Hari ketiga di vila itu terasa seperti dimensi waktu yang berbeda bagi Siska. Dunia luar, kemarahan Rendy, bahkan norma-norma yang selama ini ia pegang teguh seolah memudar, tertutup oleh kabut gairah dan ketergantungan fisik yang dirancang Arga dengan sangat rapi.Pagi itu, kabut pegunungan masih menyelimuti jendela kaca besar kamar mereka. Siska terbangun lebih dulu. Ia merasakan denyutan yang sangat familiar di dadanya, panas, kencang, dan menuntut.Namun, alih-alih merasa takut atau terhina seperti hari pertama, ada sesuatu yang bergeser di dalam benaknya. Ia menoleh ke samping, menatap wajah Arga yang masih terlelap. Pria itu tampak tenang, jauh dari sosok iblis yang menyeretnya dari klub malam, namun Siska tahu betapa liarnya pria ini saat "menjamunya".Siska bangkit dari tempat tidur. Tanpa sehelai benang pun, ia berjalan menuju balkon kamar yang tertutup kaca, membiarkan cahaya pagi yang pucat menyinari lekuk tubuhnya yang polos. Ia bisa merasakan setiap langkahnya memicu
Read more