Wu Teng tahu, satu langkah salah, dan bukan hanya dirinya yang akan tenggelam, tetapi seluruh daratan di bawah langit yang retak. “Tempat ini bukan sekadar dingin,” gumam Ling’er, suaranya hampir tertelan angin. “Ada kesadaran di dalam salju.” Wu Teng mengangguk pelan. Ia juga merasakannya. Energi kristal di tubuhnya bergetar halus, bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai panggilan. Seolah ada mata yang memperhatikan, menimbang, menilai. Langit mendadak meredup. Badai yang semula hanya berputar di kejauhan tiba-tiba mengumpul, merapat, membentuk pusaran raksasa di atas lembah es. Dari dalam pusaran itu, sebuah siluet perlahan-lahan turun —anggun dan mematikan. Ratu Es muncul tanpa suara, seakan badai hanyalah tirai yang ia singkap dengan jemari tak terlihat. Sosok perempuan tinggi itu terbungkus gaun kristal biru pucat, berkilau dengan cahaya yang tidak memantulka
Read more