เข้าสู่ระบบSuara langkah kaki yang mantap dan berat bergema di atas lantai marmer, mendekati ruang kerja.Vittoria tidak panik. Ia tidak mencoba menutup map itu atau melarikan diri kembali ke ruang tengah. Meski berbahaya, ia berusaha untuk tenang, ia tetap berdiri tegak di balik meja kayu jati raksasa tersebut, membiarkan map merah bertuliskan Project Vanguard tetap terbuka lebar di bawah jarinya.Pintu kaca bergeser terbuka.Domenico melangkah masuk, melepaskan kancing kemeja teratasnya dengan satu tangan. Namun, langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok Vittoria yang berdiri di area pribadinya. Tatapannya meluncur turun ke map merah di atas meja, dan seketika itu juga, atmosfer di ruangan tersebut berubah menjadi dingin."Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak melakukan hal konyol, Vittoria," ujar Domenico. Suaranya rendah, halus, namun menyimpan bahaya yang nyata."Konyol?" Vittoria tertawa kecil, suara tawa yang hampa dan tajam. Ia mengangkat lembaran kertas dari berkas keluarganya.
Cahaya fajar membias di atas cakrawala Milan, menembus kaca raksasa penthouse dan memantulkan bayangan samar Vittoria yang berdiri tegak mengamati kota. Ia tidak tidur semalaman. Gaun malam dari sutra hitam yang disediakan di lemari megah tempat itu kini melekat di tubuhnya, kontras dengan kulitnya yang pucat.Pintu kamar utama terbuka tanpa ketukan.Domenico melangkah masuk, sudah mengenakan kemeja kaku berwarna abu-abu tua tanpa dasi. Di tangannya, ia membawa cangkir porselen berisi kopi hitam pekat yang asapnya masih mengepul lembut."Kamu masih enggan menyentuh tempat tidur," ujar Domenico, meletakkan cangkir kopi itu di meja kaca di samping Vittoria. "Atau kamu takut aku akan merayap masuk saat kamu terlelap?"Vittoria tidak membalikkan badan. "Seorang tahanan tidak butuh kenyamanan, Domenico. Ia hanya butuh kewaspadaan."Domenico menyunggingkan senyum miring, lalu melangkah hingga berdiri tepat di samping Vittoria, menatap arah pandang yang sama. "Kamu bukan tahanan. Kamu ratu d
Mobil warna hitam itu meluncur mulus menembus jalanan Milan, meninggalkan Vila Lombardi yang kini terasa seperti babak usang dalam sejarah hidup Vittoria. Domenico duduk di samping Vittoria di kursi belakang. Ia melepaskan jasnya, membiarkan kemeja putihnya tergulung hingga siku, memperlihatkan lengan kokoh dengan garis-garis urat yang tegas. Tidak ada lagi sikap pelayan. Yang ada hanyalah aura dominasi mutlak dari seorang pria yang baru saja memenangkan taruhan besarnya.Vittoria menatap lurus ke depan, jemarinya bertaut erat di atas pangkuan."Kamu tidak bertanya kita akan ke mana?" suara Domenico memecah kesunyian, rendah dan sarat akan keterkaguman serta kepemilikan pada wanita cantik disebelahnya."Vittoria tidak menoleh. "Apakah tawanan punya hak untuk memilih penjaranya?"Domenico terkekeh pelan. "Penjara? Jangan merendahkan selera hukumku, Vittoria. Aku membawamu ke tempat di mana kamu seharusnya berada di puncaknya."Mobil berhenti di bawah kanopi sebuah gedung pencakar lang
Tepat pukul sembilan pagi, suara deru mobil terdengar di halaman. Bukan mobil Lorenzo yang biasa melaju dengan pongah, melainkan sebuah sedan hitam legam dengan kaca super gelap yang memancarkan aura mengintimidasi.Pintu depan vila terbuka. Lorenzo melangkah masuk.Vittoria berdiri di puncak tangga. Ia mengharapkan suaminya pulang dengan wajah hancur, air mata keputusasaan, atau sisa-sisa amarah seorang pria yang kalah judi. Namun, yang ia lihat justru sebaliknya.Lorenzo berjalan dengan langkah tegap. Setelan jasnya rapi. Bahunya yang kemarin merosot kini kembali tegak, bahkan ada kilatan kepuasan yang aneh di matanya. Pria itu tampak lega. Seolah-olah beban jutaan euro yang mencekik lehernya kemarin telah menguap ditiup angin."Lorenzo?" panggil Vittoria, suaranya menggema di foyer yang sunyi. Ia melangkah menuruni anak tangga dengan perlahan. "Bagaimana pertemuanmu dengan Cavaliere?"Lorenzo menghentikan langkahnya di tengah ruangan. Ia mendongak, menatap Vittoria yang berdiri beb
