itu? Air muka Patra sontak memberengut mengingat pelototan sinis si cowok berhoodie marun itu. Ganteng, sih, hidungnya mancung, bentuk matanya nggak bulet tapi tajem … apa tipe Talia begitu? “Patra!” Si pemilik nama tersentak. Talia sudah membuka pintu salon dan tertawa kecil. “Ngapain bengong di sini?” Perempuan itu semakin berusaha menghentikan tawa kala melihat benda warna merah muda yang sedikit pucat—menempel di beberapa pucuk helai rambut Patra. Bahkan sampai Patra duduk manis dengan wajah semerah tomat, Talia masih terkekeh bahagia. “Berkat lo, hari gue nggak lagi ngebosenin, Kak! BUAHAHAHAHA!” “Gue nggak pernah minta orang nempelin permen karet!” sahut Patra ketus, bersedekap dada. “Pemikiran gue juga nggak sebodoh itu, pfft! Makasih, ya!” balas Talia riang. Selagi Talia membuka jubah, memasangkannya ke depan dada Patra, lalu menggeser laci beroda dengan berbagai botol spray, sampo, vitamin rambut—laki-laki itu melirik wajah manis Talia. Malam itu, Talia menggerai rambutnya yang panjang sepunggung. “Lo pasti mikir gue mesum.” Ucapan Patra membuat kedua tangan Talia yang sudah siap memegang rambutnya mengambang di udara. Patra memberanikan diri melihat lurus ke pantulannya dan Talia di cermin. Menatap lurus manik mata perempuan itu yang juga balik memandangnya. “Gue nggak bisa sembarangan ke salon lain, dan semua orang tau….” Talia melipat kedua tangannya di dada. Posisi berdirinya bersandar pada salah satu kaki, sembari perempuan itu memiringkan kepala sedikit. “Gue pernah ketemu cowok yang tepat dipanggil mesum. Lo bukan salah satunya dari mereka. Tapi, gue penasaran—apa dari kecil lo udah cepet naik kayak sekarang?” Seraya memandangi gaya rambutnya yang belum panjang, tetapi malah dihiasi permen karet, Patra menarik napas dalam. Bayangan masa lalu ayahnya kesulitan menggunting rambut Patra di rumah, sampai akhirnya pria itu menikah lagi dan memberikan putranya ibu baru, Charissa. Wanita yang juga sudah menikah dan memiliki dua anak itulah yang membantu kesulitan Patra. “Waktu kecil, gue dan papa pikir … cuma rasa geli, kegelian aja—tapi, ternyata pas SMP, pas gue sentuh sendiri, itu sampai buat yang di bawah … naik.” Di tengah penjelasan Patra, napasnya tercekat. Pasalnya Talia sudah menyusupkan kelima jari tangan kiri di sisi kiri kepala Patra. Si empunya sontak merendahkan telinga kiri ke pundak. “Semua orang punya rahasia, Pat.” Talia tidak langsung melepaskan genggaman dan terus mengayunkan bilah gunting ke bagian rambut yang terkena permen karet. Bahkan ketika salah satu tangan Patra sudah mencengkram pergelangan tangan Talia, dan lengan kursi. “Rahasia lo lebih risky karena tubuh langsung nunjukin reaksinya, tapi buat beberapa orang kayak gue … kejujuran kayak gitu sulit ditunjukin.” Dengan cepat Talia sudah memangkas helai-helai rambut di puncak kepala si pelanggan. Patra juga sudah melepaskan cengkeramannya pada tangan Talia. Walaupun tubuh Patra belum sepenuhnya berdiri tegak. “Hah … hah…!” Napas terengah-engah Patra memenuhi ruang ber-AC itu yang mendadak panas. Tanpa Patra ketahui, Talia memilih cara cepat untuk menyesuaikan bagian cukut dengan puncak kepala Patra. Kalimat pertanyaan perempuan yang mengecohkan Patra terdengar sangat tenang. “Udah seberapa sering rambut lo disentuh mantan, Kak?” Belum sempat Patra menjawab, suara bising dari alat yang tidak pernah ia atau orang lain pakai, napas laki-laki itu kembali tercekat. “Haa–ngh!!” Sedetik setelah bunyi alat cukur rambut elektrik berdengung, Patra sudah merasakan besi dingin itu menyentuh cukut rambutnya. Tubuh Patra reflek condong ke depan, dengan salah satu tangan Talia yang melingkar di depan dadanya—menekan tangan kirinya pada bahu kanan Patra. “C-cuma sama … papa danh mama…!” “I see….” Patra mendengus terhadap respons Talia barusan. Di tengah hembusan dan desahan yang meluncur brutal dari mulutnya, dari pundak sampai kepala Patra gemetar hebat. Kedua matanya juga