MasukKetika suamiku yang seorang direktur utama tahu bahwa aku dengan suka rela menyerahkan proyek bernilai puluhan miliar kepada asisten yang paling dia sayangi, dia mengira perang dingin selama tiga bulan terhadapku akhirnya membuahkan hasil. Dia pun berinisiatif mengajakku pergi bulan madu ke Islandia. Namun setelah asisten itu mengetahuinya, dia langsung diliputi rasa cemburu dan bersikeras ingin mengundurkan diri dari perusahaan. Suamiku yang selama ini selalu memanjakannya, langsung merasa panik. Setelah menenangkannya selama tiga hari tiga malam, dia kembali membatalkan bulan madu dengan alasan dinas luar kota, lalu memberikan sebuah tiket bulan madu lainnya kepada asisten itu. Setelah itu, dia menjelaskan kepadaku dengan sikap acuh tak acuh. "Masalah cinta itu hal kecil, pekerjaan tetap yang paling penting. Sebagai bos, aku harus menempatkan pekerjaan di posisi pertama. Kamu istriku, kamu pasti akan mendukung aku, 'kan?" Aku menatap unggahan terbaru asisten itu di media sosial, serta foto mereka berdua yang saling menempelkan kepala dan membentuk tanda hati seperti sepasang kekasih. Aku tidak berkata apa-apa, hanya mengangguk pelan. Dia mengira aku sudah berubah menjadi lebih lapang dada dan pengertian. Dia tampak sangat puas, bahkan mengatakan bahwa dia akan menggantinya dengan bulan madu yang lebih romantis untukku setelah kembali ke dalam negeri. Namun, dia tidak tahu. Aku sudah mengajukan pengunduran diri dan dia juga sudah menandatangani surat perjanjian perceraian. Aku dan dia ... tidak akan pernah punya masa depan lagi.
Lihat lebih banyak「……嘘…でしょう…?」
目の前の現実が受け入れられない。
山内香織(やまうちかおり)の顔色は青ざめ、その手は細かく震えていた。
*
「おめでとうございます。妊娠9週です。しかも、双子ですよ」
診察を終えて医師の前に座った途端、そんな風に言われた。
双子…。本当ならすごく嬉しい。
香織は子供が好きだ。自分の子供ができたら絶対に甘やかして、ちょっと我儘で、でも可愛らしい、誰からも愛される子に育てる。ずっとそう思っていた。
でも…。
香織の胸は痛みに張り裂けそうだった。
恋愛感情は持たない。妊娠をしてはならない。
それは、彼との約束だった。
香織は唇を噛み締め、俯いていた。
そんな彼女を見た医師は、彼女がこの妊娠を望んでいないと誤解した。
「お相手の方とよく話し合われてみてください。こんなおめでたいことはないのですから」
「…はい」
そう答えるしかなかった。
どうしよう…。どうしたらいいの…?
診察室を出て、待合室で料金の精算を待っている間、香織の頭の中は迷いが渦巻いていた。
彼女は、直属の上司であり、秘密の契約恋人でもある都月渉(とつきわたる)の子を身ごもってしまった。
しかし〝妊娠してはならない〟というのは、彼と交わした絶対の約束だった。
あと1週間で終える契約を、こんなことで破棄する訳にはいかない。自分にはまだお金が必要なのだから。でも…。この子たちを諦めたくないっ…。
どうして…なんでよりによって、このタイミングで…。
*
香織は、都月渉の秘書だった。
3年前のあの夜、彼は宴会で薬を盛られ、彼女はホテルへ呼び出された。
300万円ー。
一夜限りの対価だった。
彼女にはお金が必要だった。
祖母の療養費が重くのしかかり、他に選択肢はなかった。
翌日、渉は彼女にある提案をした。
「月給500万円で、恋人契約を結ばないか?」
同居、日常の世話、夜の相手。契約期間は3年。
条件は、冷徹に明記されていた。
〝恋愛感情は抱かないこと〟〝妊娠しないこと〟
違反した場合、契約は即時解除。
「お受けします」
彼女は迷うことなく署名した。
恋愛は必要ない。ただ、お金だけが必要だった。
でも香織は気づかなかった。
3年間、彼は優しく、丁寧で、何よりも彼女を大切に扱った。
彼女は徐々に、まるで粉雪が降り積もるように、渉を愛してしまっていた。
香織は期待した。
もしかしたらこの妊娠をきっかけに、自分たちは本物になれるかもしれない…。
「…そうだわ」
もしかしたら、彼は受け入れてくれるかもしれない。
やがて彼女は一つの決意を胸に顔を上げ、静かに病院を後にしたのだった。
*
その日の夜。
香織がまんじりともせずに渉の帰りを待っていると、微かに酔った彼が玄関の扉を開けた。
「お帰りなさい」
「……ああ」
酔いで若干トロンとした目を向けてくる彼に、香織は苦笑してひとまずシャワー室に押し込んだ。
その間彼女は妊娠のことをどう切り出そうかと胸を高鳴らせて悩み、一人唇を笑みの形にしていた。
そしてー。
渉がシャワーを終えて寝室に戻って来ると、仄かに香るボディーソープの香りが彼女の鼻を刺激した。
気持ち悪くはならない。けれど、胸の高鳴りが異常で、お腹の子らに影響しそうだ。
そう思って、香織は顔を上げた。
渉のプロポーションは完璧だった。
引き締まった上半身に見事なシックスパック。滑らかな肌を滑る水滴が、あらぬ妄想を掻き立てる。
香織は顔を赤くして、目を逸らした。
「どうした?」
笑いを含んだ渉の言葉と、緩く背中に回された腕に閉じ込められて、香織の耳までが赤く色づいていた。
チュ…
耳に落とされた軽いキスに、胸がときめく。
「いいか…?」
