Wira Perkasa merapikan posisi duduknya, menyatukan kedua telapak tangannya di atas pangkuan seraya menghembuskan napas panjang. Sorot matanya menerawang jauh, seolah menembus dinding-dinding bambu gubuk untuk kembali ke masa lalu yang penuh pertumpahan darah. "Semuanya bermula sekitar lima belas tahun yang lalu, Tuan Jaka," Wira mengawali ceritanya dengan suara berat dan parau. "Kala itu, Negeri Tirtawana masih menjadi tempat yang damai. Sagara Wisesa adalah penguasa yang adil, dan Nyai Sekarsari adalah cermin kedamaian bagi seluruh rakyat. Kala itu langit Tirtawana masih cerah, hangat, dan tentram. Namun, semua berubah saat Sagara Wisesa menemukan sebuah celah yang menghubungkan alam ini dengan dasar Samudra Barat di alam manusia." Jaka menyimak dengan seksama, tidak memotong sepatah kata pun. "Di dasar samudra itulah, Sagara Wisesa bertapa, hampir lima tahun lamanya, hingga negeri ini sempat kehilangan rajanya dan digantikan oleh Nyai Sekarsari. Kala itu, tidak ada yang curiga, N
Read more