Seperti kebanyakan rumah di tempat itu, rumah itu tak berpagar halaman. Sehingga Harun bisa langsung mendorong masuk kerobaknya hingga di depan rumah. “Terima kasih, Nak Harun, atas bantuanya.” “Sama-sama, Bu. Oh, ini Dik Ningrum dan Salwa, ya?” “Iya, Kak,” sahut Salwa malu-malu. “Ini Mas Harun namanya. Dia tadi yang jualkan sotonya Ibu, pas Ibu ke mushola. Ramai sekali yang beli.” “Pantasan Ibu cepat sekali pulangnya. Terima kasih ya, Kak Harun,” ucap Ningrum. Gadis itu sejatinya memiliki wajah yang manis. Namun tubuhnya agak kurus, mungkin tergerus oleh penyakitnya. “Sama-sama, Dik Mirah. Kata Ibu, maaf, Dik Ningrum sakit?” “Iya, Kak, lumpuh. Sudah satu tahun lebih. Silakan duduk, Kak.” “Ya, terima kasih. Maaf, Bu, yang jualan di sini di mana, Bu? Maksud saya, warung atau toko.” “Oh di blok A di sebelah selatan sana. Nak Harun mau beli apa?” “Beli air mineral, Bu.” “Hm. Biar Salwa saja yang belikan,” ucap Bu Siti sembari m
Last Updated : 2026-03-13 Read more