Perjalanan itu bukan pelarian yang rapi.Itu adalah perjuangan melawan medan, melawan pengejar, dan melawan sesuatu di dalam diri Wu Teng sendiri.Beberapa jam pertama dilalui dalam diam. Mereka menuruni lereng curam, melewati jembatan kayu tua yang setengah lapuk, dan menyusuri dinding batu yang sempit.Dua kali panah melesat dari kejauhan.Zayan menangkis satu dengan pedangnya, memotongnya di udara. Lelaki berambut gelap itu bergerak seperti bayangan yang sadar diri, gesit dan presisi.Wu Teng memutar tubuhnya, memanfaatkan sisa energi Pilar yang kini terasa lebih… jinak, meski tak pernah benar-benar tunduk.Sebuah gelombang halus memancar dari telapak tangannya, membelokkan panah kedua.Namun setiap kali ia menggunakan kekuatan itu, bisikan semakin keras.Kau bisa menghancurkan mereka semua. Kau bisa mengakhiri ini.Ia menggeleng pelan, mencoba mengusir suara itu.Zayan memperhatikan.
Read more