LOGINSiska harus terjebak oleh Musuh dari Kakaknya dan gilanya, pria dengan nama Arga itu mengetahui semua kekurangan Siska membuat Siska benar-benar menyerah dibawah kendali Arga. Mampukah Siska terlepas dari jerat Arga yang mematikan atau ia tenggelam dalam permainan musuh Kakaknya itu?
View More***
Lampu di ruang kerja Arga meremang, hanya menyisakan sorot lampu meja yang tajam. Siska berdiri di tengah ruangan, tangannya gemetar hebat. Ia merasa seperti domba yang masuk ke sarang serigala. Arga, pria yang selama bertahun-tahun mencoba menghancurkan bisnis kakaknya, kini duduk di hadapannya dengan senyum tipis yang mematikan. "Duduklah, Siska. Kau tampak tegang." ujar Arga. Suaranya berat dan berwibawa. "Aku tidak kesini untuk berbasa-basi, Arga. Lepaskan dokumen penyitaan itu. Kakakku dijebak, dan kau tahu itu." Siska mencoba menguatkan suaranya, meski keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Arga berdiri, berjalan pelan mengitari meja kerjanya. "Aku tahu Rendy bersih. Tapi di dunia ini, kebenaran adalah milik siapa yang memegang kendali. Dan saat ini, aku yang memegangnya." Kekeh Arga. Arga berhenti tepat di belakang Siska. Ia membungkuk, menghirup aroma tubuh Siska yang unik, aroma manis yang samar, seperti susu bayi yang hangat. Siska tersentak, mencoba menjauh, namun tangan Arga dengan cepat mencengkram pinggangnya. "Ada aroma yang aneh darimu, Siska. Manis dan sangat menggoda." bisik Arga di dekat tengkuknya. "Lepaskan aku!" Ucap Siska. "Aku sudah menyelidikimu, Siska. Rahasiamu, kelainan medis yang kau sembunyikan dari dunia... Galaktorea, bukan? Kau masih perawan, tapi tubuhmu bertingkah seolah kau baru saja melahirkan." Ucap Arga. Wajah Siska memucat pasi. Rahasia yang ia jaga mati-matian, yang membuatnya merasa seperti orang aneh, kini diketahui oleh musuh terburuk keluarganya. "Bagaimana... bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Siska. Arga tertawa rendah. "Aku punya mata di mana-mana. Dan aku melihat noda basah di blusmu sekarang. Kau kesakitan, bukan? Dadamu terasa penuh dan berdenyut karena kau belum sempat 'mengeluarkannya' sejak tadi pagi." Kekeh Arga. Arga memutar kursi Siska hingga mereka berhadapan. Ia berlutut di depan wanita itu, menatap langsung ke arah dada Siska yang membusung kencang di balik kemeja ketatnya. "Kau punya dua pilihan." kata Arga, jemarinya mulai menyentuh kancing teratas kemeja Siska. "Biarkan kakakmu hancur dan masuk penjara, atau biarkan aku menjadi 'bayi' yang akan meredakan rasa sakitmu malam ini. Aku ingin mencicipi cairan suci dari tubuh perawan yang langka ini." Ucap Arga dengan perkataan tanpa disaring. Siska menggigit bibir bawahnya, air mata mulai menggenang. Rasa sesak di dadanya memang sudah tidak tertahankan, sensasi panas dan berat yang menuntut untuk dilepaskan. "Kau... kau sangat rendah, Arga." "Mungkin. Tapi aku adalah satu-satunya orang yang bisa memberikanmu kepuasan sekaligus keselamatan bagi kakakmu." Balas Arga. Tangan Arga dengan cekatan membuka satu per satu kancing kemeja Siska. Saat kain itu terbuka, terlihatlah bra renda hitam yang tampak tak kuasa menahan beban di dalamnya. Benar saja, ada dua lingkaran basah kecil yang mulai merembes di cup bra tersebut. "Lihat ini..." Arga bergumam, matanya berkilat penuh nafsu. "Begitu melimpah." "Arga, cukup..." desis Siska, namun tubuhnya justru melengkung ke depan saat jemari Arga yang kasar mulai memijat lembut area yang terasa keras dan panas itu. "Sstt... diamlah. Biarkan aku membantumu." Arga mendekatkan wajahnya. Ia bisa mencium aroma itu lebih tajam sekarang. Dengan gerakan yang sangat