Di dalam kamar rawat inap nomor yang tenang, suara dengung halus dari alat pemantau medis menjadi satu-satunya bunyi yang memecah keheningan. Dara telah tertidur lelap dengan selang infus yang menempel di punggung tangan mungilnya, menyiratkan kedamaian setelah badai demamnya perlahan mereda.Silvy duduk di kursi di samping ranjang, matanya lurus menatap wajah putrinya sembari sesekali mengusap punggung tangan Dara. Di sudut ruangan, ibunya, yang bernama Ani, perlahan bangkit dari sofa. Bukannya menunjukkan rasa syukur karena cucunya sudah tenang, wajah wanita paruh baya itu justru mengeras, memancarkan gurat ketidakpuasan yang mendalam.Ani melangkah mendekati putrinya, lalu berdiri di samping ranjang dengan kedua tangan bersedekap di dada."Silvy, Ibu benar-benar tidak habis pikir denganmu. Kenapa kamu membiarkan Bayu dan Maudy pulang begitu saja? Harusnya kamu tahan Pak Bayu di sini. Biarkan dia tahu rasa bagaimana repotnya menjaga anak yang sakit akibat urusan pribadinya,” uca
Read more