Melihat reaksi berani suaminya, Anya tiba-tiba terdiam. Lidahnya mendadak kelu, terkunci rapat oleh ketegasan yang terpancar dari sepasang netra elang milik suaminya.Sorot mata Bintang begitu bersih, lurus, dan tak menyiratkan keraguan sedikit pun, membuat keyakinan Anya yang semula menggebu-gebu perlahan mulai goyah.Namun, rasa gengsi dan sisa sakit hati yang terlanjur menguasai dada membuat Anya enggan terlihat kalah. Ia memalingkan wajahnya ke samping, menolak untuk menatap Bintang ataupun menyentuh benda pipih hitam yang masih tersodor ke hadapannya. Tangan kekar Sang Mayor masih tetap terulur dengan kokoh, sabar menunggu sang istri menerima ponsel miliknya. Hingga detik demi detik pun berlalu dalam keheningan kamar yang menegangkan itu, namun Anya tetap bersedekap dada, menutup diri rapat-rapat tanpa berniat mengambil ponsel Bintang. “Kenapa diam? Ambil, Anya,” desak Bintang, suaranya melunak satu tingkat, namun tetap sarat akan penekanan yang tegas. “Periksa semua riwayat
Read more