Di kediaman Arya Wisesa. Kandita, Jaka, Beno, dan Arum duduk berembuk, menatap lelaki paruh baya dengan gurat wajah teduh tersebut.“Kandita, mereka ini siapa?” tanya Arya sambil melirik sekilas ke arah Jaka yang duduk tepat di hadapannya.“Mereka manusia permukaan, Paman.”“Hah?!” Arya Wisesa mengernyit, dia menatap Jaka dan yang lainnya satu persatu dengan seksama. “Pantas saja, bau kalian bertiga sangat berbeda.”“Eh, bau?!” Beno langsung mencium badannya sendiri, bahkan sampai mencium area ketiaknya. “Enggak kok, enggak bau,” timpal Beno membela diri.Kanida menoleh. “Bukan bau itu yang Paman Arya maksud, Beno.”Jaka ikut menoleh, merasa penasaran perihal bau yang berbeda tersebut.“Aroma tubuh manusia permukaan dan bangsa kami di sini sangat berbeda,” timpal Arya lagi. “Itu salah satu pembeda. Makanya jangan terlalu berkeliaran di luar. Jika kalian ketahuan kian akan di eksekusi mati karena di anggap lancang menerobos masuk dimensi ini tanpa izin.”Glek!Beno menelan ludah menden
Read more