掠れた声が、彼の情欲を示していた。
香織はその瞬間、ハッとして身じろいだ。
「ごめんなさい…今日は…」
「ん…?」
その間も、彼女の耳や首筋に彼の唇が触れている。
香織は思い切って渉の腕を何度か叩き、その行為を止めさせる。
「今日は…気分じゃないの…」
「……」
そう言うと、渉は仕方なさそうに息を吐き、身支度を整える為にクローゼットに向かった。
香織は、ふと思いついたように口を開いた。
「…営業部の田中さん、妊娠したらしいですよ。産休を取るって、社内でも噂になっててー」
できるだけ世間話のように聞こえるよう、さり気なく言った。
だが渉の反応は淡々としていて、「そうか」と一言返しただけだった。
香織は唇を噛み、もう一言だけ付け加えた。
「ご主人がすごく喜んでるみたいで…。ご夫婦でずっと望んでいたらしくてー」
「香織」
渉は、冷たく彼女の言葉を遮った。
「…はい」
「避妊薬、きちんと飲んでいるよな?」
「……」
その瞬間、香織は見えない手に心臓を掴まれたような気がした。……理解してしまった。
彼女は視線を落とし、無理やり口元に笑みを浮かべた。
「ええ…もちろん、飲んでます」
「それならいい」
背を向けたまま話す彼の姿を見つめながら、香織の胸に灯っていた微かな灯火は、音もなく消えていった。
渉は、彼女の落胆に気づかないまま、あるいは気づいていても気に留めることなく、話し続けた。
「明日、パーティーがあるから参加して」
「…うん」
香織は彼の機嫌を損ねただろうかと窺ってみたが、特にそういう感じでもなかった。
彼女は彼の第一秘書として、パーティーなどにはいつもついて参加する。だから今回もそのつもりだった。
だが続けて言った彼の言葉に、思わず目を見開いた。
「両親も来るから、そのつもりで」
「え……」
「なんだ?」
「あ、…ううん…なんでもない」
3年…。この3年間、彼女は彼と共に数えきれないほどの場に同席してきた。
外部のレセプション、ビジネスの接待、取引先との会合…。
だが、彼の両親が出席する家族の集まりにだけは、一度も同行を許されたことがなかった。
これが、初めてだった…。
もしかして…。もしかして、私を…?
彼女は、渉が自分を恋人として両親に紹介するつもりだろうか…?と思い、興奮した。
そう考えて、香織はベッドに入ってからもなかなか寝付けなかった。
Namun, di belakangku terdengar tangisan keras yang memilukan. Dalam tangisan itu ada penyesalan dan keputusasaan. Akan tetapi aku tahu, itu bukan karena dia benar-benar menyesal. Dia hanya tidak menyangka akan menerima konsekuensi seperti ini.Sekalipun waktu diputar ulang, dia tetap akan memilih jalan yang sama.Sesuai dugaan, gugatan Rangga akhirnya kalah. Pihak lawan menuntut ganti rugi tiga kali lipat dari uang muka, totalnya hampir miliaran.Dana perusahaan tidak mencukupi. Rangga mengeluarkan seluruh tabungannya dan menjual semua barang berharga, tetapi masih kurang ratusan juta. Terpaksa dia memutuskan menjual rumah kecil yang dulu diam-diam dibelinya.Namun saat hendak menjualnya, dia baru sadar bahwa nama di sertifikat sudah berganti.Tertulis atas nama Wina Putri.Saat kabar itu diketahui, tidak ada yang benar-benar terkejut. Dulu Rangga begitu memercayainya. Mengurus balik nama rumah tentu bukan hal sulit."Kak Rangga, dulu kamu sendiri yang bilang rumah ini mau kamu berikan
Saat menerima surat panggilan pengadilan, Rangga kembali datang mencariku untuk meminta bantuan.Hujan turun deras. Dia berdiri di bawah hujan, berteriak dan menangis sampai suaranya pecah. Dia terus meminta maaf, memohon agar aku memberinya satu kesempatan lagi dan bersumpah tidak akan pernah mengulangi kesalahan seperti ini.Aku menutup tirai dan memakai penutup telinga, lalu berbaring di atas kasur empuk.Aku tidak merasa iba sedikit pun. Dia hanya kehujanan satu malam. Sedangkan lima tahun pernikahanku ini adalah musim hujan yang panjang tanpa henti.Kupikir jika aku tidak keluar, dia akan malu sendiri dan pergi. Namun sampai fajar menyingsing keesokan harinya, Rangga masih berdiri di luar pagar.Rambutnya yang basah menempel di pipi. Wajahnya pucat pasi.Aku belum pernah melihatnya seterpuruk itu. Aku sebenarnya tidak ingin menemuinya, tapi aku tetap harus berangkat kerja. Seperti yang kuduga, begitu aku melangkah keluar, Rangga langsung berjalan cepat ke hadapanku. Matanya menata
