LOGINSemua berawal dari sebuah taruhan. Bagi Dipta (Dipta Niskala Mahesa), hidup adalah strategi. Ia terbiasa menang di kelas, di kompetisi, dalam bisnis keluarga, bahkan dalam permainan yang tak pernah orang lain sadari. Aira (Humaira Navya Aruna) hanyalah satu langkah dalam rencana kecilnya di masa sekolah, sebuah tantangan, sebuah eksperimen, sebuah pembuktian. Namun rencana tak pernah memperhitungkan perasaan. Aira datang dengan kepolosan yang tak dibuat-buat, kecerdasan yang tenang, dan cara menatap yang membuat pertahanan Dipta perlahan runtuh. Kedekatan mereka tumbuh lewat diskusi panjang tentang bintang dan masa depan, sesi belajar di apartemen mewah yang menyimpan ruang rahasia penuh piala dan medali, hingga sentuhan-sentuhan yang semakin sulit diabaikan. Awalnya hanya permainan. Lalu menjadi kebiasaan. Kemudian… candu. Rumor di sekolah berhembus liar. Iri dan ambisi menyusup di antara teman-teman mereka. Taruhan baru muncul lebih mahal, lebih menantang. Namun semakin lama hubungan itu berjalan, semakin Dipta menyadari satu hal, ia bukan lagi pemain yang memegang kendali penuh. Ia mulai menginginkan lebih dari sekadar kemenangan. Lebih dari sekadar pembuktian. Lebih dari sekadar sentuhan yang tertahan. Waktu berlalu, masa sekolah usai. Dunia berubah, mereka tumbuh, ambisi menjadi nyata. Dipta menapaki jalur bisnis yang ia pilih sejak remaja, membangun kekuasaan dan pengaruh. Aira menemukan jalannya sendiri, namun bayangan masa lalu tak pernah benar-benar pergi. Ketika mereka dipertemukan kembali beberapa tahun kemudian, bukan lagi sebagai remaja, tetapi sebagai dua individu dewasa dengan luka, rahasia, dan keinginan yang lebih kompleks, api lama itu menyala kembali. Lebih dalam dan lebih berbahaya. Kini bukan hanya tentang cinta. Bukan pula sekadar obsesi. Ini tentang kendali. Tentang siapa yang akhirnya menyerah, tentang seberapa jauh seseorang bersedia melangkah demi memiliki. Dalam dunia yang dipenuhi ambisi, rahasia, dan gairah yang terus tumbuh, satu pertanyaan menggantung di udara. Apakah ini cinta yang tumbuh dari kesalahan? Atau permainan lama yang berubah menjadi takdir yang tak bisa dihindari?
View MoreHumaira Navya Aruna atau biasa akrab dipanggil Aira menatap halaman depan sekolah baru itu dengan mata berbinar campur gugup. Gedung tinggi, cat krem yang rapi, kaca-kaca besar memantulkan cahaya pagi yang lembut. Semua terlihat begitu megah, berbeda dari sekolah lamanya yang sederhana. Jalan setapak yang lebar dan rapi, pepohonan yang tertata, dan suara murid-murid yang saling menyapa membuat hati Aira berdebar.
Ini adalah awal baru. Awal yang membuatnya bangga sekaligus takut. Ia menyesap napas panjang dan menggenggam tas punggungnya lebih erat. Di dalam tas itu, selain buku pelajaran, ada catatan kecil berisi tulisan-tulisan pribadinya cerita-cerita, ide-ide, dan beberapa catatan tentang mimpi yang ingin ia wujudkan. Saat melangkah ke gerbang, Aira menatap sekeliling. Murid-murid berjalan beriringan, ada yang berlari kecil, ada yang tertawa riang, beberapa berbisik satu sama lain. Ada ketegangan di udara yang membuatnya sadar: semua mata mungkin akan tertuju padanya. “Tenang, Aira… kamu bisa melakukan ini", gumamnya pelan. Ia memanggil dirinya sendiri dengan nama panggilan yang biasa dipakai teman-temannya lama, Aira. Nama yang terdengar ringan di bibir, tapi sekarang, di sekolah baru, terasa asing. Ia menapaki jalan ke kelas XI IPA 2, di mana ia akan duduk di bangku kosong dekat jendela. Setiap langkah membuat dadanya berdebar lebih kencang. Apalagi ketika beberapa murid menoleh, menatapnya, dan tersenyum kecil. Humaira hanya membalas dengan senyum malu, menundukkan kepala sebentar sebelum duduk. Bangku di sebelahnya kosong, tapi di sekeliling, murid-murid mulai memperhatikan. Ada yang saling berbisik, menoleh