Keheningan di ruang kerja itu terasa menghimpit. Tatapan Domenico terkunci rapat pada mata Vittoria, menunggu jawaban dari wanita yang kini sepenuhnya terpojok di balik dinding kaca.Vittoria menatap pria di hadapannya. Rasa benci, amarah, dan gairah gelap yang sulit dijelaskan bertarung hebat di dalam dadanya. Domenico telah memperhitungkan segalanya dengan presisi yang mengerikan, menghancurkan Lorenzo, mengepung keluarga Conti, dan kini menawarkan jalan keluar yang bertopeng mahkota."Kamu ingin aku menjadi istrimu?" suara Vittoria akhirnya terdengar, pelan namun jernih, tanpa getaran ketakutan lagi."Aku menginginkan ketundukan mutlakmu, Vittoria. Di dalam dokumen hukum, di atas tempat tidur, dan di hadapan dunia," jawab Domenico, mengusap rahang Vittoria dengan jari-jarinya yang hangat. "Nama Cavaliere bukan sekadar nama. Itu adalah perisai sekaligus senjata."Vittoria menghembuskan napas perlahan, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kendali atas dirinya sendiri. Jika ia harus menyera
Read more