LOGINHarun masih sempat mendengar jika wanita itu disambut oleh seseorang yang bersuara bariton. Mungkin pemilik suara itu laki-laki yang sudah berumur, di atas tiga puluhan tahun. Berada dalam kamar hotel, Harun menyempatkan dulu untuk mengamati seluruh bagian dari kamar yang sangat mewah itu. Kamar sejenis itu hanya ia pernah lihat di sinetron-sinetron. Ia kemudian melemparkan begitu saja tasnya di atas tempat tidur sebelum ia melepas sepatunya. Setelah itu ia melemparkan tubuhnya di atas kasur yang empuk dengan posisi telentang. Ia menikmati kondisi itu sembari memejamkan kedua matanya. Tok … tok … tok… Ketukan di pintu kamar membuat ia membuka matanya. Dengan sedikit malas-malasan ia bangkit dan melangkah ke arah pintu. Ia mengira itu adalah si tukang ojek. Tetapi ketika ia mengintai melalui lobang intai yang diberi kaca, ia melihat wajah orang lain. Seorang pemuda berdiri di depan pintu. Tampaknya petugas hotel. Ia langsung membukakan pintunya. “
Yang tahu mengapa api itu tadi mendadak padam, hanya dua orang, yaitu ibu pemilik ruko dan anak gadisnya yang berada di lantai atas tadi. Bahkan petugas dinas kebakaran yang muncul kemudian merasa heran, mengapa api yang sedang berkobar tiba-tiba bisa padam seketika? Padahal saat itu sedang musim kemarau dan terik masih terasa sangat menyengat. Di tengah-tengah kerumunan, terlihat beberapa orang berusaha merangsek masuk. Ternyata mereka adalah sanak kadang dari keluarga yang mendapat musibah. Mereka pun langsung berpelukan dan sama-sama menangis haru. “Syukurlah kalian selamat. Untunglah pemadam kebekaran sigap dan cepat ….” “Bukan,” potong si ibu yang menjadi korban. “Kami diselamatklan oleh Mas … Lh, Mas penyelamat barusan ke mana?” Sekeluarga itu pun dibuat heran dan berusaha mencari ke mana-mana dengan menebarkan pandangan mereka. “Diselamatkan oleh Mas? Maksudnya seorang pemuda?” tanya laki-laki yang baru datang. “Iya. Dia yang tiba-tiba muncu
Dari mesjid komplek itu, ia kembali melangkah menyusuri trotoar di pusat kota bersama para pejalan kaki lainnya. Di kiri kanan jalan raya yang cukup lebar dan dipenuhi oleh kendaraan yang berlalu-lalang itu berdiri toko-toko, perkantoran, hotel, dan sebagainya. Pada malam hari, tempat itu dikenal sebagai tempat mejengnya para muda-mudi kota. Lokasinya di samping strategis, namun juga tempatnya bagus dan asri. Harun tak tahu, apakah pemkot juga telah mendukung dan memfasilitasi kawasan itu sebagai tempat mejengnya anak muda kota? Betapa tidak, kawasan itu tersedia berbagai fasilitas pendukung, seperti taman bunga memanjang di dua bahu jalan, bangku-bangku besi panjang yang bagus, san sebagainya. Sementara pada siang hari tentu kawasan itu tetap menjadi pusat kesibukan. Pada sebuah restoran Padang, sang pewarisnya Erang Jabal Wening itu mampir. Ia harus mengisi perutnya. Rumah makan itu cukup banyak pelanggannya. Namun masih ada satu dua meja-kursi yang kosong. Ket
Saat itu Harun telah tiba di sebuah taman kota. Tiba-tiba terdengar ada suara teriakan seorang ibu-ibu yang mengalami kecopetan. Namun Harun tidak menghentikan atau memelankan langkah kakinya. Karena saat itu ia sedang memikirkan banyak hal, terutama saat itu ia akan pergi ke mana. Akan tetapi teriakan itu makin dekat dan bukan saja satu orang yang berteriak. Ternyata copet itu berlari ke arahnya. Terpaksa Harun menghentikan langkahnya. Sang copet yang merupakan laki-laki muda larinya cukup kencang. Di belakangnya ia dikejar oleh banyak orang. Namun pengejar yang paling dekat dengan sang copet adalah seorang gadis dan seorang pemuda. Jarak antara si copet dengan si gadis dan pemuda itu hanya sekitar sepuluh meter. Ketika copet itu akan melewatinya, Harun langsung menarik tubuhnya ke samping, membiarkan sang copet lewat di depannya. Ia tidak berusaha untuk menghentikan pelaku kriminal kelas receh itu dengan cara apa pun. Akan tetapi, ketika sang gadis pengejar
Karena tidak ingin menjadi pusat perhatian semua waerga yang makin banyak di depann rumah Bu Siti, Harun pun pamit. Namun sebelumjnya, ia mengajak Bu Siti untuk kedalam sebentar sembari membawa sebotol air mineral yang masih utuh (belum diminum). Dan ia memberitahukan tentang khasiat air itu untuk masalahan yang akan dijual. “Jadi, air ini dimasukkan ke dalam panci masalah soto?” “Benar, Bu. Ya hanya masukan beberapa tetes saja,” jawab Harun. Jika air ini sudah berkurang, bisa ditambah dengan air biasa, khasiatnya akan tetap sama. Tetapi tolong tentang hal ini Ibu rahasiakan dari siapa pun. Dan air ini disimpan baik-baik, misalnya dalam lemari pribadi ibu.” Tirta pun bercerita bahwa air itu juga yang membuat soto ibu menjadi terasa begitu lezat. “Baik, Dik Harum. Terima kasih, Dik Harun. Engkau seperti seorang dewa penyelamat bagi Ibu sekeluarga. Dik Harun hadir di kala kami nyaris menemui jalan buntu dalam kehidupan Ibu dan anak-anak Ibu.” “Sama-sama,
Ucapan Ningrum itu membuat Harun tersenyum. Namun ia tak langsung menjawabnya, namun berkata, “Soal itu nanti saja dibahas. Sekarang saya mau menyembuhkan Ningrum dulu. Ning mau gak saya sembuhin?” Kedua kelopak mata gadis itu seolah tertarik ke berbagai arah sehingga membuat sepasang bola mata indahnya terbuka sempurna. Begitu pun yang terjadi pada ibunya, Bu Situ. “Beneran Kak Harun bisa menyembuhkan saya?” tanya Ningrum seolah-olah belum yakin. “Insya Allah,” ucap Harun. “Coba tangan Dik Ningrum ulurkan ke sini. Oh ya, Bu dan Dik Salwa, tubuh Ningrum diapit saja biar nanti untuk memegangnya dalam proses penyembuhan.” Bu Siti dan Salwa segera melakukan apa yang diminta Harun. Selanjutnya Harun meminta izin kepada Ningrum untuk menggenggam tangan kanan gadis itu sembari melakukan konsentrasi untuk mengumpulkan enekgi penyembuh dan mengalirkannya ke dalam tubuh hadis itu. Pada saat itu, Ningrum mulai merasakan seperti ada hawa sejuk yang masuk tapak tangan