Gedung pencakar langit Cavaliere Holdings berdiri angker di pusat distrik finansial Milan, sebuah monumen kaca dan baja yang menembus awan malam. Di lantai paling atas, di balik pintu ganda berlapis kulit dan kayu ek hitam, terdapat pusat syaraf dari imperium yang mengendalikan separuh denyut nadi ekonomi Italia. Lorenzo Lombardi duduk di kursi kulit di hadapan meja kerja raksasa milik Don Alessandro Cavaliere. Tangannya yang memegang secangkir kopi bergetar halus, menciptakan denting kecil yang mengganggu keheningan ruangan yang luas itu. Di balik meja, Don Alessandro duduk dengan keanggunan seorang kaisar tua. Tangannya bertumpu pada tongkat perak berkepala serigala, matanya yang tajam memindai berkas proposal darurat yang dibawa Lorenzo seolah benda itu adalah tumpukan sampah tak bernilai. "Aku sudah membaca angkamu, Lorenzo," suara berat Alessandro memecah kesunyian, dingin dan tanpa ampun. "Perusahaanmu tidak hanya bocor. Kau sudah tenggelam." "Don Alessandro, saya mohon,"
Gerbang besi Villa Lombardi yang biasanya berdiri megah menyambut kepulangan mereka, kini terasa seperti pintu masuk menuju sirkus keputusasaan. Dua mobil sedan hitam asing terparkir di halaman utama. Beberapa pria berwajah kaku dengan setelan jas abu-abu formal tampak berdiri di teras, membawa map tebal dan mencatat aset-aset luar ruangan.Orang-orang bank. Pembawa pesan kematian bagi status sosial keluarga Lombardi.Begitu Bentley berhenti, Vittoria bahkan tidak menunggu Nico membukakan pintunya. Ia mendorong pintu mobil sendiri, melangkah keluar dengan tergesa, mengabaikan tatapan menilai dari para petugas penyitaan.Nico keluar dari kursi kemudi, memasang kembali kacamata hitamnya, dan mengikuti langkah Vittoria dari jarak yang diatur dengan sangat sopan. Namun, matanya yang tajam di balik lensa gelap itu merekam setiap jengkal kepanikan yang menggantung di udara.Di dalam foyer, suasananya jauh lebih buruk.Lorenzo sedang mengamuk kepada seorang pria paruh baya yang memegang sur
Nico sedang bersandar di batang pohon, satu tangannya dimasukkan ke saku celana, tangan lainnya memegang rokok yang menyala. Asap tipis mengepul di sekitar wajahnya, memberinya aura misterius."Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Vittoria, suaranya bergetar. Antara kaget, marah, dan lega.Nico me
Villa Necchi Campiglio malam itu bukan lagi sekadar bangunan bersejarah di jantung Milan; ia telah berubah menjadi panggung sandiwara raksasa bagi kaum elit Eropa. Lampu-lampu kristal chandelier bergelantungan seperti tetesan air mata beku di langit-langit, memantulkan cahaya pada perhiasan berlian
Ponsel Vittoria bergetar hebat di telapak tangannya begitu ia mengaktifkannya kembali. Layar yang menyala menampilkan rentetan notifikasi yang memuakkan lima puluh panggilan tak terjawab, dua puluh pesan suara, dan pesan teks yang bertumpuk.Semuanya dari satu nama, yaitu Lorenzo.“Di mana kamu?”“
Cahaya matahari pagi Milan masuk tanpa permisi melalui celah tirai, menusuk kelopak mata Vittoria dengan kejam.Ia mengerang pelan, mencoba membalikkan badan, namun rasa sakit yang tumpul di sekujur tubuhnya langsung menghantam kesadarannya. Kepala pening akibat sisa wiski, punggung yang kaku, dan







