BAB 37 Pagi itu udara masih terasa lembap, embun tipis menempel di kaca depan pickup tua milik Liam. Burung-burung kecil berkicau di pepohonan dekat pagar, sementara cahaya matahari perlahan merayap melewati atap rumah Isabel. Liam duduk di kursi kemudi, jari-jarinya baru saja menyentuh kunci kontak. Namun sebelum ia sempat memutar kunci itu, suara dering telepon memecah keheningan di dalam kabin. Nada deringnya keras, membuat Chatrine sedikit terlonjak. Ia menoleh ke arah Liam, melihat pria itu merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. “Nomor asing,” gumam Liam cepat sebelum menggeser layar untuk menerima panggilan. “Ya, halo!” suaranya tegas. Namun seketika ekspresi wajahnya berubah. Dari datar, menjadi serius. Matanya menajam, rahangnya mengeras, seolah kata-kata dari seberang sana menusuk sampai ke dalam. Chatrine hanya bisa diam, menunggu. “Apa?” Liam menegakkan tubuhnya, nada suaranya naik. “Tidak. Gedung itu tidak akan aku jual berapapun harganya!” ujarnya kera
Magbasa pa