Se connecterDi depan kantor agensi digital Daijobu Gens
Patra benar-benar diantar balik ke kantor oleh Talia. Keduanya menaiki motor yang Talia kendarai, dengan Archie duduk di antara mereka. "Dadah, Kak Patra! Makasih, ya!" ujar Archie melonjak-lonjak di atas jok sambil melambaikan satu tangannya ceria ke laki-laki yang sudah turun dan berdiri tepat di depan pintu kaca kantor agensi. "Sebentar!" seru Talia sembari menurunkan standar dan membiarkan posisi motor diparkir miring. Patra menatap keterangan Talia yang berjalan mendekat, lalu memberikan ponsel dengan layar menunjukkan keypad panggilan. "Boleh simpen nomer lo?" Kedua telinga Patra memerah. Sepadam tomat. Kedua mata laki-laki itu mengerjap berkali-kali dengan mulut setengah terbuka. Sedikit bingung pada sikap agresif Talia—Patra merasa didahului, dan tidak memiliki kesempatan memulai. Akan tetapi, dengan keanehan pada kepalanya, Patra pikir wajar saja ia membiarkan Talia mendekatinya lebih dulu. Patra menelan saliva gugup sebelum bertanya, "Simpen nomor buat apa?" Talia akhirnya fokus ke tujuannya dan menjawab bahwa nanti ia ingin mengajak Patra bermain board game sekalian mentraktir makan siang bersama Archie, sebagai bentuk terima kasih. Melihat dan mendengar Archie yang bersorak kecil senang di jok motor, Patra seketika salah tingkah dan buru-buru memasukkan nomornya ke kontak Talia. Patra berjalan canggung masuk ke pintu kaca kantor. Saat ia menoleh ke belakang, Talia dan Archie masih memperhatikannya sambil tersenyum. Mereka benar-benar masih menunggu sampai Patra masuk ke lift, baru pergi meninggalkan wilayah agensi Patra. Begitu pintu lift terbuka di lantai tiga, Patra buru-buru pergi ke jendela dan melongok ke bawah. Memandangi Talia yang membonceng Archie menjauh. Seiring Patra menghela napas, karena mendadak ingin mengobrol lebih lama dengan Talia, kedua kakinya ia seret menuju ruang kerja. Hari itu, di ruang kubus kaca Divisi Bisnis dan Komunikasi Marketing agensi Daijobu Gens, Patra menatap kumpulan print out profil KOL untuk kampanye NusaMatch. Ini bukan sekadar data—ini kesempatan buat nendang proyek yang selama ini dia tangani sendirian sambil nunggu lampu hijau dari chief of marketing mereka yang generasi X. Setengah jam setelah makan siang, hanya dua KOL yang berhasil dia kirimi ajakan kolaborasi. Sementara itu, otaknya sudah kehilangan semangat, dan mulutnya nggak berhenti menguap. Sambil menyesap air mineral seperempat cangkirnya, Patra menyeret langkah menuju pantry. “Lho, Kak Patra?!” Seorang perempuan berambut keriting muncul dari sisi lorong dekat mushola, senyumnya selebar garis pantai. Patra mengedipkan mata, menahan kantuk. Perempuan itu tersenyum sambil tertawa kecil, ujung bibirnya melengkung seperti bulan sabit. “Ketauan, deh, aku lebih muda!” Perempuan itu cengengesan sambil mengacungkan name tag berisi foto, posisi, dan sebaris tahun kelulusannya sebagai sarjana Desain Komunikasi Visual. Patra hanya mengangguk pelan. Ia sempat berpapasan dengan perempuan di depannya ini, ketika pulang di hari pertama bertemu Talia. “Mbak penjual bunga, kan?” tanya Patra ragu. Perempuan itu sedikit manyun. “Bener sih,” katanya, “tapi nama gue bukan itu!” Ia mengulurkan tangan. Patra mengambilnya dengan sedikit gugup. Name tag di dadanya tertulis, Shannon—Graphic Design Intern. “Passion kamu emang selalu yang punya value estetika, ya,” puji Patra tulus. Shannon terkikik. “Yes! Poster, flyer, sama postingan medsos toko bunga juga aku yang bikin!” Begitu mereka sampai di pantry, Hardi, sudah lebih dulu menunggu sambil memanggang jagung buat popcorn. “Gue bosen nunggu laporan penjualan,” keluh Hardi sambil tak henti mengaduk jagung. “Besok masih harus ngitung pemasukan, distribusi—” “Stop, stop, stop!” Patra berkata sambil mengibaskan tangan. “Gue males banget kalau udah denger hal-hal berkaitan sama bendahara!” Hardi melotot sambil berdecak. “Lo kira gue suka?! Gue HRD, weh! Malah disuruh ngitung! Huft!”