LOGINSetelah bertahun-tahun merantau, Ayu kembali ke desa. Namun rencana ketenangannya hancur saat bertemu musuh bebuyutannya yang kini menjadi pria dewasa yang suka mengusiknya dengan cara berbeda. Di balik sikap jahilnya yang membuat darah tinggi, ada tatapan teduh yang meruntuhkan benteng pertahanannya. Apakah benci yang mereka rasakan benar-benar tulus, atau hanya tameng untuk rasa yang dulu pernah ada?
View MoreTelepon genggam itu bergetar di meja kerja Ayu, memecah kesunyian malam yang hanya diisi oleh suara pendingin ruangan dan ketukan jari pada papan ketik. Nama "Ibu" terpampang di layar, disertai emoji hati berwarna merah muda yang sudah lama tidak digantinya. Ayu menarik napas panjang, mengusap wajahnya yang lelah. Sudah hampir jam sepuluh malam, dan ia tahu betul apa isi dari panggilan ini. Ini bukan panggilan basa-basi biasa. Ini adalah panggilan misi.
"Halo, Bu," jawab Ayu, berusaha terdengar ceria, meskipun ia baru saja menyelesaikan revisi dokumen yang memakan waktu tiga jam non-stop.
"Halo, Nduk. Baru selesai kerja, Nak?" Suara Ibu, lembut dan hangat, segera menyelimuti Ayu, sebuah kontras yang menenangkan dari kebisingan kota yang ia tinggali.
"Iya, Bu. Baru banget ini. Ibu sama Bapak gimana kabarnya?"
"Alhamdulillah, kami baik, Nak. Bapakmu barusan aja selesai minum jamu kunyit asam buat pegal-pegalnya. Dia lagi nonton TV di depan." Jeda sejenak,
. "Kamu sendiri gimana? Makan teratur, kan? Jangan cuma mi instan terus. Ibu lihat di I*******m kamu posting kopi lagi, kopi lagi. Perut itu diisi nasi, Nak, bukan kafein!" Ayu tersenyum kecil.
Khawatir adalah bahasa cinta Ibu. "Iya, Bu, siap. Tadi makan nasi goreng, kok. Tenang aja."
"Baguslah kalau begitu." Suara Ibu perlahan berubah, nada hangatnya mulai diiringi semburat keseriusan yang Ayu kenali sebagai prelude dari topik utama.
"Nduk, ini sudah hampir akhir tahun. Jadwalmu sudah longgar, kan?" Ayu menahan napas. "Maksud Ibu... liburan akhir tahun, Bu?"tanya Ayu pelan.
"Ya iyalah, Nak. Apa lagi?" Ibu terkekeh pelan. "Pulang, Nak. Pulang ke rumah."
Ayu mencoba merangkai alasan yang paling logis dan tidak menyakitkan.
"Bu, kan Ayu sudah bilang, akhir tahun ini client lagi banyak banget yang mau kejar target sebelum tutup buku. Kayaknya Ayu harus di Jakarta. Mungkin tahun depan, Bu..."
"Alasanmu itu dari lima tahun lalu juga begitu, sampe ibu bapak yang nyamperin kamu. Tahun kemarin bilang target. Tahun ini bilang proyek baru. Memangnya kamu mau jadi perawan tua di sana?" Suara Ibu sedikit meninggi, tetapi cepat melunak kembali, beralih ke jurus andalannya: nostalgia.
"Kamu ingat, Nak? Dulu waktu kamu kecil, Kamu selalu yang paling semangat manjat. Sekarang, pohon itu berbuah lebat, Nduk. Mangga Arumanisnya besar-besar sekali. Sayang kalau yang makan cuma Bapak sama Ibu." Hening sesaat.
"Bu, tolong mengertilah. Kalau Ayu ambil cuti sekarang, risikonya besar di kantor. Nanti malah jadi masalah, Ayu kan juga termasuk kariawan baru. Gaji Ayu juga lumayan buat Ibu sama Bapak," Ibu menghela napas lalu mengubah strategi.
"Ah, uang itu bisa dicari, Nak. Kebahagiaan dan kesehatan itu yang susah dicari. Gini, deh. Kamu ingat Sate Maranggi langganan kita di perempatan desa? Yang bumbunya meresap sampai ke tulang itu?" Ibu Ayu masih kekeh mebujuk Ayu. Ayu menelan ludah membayangkan, Ia ingat sekali. Sate Maranggi itu adalah surga dunia.
"Ibu janji, kalau kamu pulang, Ibu akan bawakan kamu ke sana setiap hari! Terus, Bapakmu juga sudah panen ikan Mujair dari kolam yang baru digali. Ikan itu nanti kita goreng kering, sambalnya pakai sambal terasi buatan Ibu. Dijamin kamu nggak akan ingat lagi sama nasi goreng ala chef di Jakarta itu." Ayu tersenyum masam.