sudah berkabut. Patra sampai mengira ada dua pantulan Talia di cermin. Usai proses menggunting rambut, Patra kembali menghempaskan punggungnya ke kepala kursi. Bersandar sambil mengatur napasnya yang tersengal. Pandangannya mulai jernih. Patra sudah bisa melihat pantulan Talia yang meletakkan kedua tangannya di kiri-kanan lengan kursi tempat ia duduk. Kedua mata perempuan itu melihat ke arah ‘adik kecil’ Patra yang berdiri di balik fabrik celana katunnya. Suara Talia kembali terdengar. “Butuh bantuan, Pat?” Menarik Patra ke kesadaran penuh. “Ternyata ini niat lo waktu minta nomor gue.” Talia mengangkat kedua bahu tidak acuh pada getar ketakutan yang terpancar dari kedua mata Patra. “Lo harus latihan biar rambutnya terbiasa dipegang orang lain.” Kemudian Talia menunjuk diri sendiri dan berkata, “Gue perlu cari cara biar bisa ‘naik’.” Patra mengkerutkan kening begitu mendengar pengakuan Talia. “Dengan cara memuaskan milik gue?!”Patra membuka pintu unit perlahan, berusaha tidak menimbulkan bunyi apa pun. Lampu apartemen sudah mati semua, menyisakan cahaya kota dari balik tirai tipis yang memantul samar di lantai. Tubuhnya terasa berat. Bukan cuma karena lembap hujan yang menempel di jaket dan rambutnya, tetapi karena dadanya seperti dipenuhi sesuatu yang mengeras sejak Apollo mencengkeram kerah bajunya siang tadi. Talia sudah tidur ketika Patra masuk kamar. Perempuan itu membelakanginya, tubuhnya tenggelam setengah di balik selimut abu-abu muda yang selalu dipakai kalau hujan turun. Patra mengganti pakaian dengan gerakan kecil-kecil. Ia lalu menyelusup masuk ke balik selimut, hati-hati agar kasur tidak terlalu berguncang dan membangunkan Talia. Namun, begitu punggungnya menyentuh kasur, napas Patra langsung terasa pendek. Kepalanya mendadak dipenuhi bayangan tangan Apollo yang dulu menahan pergelangan tangannya terlalu kuat. Suara Apollo siang tadi kembali menggema. Lo sengaja nikahin sepupu sendiri biar
Patra seharusnya sudah pulang satu jam lalu. Namun revisi naskah klien yang mendadak berubah total membuat dirinya tertahan di kafe kecil dekat kantor sampai malam turun bersama gerimis tipis Jakarta.Laptopnya masih menyala ketika kursi di depannya ditarik seseorang tanpa izin.Patra langsung membeku.Apollo duduk santai sambil menyandarkan tubuh ke kursi. Jaket hitamnya sedikit basah terkena hujan, sedangkan tatapannya terlihat jauh lebih kacau dibanding terakhir kali mereka bertemu di rumah Charissa.“Kaget?” tanya Apollo sambil tersenyum tipis.Jantung Patra langsung berdetak terlalu cepat. Akan tetapi, ia berusaha menjaga wajahnya tetap datar meskipun jemarinya mulai dingin di atas keyboard laptop.“Lo ngapain ke sini?” tanya Patra pelan.Apollo tertawa kecil. “Nemuin adik gue nggak boleh?”Patra hampir muntah mendengar sebutan itu.Ia buru-buru menutup laptopnya sebelum suara getaran di dadanya semakin terdengar jelas. Kafe mulai sepi karena jam pulang kantor sudah lewat, menyis
Patra jarang pulang malam ke rumah Charissa sejak bertunangan dengan Talia. Biasanya ia hanya mampir sebentar untuk mengambil dokumen kerja, pakaian lama, atau sekadar memastikan ibunya masih mau makan dengan benar setelah sibuk seharian.Namun, malam itu berbeda.Talia ikut bersamanya. Bahkan perempuan itu masih menggenggam ujung lengan jaket Patra ketika mereka berjalan memasuki halaman rumah keluarga Baxter yang terlalu sunyi untuk ukuran akhir pekan.“Aku nervous,” gumam Talia pelan.Patra menoleh sebentar sambil terkekeh kecil. “Harusnya aku yang ngomong begitu.”Lampu ruang makan sudah menyala terang ketika mereka masuk. Aroma sup ayam dan bawang putih langsung menyambut dari arah dapur.Charissa muncul sambil membawa mangkuk besar. Wajah perempuan itu tampak sedikit lelah, tetapi matanya langsung melembut melihat Talia dan Patra datang bersamaan.“Kalian akhirnya dateng juga,” sambut Charissa. “Mama kira jadi makan di luar.”Patra buru-buru mengambil mangkuk dari tangan ibunya.