‘ Shannon yang hanya bisa ikut tertawa menarik perhatian teman Patra. “Ngopi juga, Neng?” tanya Hardi ke Shannon. “Kayak di bioskop aja,” balas Shannon santai sambil senyum dan menunjuk camilan yang Hardi sedang buat. Namun, momen santai itu langsung buyar ketika Odi, PR Strategist dengan energi 200%, datang merangkul keduanya dari belakang sambil berceloteh tanpa henti. “Hello, My Men! Giliran santai begindang, gue nggak diajak!” Hardi menepis lengan Odi seraya membalas, “Lo cepet banget pulang. Udah makan siang sama jemput anak bos?” Percakapan panjang yang seharusnya santai berubah kacau ketika Odi kehilangan keseimbangan dan—permen karet yang dia pegang melayang dan menempel di rambut Patra. “Waduh!” jerit Odi panik. “BANGKE LO!” Patra menggerutu sambil mencubit permen karet itu. “Jangan ditarik!” Shannon meringis. Benar saja. Permen karet itu tidak hanya menempel di jemari Patra, tetapi semakin melebar ke helai rambut lain. Hardi ngangkat ponselnya sambil setengah tertawa. “Gue foto dulu ya, Pat. Momen bersejarah ini.” Patra cuma bisa pasrah saat melihat lensa kamera diarahkan ke wajahnya. “Terima kasih atas peringatannya,” kata Patra datar ke ketiga orang itu. Di tengah drama rambut lengket itu, Hardi sempat nyeletuk ringan sambil nyengir. “Eh, hitung-hitung, ini bukti kedua kalau lo emang ditakdirkan buat ketemu Talia.” Patra tersedak ludah sendiri begitu mendengar nama perempuan itu. Indra pendengaran Patra mendadak tuli ketika Shannon dan Odi serempak penasaran bertanya ke Hardi—siapa perempuan yang ia maksud. Satu-satunya orang lain yang mengetahui rahasia Patra. Yah, laki-laki itu tidak ada pilihan lain, kan?Laptop Patra akhirnya tertutup tepat ketika matahari mulai turun di balik deretan ruko seberang Salon Hestia. Sejak siang ia dan Odi menyelesaikan revisi naskah terakhir untuk dua klien baru yang sama-sama akan memasuki tahap penyusunan proposal penerbitan. Satu proyek merupakan buku dongeng bergambar untuk komunitas belajar anak-anak di pesisir, sementara satu lagi berupa couple journaling series yang akan menjadi merchandise podcast pasangan suami istri terkenal di kalangan milenial dan generasi Z. "Kita tinggal rapat daring hari Senin, kan?" tanya Odi dari layar laptopnya sambil meregangkan bahu. "Dua klien itu udah minta timeline final." Patra mengangguk kecil sembari mengecek agenda di tablet digitalnya, lalu menjawab pelan, "Yang dongeng bahas ilustrasi, yang journaling bahas struktur latihan refleksinya." "Siap." Odi menguap lebar sebelum tersenyum tipis. "Kalau gitu gue cabut dulu. Jangan lupa makan." Patra hanya mengangkat tangan kecil sebagai balasan sebelum sambungan vide
Pintu hunian vertikal terbuka perlahan tanpa suara. Talia melepaskan sepatu dan tasnya di dekat rak, lalu mendapati ruang tamu masih diterangi cahaya laptop yang belum dimatikan. Patra tertidur di meja bundar dengan kepala bertumpu di atas lipatan kedua lengannya, sementara layar laptop masih memperlihatkan dokumen naskah yang belum selesai ia sunting. Talia berdiri cukup lama memandangi laki-laki itu. Rambut Patra berantakan karena beberapa kali mungkin ia mengusapnya sendiri saat berpikir, sedangkan jemari kirinya masih menggenggam pena yang tintanya mulai mengering. Entah sejak kapan tunangannya tertidur dalam posisi tidak nyaman seperti itu. Ia tidak membangunkannya. Talia memilih masuk ke kamar lebih dulu, berganti pakaian rumah, lalu mencuci wajah dan mengikat rambutnya. Ketika kembali ke dapur kecil mereka, ia membuka kulkas sekadarnya dan menemukan dua kotak tupperware yang diberi label tulisan tangan Patra menggunakan spidol hitam. "Semur." "Tumis timun." Sudut bibir Ta
Keesokan paginya, Talia mengirim pesan ke grup kantor Intimate Beauty untuk meminta izin datang setelah jam makan siang. Ia beralasan perlu mengurus urusan keluarga terlebih dahulu dan akan langsung menuju Salon Hestia sore nanti, sekalian membantu operasional hingga tutup. Tidak lama kemudian Boris membalas singkat, Take your time, membuat Talia mengembuskan napas lega. Sesudah mandi dan berganti pakaian sederhana, Talia mampir ke dapur membantu Janette menyiapkan sarapan. Dua mangkuk bubur ayam, potongan buah, dan secangkir teh hangat ia tata di atas nampan kayu. Janette hanya mengusap lengan putrinya pelan sebelum membiarkannya berjalan menuju kamar yang berada di ujung lorong lantai dua. Pintu kamar Oma Claire terbuka sedikit. Perempuan tua itu sudah duduk bersandar di ranjang sambil memandangi taman melalui jendela yang dibuka separuh, seolah sengaja menunggu cucunya datang. Rambut putihnya yang tipis tersisir rapi, sementara garis-garis tua di wajahnya justru membuat senyumnya
