LOGINBagi Bella, Junaidi hanyalah tukang kebun kasar dengan keringat yang membasahi kaus lusuhnya. Namun, setiap kali mata tajam pria itu mengunci tatapannya, Bella merasa dunianya terancam. Junaidi tidak memiliki apa pun selain otot yang keras dan senyum meremehkan yang selalu sukses menyulut emosi—sekaligus gairah yang tak tahu malu. Di balik pagar perkebunan yang sepi, kebencian Bella perlahan meleleh menjadi hasrat yang berbahaya. Ia tidak tahu bahwa pria yang ia rendahkan ini menyimpan identitas yang bisa menghancurkan takhta keluarganya. Saat rahasia mulai terkuak dan sentuhan mulai membakar, Bella harus memilih: melarikan diri atau jatuh sepenuhnya ke pelukan sang pemangsa.
View More“Astaga, Juna!” suara Bella melengking, memecah sunyi perkebunan. “Kenapa semua dahan kamu potong? Kerjamu itu tinggal memetik jeruknya, bukan membuat pohonnya botak begini!”
Pria yang bernama Juna itu berhenti bekerja, menoleh dengan wajah nyaris tanpa rasa bersalah. “Maaf, Bu Bella.” “Nona!” Bella mendengus tajam. “Aku masih muda. Sudah berapa kali aku bilang padamu—panggil aku Nona!” “Baik,” Juna menahan senyum. “Nooo … naaa …,” ucap Juna, Nada suaranya sengaja ditahan terlalu lama. Alis Bella langsung berkerut. Selalu saja, ada sesuatu yang menyebalkan dari cara pria itu memanggilnya—seolah pria itu sedang menikmati wajahnya yang marah. Junaidi, pria muda yang baru saja bekerja dua minggu di perkebunan milik ayahnya Arnold. Semua orang sempat terheran-heran, karena pria yang baru saja diterima bekerja itu terlalu tampan untuk sekedar menjadi tukang kebun. Bella, yang sejak kecil terbiasa ikut membantu usaha ayahnya, kini di usia dua puluh tahun dipercaya mengawasi para pekerja perkebunan. Ia mengenal setiap sudut lahan, setiap pohon, setiap kebiasaan para pekerja. Karena itu, kehadiran Junaidi langsung terasa janggal baginya. Cara kerjanya terlalu santai, dan sikapnya … seolah tak pernah benar-benar merasa lebih rendah darinya. Bella tak menyukai hal-hal yang tak bisa ia kendalikan. Dan Junaidi—dengan senyum menawan yang kerap muncul di saat-saat paling menjengkelkan—perlahan menjadi satu-satunya variabel yang membuat Bella kehilangan kendali, meski ia bersumpah pada dirinya, bahwa lelaki itu hanyalah masalah kecil yang tak layak menyita pikirannya. "Kalau kamu nggak bisa bedain mana dahan tua dan mana yang masih produktif, bilang. Jangan sok pintar, lalu merusak satu pohon penuh.” Bella melipat tangan di dada, menatap hasil kerja Juna yang membuat kepalanya berdenyut. Juna mengusap tengkuknya pelan. “Saya cuma mengikuti instruksi, Nona.” "Instruksi dari siapa sampai membuat pohonnya botak seperti ini!?” Bella mendengus. “Ayahku jelas bilang, petik buahnya dan pangkas seperlunya. Bukan habisi sekalian!” suaranya kembali meninggi. Juna tak langsung menjawab. Ia menunduk, memungut gunting kebun yang tergeletak di tanah, membersihkan getah di bilahnya dengan tenang. Keheningan itu justru membuat Bella makin kesal. “Kamu mendengar apa yang sedang aku katakan?” “Iya,” jawab Juna singkat. Sikapnya terlalu santai untuk seseorang yang sedang dimarahi. Bella menaikkan alis. “Cuma itu jawabanmu? Kamu nggak mau membela diri? Atau minta maaf dengan benar?” Bella terus mengoceh. Juna mengangkat pandangannya perlahan. Tatapannya datar, tapi entah kenapa terasa menantang. “Kalau saya jelaskan ... Nona tetap saja akan memarahi saya, bukan.” "Ck!" Bella terdiam sesaat, lalu terkekeh sinis. Lagi-lagi ia harus menahan emosi yang nyaris meledak di dalam dadanya. Tak ingin memperpanjang perdebatan, Bella memilih berbalik. Ia meninggalkan kebun jeruk yang membentang luas—puluhan hektar lahan hijau yang selama ini ia rawat dengan sepenuh hati. Dengan gerakan kesal, ia menaiki sepeda motornya, melaju dari barisan pohon jeruk dan dari pria menyebalkan yang entah sejak kapan mulai mengacaukan ketenangan hidupnya. Pergi menuju kediaman besar milik orangtuanya. Kediaman orangtua Bella. Aroma manis blueberry