Minggu pagi di kamar Talia berjalan lambat. Tidak ada alarm yang berbunyi terlalu keras, tidak ada suara orang bertengkar dari lantai bawah rumah De Rucci, bahkan matahari yang masuk dari sela gorden terasa malu-malu.Patra terbangun lebih dulu lagi. Bedanya, kali ini ia tidak langsung panik oleh isi kepalanya sendiri.Talia masih tidur membelakanginya dengan rambut sedikit berantakan di bantal. Kaos oversized perempuan itu terangkat sedikit di bagian pinggang, memperlihatkan kulit pucat yang membuat Patra reflek menahan napas.Namun, ia tidak menyentuhnya.Bukan karena takut. Bukan juga karena tidak mau. Patra hanya sedang belajar menikmati fakta bahwa dirinya tidak harus melakukan apa pun terhadap tubuh seseorang hanya karena diberi izin.Hal kecil itu terdengar sederhana, tetapi bagi Patra rasanya seperti belajar berjalan ulang.Ia akhirnya bangkit pelan dari kasur. Baru saja kedua kakinya menapak lantai, suara serak Talia terdengar dari belakang. “Kamu mau ke mana?”Patra menoleh
Patra terbangun sebelum subuh. Langit di luar jendela kamar Talia masih gelap kebiruan, tetapi tubuhnya sudah terlalu sadar untuk kembali tidur.Ia bisa merasakan hangat kulit Talia yang menempel di lengannya dari balik selimut tipis. Hangat yang tenang. Tidak terburu-buru. Tidak menuntut apa-apa.Talia masih tidur menyamping menghadap dirinya. Napas perempuan itu pelan, teratur, dan sesekali mengenai ujung dagu Patra.Patra menelan ludah.Ia tidak berani bergerak terlalu banyak. Bukan karena takut membangunkan Talia, melainkan karena tubuhnya sendiri mulai mengingat terlalu banyak hal.Kulit memang aneh. Tubuh manusia bisa lupa suara, lupa wajah, lupa urutan kejadian, tetapi kulit menyimpan semuanya seperti arsip rahasia.Patra perlahan menurunkan pandangan ke tangan Talia yang tertidur di dekat dadanya. Jemari perempuan itu sedikit melengkung, seolah bahkan dalam tidur pun Talia masih ragu menyentuh orang lain terlalu erat.Malam tadi Talia memberi izin.Kalimat itu terus terngiang
Hari pertama pertunangan mereka justru terasa lebih sunyi dibanding hari lamaran. Tidak ada keluarga besar, tidak ada ucapan selamat yang terus berdatangan, dan tidak ada Boris yang sengaja memotret candid mereka diam-diam lalu mengirimkannya ke grup keluarga.Hanya ada Sabtu pagi yang lambat di kamar Talia.Patra datang membawa tote bag berisi pakaian ganti, laptop kerja, charger, dan sikat gigi baru yang tadi dibelinya di minimarket dekat apartemen. Talia sempat tertawa kecil melihat isi tas tunangannya yang terlalu rapi seperti orang mau pindahan dadakan.“Kamu nervous banget, ya?” goda Talia sambil membuka pintu kamar lebih lebar.Patra menggaruk tengkuknya malu. “Aku takut salah.”Talia tidak langsung menjawab. Ia hanya menarik tas Patra masuk ke kamar sebelum menutup pintu perlahan.Hari itu mereka memang sepakat latihan menghabiskan waktu bersama. Dari Sabtu pagi sampai Minggu pagi. Sesederhana makan bersama, bekerja berdampingan, atau tidur di kasur yang sama tanpa perlu buru-
“Gue susah definisiin situasi lo … maaf ya, gue nggak pernah punya pengalaman sama orang yang nggak terlalu intim—tapi gue bisa bantu lo fokus bersyukur sama keadaan sekarang,” komentar Tashi sambil mengunyah keripik kentang, kudapan Cherry, anak perempuannya yang sedang bermain dengan Archie. Pere
Archie terlelap dengan posisi telentang di atas karpet. Karpet ruang tamu tempat Archie dan kedua ibunya menginap. Usai berjuang keras mengimbangi skor dengan kedua orang dewasa di atas papan cookie box, anak laki-laki SD itu lelah. Patra hanya tertawa saat Talia menyarankan Archie agar bocah itu
Patra melirik jam tangan baby blue sebelum kembali menghempaskan kembali punggungnya ke kepala sofa lobi kampus. Universitas Moonsheer terlihat sangat sepi di akhir pekan, setidaknya itu yang dikatakan satpam pada Patra. Dikarenakan ia bukan mahasiswa dengan ID card, laki-laki itu tidak bisa naik k
Tanpa Patra duga, Talia mengeluarkan sarung tangan plastik dari salah satu laci dekat rak botol-botol cat rambut. “Gue udah ngobrol sama ChatGPT, siapa tau kulit lo termasuk yang sensitif. Tangan gue juga dingin, lama-lama di bawah AC sini dari sia—”“Bukan itu!” Patra reflek menepis sepasang sarun







