로그인Bagi Bella, Junaidi hanyalah tukang kebun kasar dengan keringat yang membasahi kaus lusuhnya. Namun, setiap kali mata tajam pria itu mengunci tatapannya, Bella merasa dunianya terancam. Junaidi tidak memiliki apa pun selain otot yang keras dan senyum meremehkan yang selalu sukses menyulut emosi—sekaligus gairah yang tak tahu malu. Di balik pagar perkebunan yang sepi, kebencian Bella perlahan meleleh menjadi hasrat yang berbahaya. Ia tidak tahu bahwa pria yang ia rendahkan ini menyimpan identitas yang bisa menghancurkan takhta keluarganya. Saat rahasia mulai terkuak dan sentuhan mulai membakar, Bella harus memilih: melarikan diri atau jatuh sepenuhnya ke pelukan sang pemangsa.
더 보기“Aneh sekali. Biasanya kaum pria tak bersikap menyebalkan seperti itu,” kata Juleha, dengan raut wajah serius. Bella yang sedang mengunyah ubi bakar menoleh pelan. Alisnya mengerut, seolah benar-benar mempertimbangkan ucapan itu. “Memang biasanya mereka bagaimana?” tanyanya hati-hati. “Mereka bersikap manis,” jawab Juleha enteng. “Apalagi kalau sudah … mendapatkan ja–tah.” Uhuk! Uhuk! Bella tersedak. Wajahnya memerah. “Pelan-pelan makan ubinya, Bella.” Juleha cekatan menuangkan air dari teko ke cangkir kecil dan menyodorkannya. Bella meneguknya cepat. Namun alih-alih reda, justru kenangan menjijikan saat Juna menciumnya di kandang kuda, kembali menyergap. Bella menunduk, wajahnya kembali suram. Sejenak mereka terdiam. Duduk di kursi kayu kecil dekat bara api yang membakar ubi. Pondok kecil itu menghadap sawah luas yang mulai menguning oleh cahaya senja. Langit jingga, angin sore berembus lembut. Indah… terlalu indah untuk kegelisahan yang Bella rasakan. “Mas Arul, mau ubi l
Usai sarapan, Bella tak kembali ke kamarnya. Ia justru melangkah keluar rumah dengan tujuan yang sejak tadi berputar di kepalanya—mencari Juna.Ia harus memperingatkannya. Juna tak boleh salah menilai—diamnya Bella bukan berarti menerima, apalagi setelah pria itu merenggut ciuman pertamanya. Apa yang terjadi kemarin sama sekali bukan persetujuan, dan ia berniat menegaskannya dengan jelas.Bella berpikir, bisa saja Juna mengira dirinya tak akan berani membuka mulut pada ayahnya, terlebih lagi karena ia memang tidak langsung meminta Arnold mengusirnya. Dugaan itu membuat dada Bella mengeras oleh kesal—antara marah pada Juna, dan jengkel pada dirinya sendiri karena memberi celah untuk disalahartikan.Namun, keyakinan itu tak cukup kuat untuk mengusir rasa gugupnya.Derap sepatu botnya menyusuri perkebunan apel terasa lebih cepat dari biasanya. Embun pagi masih menggelayut di dedaunan, sementara matahari belum sepenuhnya naik. Di kejauhan, para pekerja sibuk memetik apel matang; tawa dan
Bella berlari menyusuri jalan menuju rumah, hampir tersandung oleh langkahnya sendiri. Begitu sampai, ia langsung masuk ke kamar dan menutup pintu rapat-rapat. Tubuhnya bersandar di sana, dadanya naik turun, napasnya terengah-engah seolah baru saja lolos dari sesuatu yang berbahaya.Tangannya gemetar. Ia memejamkan mata—dan erangan pelan lolos begitu saja dari bibirnya.Apa yang dikatakan Juna barusan memang benar—meski disampaikan dengan nada menyebalkan dan dibungkus ajakan yang sama sekali tak tahu malu.Seharusnya tadi ia memalingkan wajah. Menutup mata. Berlari. Lakukan apapun, asalkan tidak berdiri mematung sambil menatap seorang pria yang jelas tak berpakaian sepantasnya. Dan yang paling memalukan dari semuanya … ia membiarkan ciuman pertamanya direngut. Bukan cuma sekali. Bahkan lebih dari dua kali.“Kenapa aku bodoh sekali …,” gumamnya lirih.Bayangan tadi kembali menyusup tanpa permisi—ciuman itu, pelukan yang begitu erat, jarak yang terlalu dekat, dan sensasi asing yang men
“Astaga … benarkah?” Juna bergumam, lebih kepada dirinya sendiri daripada mengkhawatirkan Bella. Seolah baru sadar apa yang baru saja ia lakukan—atau lebih tepatnya, sejauh mana ia telah melangkah keluar dari kendali dirinya saat ini. Maafkan aku,” bisiknya. Kali ini suaranya terdengar jujur. “Aku terlelap dengan sisa bayanganmu yang menghantui. Suaramu, cara kau menatapku...” Ia membuang napas dengan berat. “Aku tidak menyangka detail-detail kecil darimu bisa merenggut kewarasanku semudah ini.” Di telinga Bella, kata-kata itu sama sekali tidak terdengar seperti permintaan maaf. Itu lebih mirip pembelaan diri—atau lebih buruk—sebuah tuduhan halus. Seolah-olah dialah penyebab dari segala kekacauan yang baru saja terjadi. Rasa takut yang sempat mencekik Bella perlahan luruh, berganti menjadi kemarahan yang panas dan tajam. Ia sudah berada di ambang ledakan, siap meluapkan segalanya. Namun, kata-kata Juna berikutnya mendahuluinya, meruntuhkan seluruh pertahanan yang baru saja ia
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.