Malam turun perlahan di desa itu.Suara jangkrik terdengar dari balik semak-semak, bersahutan dengan bunyi daun bambu yang bergesekan tertiup angin. Lampu-lampu rumah warga mulai menyala satu per satu, menciptakan titik-titik cahaya kecil di antara gelapnya jalan desa.Ayu duduk sendirian di teras rumah.Di pangkuannya terbuka sebuah buku catatan dengan halaman-halaman penuh tulisan tangan. Ada coretan angka, rancangan kegiatan, daftar kebutuhan warga, hingga beberapa ide yang sejak siang tadi terus berputar di kepalanya.Ia menghela napas panjang.Sejak kepulangannya ke desa, semuanya terasa jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan. Ia datang dengan niat membantu, tetapi justru mendapati banyak persoalan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan teori dan rencana di atas kertas.Dan yang paling membuatnya kesal adalah satu orang.Raka.Sejak kecil, laki-laki itu selalu berhasil membuat Ayu naik darah. Dulu, Raka adalah anak laki-laki yang gemar menyembunyikan sandal Ayu, mengambil
Read more