LOGINSatu pengkhianatan. Satu pelarian. Satu penipuan yang mematikan. Vittoria Lombardi kehilangan segalanya dalam satu malam saat mendapati suaminya berselingkuh. Hancur dan haus akan pembalasan, ia melarikan diri ke sisi gelap Milan dan bertemu dengan Nico, seorang montir muda dengan masa depan yang dipertaruhkan. Vittoria menawarkan kesepakatan gila: "Aku akan membayar lunas semua uang kuliahmu, jika kau bersedia menjadi milikku malam ini." Nico, muda, tampan, miskin, dan tampak polos menerima tawaran itu. Ia menjadi pemuda penurut yang membiarkan Vittoria mendominasi dan mengendalikan hidupnya. Vittoria merasa menang. Ia merasa memegang kendali. Namun, di balik noda oli dan senyum manisnya, Nico adalah Domenico Cavaliere, pewaris tunggal dinasti terkaya di Eropa yang sedang menjalankan hukuman rahasia. Ia bukan mangsa yang bisa dibeli; ia adalah predator yang sedang menunggu waktu untuk mengklaim miliknya. Vittoria mengira ia telah membeli seorang budak untuk membalas dendam. Ia tidak sadar bahwa ia baru saja menyerahkan diri pada pria yang akan memastikan dia tidak akan pernah bisa pergi lagi. “Nikmati kuasamu selagi bisa, Signora. Karena saat topeng ini lepas, kaulah yang akan berlutut di hadapanku.”
View MoreLangit Milan tidak sekadar hujan malam ini, langit sedang berdarah.
Air turun dalam tirai-tirai kelabu yang tebal, menghapus gemerlap lampu kota fashion itu menjadi lukisan abstrak yang luntur. Namun, bagi Vittoria Lombardi, badai di luar jendela mobilnya tidak ada artinya dibandingkan dengan kehancuran yang baru saja meluluhlantakkan dadanya. Ia mematikan mesin Maserati hitamnya di ujung gang sempit di distrik Navigli. Tempat ini jauh dari Via Montenapoleone. Di sini, udara berbau kanal keruh, sampah basah, dan keputusasaan. Tangan Vittoria gemetar saat ia mencengkeram kemudi, buku-buku jarinya memutih. Di jok penumpang, tergeletak sebuah amplop manila yang sudah terbuka. Foto-foto di dalamnya seolah mencemoohnya. Lorenzo, suaminya. Pria yang ia puja selama satu dekade, tertangkap kamera sedang menanamkan wajahnya di leher seorang gadis yang cukup muda untuk menjadi putrinya. Bukan perselingkuhan itu yang membunuhnya tapi senyum Lorenzo di foto itu. Senyum tulus yang sudah bertahun-tahun tidak Vittoria lihat. Ia tidak menangis. Air mata adalah kemewahan bagi mereka yang masih memiliki harapan. Vittoria hanya merasakan dingin yang absolut, sejenis mati rasa yang menuntut untuk diisi dengan api. Ia butuh kehancuran. Jika ia harus terbakar, ia akan menyeret dunia bersamanya. Matanya tertuju pada satu-satunya sumber cahaya di gang itu, sebuah bengkel tua dengan pintu bergulir yang setengah terbuka. Cahaya neon berkedip-kedip, menciptakan bayangan panjang yang menyeramkan. Sempurna. Vittoria keluar dari mobil. Hujan langsung menyerbu, membasahi gaun sutra merah crimson miliknya hingga menempel seperti kulit kedua. Ia tidak peduli. Ia berjalan membelah hujan, tumit stiletto-nya mengetuk aspal retak dengan ritme perang. Kemudian ia masuk ke bengkel itu seperti seorang ratu yang memasuki ruang eksekusi. Aroma