memenuhi dapur kediaman keluarga Arnold Hartman. Brenda, ibu Bella, berdiri di depan meja kayu besar, menaruh piring berisi kue pai blueberry dengan hati-hati—blueberrynya sendiri dipetik pagi tadi. Di sampingnya, ada Mbok Yuli yang sedang menyiapkan piring—perempuan paruh baya itu telah mengasuh Bella sejak bayi, lebih mengenal perubahan suasana hatinya dibanding siapa pun di rumah itu. “Non Bella pasti senang sekali, waktu pulang makan siang,” ujar Mbok Yuli sambil tersenyum. Brenda membalas dengan tawa ringan. “Putriku pasti langsung habis dua potong. Sejak kecil, dia memang tak pernah bisa menolak pai blueberry buatanku." katanya sambil merapikan celemek di pinggang. Brakk! Suara pintu terbuka kasar. Brenda dan Mbok Yuli refleks menoleh bersamaan. “Astaga, Bella, kamu membuat Ibu terkejut saja,” keluh Brenda, ibu Bella, sambil berkacak pinggang. Bella berdiri di ambang pintu, napasnya masih memburu, wajahnya merah menahan amarah. Rambutnya sedikit berantakan karena terkena angin. “Bella?” Brenda mengernyit khawatir. “Kamu kenapa, Sayang?” Mbok Yuli ikut melangkah mendekat, tatapannya penuh cemas. Ia tahu benar—wajah seperti itu sering muncul akhir-akhir ini, dan itu berarti seseorang yang sama baru saja berhasil membuat Nona kecilnya itu naik pitam. “Kepalaku pusing. Aku mau istirahat di kamar, Bu,” ucap Bella singkat sambil melangkah cepat menuju lantai dua. “Bella … kamu pusing kenapa, Nak?” panggil Brenda dengan nada khawatir. Namun Bella tak menoleh, langkahnya tetap berlanjut hingga menghilang di balik pintu kamar. Brak! Suara pintu tertutup keras menggema di koridor. Brenda menghela napas panjang. “Anak itu ....” “Biar saya saja yang menemui Non Bella,” ucap Mbok Yuli lembut, tangannya mengusap celemek. Brenda menoleh, rautnya penuh cemas. “Tolong ya, Mbok.” Cekrek. Saat Mbok Yuli membuka pintu kamar Bella perlahan, ia mendapati sang nona tengah mengubur wajahnya ke dalam bantal, bahunya naik turun menahan emosi yang belum sepenuhnya reda. “Non … ini Mbok bawakan air lemon dingin,” ucap Mbok Yuli lembut sambil melangkah mendekat, meletakkan gelas di atas nakas. Bella bergeser sedikit, menoleh malas. “Bella nggak haus, Mbok.” “Minumlah terlebih dahulu,” Mbok Yuli tetap memaksa dengan lembut. “Agar kepalamu tidak semakin pening.” Bella akhirnya duduk, menerima gelas itu dengan helaan napas panjang. Ia menyesap sedikit, lalu menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. Mbok Yuli mengamati wajah Bella yang masih masam, lalu tersenyum kecil. “Juna, tukang kebun baru itu, membuatmu emosi lagi, ya?” Bella mendengus pelan. “Dia itu menyebalkan, Mbok. Sikapnya sok keren … seolah-olah tidak pernah merasa bersalah.” “Orang yang terlalu tenang biasanya menyimpan banyak hal,” gumam Mbok Yuli lirih. Bella meliriknya dengan curiga. “Mbok mengatakan apa?” Mbok Yuli hanya terkekeh singkat. “Tidak apa-apa. Mbok hanya tahu … lelaki yang suka bersikap seperti itu biasanya selalu hidup dalam kenyamanan.” Bella mendengus. “Aku hanya heran, Mbok. Mengapa Ayah mau menerima pekerja yang suka membuat kerusuhan dan tidak mau menurut? Pekerjaannya berantakan dan terus membuat eMosi meningkat.” Mbok Yuli menghela napas pelan. “Katanya, Tuan, Juna itu keponakan Pak Bambang—mandor kebun yang baru saja pensiun kemarin. Ayahmu merasa tidak enak hati jika menolak, terlebih Pak Bambang telah mengabdi puluhan tahun di sini.” Bella terdiam. Penjelasan itu masuk akal … sayangnya tak cukup untuk meredam kekesalannya. Karena entah kenapa, masalahnya dengan Juna terasa jauh lebih rumit daripada sekadar urusan pekerjaan. Apa sebaiknya aku memecatnya saja .... Pikir Bella, dengan statusnya sebagai putri tuan tanah pemilik kebun dan peternakan Hartman, bukan hal sulit baginya menghapus keberadaan Junaidi dari perkebunan ayahnya, agar lelaki itu tak pernah bisa lagi mengusik ketenangannya.Tubuhku melengkung seketika, dadaku membusung saat kurasakan lidah panas Juna menyapu titik paling