LOGIN"Terima aku bekerja di galerimu." "Aku tidak akan mampu membayar mu." "Akan aku berikan trial tiga bulan gratis, kau tidak perlu membayar ku." Chatrine Madison rela melakukan apapun agar bisa masuk dalam kehidupan Liam Conely... Seorang pemuda kampung pemilik galeri perabot kayu yang telah menjerat hatinya sejak mereka bertemu di tengah malam penuh badai.
View More~Elvira~
The road was still hot from the day’s sun when my friends, Carson and Lisa, drove away. I stood there alone as the thick Pennsylvania woods closed in around me. My paws still throbbed, a leftover sensation from the miles I’d spent running in my wolf form. I looked toward the trees where the Silverblade pack territory began, i wasn't just looking for a new home, I was looking for a safe place. I needed to hide from the man who had spent years making me feel worthless. As I crossed the invisible border line, the forest changed, It felt like someone was watching me. The quiet was unsettling, broken only by a faint, high-pitched hum that sounded like electronic security sensors. Then, the hum turned into a snarl. Two large wolves stepped out from the bushes, their eyes bright in the dark. They drooled as they circled me, moving like hunters that had just found their target. I reached for the small bag Lisa had packed for me, trying to use it as a shield, but it was useless against three hundred pounds of muscle and canines. Before I could scream, a brown wolf slammed into me. I hit the dirt hard, the wind was knocked right out of my lungs. My wolf, Val, started scratching at the back of my mind, desperate to push out and fight, but I knew we were outmatched. The brown wolf began to change, his bones shifted until a shirtless messy-haired warrior was standing over me. He didn't look sorry for me at all, he looked at me like I was a traspaser to be dealt with. "Shift!" he growled. "Now!" I let the change take over. Shifting always hurts a bit, and it left me shivering and naked on the forest floor, i ran to grab my red tank top and pants from my bag, my hands were shaking because I could feel them staring at me. "I mean no harm," I said putting both hands up to show it. "I’m looking for safety," I choked out. "I want to join the training program. I heard Silverblade was fair to people." The two warriors looked at each other and laughed. "Silverblade is for the strong," the dark-haired one said. He tossed a pair of heavy zip-ties to his friend. "And for your information rogues aren't acceptable in our territory!." "I'm not a rogue!" I shouted, but before I could finish the sentence they restrained my hands. The last thing I saw was a tranquilizer needle pointed at my neck. "Welcome to the jail, stray," the brown-haired wolf whispered. Then, everything went black. When I woke up, I was in a cell made of iron. It smelled like fear and urine, I sat in the corner, rubbing my sore wrists. I had acted on impulse, running away from my stepfather, only to end up in a cell. I was a nobody here. I had no rank, no ID, no rights, and certainly no Alpha release letter. That was why they called me a rogue and a runaway. Suddenly, the cell door at the end of the hall opened. The footsteps that followed weren't fast like a guard’s, they were deliberate and slow, belonging to someone who was in charge. As the person got closer, a scent hit me instantly, it smelled like rain on dry earth, cinnamon, and a wild scent that made my pulse race. "Mate!" Val howled inside my head, her spirit bowing down in respect. I looked up breathless. Standing behind the bars was a tall imposing man dressed in full black outfit looking handsome with a stubble beards. His gold eyes watched the way my pulse throbbed in my neck then dragged back to my lips then my eyes... This wasn't just some soldier. This was the Alpha! He narrowed his eyes, his nose flared as he caught my scent, the air in the tiny cell became thick, making it hard to breathe. His gaze moved to my body, scanning me slowly as if looking for a fault... he gave me a judgmental look that made me uncomfortable. "Female," he finally spoke in a low baritone voice. "I’m told I have a trespasser. A stray pretending to be a refugee." I stood up. My legs felt weak, but I kept my chin up. "I'm not a stray. I'm a survivor." The Alpha stepped closer...the power coming off him was overwhelming. He gripped the bars until his