oli, bensin, dan logam dingin menyengat hidungnya, bau maskulinitas yang kasar dan tidak disaring. Di sana, di bawah sorotan lampu gantung yang berayun pelan, ada seorang pria. Dia sedang berbaring di atas papan seluncur di bawah sasis sebuah mobil tua, hanya kakinya yang terlihat. Kaki yang panjang, dibalut celana jins belel yang penuh noda hitam. "Bengkel sudah tutup," suara itu menggema dari bawah mobil. Berat dan terdengar serak. Seperti suara mesin yang dipaksa hidup di pagi yang beku. "Aku tidak datang untuk memperbaiki mobil," jawab Vittoria. Suaranya tenang, namun tajam seperti pecahan kaca. Papan seluncur itu bergeser. Pria itu meluncur keluar. Vittoria menahan napas, meski ia berusaha menyembunyikannya. Pria itu bangkit berdiri dalam satu gerakan fluida yang menunjukkan kekuatan otot inti yang luar biasa. Dia tinggi, sangat tinggi dengan bahu lebar yang meregangkan kain kaus putih tipisnya yang kotor. Wajahnya tercoreng oli hitam di tulang pipi dan rahang, namun itu tidak bisa menyembunyikan struktur wajah yang mematikan. Rahang tegas, hidung mancung yang lurus, dan mata itu, demi Tuhan, matanya segelap oli yang menodai tangannya, namun tajam seperti mata elang yang baru saja melihat mangsa. Pria itu menyeka tangannya dengan kain lap yang tergantung di saku belakang, matanya memindai Vittoria dari ujung rambut yang basah hingga ujung kaki. Tatapan itu tidak sopan. Itu adalah tatapan seorang pria yang biasa melihat wanita telanjang, atau mungkin, biasa menelanjangi mereka dengan matanya. "Kamu basah kuyup, Signora," katanya datar. Tidak ada nada simpati. Hanya observasi fakta. "Siapa namamu?" tanya Vittoria, mengabaikan komentarnya. Pria itu melempar kain lap ke meja kerja. "Nico." "Hanya Nico?" "Untuk orang-orang yang datang tengah malam dengan gaun seharga lima ribu euro ke bengkel kumuh? Ya, hanya Nico." Dia bersandar pada meja kerja, menyilangkan lengan di dada. Otot bicep-nya menonjol, dihiasi tato samar yang tertutup debu bengkel. "Apa yang Anda inginkan? Obat-obatan? Senjata? Atau Anda tersesat dari pesta di pusat kota?" Vittoria melangkah maju, membiarkan genangan air kotor membasahi ujung sepatunya. Ia perlu merasa kotor. Ia perlu menodai kesempurnaan palsu yang selama ini ia jaga. "Aku dengar kamu punya tunggakan kuliah," kata Vittoria. Itu adalah tebakan liar, informasi sekilas yang ia dapat dari detektif pribadinya yang awalnya menyelidiki area ini untuk kasus lain. Montir muda, berbakat, tapi miskin. Sangat Klise. Rahang Nico mengetat sedikit. Gerakan mikro yang hampir tak terlihat, namun Vittoria menangkapnya. "Kena kau," batinnya. "Itu bukan urusan Anda," suaranya merendah, lebih berbahaya. Vittoria membuka tas tangannya yang basah, mengeluarkan buku cek dan pena. Dengan tangan gemetar karena adrenalin, bukan ketakutan, ia menulis serangkaian angka. Enam nol. Cukup untuk membayar biaya hidup seseorang selama lima tahun. Ia merobek kertas itu dan mengangkatnya di antara mereka. "Aku akan membayar lunas semuanya," kata Vittoria. "Hutangmu. Kuliahmu. Sewa tempat kumuh ini. Semuanya." Mata