Suara letusan senjata kedua membelah gemuruh hujan. Maisa telah melemparkan dirinya ke atas tubuh Bima, berniat menjadi perisai bagi pria yang telah memberikan segalanya untuknya. Namun, di detik-detik krusial, Bima menggunakan sisa tenaga penghabisan untuk memutar posisi mereka.DOR!Peluru itu kembali bersarang di tubuh Bima, tepat di punggungnya, meleset tipis dari tubuh Maisa yang kini berada dalam dekapannya. Bima mengerang tertahan, tubuhnya tersentak hebat, dan darah hangat mulai merembes membasahi pakaian Maisa."Tidak, Bima, kenapa?!" tangis Maisa histeris. Ia memeluk kepala Bima, mencoba menutupi luka itu dengan tangannya yang bergetar. "Kenapa kamu terus melindungiku? Aku yang harusnya mati, Bima! Aku yang sakit, aku yang tidak punya waktu lama! Kenapa kamu membuang nyawamu untukku?"Bima tersenyum sangat tipis, wajahnya kini sepucat kertas. Napasnya tersengal, namun matanya menatap Maisa dengan kelembutan yang tak goyah. "Karena... bagiku... satu har
Baca selengkapnya