Saat mobil berhenti di halaman SMA Garuda, suasana sudah cukup ramai. Lampu-lampu aula menyala terang, suara musik dan obrolan terdengar sampai ke luar. Beberapa mobil terparkir rapi, menunjukkan kalau acara ini memang dihadiri banyak orang dari berbagai angkatan. Dipta turun lebih dulu, lalu memutar ke sisi lain membuka pintu untuk Aira. Aira keluar dengan tenang, merapikan sedikit dress-nya. Tatapannya sempat mengarah ke gedung sekolah itu, ada jeda sepersekian detik. Tempat ini, tempat yang seharusnya jadi kenangan biasa, tapi justru menyimpan sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai. “Siap?” tanya Dipta pelan. Aira melirik, lalu mengangguk singkat. “Siap.” Mereka berjalan berdampingan menuju aula. Langkah Dipta tetap tenang, seperti biasa tegap, dingin, penuh kontrol. Sementara Aira di sampingnya terlihat anggun, tapi ada ketegangan halus yang hanya bisa terasa kalau diperhatikan lebih dalam. Begitu masuk ke dalam aula, suasana langsung terasa lebih hidup. Orang-orang be
Read more