knuckles stiffened. His face twisted into an expression that wasn't welcoming at all, it looked like pure hatred instead. "Survivors follow rules," he countered. "And my first rule is that I don't keep trash in my territory, mate or not." My heart stopped. He knew! He felt the bond, and he was already stepping back, his expression still cold..BAB 126 HARI BAHAGIALangit Washington cerah tanpa serabut awan. Di kawasan elit Medina, tempat hunian para miliuner dan pejabat tinggi, udara musim panas terasa lembut. Di tepi danau yang tenang, rumah keluarga Madison tampak berdiri anggun dengan halaman hijau luas, berpadu pemandangan tepian danau yang berkilau memantulkan cahaya matahari akhir musim panas.Hari itu bakal menjadi momen bersejarah bagi awal hidup Liam dan Chatrine. Pesta pernikahan sederhana seperti yang diinginkan Chatrine. Hanya untuk keluarga dan orang-orang terdekat. Meski demikian setiap sudut taman dipersiapkan dengan penuh kesempurnaan dan cinta.Barisan kursi tamu tersusun rapi di antara hamparan rumput, menghadap ke altar kecil yang terbuat dari kayu halus, kayu pilihan yang dikerjakan sendiri oleh Liam. Sebuah simbol sederhana namun sarat makna. Hasil kerja keras dari tangan pria yang membangun hidupnya dari bawah.Bunga peoni, lily, dan mawar putih berbaris di jalan setapak menuju altar. Aroma wangi laven
BAB 125 SALING MENERIMATerlepas dari apapun kesalahan yang pernah terjadi antara Liam dan Evanka. Bagi Liam mereka tetap tidak pernah terlibat perasaan emosional romantis, kecuali sebagian orang tua untuk putra meraka berdua.Jika sekarang Liam ingin buru-buru menikahi Chatrine dan mengatakannya di hadapan Evanka. Seharusnya hal tersebut juga bukan masalah. Liam tetap akan bertanggungjawab pada putranya dan tidak pernah menyesali keberadaan Evan di antara mereka bertiga.Evanka adalah wanita yang akan tetap Liam hormati sebagai ibu dari putranya.Chatrine adalah wanita yang Liam cintai dan ingin dia nikahi untuk seumur hidup.Evan tetap darah daging Liam, tidak akan berkurang sedikitpun cinta dan tanggung jawab Liam karena sebuah pernikahan yang suci.******Malam itu meja makan keluarga Conelli diselimuti kehangatan lampu temaram dan aroma daging panggang yang memenuhi udara. Dari luar jendela purnama berpendar bulat sempurna dengan cahaya emas, menambah kesan damai di rumah tua it
BAB 124 EVANKA DATANG LEBIH DULUSore itu, langit Canterbury tampak hangat berwarna keemasan. Angin musim panas berhembus lembut, membawa aroma mawar dan roti panggang dari dapur Isabel. Di dalam rumah, wanita itu sedang bersenandung kecil sambil menata meja makan. Ia tengah memasak beberapa hidangan kesukaan Liam, ayam panggang, kentang lembut, dan salad dengan saus lemon segar.“Ah, andai Liam cepat pulang,” gumamnya, tersenyum kecil sambil menaruh lilin di tengah meja.Suara deru mobil di depan rumah membuatnya menoleh. Isabel menyeka tangannya di celemek dan berjalan ke teras, mengira itu putranya. Tapi yang muncul di balik pagar bukanlah Liam.“Evanka?” suaranya terdengar kaget, nyaris tercekat.Wajahnya langsung berubah cerah begitu melihat sosok bocah kecil yang berdiri di sisi Evanka. “Oh, Evan! Cucuku sayang!”Evan berlari kecil ke arah neneknya. “Nana!” serunya gembira.Isabel menunduk, memeluk bocah itu erat-erat. “Ya Tuhan, kamu tumbuh makin besar saja, Nak. Lihat, pipimu
BAB 123 SEBUAH KEJUTANLangit Canterbury mulai tenggelam di balik warna senja. Jalanan desa itu berlapis cahaya keemasan yang lembut, menciptakan pemandangan yang tenang dan penuh nostalgia. Burung-burung kembali ke sarangnya, dan dari kejauhan, aroma roti hangat dari rumah-rumah tua mulai merebak bersama angin yang sejuk.Daun-daun maple bergoyang lembut di halaman rumah keluarga Conelli, bergemerisik tertiup angin musim panas. Dari dapur, aroma mentega yang meleleh di atas wajan menyatu dengan wangi rosemary dan ayam panggang.Isabel bersenandung pelan mengikuti irama lagu lawas yang diputar dari radio tua di sudut meja. Suaranya lembut, kadang serak, namun menghangatkan seperti senja itu sendiri. Ia mengenakan apron bergambar bunga lavender, tampak sibuk di meja dapur, sesekali mengaduk saus, lalu menata piring di atas meja makan dengan penuh semangat.Di atas meja makan, sudah tertata rapi beef stew, kentang tumbuk, dan wafel keju kesukaan Liam. Isabel bahkan membuat puding roti k












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore