Mag-log in"Terima aku bekerja di galerimu." "Aku tidak akan mampu membayar mu." "Akan aku berikan trial tiga bulan gratis, kau tidak perlu membayar ku." Chatrine Madison rela melakukan apapun agar bisa masuk dalam kehidupan Liam Conely... Seorang pemuda kampung pemilik galeri perabot kayu yang telah menjerat hatinya sejak mereka bertemu di tengah malam penuh badai.
view moreMalam itu, hujan badai kembali mengguncang seluruh Canterbury. Petir meledak di langit seperti palu raksasa yang menghantam bumi. Di dalam kantor galeri seninya yang bercahaya remang, Liam duduk sendirian di balik meja besar penuh botol anggur yang sudah hampir kosong. Aroma alkohol bercampur udara lembab, menusuk seperti jarum tajam di lubang hidung. Gelombang panas dan dingin bercampur di dalam tubuh Liam, tapi bukan karena cuaca. Bukan badai di luar yang membuatnya gemetar. Tapi badai di dadanya sendiri.
Bayangan Evana yang telah menjadi milik pria lain membuat dada Liam terus terbakar. Evana adalah cinta pertama Liam. Mereka sudah dekat sejak masih anak-anak. Evana telah menikah dengan pria kaya raya yang tidak bisa Liam saingi. Pembuluh darah Liam ikut menderas panas setiap membayangkan Eva sedang tersengal dan merintih di pelukan pria yang kini telah menjadi suaminya. "Brengsek!!!" Dua buah botol anggur kosong kembali Liam banting ke lantai. Suara pecahan kaca berderai di lantai. Di luar suara ledakan petir datang bersama raungan pria yang tersiksa oleh perasaan gila. Liam kembali meraih botol, meneguk langsung cairan terkutuk itu dari leher botol. Api alkohol mengalir di kerongkongan, tapi rasa panas itu tak cukup membakar habis kecemburuan yang menggerogoti dadanya. “Kau sangat menjijikkan…” suara serak Liam terus pecah untuk kebodohannya sendiri. Badai terus meraung. Petir menyambar begitu dekat hingga kaca jendela bergetar. Setiap ledakan di langit terasa seperti ledakan di jantungnya. Liam memejamkan mata, berharap alkohol yang dia telan bakal menghapus semua ingatannya tentang Evana. Sebelumnya Liam benar-benar tidak pernah tahu jika patah hati dari wanita yang sangat dia cintai bisa jadi seperti ini. Liam menggeram, kepalanya menunduk di meja, napasnya memburu gemetar. Tangannya mengepal, buku-buku jarinya memutih kaku. Liam benci badai malam ini karena terus meraung, menyesatkannya dalam keinginan gila. Tiba-tiba... Di tengah dentuman badai, samar terdengar suara langkah kaki... pelan, teratur. Mendekat melewati lorong dari anak tangga dan masuk mendorong pintu yang sudah setengah terbuka. Liam mengangkat kepala. Matanya berat, pandangannya kabur karena reaksi alkohol di pembuluh darahnya. Tapi Liam masih bisa melihat siluet feminim itu dengan sangat jelas. Seorang wanita berdiri di ambang pintu, sekejap wajah cantiknya diterangi kilatan petir dari luar. “Evana…” suara Liam parau, serak, nyaris tak terdengar, tapi penuh rindu dan luka. Hingga semua wujud wanita yang dia lihat menyerupai Evana. Tubuh Liam terlihat goyah ketika berusaha bangkit. Tapi Liam terus berjalan menghampiri.pintu, seakan setiap langkah menuju wanita itu bakal membuat seluruh badai di luar mereda. "Kenapa kau ke sini?" "Aku mencarimu." Badai di luar menderu seperti orkestra liar, menghantam kaca jendela dengan hujan deras dan semburan angin. Kilat sesekali membelah langit, menerangi ruangan dengan cahaya putih singkat. Di dalam, aroma alkohol bercampur parfum lembut memenuhi udara. "Evana!" Tanpa aba-aba, Liam menarik tubuh wanita itu lebih dekat, napasnya berat, hangat, dan sedikit terengah. Dalam pikirannya dia hanya butuh pereda. "Kau mabuk?" Dada Liam didorong menjauh. Tapi pria besar yang sedang mabuk itu malah langsung menekan tubuh wanita ke dinding, merampas bibir, meremas pinggul dan dalam sekali sentak bahu gaun terkoyak lebar. "Kau sangat kasar, Liam." Tangan Liam bergerak tegas meski gemetar. Gumpalan besar dia remas, terasa padat dalam genggaman. "Ouh..." suara wanita mulai kuwalahan menahan diri dari serangan. Bibir Liam sangat panas, sekujur tubuhnya keras, penuh otot maskulin yang menegang dan liar. Liam butuh pelampiasan mendesak. Badai di luar seolah