"Ibu tahu aja kelemahan Ayu."Ayu tersenyum lirih.
"Tentu saja Ibu tahu. Ibu yang melahirkanmu, Nak." Ibu tertawa kecil.
"Lalu, di kebun belakang, Buah Duku sedang masak sempurna. Kalau kamu nggak pulang, nanti cuma jadi makanan monyet di hutan. Sayang, kan? Bayangin, Nduk. Kamu duduk di teras sambil minum kopi susu dan makan duku yang baru dipetik. Nggak ada suara klakson, nggak ada polusi, cuma suara jangkrik dan angin sawah." Tiba-tiba, suara Bapak terdengar di latar belakang, mengambil alih pembicaraan.
"Halo, Nduk? Ini Bapak."
"Halo, Pak. Bapak sehat?"
"Sehat, Nak. Kamu pulang, ya. Bapak mau ajak kamu ke pabrik sama sawah."
"Ke sawah? Kan sawah kita sudah diurus Paman, Pak. Pabrik? Kan pabrik ada Kang Asep kepercayaan Bapak," ujar Ayu.
"Iya, memang. Tapi ada satu hal yang Bapak butuh bantuanmu, Nak. Ada urusan sedikit soal surat tanah. Bapak butuh kamu yang bantu memeriksanya, takut ada yang salah. Bapak ini sudah tua, Nak. Penglihatan sudah tidak tajam lagi." Ini adalah taktik paling efektif, memberikan sang anak tanggung jawab. Bapak jarang sekali meminta bantuan, apalagi yang berhubungan dengan properti keluarga.
"Bapak nggak minta kamu buat berhenti kerja. Bapak cuma minta kamu pulang seminggu. Urusan surat itu paling cuma sehari. Sisanya, ya buat kita kumpul. Bapak rindu main catur sama kamu." Bujuk rayu itu kini sempurna. Nostalgia, makanan dan kini tanggung jawab yang diselimuti kerinduan. Semua alasan yang ia susun rapi tentang deadline dan client tiba-tiba terasa begitu remeh.
Ia membayangkan keriput di wajah Bapak, rambut putih Ibu, dan Nenek yang menunggunya di kursi rotan. Namun bukan masalah cuti maupun pekerjaan Ayu saat ini, namun ada hal lain yang membuat Ayu enggan pulang ke kampung.
"Pak, Bu..." Ayu menarik napas dalam-dalam.
"Client Ayu memang banyak, tapi Ayu akan coba reschedule. Akan Ayu usahakan."
"Jangan usahakan, Nak. Tapi pasti!" seru Ibu dari jauh, Bapak tertawa ringan.
"Hati-hati, Nduk. Jangan sampai Ibu kirim Bapak ke sana buat jemput paksa kamu. Kami tunggu ya, Nak."
"Iya, Pak. Beri Ayu waktu dua hari untuk urus semuanya. Setelah itu, Ayu langsung cari tiket," janji Ayu.
"Alhamdulillah ya Allah." Suara Ibu kembali, kini diselingi isak tangis haru yang ditahan.
"Terima kasih, Nak. Ibu akan mulai bersihkan kamarmu." Ayu tersenyum, kali ini senyum yang tulus, lega. Suara jangkrik dari telepon itu terdengar lebih nyata daripada suara deru motor di jalanan Jakarta.
"Iya, Bu. Sampai ketemu. Assalamualaikum." Ayu meletakkan telepon, menatap layar laptopnya yang masih menampilkan tumpukan pekerjaan. Target kantor, client besar, semuanya masih penting. Tapi, untuk malam ini, kehangatan rumah, aroma sate maranggi, dan senyum kedua orang tuanya jauh lebih penting.