Akhirnya Rangga menemukan catatan pengunduran diriku. Saat melihat namaku tertera sebagai pemohon, matanya membelalak dan dia mundur dua langkah dengan terhuyung. Dia mengumpat pelan."Siapa yang menyetujui pengunduran dirimu? Mereka nggak tahu hubunganmu denganku?"Rangga langsung menelepon perusahaan seperti orang kehilangan kendali.Telepon tersambung. Tanpa memberi kesempatan lawan bicara berbicara, dia langsung memaki, "Soal pengunduran diri Nabila, kamu pernah konfirmasi ke aku? Siapa yang suruh kamu ambil keputusan sendiri?""Tapi, Pak Rangga, sebelumnya Anda sendiri yang bilang ....""Aku bilang apa? Aku pernah bilang suruh kamu pecat dia? Dia istriku, kamu nggak tahu? Kamu kerja pakai otak nggak? Sudah nggak tahu siapa atasanmu, ya!""Keluar dari perusahaan sekarang juga. Jangan sampai aku melihatmu lagi!"Rangga memarahi orang itu habis-habisan, lalu berbalik menatapku dengan ekspresi seolah ingin menyanjung, "Nabila, aku benar-benar nggak menyangka dia berani memperlakukanmu
Sepertinya dia juga teringat.Dulu setelah Rangga merebut proposal itu dariku dan menyerahkannya pada Wina, aku selalu merasa tidak tenang. Setiap kali aku diam-diam memperbaiki kesalahan yang penuh celah sampai proposal benar-benar selesai.Namun, setiap kali pula Rangga tersenyum dan menyalahkanku karena ikut campur, serta berkata Wina bisa menyelesaikannya sendiri. Ketika muncul masalah, dia tetap melempar kesalahan kepadaku, menyalahkanku karena tidak memeriksa dengan teliti, bahkan kesalahan yang begitu jelas pun katanya tidak kulihat.Jadi kali ini, aku bahkan tidak meliriknya. Dia bilang Wina bisa menyelesaikan sendiri, maka aku beri dia kesempatan itu untuk berprestasi."Nggak," jawabku sambil menggeleng.Alis Rangga langsung berkerut.Melihat dia hampir marah, aku berkata dengan tenang, "Itu pekerjaan Wina, bukan tanggung jawabku. Aku memang nggak punya hak dan nggak punya kewajiban untuk ikut campur.""Tapi kamu istriku.""Lalu kenapa?"Aku tertawa sinis. "Karena aku istrimu,
Rangga mendengus ringan. "Nabila, pikiranmu nggak fokus sama kerjaan tiap hari, tapi untuk urusan seperti ini kamu malah rajin sekali cari tahu.""Tapi, jangan kira dengan begitu aku akan memaafkan kamu.""Kamu ngambek sampai memblokir kartu, membuatku dipermalukan di depan mitra kerja. Pada akhirny
Namun dia sepertinya lupa, perasaan seseorang itu ibarat uang di celengan. Kalau hanya diambil tanpa pernah diisi, lama-lama pasti akan habis.Karena aku memasang harga rumah cukup rendah, kurang dari satu minggu rumah itu sudah terjual.Aku pergi ke kantor agen properti, menandatangani kontrak, men
"Kuberi kamu waktu 10 menit. Kalau nggak, aku benar-benar akan marah."Seolah takut aku tidak menurut, Rangga kembali menambahkan ancaman itu sebelum menutup telepon.Dulu setiap kali Rangga bilang dia marah, aku pasti langsung menurutinya. Namun, sepertinya dia tidak pernah tahu bahwa aku bukan tak
Kalau kupikir-pikir sekarang, daripada membuang waktu untuk hal seperti itu, lebih baik aku bekerja lebih keras dan memikirkan cara menghasilkan uang. Bagaimanapun juga, hati manusia mudah berubah, tetapi uang tidak akan pernah mengkhianati diri sendiri.Memikirkan hal itu, aku langsung meninggalkan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan