Zayna terbangun dengan wajah yang segar, tepat setelah Aim selesai berbicara dengan Ziyan.“Ayah, siapa yang menelepon?” tanyanya.“Tuan Ziyan. Katanya kita tidak perlu ke sana dulu karena mereka akan berangkat ke Bandung sebelum Dzuhur,” jawab Aim.“Oh, jadi kita belum jadi ke villa?” Zayna bertanya sambil menampilkan sedikit wajah kecewa. Padahal, jauh di dalam hatinya, ia justru sangat senang mendengar kabar itu. Ia tidak perlu repot-repot mencari alasan untuk menghindari pertemuannya dengan Tuan Karim.'Alhamdulillah... ternyata kita cukup mengikuti alur saja. Allah memang Maha Baik. Terima kasih, Ya Rabb, Tuhanku Yang Maha Penyayang, gumamnya dalam hati.'“Bund, ada apa? Kok malah melamun?” tanya Aim.“Oh, Ayah... Bunda ingin berenang. Kita kan masih punya waktu sampai check-out jam dua belas. Bunda mau menikmati dulu fasilitas mewah hotel ini,” jawab Zayna dengan wajah ceria. Tanpa menunggu lama, Zayna segera beranjak dengan semangat hendak berenang.“Bund, makan dulu. Kebetulan
Read more