Musuh masa kecil: kembali mengusik (hati)

Musuh masa kecil: kembali mengusik (hati)

last updateÚltima atualização : 2026-02-13
Por:  KusumaEm andamento
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel12goodnovel
Classificações insuficientes
5Capítulos
11visualizações
Ler
Adicionar à biblioteca

Compartilhar:  

Denunciar
Visão geral
Catálogo
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP

Bagi Ayu, kembali ke desa setelah bertahun-tahun merantau di ibukota adalah misi untuk membuktikan bahwa dia bukan lagi gadis kecil yang bisa dirundung. Namun, rencana ketenangannya hancur saat sosok Raka—musuh bebuyutannya sejak zaman masih ingusan—muncul dengan senyum miring yang sama menyebalkannya. Raka yang sekarang bukan lagi bocah ingusan yang suka menarik kuncir rambut Ayu, melainkan pria dewasa yang makin hobi mengusik ketenangannya dengan cara yang... berbeda. Dari perdebatan di pesta rakyat, di pasar pagi, hingga adu mulut di tengah sawah, Ayu sadar satu hal, Raka adalah ujian kesabaran terberatnya. Namun, di balik sikap jahil Raka yang memicu darah tinggi, ada tatapan teduh yang perlahan meruntuhkan benteng pertahanan Ayu. Apakah benci ini benar-benar karena rasa kesal, atau hanya tameng untuk menutupi rasa yang dulu pernah ada?

Ver mais

Capítulo 1

Bab 1: Bujuk Rayu

Telepon genggam itu bergetar di meja kerja Ayu, memecah kesunyian malam yang hanya diisi oleh suara pendingin ruangan dan ketukan jari pada papan ketik. Nama "Ibu" terpampang di layar, disertai emoji hati berwarna merah muda yang sudah lama tidak digantinya. Ayu menarik napas panjang, mengusap wajahnya yang lelah. Sudah hampir jam sepuluh malam, dan ia tahu betul apa isi dari panggilan ini. Ini bukan panggilan basa-basi biasa. Ini adalah panggilan misi. 

"Halo, Bu," jawab Ayu, berusaha terdengar ceria, meskipun ia baru saja menyelesaikan revisi dokumen yang memakan waktu tiga jam non-stop. 

"Halo, Nduk. Baru selesai kerja, Nak?" Suara Ibu, lembut dan hangat, segera menyelimuti Ayu, sebuah kontras yang menenangkan dari kebisingan kota yang ia tinggali. 

"Iya, Bu. Baru banget ini. Ibu sama Bapak gimana kabarnya?"

 "Alhamdulillah, kami baik, Nak. Bapakmu barusan aja selesai minum jamu kunyit asam buat pegal-pegalnya. Dia lagi nonton TV di depan." Jeda sejenak,

. "Kamu sendiri gimana? Makan teratur, kan? Jangan cuma mi instan terus. Ibu lihat di I*******m kamu posting kopi lagi, kopi lagi. Perut itu diisi nasi, Nak, bukan kafein!" Ayu tersenyum kecil.

 Khawatir adalah bahasa cinta Ibu. "Iya, Bu, siap. Tadi makan nasi goreng, kok. Tenang aja."

 "Baguslah kalau begitu." Suara Ibu perlahan berubah, nada hangatnya mulai diiringi semburat keseriusan yang Ayu kenali sebagai prelude dari topik utama. 

"Nduk, ini sudah hampir akhir tahun. Jadwalmu sudah longgar, kan?" Ayu menahan napas. "Maksud Ibu... liburan akhir tahun, Bu?"tanya Ayu pelan.

 "Ya iyalah, Nak. Apa lagi?" Ibu terkekeh pelan. "Pulang, Nak. Pulang ke rumah."

Ayu mencoba merangkai alasan yang paling logis dan tidak menyakitkan. 

"Bu, kan Ayu sudah bilang, akhir tahun ini client lagi banyak banget yang mau kejar target sebelum tutup buku. Kayaknya Ayu harus di Jakarta. Mungkin tahun depan, Bu..."

 "Alasanmu itu dari lima tahun lalu juga begitu, sampe ibu bapak yang nyamperin kamu. Tahun kemarin bilang target. Tahun ini bilang proyek baru. Memangnya kamu mau jadi perawan tua di sana?" Suara Ibu sedikit meninggi, tetapi cepat melunak kembali, beralih ke jurus andalannya: nostalgia. 

"Kamu ingat, Nak? Dulu waktu kamu kecil, setiap akhir tahun, kita selalu pasang lampu kelap-kelip di pohon mangga depan rumah. Kamu selalu yang paling semangat manjat buat pasang bintang di puncaknya. Sekarang, pohon itu berbuah lebat, Nduk. Mangga Arumanisnya besar-besar sekali. Sayang kalau yang makan cuma Bapak sama Ibu." Hening sesaat.

 "Bu, tolong mengertilah. Kalau Ayu ambil cuti sekarang, risikonya besar di kantor. Nanti malah jadi masalah, Ayu kan juga termasuk kariawan baru. Gaji Ayu juga lumayan buat Ibu sama Bapak," Ibu menghela napas lalu mengubah strategi. 

