FAZER LOGINBagi Ayu, kembali ke desa setelah bertahun-tahun merantau di ibukota adalah misi untuk membuktikan bahwa dia bukan lagi gadis kecil yang bisa dirundung. Namun, rencana ketenangannya hancur saat sosok Raka—musuh bebuyutannya sejak zaman masih ingusan—muncul dengan senyum miring yang sama menyebalkannya. Raka yang sekarang bukan lagi bocah ingusan yang suka menarik kuncir rambut Ayu, melainkan pria dewasa yang makin hobi mengusik ketenangannya dengan cara yang... berbeda. Dari perdebatan di pesta rakyat, di pasar pagi, hingga adu mulut di tengah sawah, Ayu sadar satu hal, Raka adalah ujian kesabaran terberatnya. Namun, di balik sikap jahil Raka yang memicu darah tinggi, ada tatapan teduh yang perlahan meruntuhkan benteng pertahanan Ayu. Apakah benci ini benar-benar karena rasa kesal, atau hanya tameng untuk menutupi rasa yang dulu pernah ada?
Ver maisTelepon genggam itu bergetar di meja kerja Ayu, memecah kesunyian malam yang hanya diisi oleh suara pendingin ruangan dan ketukan jari pada papan ketik. Nama "Ibu" terpampang di layar, disertai emoji hati berwarna merah muda yang sudah lama tidak digantinya. Ayu menarik napas panjang, mengusap wajahnya yang lelah. Sudah hampir jam sepuluh malam, dan ia tahu betul apa isi dari panggilan ini. Ini bukan panggilan basa-basi biasa. Ini adalah panggilan misi.
"Halo, Bu," jawab Ayu, berusaha terdengar ceria, meskipun ia baru saja menyelesaikan revisi dokumen yang memakan waktu tiga jam non-stop.
"Halo, Nduk. Baru selesai kerja, Nak?" Suara Ibu, lembut dan hangat, segera menyelimuti Ayu, sebuah kontras yang menenangkan dari kebisingan kota yang ia tinggali.
"Iya, Bu. Baru banget ini. Ibu sama Bapak gimana kabarnya?"
"Alhamdulillah, kami baik, Nak. Bapakmu barusan aja selesai minum jamu kunyit asam buat pegal-pegalnya. Dia lagi nonton TV di depan." Jeda sejenak,
. "Kamu sendiri gimana? Makan teratur, kan? Jangan cuma mi instan terus. Ibu lihat di I*******m kamu posting kopi lagi, kopi lagi. Perut itu diisi nasi, Nak, bukan kafein!" Ayu tersenyum kecil.
Khawatir adalah bahasa cinta Ibu. "Iya, Bu, siap. Tadi makan nasi goreng, kok. Tenang aja."
"Baguslah kalau begitu." Suara Ibu perlahan berubah, nada hangatnya mulai diiringi semburat keseriusan yang Ayu kenali sebagai prelude dari topik utama.
"Nduk, ini sudah hampir akhir tahun. Jadwalmu sudah longgar, kan?" Ayu menahan napas. "Maksud Ibu... liburan akhir tahun, Bu?"tanya Ayu pelan.
"Ya iyalah, Nak. Apa lagi?" Ibu terkekeh pelan. "Pulang, Nak. Pulang ke rumah."
Ayu mencoba merangkai alasan yang paling logis dan tidak menyakitkan.
"Bu, kan Ayu sudah bilang, akhir tahun ini client lagi banyak banget yang mau kejar target sebelum tutup buku. Kayaknya Ayu harus di Jakarta. Mungkin tahun depan, Bu..."
"Alasanmu itu dari lima tahun lalu juga begitu, sampe ibu bapak yang nyamperin kamu. Tahun kemarin bilang target. Tahun ini bilang proyek baru. Memangnya kamu mau jadi perawan tua di sana?" Suara Ibu sedikit meninggi, tetapi cepat melunak kembali, beralih ke jurus andalannya: nostalgia.
"Kamu ingat, Nak? Dulu waktu kamu kecil, setiap akhir tahun, kita selalu pasang lampu kelap-kelip di pohon mangga depan rumah. Kamu selalu yang paling semangat manjat buat pasang bintang di puncaknya. Sekarang, pohon itu berbuah lebat, Nduk. Mangga Arumanisnya besar-besar sekali. Sayang kalau yang makan cuma Bapak sama Ibu." Hening sesaat.
"Bu, tolong mengertilah. Kalau Ayu ambil cuti sekarang, risikonya besar di kantor. Nanti malah jadi masalah, Ayu kan juga termasuk kariawan baru. Gaji Ayu juga lumayan buat Ibu sama Bapak," Ibu menghela napas lalu mengubah strategi.
"Ah, uang itu bisa dicari, Nak. Kebahagiaan dan kesehatan itu yang susah dicari. Gini, deh. Kamu ingat Sate Maranggi langganan kita di perempatan desa? Yang bumbunya meresap sampai ke tulang itu?" Ibu Ayu masih kekeh mebujuk Ayu. Ayu menelan ludah membayangkan, Ia ingat sekali. Sate Maranggi itu adalah surga dunia.
"Ibu janji, kalau kamu pulang, Ibu akan bawakan kamu ke sana setiap hari! Terus, Bapakmu juga sudah panen ikan Mujair dari kolam yang baru digali. Ikan itu nanti kita goreng kering, sambalnya pakai sambal terasi buatan Ibu. Dijamin kamu nggak akan ingat lagi sama nasi goreng ala chef di Jakarta itu." Ayu tersenyum masam.
"Ibu tahu aja kelemahan Ayu."Ayu tersenyum lirih.
"Tentu saja Ibu tahu. Ibu yang melahirkanmu, Nak." Ibu tertawa kecil.
"Lalu, di kebun belakang, Buah Duku sedang masak sempurna. Manisnya kayak madu. Kalau kamu nggak pulang, nanti cuma jadi makanan monyet di hutan. Sayang, kan? Bayangin, Nduk. Kamu duduk di teras sambil minum kopi susu dan makan duku yang baru dipetik. Nggak ada suara klakson, nggak ada polusi, cuma suara jangkrik dan angin sawah." Tiba-tiba, suara Bapak terdengar di latar belakang, mengambil alih pembicaraan. Suara Bapak lebih berat, lebih tenang, tetapi memiliki otoritas yang tak terbantahkan.
"Halo, Nduk? Ini Bapak."
"Halo, Pak. Bapak sehat?"
"Sehat, Nak. Kamu pulang, ya. Bapak mau ajak kamu ke pabrik sama sawah."
"Ke sawah? Kan sawah kita sudah diurus Paman, Pak. Pabrik? Kan pabrik ada Kang Asep kepercayaan Bapak," ujar Ayu.
"Iya, memang. Tapi ada satu hal yang Bapak butuh bantuanmu, Nak. Ada urusan sedikit soal surat tanah. Surat-surat itu Bapak simpan di laci kamar. Bapak butuh kamu yang bantu memeriksanya, takut ada yang salah. Bapak ini sudah tua, Nak. Penglihatan sudah tidak tajam lagi." Ini adalah taktik paling efektif, memberikan sang anak tanggung jawab, membuatnya merasa dibutuhkan. Bapak jarang sekali meminta bantuan spesifik, apalagi yang berhubungan dengan properti keluarga.
"Bapak nggak minta kamu buat berhenti kerja. Bapak cuma minta kamu pulang seminggu. Urusan surat itu paling cuma sehari. Sisanya, ya buat kita kumpul. Bapak rindu main catur sama kamu. Sudah lama Bapak nggak kalah tanding sama kamu." Bujuk rayu itu kini sempurna. Nostalgia, makanan, dan kini, tanggung jawab yang diselimuti kerinduan. Ayu memejamkan mata. Semua alasan yang ia susun rapi tentang deadline dan client tiba-tiba terasa begitu remeh. Ia membayangkan keriput di wajah Bapak, rambut putih Ibu, dan Nenek yang menunggunya di kursi rotan. Namun bukan masalah cuti maupun pekerjaan Ayu saat ini, namun ada hal lain yang membuat Ayu enggan pulang ke kampung.
"Pak, Bu..." Ayu menarik napas dalam-dalam.
"Client Ayu memang banyak, tapi Ayu akan coba reschedule. Akan Ayu usahakan."
"Jangan usahakan, Nak. Tapi pasti!" seru Ibu dari jauh, Bapak tertawa ringan.
"Hati-hati, Nduk. Jangan sampai Ibu kirim Bapak ke sana buat jemput paksa kamu. Kami tunggu ya, Nak."
"Iya, Pak. Beri Ayu waktu dua hari untuk urus semuanya. Setelah itu, Ayu langsung cari tiket," janji Ayu.
"Alhamdulillah ya Allah." Suara Ibu kembali, kini diselingi isak tangis haru yang ditahan.
"Terima kasih, Nak. Ibu akan mulai bersihkan kamarmu." Ayu tersenyum, kali ini senyum yang tulus, lega. Suara jangkrik dari telepon itu terdengar lebih nyata daripada suara deru motor di jalanan Jakarta.
"Iya, Bu. Sampai ketemu. Assalamualaikum." Ayu meletakkan telepon, menatap layar laptopnya yang masih menampilkan tumpukan pekerjaan. Target kantor, client besar, semuanya masih penting. Tapi, untuk malam ini, kehangatan rumah, aroma sate maranggi, dan senyum kedua orang tuanya jauh lebih penting.