ikut memompa irama garang di dalam nafasnya. Ciumannya dalam, rakus memaksa, dan tidak dapat di tolak. "Evana..." "Ya..." Wanita itu merespons gelisah meski sadar bukan namanya yang sedang disebut. "Kau cantik." Bibir Liam menyerang semakin panas ketika wanitanya balas mengimbangi setiap desakan dengan lumatan yang sama bergairah. "Aku ingin lebih banyak!" Liam berdesis serak di ceruk leher hangat dan harum. Tubuh wanita yang akan terasa sangat nikmat. Tidak perlu waktu lama... kancing kemeja terbuka, kancing celana terlepas. Gaun satin ikut lenyap. Suara napas mereka saling bercampur, menyaingi deru badai di luar. Mata bertemu, bibir bertemu, semuanya menyatu dalam tindakan yang tidak terduga. Tubuh mereka berguling di sofa, saling tindih dalam lilitan gairah. Tanpa rasa canggung Liam menggesekan miliknya ke celah lembut yang hangat. Walaupun sedang mabuk parah, hingga pipinya memerah. Liam tetap sangat perkasa menerkam wanita. Gerakan pinggulnya erotis gila. "Oh... ah..." wanita melenguh panjang tidak tahan ingin segera diisi. Tidak masalah meski pria yang sedang menunggangi tubuhnya cuma seorang tukang kayu. Karena yang wanita butuhkan dalam momen seperti ini cuma keperkasaan. "Evana..." Sesuatu yang besar dan keras ikut Liam tenggelamkan. "Liam... oh..." Pria berbahu kekar itu mengerang kejang, menusuk dalam hingga terbungkus rapat dan hangat. "Oh...!" Rasanya sangat puas, sangat nikmat berdenyut-denyut. Sejenak Liam terhenti hanya untuk menatap wanitanya yang sudah polos terentang pasrah dengan tatapan penuh lapar, lalu kembali membenamkan diri dalam pusaran hasrat. Di tengah dentuman petir, Liam menikam dalam-dalam. Mencengkeram dan mengguncang pinggul wanitanya dengan berbagai tumbukan keras tapi nikmat. Liam terus meluncur, keluar masuk menenggelamkan rudal tempur besarnya tanpa rasa puas. Sebagai pria yang biasa bekerja dengan bongkahan kayu dan gergaji mesin, kekuatannya untuk menyiksa tubuh wanita tentu sudah tidak diragukan lagi. Suara rintihan kecil terdengar di telinganya, tapi Liam terlalu mabuk untuk mendengarkan rintihan. Bibir Liam sibuk berdesis sendiri, meledakan rasa terbakar di sekujur tubuhnya dengan geraman hebat. Pinggul mengejang kaku, bergetar seperti guncangan badai. Pemuda itu bukan hanya sangat keras, tapi juga sangat kuat mengungkit pinggul wanita. "Oh, tidak...! Kau bisa membuatku hamil..." Rasa panas mengalir deras, sudah tidak bisa dihentikan. Terus mengisi, melemaskan otot hingga ke tulang sungsum. Pangkal paha kokoh Liam masih terbuka lebar, meregang kaku, pinggul berpusar mencari rasa tenang. Jantung berdebar, napas panas dan perlahan pria itu jatuh runtuh tertelungkup... tertidur puas. ***** Badai telah reda.... Liam terbangun dengan kepala berat, napasnya masih beraroma alkohol pekat. Cahaya pagi menembus celah tirai ruang kantornya, mata Liam menyipit sejenak, silau oleh cahaya pucat. Badai telah lenyap, namun sisa air hujan masih menetes di luar kaca jendela, menciptakan irama lembut yang kontras dengan denyut nyeri di pelipisnya. Liam bergerak mengusap wajahnya, coba mengusir sisa lelah, lalu meraih gelas air di meja. Gelasnya kosong. Baru saat itu Liam melihat sekeliling. Bantal sofa berantakan, pecahan botol kaca di lantai. "Oh..." Liam cuma mendengus, masih terlalu lelah untuk memikirkan kekacauan yang telah dia ciptakan. Yang paling aneh, tubuhnya terasa seperti habis berlari maraton... lelah, namun diselimuti sensasi hangat samar yang tak jelas dari mana datangnya. Liam memejamkan mata sejenak… dan tiba-tiba kilasan samar menyusup di benaknya. Sebuah adegan panas yang membuat jantungnya berdegup cepat. Tubuh wanita yang hangat, gairah liar dan.... Liam tidak berani melanjutkan... Liam menolak memikirkan mimpi kotornya. Sungguh Liam mengira dirinya cuma bermimpi di tengah badai. Tapi begitu Liam ingin bangkit berdiri, seketika dia baru sadar celananya lenyap. "Mustahil!" Dia menggeleng keras. BUKAN MIMPI! Liam ditinggalkan sendirian dalam kondisi belum memakai celana. Bahkan mendadak Liam tidak yakin siapa wanita yang telah dia tunggangi di tengah badai. Tapi, siapapun wanita