Sore itu, udara pesisir terasa lebih sejuk. Bella duduk termenung di kursi rotan teras rumah, matanya menatap kosong ke arah jalan setapak di depan rumah mereka. Alisnya mengerut dalam, mencerminkan isi kepalanya yang sedang bekerja keras memproses sesuatu. Juna melangkah keluar, menyadari kegelisahan istrinya. Ia menghampiri dan duduk di sebelah Bella, lalu dengan lembut merangkul bahunya sembari mengelus perut Bella yang mulai membesar. "Apa yang sedang kau pikirkan, Sayang?" tanya Juna pelan. Bella awalnya hanya diam, menarik napas panjang yang terasa berat. "Kalau ada yang kamu butuhkan, katakan saja padaku atau Ibuku," lanjut Juna, mencoba mencairkan suasana. Bella menghela napas lagi, kali ini lebih panjang. "Sebenarnya, Ibumu ...," Kalimatnya menggantung, Bella tampak ragu untuk melanjutkan kata-katanya. Juna seketika waspada. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, bertanya-tanya dalam benaknya, apakah penyamaran ibunya mulai retak. "Ada apa dengan Ibuku? Apa dia me
Read more