lambat untuk menyiksa Siska, ia menarik turun cup bra tersebut hingga aset paling pribadi Siska menyembul keluar, tampak penuh, putih, dan urat-urat halus terlihat jelas di permukaan kulitnya yang sensitif. Siska mendongak, memejamkan mata saat ia merasakan lidah hangat Arga mulai menyentuh bagian puncaknya yang sudah menegang. Sensasi itu seperti aliran listrik yang menyambar seluruh sarafnya. "Ahhh... Arga..." Siska meremas rambut Arga, tak lagi mencoba melawan. Arga mulai mengisap dengan ritme yang kuat dan dalam. Siska merasakan tekanan hebat di dadanya perlahan mulai berkurang, digantikan oleh gelombang kenikmatan yang sangat asing namun sangat ia butuhkan. Cairan putih hangat itu mengalir keluar, diterima dengan rakus oleh mulut pria yang seharusnya ia benci. "Manis sekali." Arga berhenti sejenak, menatap Siska dengan tatapan yang penuh kemenangan sementara sudut bibirnya masih menyisakan jejak putih. "Kau akan menjadi penyedia tetapku mulai sekarang, Siska. Setiap kali kau merasa penuh, kau harus datang kepadaku. Itu syaratnya." Siska hanya bisa terengah-engah, tubuhnya lemas dalam dekapan musuh kakaknya, menyadari bahwa ia baru saja menyerahkan dirinya ke dalam perhambaan yang paling intim. ** Waktu berlalu… Napas Siska memburu, memutus keheningan ruangan yang hanya diisi oleh suara detak jam dinding dan isapan rakus Arga. Rasa sakit yang tadinya menghimpit dadanya kini berganti menjadi sengatan listrik yang menjalar hingga ke ujung jari kakinya. Ia seharusnya membenci pria ini, namun tubuhnya justru bereaksi seolah ia telah menemukan penawar dari kutukan yang selama ini ia sembunyikan. Arga melepaskan hisapannya sejenak, menatap lekat ke arah Siska. Sudut bibirnya yang basah oleh cairan putih itu terangkat, membentuk seringai kemenangan yang meruntuhkan sisa-sisa harga diri Siska. "Lihat dirimu, Siska." bisik Arga, suaranya kini serak oleh gairah yang tertahan. "Tubuhmu merespons musuh kakakmu dengan begitu liar. Kau tidak butuh dokter, kau hanya butuh aku." Lanjutnya. Arga tidak berhenti di situ. Ia menarik Siska agar berdiri, lalu dengan satu gerakan sentakan, ia mendudukkan wanita itu di atas meja kerjanya yang luas, di atas tumpukan dokumen penting yang seharusnya menyelamatkan kakaknya. Kaki Siska yang jenjang kini menggantung di pinggiran meja, terbuka lebar karena posisi duduknya. "Arga, apa yang kau lakukan... dokumen itu—" "Persetan dengan dokumen itu " potong Arga. Ia menyusupkan tangannya ke balik rok Siska, merasakan kulit paha bagian dalam yang halus dan panas. "Aku ingin tahu, apakah bagian bawahmu sesiap bagian atasmu?" Ucap Arga. Siska mengerang pendek saat jemari Arga yang kasar menyentuh pusat sensitivitasnya yang terhalang kain tipis. "Ah! Jangan... kumohon..." "Kau memohon agar aku berhenti, atau memohon agar aku melanjutkannya?" Arga menekan lebih kuat, merasakan kelembapan yang mulai merembes di sana. "Kau sangat basah, Siska. Padahal kau bilang kau masih perawan. Ternyata rahasiamu bukan hanya soal ASI ini, tapi betapa haus tubuhmu akan sentuhan pria." Lagi-lagi Arga terkekeh. Siska mencengkeram kemeja Arga, menarik pria itu mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Kau... kau licik, Arga. Kau memanfaatkan kelemahanku." Ucap Siska terbata. "Aku tidak memanfaatkan, Sayang. Aku memuaskan." jawab Arga sebelum kembali membenamkan wajahnya di dada Siska yang kembali menegang. Kali ini, ia tidak hanya menghisap, tapi juga menggigit kecil di area sensitif itu, memicu desahan panjang yang memenuhi ruangan. "Arga! Hhh... pelan-pelan..." "Katakan namaku dengan benar, Siska. Katakan siapa