Nico turun ke kertas itu. Dia tidak langsung mengambilnya. Dia menatap angka itu, lalu menatap wajah Vittoria lagi. Ada kilatan aneh di matanya, bukan ketamakan, melainkan hiburan? Keingintahuan? "Dan apa yang harus saya jual untuk kertas itu?" tanya Nico pelan. Dia melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Vittoria bisa merasakan panas tubuhnya yang menguar. "Ginjal saya? Atau saya harus membunuh seseorang untuk Anda?" "Aku ingin kamu," bisik Vittoria. Jantungnya berpacu liar, memukul-mukul rusuknya. Ini gila. Ini menjijikkan dan ini adalah hal paling membebaskan yang pernah ia lakukan. "Malam ini. Hanya malam ini." Alis Nico terangkat sebelah. "Anda ingin membeli pelacur? Ada banyak di tikungan jalan sana." "Aku tidak ingin pelacur," desis Vittoria, nada dominasi mulai merembes dalam suaranya. Ia mencengkeram kerah kaus Nico yang kotor, menarik pria raksasa itu sedikit merunduk. "Aku ingin seseorang yang bisa aku kendalikan. Aku ingin boneka. Aku ingin kamu melakukan apa pun yang aku katakan, tanpa bertanya, tanpa membantah, dan tanpa perasaan." Vittoria menatap tajam ke dalam mata gelap itu. "Suamiku membuangku seperti sampah. Malam ini, aku ingin menjadi orang yang memegang kendali. Aku ingin memiliki sesuatu yang murni hanya karena aku membayarnya." Hening. Suara hujan mengisi kekosongan di antara mereka. Nico menatapnya lama, tatapan yang seolah menembus kulit, daging, dan langsung melihat ke dalam jiwanya yang busuk. Lalu, perlahan, senyum miring muncul di wajah pria itu. Senyum yang tampak polos, namun membuat bulu kuduk Vittoria meremang tanpa alasan yang jelas. "Boneka, ya?" Nico bergumam, seolah mencicipi kata itu di lidahnya. Tangannya yang besar dan kasar bergerak naik, mengambil cek itu dari sela jari Vittoria. Sentuhan kulitnya kasar, kapalan, dan panas. "Saya butuh uang itu," kata Nico, suaranya berubah menjadi nada pasrah yang meyakinkan. "Sangat butuh." "Jadi kita sepakat?" "Apa aturannya?" "Kamu milikku," tegas Vittoria. "Kamu diam dan kamu harus patuh. Kamu lakukan apa pun yang aku perintahkan dan besok pagi, kita tidak pernah bertemu lagi." Nico menunduk, menyembunyikan matanya. Bahunya turun, seolah beban kemiskinan akhirnya menekannya untuk menyerah. "Baik, Signora. Saya milik Anda malam ini." Kemenangan meledak di dada Vittoria. Rasa sakit akibat pengkhianatan Lorenzo sedikit tumpul, digantikan oleh euforia kekuasaan yang memabukkan. Ia telah membeli manusia. Ia telah mereduksi pria maskulin dan kuat ini menjadi objek. "Masuk ke mobil," perintah Vittoria, berbalik dan berjalan keluar tanpa menunggu. Di belakangnya, Nico atau pria yang dunia kenal sebagai Domenico Cavaliere, tetap diam sejenak. Saat punggung Vittoria menjauh, postur tubuh "Nico" berubah total. Bahu yang tadinya turun kini tegap. Ekspresi bingung dan pasrah di wajahnya lenyap seketika, digantikan oleh seringai dingin yang mengerikan. Domenico menatap cek di tangannya. Lima puluh ribu euro. Bagi orang biasa, ini adalah keberuntungan. Baginya? Ini bahkan tidak cukup untuk membayar tagihan champagne di pesta