Hujan masih mengguyur ketika Talia memarkirkan motornya di halaman rumah keluarga De Rucci. Rambutnya menempel di pipi, jaketnya basah kuyup, sementara napasnya masih berantakan akibat pertengkaran yang belum benar-benar selesai bersama Patra. Gerald yang baru hendak mematikan lampu ruang keluarga langsung bangkit dari sofa begitu melihat putrinya berdiri gemetar di depan pintu. "Talia?" seru Gerald kaget. Janette yang sedang membawa secangkir teh dari dapur ikut menoleh dan buru-buru menghampiri anak bungsunya. "Ya Tuhan... kenapa kamu hujan-hujanan begini?" Talia memaksakan senyum tipis. "Aku cuma... pengin pulang sebentar." Janette tidak bertanya apa-apa lagi. Ia hanya menggenggam tangan putrinya yang sedingin es lalu mengajaknya masuk, sementara Gerald mengambil handuk besar dari lemari dekat ruang tamu dan menyampirkannya ke bahu Talia. "Ayah bikinin air hangat dulu." "Nggak usah, Yah." Gerald tetap berjalan ke dapur. "Boleh kuat di kepala, tapi badan jangan diajak keras ke
Hujan turun tidak lama setelah pintu rumah menutup di belakang Talia. Patra berdiri cukup lama di dekat rak sepatu, memandangi payung hitam yang biasa mereka pakai bergantian ketika salah satu lupa membawa jas hujan. Jemarinya sempat bergerak hendak mengambil gagangnya, tetapi suara Talia beberapa jam lalu menggema lagi di kepalanya—cukup tunggu di rumah saja. Ia terduduk di sofa ruang tamu yang belum lama mereka beli, sementara air hujan memukul genting dan jendela tanpa jeda. Rumah yang beberapa hari lalu terasa seperti permulaan hidup baru kini terdengar terlalu luas hanya karena satu orang keluar. Patra baru sadar, suara napas Talia rupanya selama ini memenuhi banyak sudut rumah yang tidak pernah ia sadari. Patra membuka ponselnya, menatap nama Talia beberapa detik sebelum akhirnya menekan ikon panggilan. Nada sambung pertama berbunyi panjang, lalu berhenti begitu saja tanpa jawaban. Ia menarik napas, mengusap wajahnya sendiri, kemudian mencoba sekali lagi. Nada sambung kedua t
Pagi itu, apartemen terasa terlalu sunyi. Talia sudah bersiap berangkat kerja sejak subuh, tetapi tidak sekali pun mengucapkan selamat pagi atau sekadar bertanya apakah Patra sudah sarapan. Patra hanya mendengar bunyi lemari dibuka, laci ditutup, lalu langkah kaki yang bergerak dari kamar menuju ruang tamu.Biasanya Talia akan mampir sebentar ke meja makan, mengusap rambut Patra sebelum berangkat. Hari itu tidak ada apa-apa selain bunyi gelas yang diletakkan pelan di wastafel. Patra tahu, diam seperti ini jauh lebih menakutkan dibandingkan pertengkaran.Sampai menjelang siang, mereka tetap berada di bawah atap yang sama tanpa benar-benar hidup di ruang yang sama. Patra mencoba menyibukkan diri membalas revisi naskah klien, sedangkan Talia berkali-kali keluar masuk kamar sambil memeriksa dokumen kantor. Tidak ada percakapan, bahkan ketika mata mereka sempat bertemu.Menjelang sore, Talia akhirnya menghampiri meja kerja Patra. Tanpa duduk, perempuan itu menyodorkan ponselnya begitu saja
Patra menatap Nero yang berada di dalam lemari bajunya, cukup lama. Sampai si tamu kebingungan dengan sikap Patra. “Tutup aja,” ucap Nero sambil menyingkirkan tangan Patra yang masih memegang daun pintu lemari ragu. “Sana, pacar lo udah nungguin.”Ketika lemarinya tertutup, Patra berbalik keluar k
Begitu pintu flat tertutup, Patra terkesiap karena Nero langsung menyerbu bibirnya. Melahapnya rakus sampai tuan rumah harus menginjak punggung kaki tamunya. “Gue lagi sakit…!” bentak Patra. Lantas buru-buru mengatupkan mulutnya. ‘Shannon udah … pergi, kan?’ Nero terdiam beberapa detik. Napasnya m
Patra melempar tatapan judes sebelum akhirnya merangsek masuk ke dalam kamar Nero. “Kan, lo bikin diri sendiri jadi jomblo, udah bener tanggepin aja cewek-cowok yang suka sama lo.” Suara pintu berdebum di belakang Patra. Tidak ada suara langkah mendekat, tetapi tangan yang menelusup dari leher ke b
Tiga minggu berlalu, sejak Boris kedatangan keluarga besar di rumah vertikal yang ia kelola. Boris sibuk membuka cabang lainnya di wilayah-wilayah dekat spot perkantoran, ditemani Tashi dan Cherry beserta babysitternya. Patra dan tamu-tamu lain pun memiliki kesempatan untuk menjenguk keluarga mere







