SANG DEWA PENYEMBUH

SANG DEWA PENYEMBUH

last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-03
โดย:  Kalang Langitอัปเดตเมื่อครู่นี้
ภาษา: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
คะแนนไม่เพียงพอ
7บท
8views
อ่าน
เพิ่มลงในห้องสมุด

แชร์:  

รายงาน
ภาพรวม
แค็ตตาล็อก
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป

“Gak bisa, Run ….” Tiba-tiba istrinya Paman Hanif, Bibi Isti, bersuara sembari keluar dari ruang dalam rumahnya, langsung memotong kalimat Harun. “Kami juga sedang butuh dana untuk membesarkan usaha kami. Tolong kamu cari dulu pinjaman di tempat lain, ya? Operasi jantung ibumu diundurkan dulu, sampai kamu mendapatkan biaya operasinya.” Kalimat itu sebuah penegasan, bahwa ia tak mungkin mendapatkan bantuan lagi di tempat itu. Harun pun pamit dengan perasaan kecewa dan putus asa. Pamannya pun tidak bersedia lagi mengulurkan tangan mereka, walau dalam bentuk pinjaman.

ดูเพิ่มเติม

บทที่ 1

PART 01

Di sebuah rumah sakit di Jakarta Timur, di akhir tahun 2012, suasana duka itu kembali hadir. Pemuda yang masih tergolong remaja itu langsung pucat dan jatuh tak sadarkan diri ketika seorang dokter yang menangani ibunya yang sakit di ruang ICCU memberitahukan hal yang paling dikhawatirkannya selama ini.

    “Kami minta maaf.  Kami sudah berusaha sebatas kemampuan kami untuk menyelamatkan nayawa ibunya adik,  namun nampaknya Tuhan berkehendak lain. Kami berharap ….”

***

    Pemuda itu bernama Harun. Ia melangkah dengan wajah berselimut duka kala melangkah mengikuti jenazah sang ibunda menuju pemakaman desa. Ia tidak lagi menangis. Mungkin karena air matanya telah habis. Atau mungkin air matanya semuanya mengalir ke dalam. Ke dalam ruang batinnya yang tiba-tiba terasa kosong, hampa, karena sebuah lehilangan besar. Ini adalah kehilangan besar untuk kedua kalinya, setelah kepergian sang ayah secara tragis  tiga tahun yang lalu, kini sang ibunya pun meninggalkannya buat selama-lamanya.  

     Dan, ketika ia menatap wajah kaku sang ibu yang tersingkap sesaat sebelum ditutupi dengan papan liang lahat, ia pun menangis. Kali itu air matanya keluar. Entah itu adalah air mata yang terakhir kali yang ia deraikan.

   Seorang laki-laki paruh baya meletakkan tangannya di atas pundakknya dari samping dan mengelus-elusnya lembut, selembut ucapannya, “Kamu harus tabah, dan kamu harus kuat, Run. Semua kita akan mengalami kondisi seperti ini. Kita hanya sedang menunggu giliran saja. Itu adalah takdir dan ketetapan. Lebih banyaklah berdoa buat ibu dan ayahmu, itu sebagai tanda bakti kamu sebagai seorang anak yang sholeh.”

    Harun tahu itu siapa laki-laki itu. Ia manggut-manggut. Dia adalah laki-laki yang merupakan paman kandungnya, adik dari almarhumah ibunya. Namanya Paman Hanif. Apa yang dikatakan laki-laki itu tidak salah, dan sangat benar. Ya, iya harus tabah dan harus kuat, dan kondisi itu akan dialami oleh semua manusia, dan kita hanya sedang menunggu giliran saja. Hanya saja, di sisi lain, ia sangat kecewa dengan laki-laki itu. Ia ingat dua hari yang lalu, ia datang ke rumah laki-laki itu untuk meminta pinjaman buat biaya operasi ibunya, namun laki-laki itu tidak bersedia meminjamkannya.

