ホーム / Urban / Hestia / Chapter 4 - Bubble Gum

共有

Chapter 4 - Bubble Gum

作者: Dyara
last update 公開日: 2026-02-12 16:06:15

Di depan kantor agensi digital Daijobu Gens

Patra benar-benar diantar balik ke kantor oleh Talia. Keduanya menaiki motor yang Talia kendarai, dengan Archie duduk di antara mereka.

"Dadah, Kak Patra! Makasih, ya!" ujar Archie melonjak-lonjak di atas jok sambil melambaikan satu tangannya ceria ke laki-laki yang sudah turun dan berdiri tepat di depan pintu kaca kantor agensi.

"Sebentar!" seru Talia sembari menurunkan standar dan membiarkan posisi motor diparkir miring. Patra menatap keterangan Talia yang berjalan mendekat, lalu memberikan ponsel dengan layar menunjukkan keypad panggilan. "Boleh simpen nomer lo?"

Kedua telinga Patra memerah. Sepadam tomat. Kedua mata laki-laki itu mengerjap berkali-kali dengan mulut setengah terbuka. Sedikit bingung pada sikap agresif Talia—Patra merasa didahului, dan tidak memiliki kesempatan memulai. Akan tetapi, dengan keanehan pada kepalanya, Patra pikir wajar saja ia membiarkan Talia mendekatinya lebih dulu.

Patra menelan saliva gugup sebelum bertanya, "Simpen nomor buat apa?"

Talia akhirnya fokus ke tujuannya dan menjawab bahwa nanti ia ingin mengajak Patra bermain board game sekalian mentraktir makan siang bersama Archie, sebagai bentuk terima kasih. Melihat dan mendengar Archie yang bersorak kecil senang di jok motor, Patra seketika salah tingkah dan buru-buru memasukkan nomornya ke kontak Talia.

Patra berjalan canggung masuk ke pintu kaca kantor. Saat ia menoleh ke belakang, Talia dan Archie masih memperhatikannya sambil tersenyum. Mereka benar-benar masih menunggu sampai Patra masuk ke lift, baru pergi meninggalkan wilayah agensi Patra. Begitu pintu lift terbuka di lantai tiga, Patra buru-buru pergi ke jendela dan melongok ke bawah. Memandangi Talia yang membonceng Archie menjauh. Seiring Patra menghela napas, karena mendadak ingin mengobrol lebih lama dengan Talia, kedua kakinya ia seret menuju ruang kerja.

Hari itu, di ruang kubus kaca Divisi Bisnis dan Komunikasi Marketing agensi Daijobu Gens, Patra menatap kumpulan print out profil KOL untuk kampanye NusaMatch. Ini bukan sekadar data—ini kesempatan buat nendang proyek yang selama ini dia tangani sendirian sambil nunggu lampu hijau dari chief of marketing mereka yang generasi X.

Setengah jam setelah makan siang, hanya dua KOL yang berhasil dia kirimi ajakan kolaborasi. Sementara itu, otaknya sudah kehilangan semangat, dan mulutnya nggak berhenti menguap. Sambil menyesap air mineral seperempat cangkirnya, Patra menyeret langkah menuju pantry.

“Lho, Kak Patra?!” Seorang perempuan berambut keriting muncul dari sisi lorong dekat mushola, senyumnya selebar garis pantai. Patra mengedipkan mata, menahan kantuk. Perempuan itu tersenyum sambil tertawa kecil, ujung bibirnya melengkung seperti bulan sabit. “Ketauan, deh, aku lebih muda!” Perempuan itu cengengesan sambil mengacungkan name tag berisi foto, posisi, dan sebaris tahun kelulusannya sebagai sarjana Desain Komunikasi Visual.

Patra hanya mengangguk pelan. Ia sempat berpapasan dengan perempuan di depannya ini, ketika pulang di hari pertama bertemu Talia. “Mbak penjual bunga, kan?” tanya Patra ragu.

Perempuan itu sedikit manyun. “Bener sih,” katanya, “tapi nama gue bukan itu!” Ia mengulurkan tangan. Patra mengambilnya dengan sedikit gugup. Name tag di dadanya tertulis, Shannon—Graphic Design Intern.

“Passion kamu emang selalu yang punya value estetika, ya,” puji Patra tulus.

Shannon terkikik. “Yes! Poster, flyer, sama postingan medsos toko bunga juga aku yang bikin!”

Begitu mereka sampai di pantry, Hardi, sudah lebih dulu menunggu sambil memanggang jagung buat popcorn. “Gue bosen nunggu laporan penjualan,” keluh Hardi sambil tak henti mengaduk jagung. “Besok masih harus ngitung pemasukan, distribusi—”

“Stop, stop, stop!” Patra berkata sambil mengibaskan tangan. “Gue males banget kalau udah denger hal-hal berkaitan sama bendahara!”

