Beranda / Romansa / DIPTA / BAB 165 Permainan

Share

BAB 165 Permainan

Penulis: Adw_Canss781
last update Tanggal publikasi: 2026-10-03 23:56:24
Di sisi Aira, dia masih di tempatnya. Tidak bergerak, tidak mendekat dan tidak ikut campur seolah tidak peduli. Padahal matanya tidak pernah lepas dari arah Dipta.

Nadhira melirik heran. “Serius lo nggak mau ke sana?”

Lestari ikut nimbrung, “Itu udah jelas nyindir lo, loh.”

Aira cuma menarik napas kecil. Bahunya naik turun santai. “Udah biasa.” Jawaban datar seolah itu bukan hal baru.

Memang bukan han baru, Rania dengan sindiran halusnya itu bukan pertama kali. Aira sudah terlalu sering
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • DIPTA   BAB 166 Pulang

    Acara masih berlangsung, musik masih jalan, obrolan di sana-sini masih ramai. Jam baru menunjukkan pukul sepuluh malam. Namun Dipta sudah mulai tidak fokus, dari tadi bukan cuma satu orang yang mendekatinya, Priska lalu Rania. Belum lagi beberapa wanita lain yang sempat mendekat dengan alasan “kenalan” atau sekadar basa-basi. Di sisi lain yang justru bikin dia semakin tidak nyaman, beberapa pria yang dari tadi matanya terlalu mengarah ke arah Aira. Bahkan ada satu dua yang sempat mendekat, ngajak ngobrol. Meski Aira tetap santai, sopan, dan tidak memberi celah. Tetap saja itu cukup buat Dipta nggak suka. Dipta berdiri dari tempatnya. “Gue kesana bentar.” “Lah mau ke mana?” tanya Bayu. “Ambil istri gue.” Jawabnya datar. Mereka bertiga langsung saling lirik. Raka nyengir. “Wah… mulai posesif.” David ketawa kecil. “Baru juga satu jam dilepas.” Angger cuma senyum tipis. “Pergi sana sebelum makin banyak yang ngantri.” Di sisi Aira, dia masih bersama Nadhira dan Lestari. O

  • DIPTA   BAB 165 Permainan

    Di sisi Aira, dia masih di tempatnya. Tidak bergerak, tidak mendekat dan tidak ikut campur seolah tidak peduli. Padahal matanya tidak pernah lepas dari arah Dipta. Nadhira melirik heran. “Serius lo nggak mau ke sana?” Lestari ikut nimbrung, “Itu udah jelas nyindir lo, loh.” Aira cuma menarik napas kecil. Bahunya naik turun santai. “Udah biasa.” Jawaban datar seolah itu bukan hal baru. Memang bukan han baru, Rania dengan sindiran halusnya itu bukan pertama kali. Aira sudah terlalu sering dengar, dari yang halus sampai yang terang-terangan. Jadi sekarang? Dia tidak reaktif lagi. Lebih memilih menonton dari jauh. Nadhira menyipit. “Lo tenang banget…” Aira sedikit tersenyum. “Biar dia yang selesain.” Sambil dagunya sedikit menunjuk ke arah Dipta. Nada suaranya santai tapi jelas itu bukan “pasrah”. Itu percaya, tapi tetap ngawasin. Lestari malah ketawa kecil. “Kalau dia salah?” Aira menoleh sekilas senyumnya tipis. “Baru gue turun.” Jawaban ringan. Namun entah kenapa bik

  • DIPTA   BAB 164 Lebih Berbahaya

    Priska akhirnya mundur pelan setelah jawaban Dipta yang halus tapi jelas menutup celah. “Iya… nanti aku hubungi lewat kantor aja.” ucapnya, masih berusaha menjaga senyum. Dipta hanya mengangguk. “Iya." ucapnya singkat. Setelah itu Priska pamit, meski sebelum pergi sempat melirik lagi ke arah Dipta, jelas masih ada rasa penasaran. Begitu Priska benar-benar menjauh, teman-temannya barulah bereaksi. “Wihhhhh…” Bayu langsung bersuara pelan tapi panjang. “Selamat ya… lo lulus ujian.” Raka langsung ketawa kecil. “Nyaris lo tadi.” David nyengir. “Kalau tadi lo kasih nomor… selesai hidup lo.” Angger menambahkan santai, “Bukan selesai… tapi masuk babak baru.” Dipta mendengus pelan. “Udah pernah.” jelasnya langsung. Empat orang itu serempak nengok. “Hah?” Bayu. Dipta menghela napas pendek. “Kasus Sania.” Sunyi setengah detik. “OH IYAAAA! Kenapa dengan Sania?Dia nemuin lo lagim” Bayu langsung ingat. Raka ketawa. “Lo balikan?” David geleng-geleng. Dipta cuma menatap datar. “Wa

  • DIPTA   BAB 163 Diawasi

    Bayu yang dari tadi mulai santai, tiba-tiba nyeletuk lagi. “Eh bentar…” Dia menatap Dipta curiga. “Kalau lo nikahnya dari abis lulus…” Raka langsung nangkep arah pikirannya. “…berarti anak lo sekarang udah gede dong?” Semua langsung fokus lagi. Dipta menjawab tanpa ragu. “Iya.” “Umur berapa?” tanya David cepat. “Hampir enam tahun.” “ANJIRRRR?!” Bayu refleks hampir teriak lagi. “WOY!” Raka langsung nyikut dia. Bayu nutup mulut sendiri, tapi matanya masih melotot. “Enam tahun?!” David sampai ketawa nggak percaya. “Gue kira masih balita banget…” Angger geleng pelan sambil senyum tipis. “Berarti dari awal banget ya…” Raka menatap Dipta lebih dalam sekarang. “Ta…” Nada suaranya berubah sedikit. “Berarti… waktu itu Aira hamil?” Dipta tidak menghindar. “Iya.” Bayu kali ini nggak bercanda. “Oh… pantesan.” David menghela napas. “Makanya bokapnya datang minta tanggung jawab.” Dipta mengangguk. Raka menunduk sebentar. “Dan dia… jalanin semua itu sendirian…” Nada suaranya lebih p

  • DIPTA   BAB 162 Aira dalam Cerita Dipta

    Obrolan mereka yang tadinya penuh reaksi kaget perlahan berubah jadi lebih sunyi, nada bercanda mulai hilang. Raka yang dari tadi paling banyak komentar, sekarang malah diam. Tangannya masuk ke saku, matanya sesekali melirik ke arah Aira. “Ta…” suaranya lebih rendah sekarang, “Apa separah itu ya?” Dipta tidak langsung menjawab. Beberapa detik ia hanya berdiri, rahangnya sedikit mengeras seolah menahan sesuatu yang sebenarnya tidak biasa ia keluarkan. “Lebih dari yang kalian bayangin." Bayu yang biasanya paling ceplas-ceplos, kali ini tidak langsung menyahut. Ia cuma menghela napas pelan. “Dia… nanggung sendiri semua itu?” “Iya.” Tidak ada pembelaan dan tidak ada pembenaran, hanya jawaban jujur. David menunduk sedikit, mengusap wajahnya. “Anjir…” Angger yang sejak tadi lebih tenang, kini ikut bicara. “Lo nggak ada sama sekali waktu itu?” Pertanyaan itu sensitif. Tapi Dipta tetap menjawab. “Nggak bisa.” “Kenapa?” refleks Bayu, lalu langsung menyesal setelah sadar. Dipta menat

  • DIPTA   BAB 161 SMA Gaurda

    Saat mobil berhenti di halaman SMA Garuda, suasana sudah cukup ramai. Lampu-lampu aula menyala terang, suara musik dan obrolan terdengar sampai ke luar. Beberapa mobil terparkir rapi, menunjukkan kalau acara ini memang dihadiri banyak orang dari berbagai angkatan. Dipta turun lebih dulu, lalu memutar ke sisi lain membuka pintu untuk Aira. Aira keluar dengan tenang, merapikan sedikit dress-nya. Tatapannya sempat mengarah ke gedung sekolah itu, ada jeda sepersekian detik. Tempat ini, tempat yang seharusnya jadi kenangan biasa, tapi justru menyimpan sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai. “Siap?” tanya Dipta pelan. Aira melirik, lalu mengangguk singkat. “Siap.” Mereka berjalan berdampingan menuju aula. Langkah Dipta tetap tenang, seperti biasa tegap, dingin, penuh kontrol. Sementara Aira di sampingnya terlihat anggun, tapi ada ketegangan halus yang hanya bisa terasa kalau diperhatikan lebih dalam. Begitu masuk ke dalam aula, suasana langsung terasa lebih hidup. Orang-orang be

  • DIPTA   BAB 7 Perhatian

    Pagi itu, udara di SMA terasa hangat, tapi tidak menusuk. Cahaya matahari menembus jendela kelas XI IPA 2, menyorot buku catatan Aira yang rapi. Ia duduk di bangku dekat jendela, mencoba fokus pada pelajaran Biologi. Tapi pikirannya sering melayang ke seseorang yang ia lihat beberapa kali dalam beb

  • DIPTA   BAB 6 Chemistry dan Konflik kecil

    Hari itu, Dipta duduk di kelas XII IPS 1 sambil membaca catatan ekonomi. Tapi matanya tidak sepenuhnya fokus pada buku, tatapannya sesekali tertuju ke kelas XI IPA 2, tepatnya ke Aira yang sedang menulis catatan di meja dekat jendela.“Hmm… berbeda dari yang lain", pikirnya dalam hati.Bukan karena

  • DIPTA   BAB 5 Persaingan dan Strategi

    Pagi menjelang siang, lapangan sekolah lebih sepi dari biasanya. Angin tipis membuat dedaunan bergetar, dan cahaya matahari yang mulai miring menembus sela-sela pepohonan. Aira duduk di bawah pohon besar, buku biologi di pangkuan, mencoba memahami diagram sel yang rumit. Tiba-tiba, suara ringan

  • DIPTA   BAB 4 Persaingan Dipta dan Teman-Teman

    Suasana kelas XI IPA 2 pagi itu lebih tegang dari biasanya. Kertas ulangan biologi sudah dibagikan, masih tertutup di atas meja masing-masing siswa. Suara kipas angin berputar terasa lebih keras karena hampir semua orang diam. Aira duduk tegak. Tangannya berada di atas meja, jari-jarinya saling b

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status