     “Ibu masih dalam kondisi koma, Paman.  Menurut dokter, beliau harus menjalankan operasi untuk pemasangan ring jantungnya. Biayanya cukup besar. Aku ke mari untuk minta pinjaman lagi  pada Paman agar Ibu bisa segera dioperasi,” ucap Harun saat itu dengan wajah penuh harap.

     “Operasi pemasangan ring jantung?” tanya Paman Hanif dengan suara yang agak tinggi, namun pada wajahnya sama sekali tidak menunjukkan keprihatinanya.

     “Iya, Paman. Hanya Paman satu-satunya yang bisa aku pinjamin dan harapkan. Aku berjanji untuk mengganti semua uang Paman walau tidak sekaligus.”

      “Wah, wah, kalau sudah urusan jantung itu biayanya tidak sedikit, Run. Membayangkan saja membuat jantung Paman sampai berdetak tidak beraturan. Gimana itu?”

      “I-iya, Paman.  Maafkan aku karena sudah sangat merepotkan Paman dan Bibi.”

       Harun  masih ingat, untuk perawatan ibunya di ruang ICCU yang terdahulu membutuhkan biaya yang tak sedikit. Bahkan ia harus meminjam uang pada Paman Hanif  itu lagi, namun dengan menitipkan sertifikat rumah milik mereka. Memang dia sebenarnya sudah tahu jika sang paman pasti akan berat untuk menambah pinjaman lagi. Namun mau apa lagi, hanya pamannya itu saja orang yang bisa ia pinjami.

     “Memang kamu akan butuh uang berapa lagi?” tanya Paman Hanif, kemudian. Ucapan yang bernada rendah itu langsung membuat wajah Harun jadi sedikit cerah. Belum benar-benar cerah.  “Pasti Pak Dokter sudah memberitahukan biayanya, kan?”

      “Iya, Paman. Dokter hanya memperkirakan sekitar lima puluh juta, Paman.”

     “Apa? Lima puluh juta?”  Kamu mau minjam lagi sebesar itu? Gila kamu, Run! Yang dulu saja kamu pinjam dua puluh juta, belum satu sen pun dikembalikan. Dan sekarang kamu mau minjem lagi dengan jumlah nyang lebih tinggi lagi?”

      “Iya, Paman, karena untuk biaya pemasangan ring jantung sekitar itu besarnya. Tolonglah, Paman, bantulah Ibu dengan jaminan sertifikat rumah yang telah aku titipkan pada Paman,” sahut Harun dengan wajah yang memelas.

      “Paman minta maaf, Run, kayaknya sudah gak bisa. Yang dulu dua puluh juta. Harga untuk tanah dan rumahmu itu saja belum tentu bisa laku dengan harga tujuh puluh juta. Jika pun kamu akan mengembalikannya, itu tentu saja sangat lama, karena kan kamu harus bekerja dan menabung cukup lama juga. Maaf, Run, Paman benar-benar gak bisa.”

     “Ya paling tidak Paman pinjamilah sebagian. Sebagian lagi saya coba cari ke tempat-tempat lain. Mungkin dua atau tiga puluh juta saja.”

     “Gak bisa, Run ….” Tiba-tiba istrinya Paman Hanif, Bibi Isti, bersuara sembari keluar dari ruang dalam rumahnya, langsung memotong kalimat Harun. “Kami juga sedang butuh dana untuk membesarkan usaha kami. Tolong kamu cari dulu pinjaman di tempat lain, ya? Operasi jantung ibumu diundurkan dulu, sampai kamu mendapatkan biaya operasinya.”

     Kalimat itu sebuah penegasan, bahwa ia tak mungkin mendapatkan bantuan lagi di tempat itu. Harun pun pamit dengan perasaan kecewa dan putus asa. Pamannya pun tidak bersedia lagi mengulurkan tangan mereka, walau dalam bentuk pinjaman.

แสดง
บทถัดไป
ดาวน์โหลด

บทล่าสุด

บทอื่นๆ

ถึงผู้อ่าน

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

ไม่มีความคิดเห็น
7
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status