Hardi melotot sambil berdecak. “Lo kira gue suka?! Gue HRD, weh! Malah disuruh ngitung! Huft!”‘ Shannon yang hanya bisa ikut tertawa menarik perhatian teman Patra. “Ngopi juga, Neng?” tanya Hardi ke Shannon.

“Kayak di bioskop aja,” balas Shannon santai sambil senyum dan menunjuk camilan yang Hardi sedang buat.

Namun, momen santai itu langsung buyar ketika Odi, PR Strategist dengan energi 200%, datang merangkul keduanya dari belakang sambil berceloteh tanpa henti. “Hello, My Men! Giliran santai begindang, gue nggak diajak!”

Hardi menepis lengan Odi seraya membalas, “Lo cepet banget pulang. Udah makan siang sama jemput anak bos?” Percakapan panjang yang seharusnya santai berubah kacau ketika Odi kehilangan keseimbangan dan—permen karet yang dia pegang melayang dan menempel di rambut Patra.

“Waduh!” jerit Odi panik.

“BANGKE LO!” Patra menggerutu sambil mencubit permen karet itu.

“Jangan ditarik!” Shannon meringis. Benar saja. Permen karet itu tidak hanya menempel di jemari Patra, tetapi semakin melebar ke helai rambut lain.

Hardi ngangkat ponselnya sambil setengah tertawa. “Gue foto dulu ya, Pat. Momen bersejarah ini.” Patra cuma bisa pasrah saat melihat lensa kamera diarahkan ke wajahnya.

“Terima kasih atas peringatannya,” kata Patra datar ke ketiga orang itu.

Di tengah drama rambut lengket itu, Hardi sempat nyeletuk ringan sambil nyengir. “Eh, hitung-hitung, ini bukti kedua kalau lo emang ditakdirkan buat ketemu Talia.” Patra tersedak ludah sendiri begitu mendengar nama perempuan itu.

Indra pendengaran Patra mendadak tuli ketika Shannon dan Odi serempak penasaran bertanya ke Hardi—siapa perempuan yang ia maksud. Satu-satunya orang lain yang mengetahui rahasia Patra. Yah, laki-laki itu tidak ada pilihan lain, kan?

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Hestia   Chapter 41 - Love in Paradise

    Ketika kepercayaan membayangi setiap langkah Patra, tidak terasa tujuh bulan berlalu. Selama itu ia mengikat pikiran, hati, dan tubuhnya untuk Hestia. Oh, salah. Talia. Patra terlalu serius tenggelam dalam sajak-sajak Nikita Gill. Dagu Patra mendongak ke belakang—jam dinding di ruang divisi PR kantornya. Masih agensi yang sama. Pandangan mata Patra yang berbinar karena jam sudah menunjukkan waktu pulang kerja, beralih ke mejanya. Ada sebuah plakat kecil bertuliskan Manajer PR. Patra terbiasa menyembunyikan benda yang terasa menggemakan jabatannya itu di dalam laci meja, tetapi Hardi memperingatkan agar jangan disembunyikan. ‘Mimpin yang humble itu emang bener, Pat, tapi lo kasih batas, ingetin anak-anak divisi lo untuk tau batas dan ngehargain kepala divisi mereka.’ Patra sudah meninggalkan keyakinan bahwa ia masih memiliki harga diri, sejak empat, atau lima tahun lalu. Kepala Patra sudah semakin lelah mengumandangkan nama pelaku yang bebas dari hukum tahanan. Talia menghargai bat

  • Hestia   Chapter 40 - Your Honesty is An Excuse

    “Kita berdua udah punya komitmen masing-masing,” pungkas Patra sembari bangun dari posisi duduknya, “dan gue punya pengalaman buruk sama cowok. Jadi, jangan lewatin batas lagi. Gue risih. Gue nggak masalah bertemen sama biseks, gay, apapun itu. Tapi, gue nggak mau punya temen baru yang … asal selingkuh kayak orang nggak punya nalar.” Nero yang memang tidak duduk, tetap di posisi berdiri, menatap balik Patra tanpa ekspresi marah atau kaget. Patra sendiri sudah menduga Nero akan menepis prasangka. Lagipula Patra sudah mulai terbiasa melihat seseorang, seperti Nero, selalu bertingkah defensif. “Orang yang bahasa citanya afirmasi … selalu jujur sebrutal ini ya.” Mata Nero menjelajah jauh ke setiap orang atau elemen tempat yang berada di belakang Patra—jalan perumahan, wanita yang mendorong stroller bayinya, dan anak-anak yang mengejar kucing. “Memang iya, jujur itu akarnya afirmasi, dan lo harusnya bisa mencoba ngerti situa–” Sayangnya jawaban Patra dipotong kejujuran seorang Nero.

  • Hestia   Chapter 39 - We Should Be More Honest, from the start

    “Lo kayak nenek-nenek, Pat,” kekeh Nero di belakang dua kursi bersebelahan yang diduduki Patra dan Shannon. Talia meninggalkan Patra yang rambutnya sudah digulung rod kecil dan sedang, untuk mencari krim pengeriting atau obat perming. Sementara itu, rambut kekasih Nero sedang digunting oleh Ifa. “Awas lo, ya, liat aja nanti pas gue udah ganteng!” geram Patra pura-pura marah dengan senyum jenaka terselip pada Shannon yang tertawa di sampingnya. Patra pun berakhir terkekeh. Sampai Talia kembali dari balik lemari penyimpan botol-botol krim dan cairan obat atau pewarna rambut.Gerak manik mata ragu dan tenggorokan Patra yang menelan saliva berkali-kali tidak luput dari pandangan Nero. Begitu juga dengan pertanyaan Talia yang tertangkap sebagai aba-abai bagi Nero. “Siap?” Patra mengangguk sebagai jawaban. Nero memang sudah mengetahui sejak lama tentang sensitivitas kepala dan rambut Patra. Dari mulut laki-laki itu sendiri. Jadi, ia paham ekspresi Patra memejamkan mata—tetapi bukan gestur

  • Hestia   Chapter 38 - Curl Them All

    Giliran Patra yang membulatkan mata. “Emang lo nggak merasa ganteng?”“Lo muji gue?” tanya Nero lagi. Benar-benar kelihatan ingin memastikan. Tidak bisa Patra pungkiri. Wajah kaget Nero barusan karena ia sebut ganteng cukup menghiburnya. “Gue nggak kepikiran kasih lo afirmasi, Ro … kan lo emang ganteng. Buktinya bisa main-main sama banyak cewek.”Binar di kedua mata Nero langsung lenyap. “Sialan,” ujarnya berbalik masuk ke toko. Meninggalkan Patra yang gantian mendengus puas bisa menyentil rekam jejak Nero. “Kadang Nero nggak nyadar aja, Kak,” ucap Shannon berjalan perlahan dari balik rolling door. Membawa uang kembalian untuk Patra. “Dia nggak nyadar dan nggak mau ngaku … kalau kadang dia juga enjoy afirmasi, atau dipuji.” Patra mengangguk-angguk kecil. Tadinya tidak berminat bertanya lebih jauh. Akan tetapi, Nero pernah menanyakan apa bagusnya words of affirmation—yang menurut Patra justru sangat perlu di dalam hubungan. “Lo juga gantian nginep di rumah Nero?” Sebelum perkataanny

  • Hestia   Chapter 37 - You Don't Think You're Handsome?

    Rumah baru Talia sedikit mirip seperti rumah susun. Akan tetapi, sejauh mata Patra memandang tempat baru pacarnya, suasananya lebih tenang. Bukan hanya karena penyewaan rumah vertikal Boris operasikan bersama sebuah organisasi di dalam perumahan—yang memiliki taman bersama, dekat stasiun kereta, dan kolam renang umum.Mungkin karena desainnya yang lebih minimalis, hanya terdiri dari tiga lantai dengan sembilan kamar. Jangan lupa book cafe yang menemani teras rumah vertikal, yang kata Boris, tadinya hanya dihias jalan setapak, kolam ikan, dan pot-pot berisi tanaman hias. Ruang yang sudah menjelma menjadi kafe penuh rak-rak buku tadinya adalah sebuah bengkel. Bengkel bekas pemilik lama rumah itu. Setidaknya hanya itu sejarah dari cerita Talia usai Boris sekeluarga pulang setelah membantunya pindahan—yang Patra ingat. Patra menghabiskan tiga jam lebih lama daripada kehadiran Boris, Patra, dan Cherry yang berkeliling melihat-lihat isi kamar Talia. Selepas mengeringkan tubuhnya yang berk

  • Hestia   Chapter 36 - Jamie once says, ‘You’re not interesting enough.”

    “Tante Talia bisa pacaran? Sejak kapan?”Patra melenguh seraya meregangkan otot-otot dan sendi tubuhnya. Laki-laki itu mendorong sedikit kedua tangan Talia yang bergelung di bawah kepala dan lehernya. Ketika kedua kelopak mata Patra terbuka, seorang remaja laki-laki berpakaian kemeja cokelat polos dengan jins berdiri menjulang di atas wajahnya.‘Mukanya kayak pernah liat,’ pikir Patra. “Aku Jamie, kalau Om Patra lupa,” ujar remaja laki-laki itu. Sesaat kemudian, kedua mata Patra membeliak dan ia langsung terbangun dari posisi tidur di ruang tamu. Jamie sendiri tetap pada posisi berdirinya sejak tadi. Kedua tangan anak laki-laki di usia tanggung itu terselip di saku celana jins. Air muka Jamie menatap bergantian Patra yang menyibak selimut dan Talia yang masih tertidur. Tampak bosan dan tidak tertarik, tetapi jauh berbeda dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut bocah itu. “Om pacaran sama tante buat main-main doang, atau serius sampe jadi orang tua?” Patra meneguk saliva susah

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status