ke Aira lalu tersenyum, menebar sapaan hangat. Ia mencoba menyapa beberapa di antaranya dengan lembut, menanyakan nama, dan mendengarkan jawaban mereka dengan perhatian penuh. “Nama saya Humaira Navya Aruna tapi panggil saja saya Aira,” katanya pelan, suaranya terdengar hampir seperti bisikan. Seorang gadis dengan rambut cokelat sebahu tersenyum hangat. “Senang bertemu denganmu, Aira! Aku Nadhira. Kalau butuh bantuan, bilang saja ya.”, katanya bersemangat. Seorang anak laki-laki berkaca mata juga mendekat dan memperkenalkan dirinya. "Saya Sandi, sedang berkenalan denganmu, jangan sungkan dikelas ini. Semua teman-teman disini baik-baik kok", ucapnya tenang. "Iya Aira, kamu jangan takut, disini semuanya baik. Aku jamin kamu bakalan betah dikelas ini, apalagi kalo kamu bareng aku..", tunjuk Nadhira pada dirinya sendiri dengan percaya diri. "Huu... Udah ga usah didengar itu omongannya Nadhira, dia mah biangnya keributan disini, berisik". Kata seorang anak laki-laki dari ujung ruang kelas. "Heh siapa bilang, aku tuh ga berisik. Tapi ramai aja", dengan menekan tangannya dipinggang, Nadhira membela diri. Aira tertawa kecil melihat adu mulut antara Nadhira dan teman lain, lalu ia mengangguk, merasa lega. Senyum Nadhira membuat suasana sedikit lebih ringan. Di pojok lain, ada seorang murid laki-laki yang tampak ramah, melambaikan tangan kecil, sementara beberapa yang lain hanya tersenyum malu. Setiap interaksi kecil itu membuat Aira tersadar, ia masih bisa beradaptasi, meskipun gugup. Meskipun sekolah ini besar dan baru, ada sisi hangat yang membuatnya merasa diterima. Guru memasuki kelas dengan senyum hangat. Ia memperkenalkan diri, kemudian menanyakan beberapa hal sederhana, nama, hobi, dan alasan pindahnya Aira. “Saya Humaira… eh, Aira,” kata Aira malu-malu. “Saya suka menulis cerita dan ikut lomba sains.” Beberapa teman tertawa ringan, kagum. Seorang gadis bernama Lestari berkata, “Wah, keren! Aku suka bikin cerpen juga. Mungkin kita bisa saling tukar cerita!” Aira tersenyum lega, merasa sedikit lebih nyaman. Di pojok kelas, seorang anak laki-laki berbisik ke temannya, “Kamu lihat dia nggak? Bener-bener lugu, tapi sepertinya pintar. Bisa jadi teman yang asyik nih.” Saat kelas mulai, Aira memperhatikan jendela, cahaya pagi yang masuk menembus kaca, membuat lantai berkilau. Ia membuka buku catatan, mencoba fokus pada pelajaran, tapi pikirannya sesekali melayang, menyesap suasana baru ini. Ia sadar, teman-teman sekelasnya menilai dengan mata penasaran. Beberapa menatapnya lebih lama, seperti ingin tahu siapa dia, mengapa wajahnya begitu cerah, polos, dan rapi. Aira hanya tersenyum malu, menundukkan kepala lagi, merapikan buku di mejanya. "Mereka sepertinya terlihat baik-baik", pikirnya. "Mereka hanya ingin tahu.. dan hal itu sangat wajar". Adegan-adegan kecil itu membuat Aira tersenyum sendiri. Ia merasa, meskipun tempat ini baru dan besar, ada teman-teman yang ramah dan menyenangkan. Saat istirahat pertama, Aira duduk di bangku dekat jendela. Ia membuka buku catatan, mencoba menulis pengamatan. Warna baju teman-temannya, suara langkah guru dan murid di lorong, aroma tinta dan kertas yang khas, cahaya lembut yang menembus jendela, dan setiap detail itu ia catat. Bagi Aira, menulis adalah cara memahami dunia, menenangkan diri, dan juga melatih ingatannya. Ia ingin mengingat setiap momen, karena hari ini adalah hari pertama awal dari segalanya. Aira menatap ke luar jendela, menyaksikan pepohonan tertiup angin pagi. Ia merasa campuran lega dan gugup leganya karena teman-teman baru terlihat ramah, gugup karena ini adalah lingkungan baru. Ia mengingat alasan pindah, jarak sekolah lama terlalu jauh, aktivitas ekstra sulit dijangkau, dan ia ingin lingkungan baru yang lebih dekat dengan rumah. Sekarang, setelah beberapa jam di sekolah ini, ia merasa keputusan itu benar, meskipun membuatnya harus menghadapi ketidakpastian. Aira tersenyum tipis, membuka buku catatan, dan menulis beberapa kata, 'Hari pertama. Baru. Menegangkan. Tapi menyenangkan.' Sepanjang jam pelajaran berikutnya, Aira mulai berinteraksi dengan teman-teman kelas. Nadhira menunjukkan cara menemukan buku di rak perpustakaan sekolah, Lestari berbagi tips mencatat materi guru supaya cepat paham. Beberapa murid laki-laki menatapnya dengan rasa penasaran ringan, tapi Aira tetap biasa saja dengan senyum polosnya, hanya tersenyum dan menatap kembali. Setiap interaksi memberi rasa nyaman dan membuatnya merasa diterima. Ia belajar nama-nama teman baru, kebiasaan mereka, dan mulai menyesuaikan diri dengan ritme kelas. Saat Aira berjalan menuju kelasnya XI. IPA 2 sesaat setelah jam istirahat kedua, matanya secara tidak sengaja tertumbuk pada seorang pemuda di lorong lantai atas. Tingginya mencolok, posturnya tegap, rambut gelap rapi, dan wajahnya tegas. Rahangnya yang membentuk V-line dan bibir tipis memancarkan aura berbeda dari semua orang yang pernah ia lihat. Humaira terdiam sejenak. Ada suatu rasa yang lembut di dadanya bukan takut, bukan juga canggung, hanya rasa kagum. Pandangan pemuda itu dingin, sedikit misterius, tapi entah kenapa, membuatnya penasaran. Ia mengalihkan pandangannya sejenak, mencoba menenangkan jantung yang tiba-tiba berdebar. “Siapa dia…?”, gumamnya pelan. Tidak ada jawaban, tidak ada perasaan lain selain kagum. Aira hanya tersenyum tipis dan menundukkan kepala, kembali fokus pada langkahnya menuju bangku kelas. Walau hanya sebentar, kesan itu menempel. Tanpa ia sadari, itu adalah pandangan pertama yang akan terus tersimpan dalam memorinya, sebuah rasa penasaran polos yang akan perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam di hari-hari berikutnya. Dari sudut lorong, terdengar bisik-bisik pelan. “Dia yang itu?” Sebuah senyum tipis muncul di wajah pemuda yang sama. “Iya. Targetnya.” Aira menatap sekeliling, tapi tidak ada yang tampak berbeda. Ia tersenyum tipis dan menundukkan kepala lagi, fokus pada langkahnya menuju bangku kelas. Hanya saja, sesuatu telah tertanam dalam benaknya rasa penasaran yang aneh, seperti ada yang sedang mengamati, menilai, dan menghitung setiap gerakannya. Hari pertama itu ternyata tidak akan sesederhana yang ia bayangkan.Menjelang sore, suasana rumah sudah kembali hidup seperti biasanya. Dari dapur, aroma masakan mulai menyebar perlahan ke seluruh ruangan. Wangi gurih ayam kremes yang sedang digoreng bercampur dengan aroma rolade yang sudah matang, ditambah tumis kacang panjang yang masih mengeluarkan suara “cesss…” pelan dari wajan. Aira berdiri di depan kompor, rambutnya diikat seadanya, tangannya sibuk bolak-balik antara wajan dan piring. Sesekali ia mencicipi masakan, memastikan rasanya pas. Sementara di sampingnya, Dipta duduk santai di kursi dapur sambil membantu memotong ujung-ujung kacang panjang. Gerakannya rapi, meski jelas bukan ahli dapur, tapi cukup terbiasa. “Yang ini dibuang semua?” tanyanya sambil mengangkat satu potong. Aira melirik sekilas. “Iya, yang keras-keras dibuang. Jangan ikut dimasak nanti susah dimakan.” Dipta mengangguk pelan, lanjut bekerja tanpa banyak komentar. Suasana itu sederhana, tapi terasa hangat. Di kamar, Askara yang tadi tidur siang mulai bergerak pelan. Al
Setelah keluar dari butik, mereka tidak langsung pulang. Langkah Aira justru melambat saat melewati deretan restoran di lantai itu. Perutnya sebenarnya sudah mulai terasa kosong, apalagi sejak tadi hanya fokus memilih baju dan “mengawasi” dua orang di belakangnya, satu suami, satu anak. “Aku lapar.” ucap Aira tiba-tiba. Dipta yang berjalan di sampingnya langsung menoleh. “Dari tadi nggak bilang.” Aira mendengus. “Lagi milih baju mana sempat mikirin makan.” Askara yang dengar kata makan langsung bereaksi paling cepat. “MAKAN??” Nada suaranya naik satu oktaf Aira langsung tertawa kecil. “Iya, makan.” “AYO!” katanya sambil langsung menarik tangan Aira. Dipta hanya menggeleng kecil melihat itu. Mereka akhirnya memilih salah satu restoran yang tidak terlalu ramai tapi cukup nyaman. Tempatnya hangat, tidak terlalu formal, cocok untuk makan santai. Begitu duduk, Askara langsung naik ke kursi dengan semangat, bahkan belum lihat menu. “Aku mau ayam!” Aira menghela napas. “Belum liha
Sore itu, Dipta baru saja sampai rumah, masih dengan kemeja kerja yang belum sempat dia ganti. Ponselnya bergetar terus sejak tadi di mobil, tapi baru sekarang dia benar-benar membuka grup lama yang sudah lama sekali tidak aktif. “SMA Garuda – Angkatan Kita” Nama grup yang bahkan sudah hampir dia lupakan. Begitu dibuka, isinya sudah ramai, David, Angger, Bayu, Raka semuanya muncul lagi dengan gaya yang masih sama seperti dulu, hanya saja sekarang ditambah topik kerja, hidup, dan reuni. Dipta membaca beberapa pesan, sudut bibirnya sedikit naik. “Reuni, ya…” gumamnya pelan. Malamnya, saat Aira sedang duduk santai di ruang tengah sambil scroll sesuatu di ponselnya, Dipta duduk di sebelahnya. “Ada undangan.” katanya tiba-tiba. Aira melirik sekilas. “Undangan apa?” “Reuni SMA Garuda.” Aira langsung berhenti scrolling. Dia menoleh penuh. “Reuni?” Dipta mengangguk. “Yang ngundang anak-anak satu angkatan. Di sekolah.” Aira diam sebentar, mencerna. SMA Garuda, tempat yang punya cuku
Malam sudah benar-benar tenang ketika mereka berdua akhirnya rebahan di ranjang, bukan dengan suasana lelah seperti beberapa hari sebelumnya, tapi lebih ke kondisi “selesai semua urusan hari itu”. Aira bersandar di dada Dipta, posisinya santai, satu tangannya main pelan di ujung selimut, sementara Dipta menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. Lampu kamar sudah diredupkan, menyisakan cahaya hangat yang bikin suasana terasa lebih pelan dari biasanya, tidak ada pembicaraan besar. Sampai Dipta tiba-tiba membuka suara. “Kalau kita honeymoon gimana?” Aira yang sedang santai langsung berhenti sejenak. Dia mengangkat sedikit kepalanya, menoleh ke arah Dipta. “Honeymoon?” ulangnya pelan. Dipta mengangguk, tetap tenang. “Iya.” Aira diam sebentar. Bukan karena tidak mengerti, tapi karena kalimat itu terasa agak… terlambat, dalam arti yang tidak buruk, hanya saja baru sekarang muncul di tengah hidup yang sudah cukup panjang mereka jalani. Dia menghembuskan napas pelan. “Kita honeymoon s
Pagi itu, udara di SMA terasa hangat, tapi tidak menusuk. Cahaya matahari menembus jendela kelas XI IPA 2, menyorot buku catatan Aira yang rapi. Ia duduk di bangku dekat jendela, mencoba fokus pada pelajaran Biologi. Tapi pikirannya sering melayang ke seseorang yang ia lihat beberapa kali dalam beb
Hari itu, Dipta duduk di kelas XII IPS 1 sambil membaca catatan ekonomi. Tapi matanya tidak sepenuhnya fokus pada buku, tatapannya sesekali tertuju ke kelas XI IPA 2, tepatnya ke Aira yang sedang menulis catatan di meja dekat jendela.“Hmm… berbeda dari yang lain", pikirnya dalam hati.Bukan karena
Pagi menjelang siang, lapangan sekolah lebih sepi dari biasanya. Angin tipis membuat dedaunan bergetar, dan cahaya matahari yang mulai miring menembus sela-sela pepohonan. Aira duduk di bawah pohon besar, buku biologi di pangkuan, mencoba memahami diagram sel yang rumit. Tiba-tiba, suara ringan
Suasana kelas XI IPA 2 pagi itu lebih tegang dari biasanya. Kertas ulangan biologi sudah dibagikan, masih tertutup di atas meja masing-masing siswa. Suara kipas angin berputar terasa lebih keras karena hampir semua orang diam. Aira duduk tegak. Tangannya berada di atas meja, jari-jarinya saling b






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews