Jaka berdiri mematung, pintu anyaman daun pandan sudah tertutup rapat. Dia menatap sekeliling, Beno terbaring di atas ranjang yang bersebelahan dengan ranjang Bu lilis. Mereka berdua tampak tenang meski belum sadarkan diri. Kilauan cairan yang tadi di balut Kandita memenuhi tubuh telanjang mereka berdua.Lalu perhatian Jaka jatuh sepenuhnya pada Arum, istrinya itu masih terbaring lemas di atas dipan. Jaka mendekat, fisiknya sendiri masih lemah, dadanya masih terasa nyeri.Jaka berdiri di sisi dipan, menatap Arum penuh kasih sayang. Sebagai seorang istri, Arum memang tidak di takdirkan untuk mengandung anak Jaka. Tetapi gadis itu berperan jauh lebih penting dari seorang ibu, dia adalah penggerak, penyembuh, sekaligus obat paling mujarab bagi Jaka itu sendiri.Jaka kembali melirik ke arah pintu, memastikan situasi aman. Dia juga memastikan Bu Lilis dan Beno masih terlelap. Setelah memastikan situasi aman terkendali, Jaka mulai bergerak. Jemarinya mulai membelai lembut pipi gadis itu, ia
Read more