itu... lagi-lagi Liam ditinggalkan karena dia miskin.BAB 126 HARI BAHAGIALangit Washington cerah tanpa serabut awan. Di kawasan elit Medina, tempat hunian para miliuner dan pejabat tinggi, udara musim panas terasa lembut. Di tepi danau yang tenang, rumah keluarga Madison tampak berdiri anggun dengan halaman hijau luas, berpadu pemandangan tepian danau yang berkilau memantulkan cahaya matahari akhir musim panas.Hari itu bakal menjadi momen bersejarah bagi awal hidup Liam dan Chatrine. Pesta pernikahan sederhana seperti yang diinginkan Chatrine. Hanya untuk keluarga dan orang-orang terdekat. Meski demikian setiap sudut taman dipersiapkan dengan penuh kesempurnaan dan cinta.Barisan kursi tamu tersusun rapi di antara hamparan rumput, menghadap ke altar kecil yang terbuat dari kayu halus, kayu pilihan yang dikerjakan sendiri oleh Liam. Sebuah simbol sederhana namun sarat makna. Hasil kerja keras dari tangan pria yang membangun hidupnya dari bawah.Bunga peoni, lily, dan mawar putih berbaris di jalan setapak menuju altar. Aroma wangi laven
BAB 125 SALING MENERIMATerlepas dari apapun kesalahan yang pernah terjadi antara Liam dan Evanka. Bagi Liam mereka tetap tidak pernah terlibat perasaan emosional romantis, kecuali sebagian orang tua untuk putra meraka berdua.Jika sekarang Liam ingin buru-buru menikahi Chatrine dan mengatakannya di hadapan Evanka. Seharusnya hal tersebut juga bukan masalah. Liam tetap akan bertanggungjawab pada putranya dan tidak pernah menyesali keberadaan Evan di antara mereka bertiga.Evanka adalah wanita yang akan tetap Liam hormati sebagai ibu dari putranya.Chatrine adalah wanita yang Liam cintai dan ingin dia nikahi untuk seumur hidup.Evan tetap darah daging Liam, tidak akan berkurang sedikitpun cinta dan tanggung jawab Liam karena sebuah pernikahan yang suci.******Malam itu meja makan keluarga Conelli diselimuti kehangatan lampu temaram dan aroma daging panggang yang memenuhi udara. Dari luar jendela purnama berpendar bulat sempurna dengan cahaya emas, menambah kesan damai di rumah tua it
BAB 124 EVANKA DATANG LEBIH DULUSore itu, langit Canterbury tampak hangat berwarna keemasan. Angin musim panas berhembus lembut, membawa aroma mawar dan roti panggang dari dapur Isabel. Di dalam rumah, wanita itu sedang bersenandung kecil sambil menata meja makan. Ia tengah memasak beberapa hidangan kesukaan Liam, ayam panggang, kentang lembut, dan salad dengan saus lemon segar.“Ah, andai Liam cepat pulang,” gumamnya, tersenyum kecil sambil menaruh lilin di tengah meja.Suara deru mobil di depan rumah membuatnya menoleh. Isabel menyeka tangannya di celemek dan berjalan ke teras, mengira itu putranya. Tapi yang muncul di balik pagar bukanlah Liam.“Evanka?” suaranya terdengar kaget, nyaris tercekat.Wajahnya langsung berubah cerah begitu melihat sosok bocah kecil yang berdiri di sisi Evanka. “Oh, Evan! Cucuku sayang!”Evan berlari kecil ke arah neneknya. “Nana!” serunya gembira.Isabel menunduk, memeluk bocah itu erat-erat. “Ya Tuhan, kamu tumbuh makin besar saja, Nak. Lihat, pipimu
BAB 123 SEBUAH KEJUTANLangit Canterbury mulai tenggelam di balik warna senja. Jalanan desa itu berlapis cahaya keemasan yang lembut, menciptakan pemandangan yang tenang dan penuh nostalgia. Burung-burung kembali ke sarangnya, dan dari kejauhan, aroma roti hangat dari rumah-rumah tua mulai merebak bersama angin yang sejuk.Daun-daun maple bergoyang lembut di halaman rumah keluarga Conelli, bergemerisik tertiup angin musim panas. Dari dapur, aroma mentega yang meleleh di atas wajan menyatu dengan wangi rosemary dan ayam panggang.Isabel bersenandung pelan mengikuti irama lagu lawas yang diputar dari radio tua di sudut meja. Suaranya lembut, kadang serak, namun menghangatkan seperti senja itu sendiri. Ia mengenakan apron bergambar bunga lavender, tampak sibuk di meja dapur, sesekali mengaduk saus, lalu menata piring di atas meja makan dengan penuh semangat.Di atas meja makan, sudah tertata rapi beef stew, kentang tumbuk, dan wafel keju kesukaan Liam. Isabel bahkan membuat puding roti k
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Mga Ratings
RebyuMore