akhir pekannya. Ia meremas kertas itu hingga kusut, lalu memasukkannya ke saku dengan sembarangan. Sudah berbulan-bulan ia bersembunyi di lubang tikus ini, menjalankan hukuman kakeknya untuk "belajar nilai uang dan kerja keras" sebelum ia resmi mengambil alih takhta kerajaan bisnis Cavaliere. Ia bosan setengah mati. Ia merindukan permainan kekuasaan. Ia merindukan sensasi memburu dan tiba-tiba, seekor domba betina yang terluka datang berjalan sendiri ke dalam kandang serigala, melemparkan uang, dan menuntut untuk menjadi "pemegang kendali". Vittoria Lombardi. Istri dari Lorenzo, pria yang perusahaannya baru saja Domenico hancurkan sahamnya minggu lalu lewat manipulasi pasar gelap. Ironi ini terlalu manis untuk diabaikan. Domenico mengambil jaket kulit usangnya, menyembunyikan tubuh predatornya di balik lapisan kain kumuh. Ia melangkah keluar menuju hujan, matanya terkunci pada sosok wanita yang menunggunya di dalam mobil mewah itu. Wanita itu berpikir dia baru saja membeli mainan untuk pelariannya. Oh, cara mia, batin Domenico, lidahnya menyapu bibir bawahnya. Kamu tidak membeli budak. Kamu baru saja menandatangani kontrak kepemilikanmu sendiri. Ia membuka pintu mobil dan masuk, membawa aroma hujan dan bahaya ke dalam ruang steril Vittoria. "Jalan," kata Vittoria tanpa menoleh, tangannya mencengkeram setir. Domenico menyandarkan kepalanya, menatap profil samping Vittoria yang tegang dan cantik. Ia membiarkan topeng "Nico si montir miskin" kembali terpasang sempurna. "Ke mana saja Anda mau, Signora," jawabnya lembut. Saat mesin menderu dan mobil meluncur membelah malam Milan, Domenico tersenyum dalam kegelapan. Vittoria ingin bermain peran sebagai dominatriks malam ini? Baik. Ia akan membiarkan wanita itu merasa menang. Ia akan membiarkannya merasa berkuasa. Karena tidak ada yang lebih nikmat daripada melihat harapan di mata seseorang sesaat sebelum kamu menghancurkannya dan membuat mereka berlutut, memohon ampun padamu. Malam ini baru permulaan dan Domenico tidak berniat melepaskan mainan barunya besok pagi.Suara langkah kaki yang mantap dan berat bergema di atas lantai marmer, mendekati ruang kerja.Vittoria tidak panik. Ia tidak mencoba menutup map itu atau melarikan diri kembali ke ruang tengah. Meski berbahaya, ia berusaha untuk tenang, ia tetap berdiri tegak di balik meja kayu jati raksasa tersebut, membiarkan map merah bertuliskan Project Vanguard tetap terbuka lebar di bawah jarinya.Pintu kaca bergeser terbuka.Domenico melangkah masuk, melepaskan kancing kemeja teratasnya dengan satu tangan. Namun, langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok Vittoria yang berdiri di area pribadinya. Tatapannya meluncur turun ke map merah di atas meja, dan seketika itu juga, atmosfer di ruangan tersebut berubah menjadi dingin."Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak melakukan hal konyol, Vittoria," ujar Domenico. Suaranya rendah, halus, namun menyimpan bahaya yang nyata."Konyol?" Vittoria tertawa kecil, suara tawa yang hampa dan tajam. Ia mengangkat lembaran kertas dari berkas keluarganya.
Cahaya fajar membias di atas cakrawala Milan, menembus kaca raksasa penthouse dan memantulkan bayangan samar Vittoria yang berdiri tegak mengamati kota. Ia tidak tidur semalaman. Gaun malam dari sutra hitam yang disediakan di lemari megah tempat itu kini melekat di tubuhnya, kontras dengan kulitnya yang pucat.Pintu kamar utama terbuka tanpa ketukan.Domenico melangkah masuk, sudah mengenakan kemeja kaku berwarna abu-abu tua tanpa dasi. Di tangannya, ia membawa cangkir porselen berisi kopi hitam pekat yang asapnya masih mengepul lembut."Kamu masih enggan menyentuh tempat tidur," ujar Domenico, meletakkan cangkir kopi itu di meja kaca di samping Vittoria. "Atau kamu takut aku akan merayap masuk saat kamu terlelap?"Vittoria tidak membalikkan badan. "Seorang tahanan tidak butuh kenyamanan, Domenico. Ia hanya butuh kewaspadaan."Domenico menyunggingkan senyum miring, lalu melangkah hingga berdiri tepat di samping Vittoria, menatap arah pandang yang sama. "Kamu bukan tahanan. Kamu ratu d
Mobil warna hitam itu meluncur mulus menembus jalanan Milan, meninggalkan Vila Lombardi yang kini terasa seperti babak usang dalam sejarah hidup Vittoria. Domenico duduk di samping Vittoria di kursi belakang. Ia melepaskan jasnya, membiarkan kemeja putihnya tergulung hingga siku, memperlihatkan lengan kokoh dengan garis-garis urat yang tegas. Tidak ada lagi sikap pelayan. Yang ada hanyalah aura dominasi mutlak dari seorang pria yang baru saja memenangkan taruhan besarnya.Vittoria menatap lurus ke depan, jemarinya bertaut erat di atas pangkuan."Kamu tidak bertanya kita akan ke mana?" suara Domenico memecah kesunyian, rendah dan sarat akan keterkaguman serta kepemilikan pada wanita cantik disebelahnya."Vittoria tidak menoleh. "Apakah tawanan punya hak untuk memilih penjaranya?"Domenico terkekeh pelan. "Penjara? Jangan merendahkan selera hukumku, Vittoria. Aku membawamu ke tempat di mana kamu seharusnya berada di puncaknya."Mobil berhenti di bawah kanopi sebuah gedung pencakar lang
Tepat pukul sembilan pagi, suara deru mobil terdengar di halaman. Bukan mobil Lorenzo yang biasa melaju dengan pongah, melainkan sebuah sedan hitam legam dengan kaca super gelap yang memancarkan aura mengintimidasi.Pintu depan vila terbuka. Lorenzo melangkah masuk.Vittoria berdiri di puncak tangga. Ia mengharapkan suaminya pulang dengan wajah hancur, air mata keputusasaan, atau sisa-sisa amarah seorang pria yang kalah judi. Namun, yang ia lihat justru sebaliknya.Lorenzo berjalan dengan langkah tegap. Setelan jasnya rapi. Bahunya yang kemarin merosot kini kembali tegak, bahkan ada kilatan kepuasan yang aneh di matanya. Pria itu tampak lega. Seolah-olah beban jutaan euro yang mencekik lehernya kemarin telah menguap ditiup angin."Lorenzo?" panggil Vittoria, suaranya menggema di foyer yang sunyi. Ia melangkah menuruni anak tangga dengan perlahan. "Bagaimana pertemuanmu dengan Cavaliere?"Lorenzo menghentikan langkahnya di tengah ruangan. Ia mendongak, menatap Vittoria yang berdiri beb
Nico sedang bersandar di batang pohon, satu tangannya dimasukkan ke saku celana, tangan lainnya memegang rokok yang menyala. Asap tipis mengepul di sekitar wajahnya, memberinya aura misterius."Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Vittoria, suaranya bergetar. Antara kaget, marah, dan lega.Nico me
Villa Necchi Campiglio malam itu bukan lagi sekadar bangunan bersejarah di jantung Milan; ia telah berubah menjadi panggung sandiwara raksasa bagi kaum elit Eropa. Lampu-lampu kristal chandelier bergelantungan seperti tetesan air mata beku di langit-langit, memantulkan cahaya pada perhiasan berlian
Ponsel Vittoria bergetar hebat di telapak tangannya begitu ia mengaktifkannya kembali. Layar yang menyala menampilkan rentetan notifikasi yang memuakkan lima puluh panggilan tak terjawab, dua puluh pesan suara, dan pesan teks yang bertumpuk.Semuanya dari satu nama, yaitu Lorenzo.“Di mana kamu?”“
Cahaya matahari pagi Milan masuk tanpa permisi melalui celah tirai, menusuk kelopak mata Vittoria dengan kejam.Ia mengerang pelan, mencoba membalikkan badan, namun rasa sakit yang tumpul di sekujur tubuhnya langsung menghantam kesadarannya. Kepala pening akibat sisa wiski, punggung yang kaku, dan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.