yang memilikimu malam ini." perintah Arga sembari terus memacu rangsangannya. "Arga... Kau... Kau yang memilikiku." bisik Siska dengan suara parau, menyerah sepenuhnya pada sensasi yang memabukkan itu. Arga menarik diri sejenak, lalu dengan gerakan cepat ia membuka ikat pinggangnya. Suara logam yang berdenting di keheningan malam itu membuat jantung Siska berdegup dua kali lebih cepat. "Kau ingin dokumen ini kembali ke tangan Rendy?" Arga mengangkat selembar kertas kontrak di depan wajah Siska yang memerah. "Maka pastikan setiap tetes yang keluar dari tubuhmu malam ini menjadi milikku. Jangan biarkan ada yang terbuang sia-sia." Ucap Arga. Arga kembali menyerang, kali ini dengan gerakan yang lebih dalam. Tangannya meremas pinggang Siska dengan kuat, sementara mulutnya kembali bekerja, menghisap sisa-sisa cairan yang terus mengalir deras seiring dengan meningkatnya gairah Siska. Siska merasa dunianya berputar. Di bawah meja kerja musuh kakaknya, di tengah tumpukan dokumen legal, ia merasakan orgasme pertamanya meledak bukan karena sentuhan seksual biasa, melainkan karena pelepasan tekanan yang begitu hebat dari dadanya yang terus memproduksi ASI. Tubuh Siska bergetar hebat dalam dekapan Arga. Cairan putih itu mengalir lebih banyak, membasahi kemeja Arga dan permukaan meja. Arga tertawa rendah, sebuah tawa yang penuh dengan kepuasan predator. "Kau benar-benar istimewa, Siska. Kakakmu akan sangat terkejut jika tahu betapa manisnya rasa pengkhianatan adiknya ini." gumam Arga sembari mengecup kening Siska yang penuh keringat. Siska tak bisa menjawab apapun karena kelelahan. Bersambung…Lampu neon di ruang interogasi bawah tanah itu berkedip perlahan sebelum akhirnya padam sepenuhnya, menyisakan kegelapan yang pekat. Arga melangkah keluar dari ruangan kedap suara itu sambil mendekap tubuh Siska yang sudah tak berdaya. Di belakang mereka, dua pria pengikut Rendy yang telah pingsan akibat gas penenang dibiarkan tergeletak di dalam sel baja.Arga membawa Siska melewati koridor bawah tanah yang panjang, menuju sebuah area tersembunyi yang belum pernah Siska lihat sebelumnya, docks bawah tanah rahasia, sebuah gua alam yang diubah menjadi dermaga modern berkonektivitas tinggi, tempat beberapa kapal cepat militer dan satu kapal selam taktis bersandar di air laut yang hitam dan tenang.Suara gema air yang beriak menghantam dinding batu gua menciptakan suasana yang dingin dan mencekam. Arga menurunkan Siska di atas kursi kemudi kulit dari kapal pesiar mini yang berlabuh di sudut gua.Siska membuka matanya yang sayu, menarik jas taktis Arga yang masih longgar membungkus tu
Sinar matahari pagi yang menembus celah-celah tirai sutra vila Arga seolah menjadi ironi bagi kondisi Siska yang masih tergeletak lemas di atas ranjang. Tubuhnya terasa mati rasa, namun jiwanya tetap terikat kuat dalam gravitasi pria yang kini duduk di sisi ranjang, menyesap kopi hitam dengan ketenangan yang menakutkan.Arga meletakkan cangkir porselen itu dengan bunyi denting pelan yang justru terdengar seperti guntur bagi telinga Siska yang peka. Ia tidak lagi mengenakan pakaiannya, kini, Arga tampil dengan jubah sutra hitam yang longgar, memberikan kesan penguasa yang baru saja menyelesaikan ritual pembantaiannya."Bangun, Siska," suara Arga memecah kesunyian kamar. "Hari ini kita punya tamu. Atau lebih tepatnya, sisa-sisa pengikut kakakmu yang masih berniat menantang otoritas kita di pulau ini."Siska mencoba menggerakkan tubuhnya, namun rasa nyeri yang menyengat di pangkal paha membuatnya meringis. "Tamu? Arga, kau baru saja meledakkan kapal Rendy. Apa lagi yang kau inginkan?
