Share

Bab 339

Author: Kak Han
last update publish date: 2026-06-19 21:10:21

Desakan yang bertubi-tubi dari ibunya serta tangis histeris Dara yang tak kunjung reda akhirnya meruntuhkan pertahanan mental Silvy. Berada di bawah tekanan emosional yang begitu hebat, logika sehatnya seolah lumpuh. Di tengah keputusasaan yang mendalam, wanita itu akhirnya menyerah pada keadaan. Siang itu, dengan langkah kaki yang terasa seberat timah dan hati yang didera rasa bersalah, Silvy terpaksa melangkah menuju gedung pencakar langit yang menjadi pusat dari gurita bisnis milik Bayu.

​Ge
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 339

    Desakan yang bertubi-tubi dari ibunya serta tangis histeris Dara yang tak kunjung reda akhirnya meruntuhkan pertahanan mental Silvy. Berada di bawah tekanan emosional yang begitu hebat, logika sehatnya seolah lumpuh. Di tengah keputusasaan yang mendalam, wanita itu akhirnya menyerah pada keadaan. Siang itu, dengan langkah kaki yang terasa seberat timah dan hati yang didera rasa bersalah, Silvy terpaksa melangkah menuju gedung pencakar langit yang menjadi pusat dari gurita bisnis milik Bayu.​Gedung kantor pusat perusahaan Bayu berdiri megah di pusat kota, memancarkan atmosfer profesionalisme yang kaku dan dingin. Begitu melangkah masuk ke area lobi utama yang dilapisi marmer mengilat, Silvy langsung merasa terasing. Pakaian rumahnya yang buru-buru ia ganti dengan blus sederhana tampak sangat kontras dengan lalu-lalang para karyawan yang mengenakan setelan kerja necis dan formal.​Dengan sisa-sisa keberaniannya, Silvy menaiki lift menuju lantai teratas, tempat ruangan direksi berada. B

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 338

    Setelah melihat Silvy yang begitu keras kepala dan menolak mentah-mentah untuk memeras Bayu, Ani tidak menyerah begitu saja. Otak liciknya segera berputar mencari celah lain. Jika ia tidak bisa menggerakkan ibunya, maka ia akan menggunakan sang anak sebagai pion. Dara adalah kunci yang paling rapuh sekaligus paling ampuh untuk menarik kembali Bayu ke dalam lingkaran mereka.​Sore itu, saat Silvy sedang berada di dapur untuk menyiapkan makan malam, Ani melangkah pelan memasuki kamar Dara. Anak kecil itu baru saja terbangun dari tidur siangnya. Ia duduk terdiam di atas ranjang dengan boneka beruang di pelukannya, matanya yang bulat menatap kosong ke arah jendela.​Ani mendudukkan diri di tepi ranjang, lalu mengusap rambut cucunya dengan raut wajah yang sengaja dibuat layu dan penuh kesedihan palsu.​"Dara sayang... cucu Nenek yang kasihan. Dara rindu Papa, ya? Kasihan sekali cucu Nenek... sekarang sudah tidak ada Papa yang memeluk Dara lagi kalau malam," bisik Ani, suaranya mendayu-dayu

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 337

    Tiga hari telah berlalu sejak ketegangan di rumah sakit malam itu. Waktu bergerak membawa perubahan perlahan pada ritme kehidupan masing-masing. Dara, yang kondisi fisiknya sempat menurun drastis, akhirnya dinyatakan membaik oleh tim dokter dan diperbolehkan pulang untuk menjalani rawat jalan di rumah. Bersamaan dengan itu, masa cuti singkat yang diambil Bayu pun resmi berakhir.​Pagi itu, suasana di dalam rumah Bayu dan Maudy kembali dipenuhi oleh kesibukan yang produktif. Bayu telah kembali ke dalam setelan jas formalnya yang pas dan gagah, bersiap memimpin kembali gurita bisnis perusahaannya yang sempat ditinggalkan. Sementara Maudy, dengan blus kerja yang elegan dan rambut yang tertata rapi, juga bersiap untuk kembali mengelola perusahaan keluarganya yang membutuhkan sentuhan tangannya pasca-insiden beberapa waktu lalu.​Sebelum melangkah keluar rumah, Bayu sempat menahan pinggang Maudy di dekat pintu utama, memberikan kecupan hangat di kening sang istri yang kini menjadi ritual w

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 336

    Di lain tempat, Bayu dan Maudy sedang duduk santai di kamarnya. Mereka sama sama melepas penat setelah hampir seharian mengurusi Dara di rumah sakit. Maudy menyandarkan kepalanya di dada bidang Bayu. “Mas, gimana kalau habis ini, bu Silvy kembali menelpon kamu dan meminta kamu untuk kembali ke rumah sakit menemani Dara?” tanya Maudy. Dia masih resah memikirkan tentang masalah keluarga mendiang Baron.“Oh tidak bisa! Malam ini aku ada proyek penting yang tidak bisa diganggu siapapun!”“Proyek penting apa Mas? BUkannya kamu masih mengambil cuti?” sahut maudy dengan polos. Dia sampai tidak sadar jika suaminya sedang menggodanya.“Tentu saja proyek untuk mencetak generasi penerus kita!” celetuk Bayu sambil mencolek ujung hidung istrinya.“Maaass, aku lagi serius nih! Kalau beneran SIlvy nelpon atau datang ke sini lagi dan meminta kamu ke rumah sakit lagi, gimana?” “Aku akan tolak. Bukan akuk tidak peduli, tapi memberikan kepedulian pada orang lain juga harus melihat waktu dan kondisi. C

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 335

    Di dalam kamar rawat inap nomor yang tenang, suara dengung halus dari alat pemantau medis menjadi satu-satunya bunyi yang memecah keheningan. Dara telah tertidur lelap dengan selang infus yang menempel di punggung tangan mungilnya, menyiratkan kedamaian setelah badai demamnya perlahan mereda.​Silvy duduk di kursi di samping ranjang, matanya lurus menatap wajah putrinya sembari sesekali mengusap punggung tangan Dara. Di sudut ruangan, ibunya, yang bernama Ani, perlahan bangkit dari sofa. Bukannya menunjukkan rasa syukur karena cucunya sudah tenang, wajah wanita paruh baya itu justru mengeras, memancarkan gurat ketidakpuasan yang mendalam.​Ani melangkah mendekati putrinya, lalu berdiri di samping ranjang dengan kedua tangan bersedekap di dada.​"Silvy, Ibu benar-benar tidak habis pikir denganmu. Kenapa kamu membiarkan Bayu dan Maudy pulang begitu saja? Harusnya kamu tahan Pak Bayu di sini. Biarkan dia tahu rasa bagaimana repotnya menjaga anak yang sakit akibat urusan pribadinya,” uca

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 334

    Waktu seolah merayap dengan sangat lambat di selasar rumah sakit yang sunyi. Suara langkah kaki para perawat yang sesekali melintas dan dengung lampu neon di langit-langit koridor menjadi satu-satunya irama yang menemani Bayu dan Maudy. Di sela-sela kepala Maudy yang masih bersandar di bahunya, Bayu terus memantau pintu ruang pemeriksaan dengan tatapan waspada.​Hampir satu jam berlalu, suasana di koridor itu akhirnya terusik oleh suara pintu yang terbuka perlahan. Dokter spesialis anak, seorang pria paruh baya dengan garis wajah lelah namun tenang, melangkah keluar sambil melepas masker bedahnya. Di belakangnya, dua perawat tampak mendorong brankar yang sudah disesuaikan dengan posisi tidur yang lebih nyaman.​Dara tampak jauh lebih tenang. Wajahnya yang semula memerah karena demam tinggi kini sedikit lebih pucat, namun napasnya sudah jauh lebih teratur. Matanya terpejam, tertidur pulas akibat pengaruh obat penenang yang diberikan dokter agar suhu tubuhnya bisa turun dengan lebih efe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status