Bintang menangkup kedua belah pipi Anya dengan kedua telapak tangannya yang hangat, memaksa istrinya untuk menatap lurus ke dalam sepasang netra elangnya, mencoba menyalurkan ketegasan dan ketenangan seorang prajurit langsung ke dalam jiwa Anya yang sedang rapuh. “Anya, tatap saya. Dengarkan saya baik-baik,” ucap Bintang dengan suara baritonnya yang dalam, bergetar penuh penekanan namun sarat akan kelembutan. “Semua akan baik-baik saja.” Anya sesenggukan, mata bulatnya yang berair menatap Bintang dengan pandangan memohon yang teramat sangat. “Om, please ... stop, Om. Mereka punya pangkat, mereka punya kekuasaan. Kita bisa apa? Kita nggak punya apa-apa.” “Saya punya kamu, Anya,” sahut Bintang cepat. Anya semakin manangis mendengarnya. Kepalanya ia tunjukkan dalam-dalam, tak kuasa melihat wajah laki-laki yang sangat ia cintai. “Dua puluh tahun yang lalu, ayahmu terpaksa mengalah dan memilih mundur karena dia berjuang sendirian demi menyelamatkan kamu dan ibumu," tutur Bintang,
Magbasa pa