"Ah, uang itu bisa dicari, Nak. Kebahagiaan dan kesehatan itu yang susah dicari. Gini, deh. Kamu ingat Sate Maranggi langganan kita di perempatan desa? Yang bumbunya meresap sampai ke tulang itu?" Ibu Ayu masih kekeh mebujuk Ayu. Ayu menelan ludah membayangkan, Ia ingat sekali. Sate Maranggi itu adalah surga dunia.

 "Ibu janji, kalau kamu pulang, Ibu akan bawakan kamu ke sana setiap hari! Terus, Bapakmu juga sudah panen ikan Mujair dari kolam yang baru digali. Ikan itu nanti kita goreng kering, sambalnya pakai sambal terasi buatan Ibu. Dijamin kamu nggak akan ingat lagi sama nasi goreng ala chef di Jakarta itu." Ayu tersenyum masam. 

"Ibu tahu aja kelemahan Ayu."Ayu tersenyum lirih.

"Tentu saja Ibu tahu. Ibu yang melahirkanmu, Nak." Ibu tertawa kecil. 

"Lalu, di kebun belakang, Buah Duku sedang masak sempurna. Manisnya kayak madu. Kalau kamu nggak pulang, nanti cuma jadi makanan monyet di hutan. Sayang, kan? Bayangin, Nduk. Kamu duduk di teras sambil minum kopi susu dan makan duku yang baru dipetik. Nggak ada suara klakson, nggak ada polusi, cuma suara jangkrik dan angin sawah." Tiba-tiba, suara Bapak terdengar di latar belakang, mengambil alih pembicaraan. Suara Bapak lebih berat, lebih tenang, tetapi memiliki otoritas yang tak terbantahkan. 

"Halo, Nduk? Ini Bapak." 

"Halo, Pak. Bapak sehat?"

 "Sehat, Nak. Kamu pulang, ya. Bapak mau ajak kamu ke pabrik sama sawah."

 "Ke sawah? Kan sawah kita sudah diurus Paman, Pak. Pabrik? Kan pabrik ada Kang Asep kepercayaan Bapak," ujar Ayu. 

"Iya, memang. Tapi ada satu hal yang Bapak butuh bantuanmu, Nak. Ada urusan sedikit soal surat tanah. Surat-surat itu Bapak simpan di laci kamar. Bapak butuh kamu yang bantu memeriksanya, takut ada yang salah. Bapak ini sudah tua, Nak. Penglihatan sudah tidak tajam lagi." Ini adalah taktik paling efektif, memberikan sang anak tanggung jawab, membuatnya merasa dibutuhkan. Bapak jarang sekali meminta bantuan spesifik, apalagi yang berhubungan dengan properti keluarga.

 "Bapak nggak minta kamu buat berhenti kerja. Bapak cuma minta kamu pulang seminggu. Urusan surat itu paling cuma sehari. Sisanya, ya buat kita kumpul. Bapak rindu main catur sama kamu. Sudah lama Bapak nggak kalah tanding sama kamu." Bujuk rayu itu kini sempurna. Nostalgia, makanan, dan kini, tanggung jawab yang diselimuti kerinduan. Ayu memejamkan mata. Semua alasan yang ia susun rapi tentang deadline dan client tiba-tiba terasa begitu remeh. Ia membayangkan keriput di wajah Bapak, rambut putih Ibu, dan Nenek yang menunggunya di kursi rotan. Namun bukan masalah cuti maupun pekerjaan Ayu saat ini, namun ada hal lain yang membuat Ayu enggan pulang ke kampung. 

"Pak, Bu..." Ayu menarik napas dalam-dalam. 

"Client Ayu memang banyak, tapi Ayu akan coba reschedule. Akan Ayu usahakan." 

"Jangan usahakan, Nak. Tapi pasti!" seru Ibu dari jauh, Bapak tertawa ringan. 

"Hati-hati, Nduk. Jangan sampai Ibu kirim Bapak ke sana buat jemput paksa kamu. Kami tunggu ya, Nak."

 "Iya, Pak. Beri Ayu waktu dua hari untuk urus semuanya. Setelah itu, Ayu langsung cari tiket," janji Ayu. 

"Alhamdulillah ya Allah." Suara Ibu kembali, kini diselingi isak tangis haru yang ditahan. 

"Terima kasih, Nak. Ibu akan mulai bersihkan kamarmu." Ayu tersenyum, kali ini senyum yang tulus, lega. Suara jangkrik dari telepon itu terdengar lebih nyata daripada suara deru motor di jalanan Jakarta.

 "Iya, Bu. Sampai ketemu. Assalamualaikum." Ayu meletakkan telepon, menatap layar laptopnya yang masih menampilkan tumpukan pekerjaan. Target kantor, client besar, semuanya masih penting. Tapi, untuk malam ini, kehangatan rumah, aroma sate maranggi, dan senyum kedua orang tuanya jauh lebih penting.

Expandir
Próximo capítulo
Baixar

Último capítulo

Mais capítulos

Para os leitores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sem comentários
5 Capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status