Badai di luar vila berangsur-angsur mereda, meninggalkan suara sisa rintik hujan yang mengetuk dinding kaca kamar utama dengan ritme yang monoton. Di depan perapian yang kini hanya menyisakan abu hangat dan bara jingga yang redup, Siska berbaring telentang di atas karpet bulu domba. Seluruh tubuhnya terasa seperti dilelehkan, otot-ototnya lemas, dan setiap tarikan napasnya terasa berat, meninggalkan jejak kepuasan yang terlampau pekat di dada dan intinya.Arga berdiri di atasnya, menatap mahakarya penaklukannya dengan sepasang mata yang masih berkilat lapar. Pria itu tidak tampak lelah sedikitpun. Struktur tubuhnya yang kokoh terbalas cahaya temaram fajar yang mulai menyembul dari balik awan badai. Ia meraih sebuah botol kaca gelap dari atas meja kayu, bukan lagi minyak aromaterapi, melainkan sebuah ramuan khusus berminyak dengan aroma mint dan mawar yang pekat, penawar baru yang sengaja dirancang oleh tim medis pribadinya."Bangun, Siska. Permainan kita belum selesai hanya karen
Setelah badai kepuasan yang mengunci takdir mereka di ruang kendali bawah tanah, Arga tidak membiarkan Siska berlama-lama di atas meja besi yang dingin. Dengan kelembutan seorang pemilik yang baru saja mengamankan harta paling berharganya, ia menyelimuti tubuh lemas Siska dengan jas taktisnya yang tebal, lalu menggendongnya kembali ke lantai atas.Namun, kegilaan di pulau pribadi ini tidak pernah benar-benar tidur. Saat mereka melangkah kembali ke dalam kamar utama yang megah, badai tropis di luar pulau tiba-tiba pecah. Angin kencang menghantam dinding-dinding kaca tebal, dan suara petir menggelegar, membelah langit malam yang pekat dan menciptakan kilatan cahaya yang dramatis di dalam ruangan.Arga meletakkan Siska di atas karpet bulu domba yang tebal di depan perapian yang menyala hangat. Cahaya jingga dari api menari-nari di atas kulit Siska yang masih berkeringat, memantul pada kalung platina dan permata safir di lehernya yang berkilau dingin."Arga... dengar suara badai itu,
**Jumat malam di apartemen barunya menjadi sebuah neraka sekaligus surga bagi Siska. Esok pagi ia harus kembali ke rumah Rendy untuk memenuhi janjinya menghabiskan akhir pekan bersama sang kakak. Namun, Arga seolah memiliki rencana lain. Ia tidak ingin Siska pergi dengan perasaan tenang, ia ingin
**Mobil SUV itu masih terparkir di sudut remang-remang basement, mesinnya menderu halus, menciptakan getaran yang seolah menyatu dengan denyut di seluruh tubuh Siska. Di dalam kabin yang kedap suara itu, aroma susu yang manis bercampur dengan aroma maskulin Arga yang tajam, menciptakan atmosfer y
**Sinar matahari pagi yang cerah menembus jendela kaca besar di ruang makan kediaman Adijaya, namun bagi Siska, cahaya itu terasa begitu menyilaukan dan menghakimi. Ia duduk di kursi kayu jati yang dingin, jari-jarinya gemetar saat memegang cangkir teh hangat. Ia mengenakan blus sutra berwarna kr
Arga tidak membiarkan Siska memulihkan napasnya di ruang kerja itu. Dengan gerakan posesif, ia menyampirkan jas mahalnya ke bahu Siska yang polos, lalu membopong tubuh wanita itu keluar menuju sayap pribadi di rumah mewah tersebut. Koridor panjang yang sunyi itu hanya diisi oleh suara langkah sep












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.