Malam telah turun sepenuhnya di desa, setelah siangnya terjadi keributan kecil diteras rumahnya.Suara jangkrik terdengar bersahutan dari balik halaman rumah, sesekali diselingi suara angin yang menggerakkan dedaunan pohon mangga di samping rumah.Lampu-lampu teras menyala temaram, menciptakan suasana hangat setelah hari yang cukup melelahkan.Ayu baru saja meletakkan piring kosongnya ketika ia hendak berdiri dari meja makan.“Biar Ayu yang cuci piringnya, Pak.”Namun tangan Pak Surya terangkat, menghentikannya.“Tidak usah. Biar nanti saja.”Ayu mengernyit.“Kenapa, Pak?”Pak Surya tidak langsung menjawab. Pria paruh baya itu hanya mengambil gelas tehnya, menyeruput perlahan, lalu meletakkannya kembali di atas meja.“Ada yang ingin Bapak bicarakan denganmu.”Seketika Ayu terdiam.Nada suara bapaknya terdengar berbeda.Tidak seperti biasanya.Ayu kembali duduk.“Masalah sawah?”“Bukan.”“Masalah gagal panen?”“Bukan juga.”Ayu semakin bingung.Pak Surya menghela napas panjang. Tatapan
Sore itu, rumah Ayu tidak seramai biasanya.Angin berembus pelan melewati halaman, membawa aroma tanah yang masih menyimpan sisa hujan semalam. Di atas meja kayu di teras, beberapa lembar kertas berserakan. Ada catatan hasil panen, perhitungan biaya pupuk, laporan dari para petani, hingga beberapa foto kondisi sawah yang diambil beberapa hari lalu.Ayu duduk berhadapan dengan Raka.Keduanya tampak serius.“Kalau kita tetap menggunakan cara yang sama untuk musim berikutnya, kemungkinan gagal lagi cukup besar,” ujar Ayu sambil menunjuk salah satu catatan.Raka menyandarkan punggungnya ke kursi. Tatapannya tertuju pada angka-angka di hadapannya.“Aku sudah bicara dengan tiga kelompok tani pagi tadi. Mereka bilang tanah di bagian timur masih terlalu basah. Kemungkinan penyakit tanaman menyebar dari sana.”Ayu mengangguk.“Berarti kita harus memperbaiki sistem drainasenya.”“Bukan cuma itu.” Raka mengambil selembar kertas lain. “Kita juga perlu mengubah jadwal tanam. Jangan semuanya seremp
Malam turun perlahan di desa itu.Suara jangkrik terdengar dari balik semak-semak, bersahutan dengan bunyi daun bambu yang bergesekan tertiup angin. Lampu-lampu rumah warga mulai menyala satu per satu, menciptakan titik-titik cahaya kecil di antara gelapnya jalan desa.Ayu duduk sendirian di teras rumah.Di pangkuannya terbuka sebuah buku catatan dengan halaman-halaman penuh tulisan tangan. Ada coretan angka, rancangan kegiatan, daftar kebutuhan warga, hingga beberapa ide yang sejak siang tadi terus berputar di kepalanya.Ia menghela napas panjang.Sejak kepulangannya ke desa, semuanya terasa jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan. Ia datang dengan niat membantu, tetapi justru mendapati banyak persoalan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan teori dan rencana di atas kertas.Dan yang paling membuatnya kesal adalah satu orang.Raka.Sejak kecil, laki-laki itu selalu berhasil membuat Ayu naik darah. Dulu, Raka adalah anak laki-laki yang gemar menyembunyikan sandal Ayu, mengambil
Suasana Balai Desa pagi itu jauh lebih ramai daripada biasanya. Warga berbondong-bondong memenuhi halaman, saling berbisik membicarakan kasus yang selama beberapa hari terakhir menjadi perbincangan hangat. Di depan balai desa, beberapa petugas kepolisian telah berjaga. Di ruang utama, Pak Jono duduk dengan kedua tangan diborgol. Wajahnya yang selama ini dikenal tenang kini tampak pucat dan penuh penyesalan.Di sudut ruangan, Ayu berdiri bersama Raka. Meski terlihat tenang, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Semua perjuangan, rasa lelah, dan keraguan yang selama ini ia hadapi akan menemukan jawabannya hari ini.Tak jauh dari mereka, ayah Ayu berdiri dengan wajah serius. Selama penyelidikan berlangsung, ia termasuk orang yang paling meragukan dugaan putrinya. Baginya, menuduh seseorang tanpa bukti yang kuat adalah tindakan yang berbahaya. Namun kini, setelah seluruh fakta terungkap, ia mulai menyadari bahwa insting Ayu tidak pernah muncul tanpa alasan.Kepala desa membuka si
Kabut tipis masih menggelayut malas di atas pucuk-pucuk pohon jati ketika Ayu membuka jendela kayu kamar si Mbah. Suara deritnya memecah keheningan pagi, disusul oleh aroma tanah basah dan sisa pembakaran kayu dari dapur tetangga. Udara dingin segera merangsek masuk, membelai kulitnya yang masih ha
Matahari tepat berada di puncak kepala, memancarkan sinar yang begitu terik hingga seolah-olah udara di atas hamparan sawah itu menari-nari karena panas. Namun, bagi masyarakat Desa Karangjati -desa tempat Ayu-, siang hari bukan berarti berhenti. Justru di saat seperti inilah, kehidupan di sawah me
Lampu-lampu gantung berwarna kuning hangat berpijar di sepanjang jalan utama desa, berayun pelan ditiup angin malam yang membawa aroma tanah basah dan sate yang tengah dibakar. Malam Minggu kali ini bukan malam Minggu biasa. Bagi warga Desa tempat Ayu lahir, ini adalah malam "Pesta Rakyat"—sebuah r
Selama lima tahun itu, komunikasi dengan orang tua hanya bisa dilakukan melalui panggilan telepon setiap akhir pekan. Namun, tiga bulan yang lalu, panggilan telepon dari ibunya datang tidak pada hari biasa, dan suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya, bahkan sedikit bergetar ketika memberitahu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.