Matahari tepat berada di puncak kepala, memancarkan sinar yang begitu terik hingga seolah-olah udara di atas hamparan sawah itu menari-nari karena panas. Namun, bagi masyarakat Desa Karangjati -desa tempat Ayu-, siang hari bukan berarti berhenti. Justru di saat seperti inilah, kehidupan di sawah mencapai puncaknya.Setelah pagi tadi berburu kuliner didesa bersama sang sepupu, kali ini Ayu melangkah hati-hati di atas pematang sawah yang sempit. Sepatunya yang biasa ia gunakan untuk berjalan di aspal ibu kota kini harus berkompromi dengan tanah kering yang sesekali pecah. Di depannya, Pak Surya—ayah Ayu—berjalan dengan langkah mantap. Lelaki paruh baya itu mengenakan kemeja flanel kusam yang lengannya digulung hingga siku, sebuah caping lebar melindungi wajahnya yang mulai dihiasi garis-garis usia namun tetap memancarkan wibawa."Hati-hati, Yu. Pematang yang ini agak miring karena kemarin habis diguyur hujan deras," ucap Pak Surya tanpa menoleh, namun tangan kanannya terulur ke belakang
Kabut tipis masih menggelayut malas di atas pucuk-pucuk pohon jati ketika Ayu membuka jendela kayu kamar si Mbah. Suara deritnya memecah keheningan pagi, disusul oleh aroma tanah basah dan sisa pembakaran kayu dari dapur tetangga. Udara dingin segera merangsek masuk, membelai kulitnya yang masih hangat akibat selimut tebal. Di sampingnya, Reya masih bergulung layaknya kepompong raksasa, hanya menyisakan ujung rambutnya yang berantakan mencuat keluar."Rey, bangun. Katanya mau cari sarapan?" Ayu mengguncang bahu sepupunya itu.Reya hanya bergumam tidak jelas, menarik selimutnya lebih tinggi. "Lima menit lagi, Yu... semalam kita ghibah sampai jam dua pagi, ingat?"Ayu terkekeh. Semalam, setelah pulang dari Pesta Rakyat dengan perasaan dongkol akibat ulah Raka, mereka memang menghabiskan waktu berjam-jam di bawah temaram lampu kamar Mbah. Mereka menertawakan banyak hal, mulai dari kenangan masa kecil hingga mengumpat habis-habisan tentang betapa menyebalkannya wajah Raka yang sok tampan
Lampu-lampu gantung berwarna kuning hangat berpijar di sepanjang jalan utama desa, berayun pelan ditiup angin malam yang membawa aroma tanah basah dan sate yang tengah dibakar. Malam Minggu kali ini bukan malam Minggu biasa. Bagi warga Desa tempat Ayu lahir, ini adalah malam "Pesta Rakyat"—sebuah ritual syukur tahunan atas panen padi yang melimpah ruah. Suara gamelan bertalu-talu dari arah balai desa, menyatu dengan tawa anak-anak yang berlarian membawa kembang api kecil.Ayu menarik napas dalam-dalam, membiarkan paru-parunya penuh dengan aroma khas kampung halamannya. Ia mengenakan gamis sederhana namun anggun, sementara rambutnya yang biasanya diikat, malam ini ia biarkan tergerai rapi."Ayu! Jangan melamun terus, ayo ke stand sebelah sana! Katanya ada kerak telor dan dawet ayu yang paling enak se-kecamatan!" teriak Reya, sepupunya yang punya energi layaknya baterai yang tidak pernah habis.Ayu tertawa kecil, melangkah menyusul Reya yang sudah lebih dulu berdiri di depan sebuah gero
Selama lima tahun itu, komunikasi dengan orang tua hanya bisa dilakukan melalui panggilan telepon setiap akhir pekan. Sedangkan ayahnya, yang biasanya hanya berbicara sebentar, selalu mengakhiri pembicaraan dengan kata-kata yang sama: “Jangan khawatir tentang kami, nak. Fokuslah pada kuliahmu. Kampung ini akan selalu ada untukmu.” Namun, tiga bulan yang lalu, panggilan telepon dari ibunya datang tidak pada hari biasa, dan suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya, bahkan sedikit bergetar ketika memberitahu bahwa ayahnya telah mengalami sakit kepala yang cukup parah dan harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari.Sejak saat itu, setiap panggilan telepon selalu diakhiri dengan permintaan yang sama dari ayahnya: “Pulanglah, Ayu. Kampung ini membutuhkanmu. Sawah, kebun, dan pabrik kita membutuhkan orang yang bisa mengelolanya dengan baik. Ayah sudah tua dan ingin segera beristirahat.” Ayu tidak bisa menolak permintaan itu; hati nya merasa tertekan. Setelah menyelesaikan semua a


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.