sensitifku dengan gerakan yang begitu menuntut. Napas yang sedari tadi kuatur sebisa mungkin, kini pecah menjadi desah serak yang memburu. Tanganku meremas sprei dengan kuat, tapi sedetik kemudian beralih menjambak rambut Juna yang masih setengah basah, menekan kepalanya agar ia semakin dalam menyesapku. Juna benar-benar liar malam ini. Aku bisa merasakan jemari besarnya mencengkeram pangkal pahaku dengan kuat, membukanya lebih lebar agar ia leluasa menjelajahi setiap inci labirin di sana. Setiap hisapan dan permainan lidahnya membuat seluruh saraf di tubuhku bergetar hebat, mengirimkan gelombang listrik yang membuat kakiku gemetar tak berdaya. "J-Juna ... ahh ... mmm ... Juna," rintihku dengan suara yang hampir habis. Cairan hangatku kini membasahi wajah dan bibirnya, tapi Juna seolah tak peduli. Ia justru semakin gila, memberikan tekanan yang tepat di titik yang paling mem
"Kamu kok belum tidur, Sayang?" Suara Juna yang tiba-tiba terdengar dari arah pintu kamar membuat Bella tersentak. Ia segera mematikan layar ponselnya dan berusaha bersikap senormal mungkin. "A—aku... baru saja selesai mengobrol sama Annie." Juna meletakkan jaketnya, lalu menatap Bella dengan tatapan yang sulit diartikan namun tetap terlihat lembut. "Oh, ya? Temanmu Annie tadi ke sini lagi?" Bella mengerutkan dahi, menatap suaminya lekat-lekat. "Memang kamu tadi tidak bertemu dia di depan? Dia baru saja keluar gerbang pas kamu sampai, Juna." "Tidak," jawab Juna singkat, memutus pembicaraan seolah tak ingin membahas Annie lebih jauh. Ia kemudian merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah kantung kecil berbahan silver yang tampak mewah. "Ini untukmu." "Apa ini?" Bella menerimanya dengan bingung. Begitu ia membuka isinya, wajah Bella seketika memerah panas sampai ke telinga. Ia mengeluarkan sehelai 'lingerie' berwarna soft pink dengan bahan sutra yang sangat tipis dan aksen rend
"Seratus juta ... dalam tiga bulan?" gumam Bella tak percaya.Ia mulai menghitung ulang dengan dahi berkerut. Selama 3 bulan ini, Juna selalu memberikan uang hasil melautnya setiap hari.Kadang jumlahnya lumayan, kadang hanya cukup untuk makan sehari, selayaknya penghasilan nelayan pada umumnya.Tapi setiap kali Bella menyisihkan uang itu ke rekening tabungan bersama, saldonya seolah-olah beranak pinak dengan kecepatan yang tidak masuk akal."Kalau dia nelayan, berarti dia harus menangkap ikan paus setiap malam supaya bisa punya tabungan sebanyak ini," gumamnya heran.Sejak siang hingga sore, Bella duduk dengan dikelilingi oleh tumpukan catatan kecil dan sebuah tablet yang menampilkan aplikasi perbankan.Sejak masih remaja, ayahnya memang sudah mengajari Bella soal mengatur sirkulasi bisnis uang dari hasil perkebunan dan peternakan Hartman.Bella juga diberikan kepercayaan untuk mengatur neraca saldo serta memantau arus kas usaha ayahnya. Itulah sebabnya, instingnya berteriak keras sa
Bella melangkah masuk ke dalam rumah mungil yang kini menjadi tempat peraduan barunya. Begitu pintu kayu di depannya tertutup, ia mengembuskan napas panjang, mencoba mengusir rasa haru yang masih tertinggal akibat segelas jus jeruk di kafe tadi.Ia menyapukan pandangan ke sekeliling ruangan. Rumah ini memang sederhana, mungil, dan minimalis dengan dominasi unsur kayu yang hangat.Namun, semakin lama Bella tinggal di sini, semakin banyak hal yang membuatnya terheran-heran. Juna bilang rumah ini hanya rumah sewaan biasa di pesisir, tapi kenyataannya, tempat ini lebih mirip rumah masa depan yang disamarkan.Bella mendekati pintu depan dan menyentuh gagang pintunya. Pintu dengan kunci otomatis itu mengunci sendiri dengan bunyi klik yang halus, hanya dengan sekali sentuh."Juna bilang dia menyewa rumah murah, tapi mana ada rumah nelayan yang lampunya menyala otomatis saat aku melangkah masuk?" gumam Bella pelan.Ia berjalan ke arah dapur. Di sana, berjajar peralatan yang bahkan jarang ia t






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews