LOGINSatu pengkhianatan. Satu pelarian. Satu penipuan yang mematikan. Vittoria Lombardi kehilangan segalanya dalam satu malam saat mendapati suaminya berselingkuh. Hancur dan haus akan pembalasan, ia melarikan diri ke sisi gelap Milan dan bertemu dengan Nico, seorang montir muda dengan masa depan yang dipertaruhkan. Vittoria menawarkan kesepakatan gila: "Aku akan membayar lunas semua uang kuliahmu, jika kau bersedia menjadi milikku malam ini." Nico, muda, tampan, miskin, dan tampak polos menerima tawaran itu. Ia menjadi pemuda penurut yang membiarkan Vittoria mendominasi dan mengendalikan hidupnya. Vittoria merasa menang. Ia merasa memegang kendali. Namun, di balik noda oli dan senyum manisnya, Nico adalah Domenico Cavaliere, pewaris tunggal dinasti terkaya di Eropa yang sedang menjalankan hukuman rahasia. Ia bukan mangsa yang bisa dibeli; ia adalah predator yang sedang menunggu waktu untuk mengklaim miliknya. Vittoria mengira ia telah membeli seorang budak untuk membalas dendam. Ia tidak sadar bahwa ia baru saja menyerahkan diri pada pria yang akan memastikan dia tidak akan pernah bisa pergi lagi. “Nikmati kuasamu selagi bisa, Signora. Karena saat topeng ini lepas, kaulah yang akan berlutut di hadapanku.”
View MoreGerbang besi Villa Lombardi yang biasanya berdiri megah menyambut kepulangan mereka, kini terasa seperti pintu masuk menuju sirkus keputusasaan. Dua mobil sedan hitam asing terparkir di halaman utama. Beberapa pria berwajah kaku dengan setelan jas abu-abu formal tampak berdiri di teras, membawa map tebal dan mencatat aset-aset luar ruangan.Orang-orang bank. Pembawa pesan kematian bagi status sosial keluarga Lombardi.Begitu Bentley berhenti, Vittoria bahkan tidak menunggu Nico membukakan pintunya. Ia mendorong pintu mobil sendiri, melangkah keluar dengan tergesa, mengabaikan tatapan menilai dari para petugas penyitaan.Nico keluar dari kursi kemudi, memasang kembali kacamata hitamnya, dan mengikuti langkah Vittoria dari jarak yang diatur dengan sangat sopan. Namun, matanya yang tajam di balik lensa gelap itu merekam setiap jengkal kepanikan yang menggantung di udara.Di dalam foyer, suasananya jauh lebih buruk.Lorenzo sedang mengamuk kepada seorang pria paruh baya yang memegang sur
Mobil itu membelah jalanan Milan dengan kecepatan konstan. Di kursi belakang, Vittoria duduk membisu, menatap pemandangan kota yang lewat di balik kaca jendela dengan tatapan kosong. Di kepalanya, suara histeris Lorenzo dan pengakuan terselubung Nico pagi ini berputar seperti kaset rusak.Ia merasa ngeri, namun di saat yang sama, ada kepuasan gelap yang muncul di dadanya melihat pria yang mengkhianatinya kini merangkak di ambang kehancuran.Dari kursi kemudi, Domenico—yang masih memakai topeng pelayan sebagai Nico—menatap pantulan Vittoria di kaca spion tengah. Melihat ekspresi wanita itu, ingatan Domenico melayang kembali ke kejadian beberapa jam lalu, tepatnya tengah malam tadi di basement sunyi Vila Lombardi.Malam itu, suasana kabin mobil sedingin es, hanya diterangi cahaya remang lampu dasbor. Di kursi belakang, Vittoria akhirnya tenang dan tertidur karena kelelahan setelah tangisannya mereda. Nico memastikan wanita itu benar-benar terlelap melalui kaca spion, sebelum ia meraba
Pagi itu, langit Milan cerah tanpa cela. Matahari bersinar keemasan, menembus jendela kaca Villa Lombardi yang menjulang tinggi. Sebuah ironi yang kejam, karena di dalam rumah itu, badai sedang mengamuk.Vittoria baru saja melangkah keluar dari kamarnya saat suara pecahan barang menggema dari arah ruang kerja suaminya di lantai bawah.Denting beling yang beradu dengan marmer disusul oleh raungan kasar terdengar jelas. Bukan suara elegan yang biasa dia gunakan saat berpidato di depan para pemegang saham, melainkan seperti suara seekor binatang yang sedang terpojok.Vittoria mempercepat langkahnya menuruni tangga. Saat ia tiba di ambang pintu ruang kerja yang terbuka separuh, ia membeku.Ruangan itu kacau balau. Lampu meja antik dari kristal Baccarat telah hancur berkeping-keping di lantai. Kertas-kertas berserakan dan di tengah kekacauan itu, Lorenzo berdiri dengan rambut acak-acakan, kemeja sutranya kusut, dan wajahnya memerah karena amarah yang bercampur dengan kepanikan nyata. Lor
Makan siang di Ristorante Cracco berbintang Michelin itu selalu terasa seperti medan perang yang disamarkan dengan taplak meja linen putih dan hidangan truffle.Vittoria duduk di antara empat wanita yang mengenakan perhiasan seharga sebuah rumah mewah. Mereka adalah istri-istri dari rekan bisnis dan saingan Lorenzo. Di permukaan, mereka membicarakan yayasan amal, pameran seni di Paris, dan pelatih pilates baru. Namun di bawah permukaan, setiap kalimat adalah pisau bedah yang siap menguliti kelemahan siapa pun yang lengah."Vittoria, Darling," panggil Isabella, istri seorang senator yang wajahnya terlalu kencang akibat botoks. Ia mengiris daging veal-nya dengan anggun. "Aku tidak melihat Lorenzo menemanimu di pembukaan galeri semalam. Kudengar dia sedang sangat... sibuk."Isabella menekan kata 'sibuk' dengan nada yang membuat perut Vittoria melilit."Dia sedang mengurus akuisisi pabrik tekstil keluarga Rossi di pinggiran kota," jawab Vittoria dengan senyum terpaksa. "Itu kesepakatan b
Penthouse di Porta Nuova itu hening, dingin, dan berbau kemewahan, sangat berbanding terbalik dari bengkel kumuh tempat Vittoria memungut "peliharaan" barunya. Dinding kaca setinggi langit-langit memamerkan cakrawala Milan yang basah, namun Vittoria tidak punya waktu untuk menikmati pemandangan.Ia
Langit Milan tidak sekadar hujan malam ini, langit sedang berdarah. Air turun dalam tirai-tirai kelabu yang tebal, menghapus gemerlap lampu kota fashion itu menjadi lukisan abstrak yang luntur. Namun, bagi Vittoria Lombardi, badai di luar jendela mobilnya tidak ada artinya dibandingkan dengan keha
Nico sedang bersandar di batang pohon, satu tangannya dimasukkan ke saku celana, tangan lainnya memegang rokok yang menyala. Asap tipis mengepul di sekitar wajahnya, memberinya aura misterius."Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Vittoria, suaranya bergetar. Antara kaget, marah, dan lega.Nico me
Villa Necchi Campiglio malam itu bukan lagi sekadar bangunan bersejarah di jantung Milan; ia telah berubah menjadi panggung sandiwara raksasa bagi kaum elit Eropa. Lampu-lampu kristal chandelier bergelantungan seperti tetesan air mata beku di langit-langit, memantulkan cahaya pada perhiasan berlian
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.