Saat menerima surat panggilan pengadilan, Rangga kembali datang mencariku untuk meminta bantuan.Hujan turun deras. Dia berdiri di bawah hujan, berteriak dan menangis sampai suaranya pecah. Dia terus meminta maaf, memohon agar aku memberinya satu kesempatan lagi dan bersumpah tidak akan pernah mengulangi kesalahan seperti ini.Aku menutup tirai dan memakai penutup telinga, lalu berbaring di atas kasur empuk.Aku tidak merasa iba sedikit pun. Dia hanya kehujanan satu malam. Sedangkan lima tahun pernikahanku ini adalah musim hujan yang panjang tanpa henti.Kupikir jika aku tidak keluar, dia akan malu sendiri dan pergi. Namun sampai fajar menyingsing keesokan harinya, Rangga masih berdiri di luar pagar.Rambutnya yang basah menempel di pipi. Wajahnya pucat pasi.Aku belum pernah melihatnya seterpuruk itu. Aku sebenarnya tidak ingin menemuinya, tapi aku tetap harus berangkat kerja. Seperti yang kuduga, begitu aku melangkah keluar, Rangga langsung berjalan cepat ke hadapanku. Matanya menata
Read more