Share

Bab 97

Penulis: LV Edelweiss
last update Tanggal publikasi: 2026-06-06 23:22:36

Anya terpaku sejenak di tempatnya berdiri. Dua bola matanya membesar, dengan dahi yang bertaut parah. Ekspresi wajahnya berubah seketika, dari yang tadi panik setengah mati, menjadi bingung luar biasa.

“Kamu tidak apa-apa, Anya?” tanya Bintang dengan mimik wajah cemas.

Anya masih mematung di ambang tirai, matanya terus menatap lencana besi dan lapisan tebal berwarna hitam yang kini terekspos di balik seragam PDH hijau Bintang yang sudah koyak.

​Tidak ada genangan darah yang mengalir deras
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 97

    Anya terpaku sejenak di tempatnya berdiri. Dua bola matanya membesar, dengan dahi yang bertaut parah. Ekspresi wajahnya berubah seketika, dari yang tadi panik setengah mati, menjadi bingung luar biasa. “Kamu tidak apa-apa, Anya?” tanya Bintang dengan mimik wajah cemas. Anya masih mematung di ambang tirai, matanya terus menatap lencana besi dan lapisan tebal berwarna hitam yang kini terekspos di balik seragam PDH hijau Bintang yang sudah koyak. ​Tidak ada genangan darah yang mengalir deras seperti dugaannya. Tidak ada juga luka menganga yang merobek kulit Sang Mayor. Yang ada hanyalah sebuah rompi anti peluru standar militer (bulletproof vest) yang menempel ketat membungkus tubuh tegap suaminya. Serta sebutir proyektil peluru yang tertanam hancur, terjebak di dalam lapisan Kevlar tebal tepat di bagian dada kiri atas Bintang. ​Posisi Sang Mayor juga sudah tak lagi berbaring, melainkan terduduk di tepi brankar. Ia dibantu oleh seorang dokter yang tengah memeriksa denyut nadi dan r

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 96

    Seperti mimpi buruk yang meluluh lantakkan seluruh dunianya, Anya terkejut luar biasa dan langsung berlari cepat ke arah Bintang. Ia bahkan tidak memperdulikan rasa lemas yang sempat melumpuhkan persendian kakinya karena keterkejutan suara tembakan tadi. Tas rajut yang sejak tadi menggantung di pundaknya, kini terlepas begitu saja dan jatuh ke atas tanah. Langkah kakinya yang biasanya sedikit berat karena menggunakan sepatu pantofel hitam khas mahasiswi keperawatan, kini terasa lebih ringan karena dorongan kepanikan di dadanya yang jauh lebih besar. ​Dunia di sekeliling Anya mendadak bergerak dalam tempo lambat yang menyiksa. Semua orang terlihat berlarian kocar-kacir menyelamatkan diri masing-masing. Beberapa tim medis yang ada di dalam rumah sakit berhamburan keluar guna mencari tahu apa yang terjadi. Pekikan histeris dari para pengunjung rumah sakit, teriakan komando para satpam yang mulai mengepung area parkir, dan deru mesin kendaraan yang mencoba menjauh, semua itu meredup me

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 95

    Membaca pesan dari nomor asing tersebut membuat kedua kaki Anya seketika terasa lemas. Ia merasa seolah seluruh pasokan tenaga di tubuhnya menguap dalam hitungan detik. Jantung yang beberapa menit lalu berdegup kencang karena letup kebahagiaan, kini berbalik berpacu liar karena rasa takut yang mendadak mencekik dadanya. ​Kartu akses yang dipegangnya terlepas, jatuh membentur lantai koridor dengan bunyi ketukan halus yang terasa begitu nyaring di telinganya. ​Anya menatap nanar rentetan kalimat di layar ponselnya. Kalimat ancaman itu tertulis begitu rapi, dingin, dan penuh kepastian. Memori kepalanya langsung mengingatkannya pada rentetan teror telepon misterius di asrama semalam. ​“Siapa ... siapa sebenarnya orang ini?” batin Anya menjerit ketakutan. ​Tangannya yang memegang ponsel mulai gemetar hebat. Rasa aman yang baru saja ia rasakan berkat pelukan dan pengakuan cinta Bintang tadi malam, seketika runtuh tersapu oleh rasa panik yang merayap cepat. Tanpa berpikir panjang,

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 94

    Perjalanan Anya di atas motor ojek online membelah jalanan Ibu Kota yang cukup padat pagi ini. Namun, meski hembusan angin dingin menerpa wajah cantiknya, tak sedikitpun mengurangi binar ceria di kedua matanya.Sepanjang jalan, pikiran Anya hanya dipenuhi oleh bayangan wajah Bintang dan janji manis pria itu untuk menjemputnya sore nanti. Entah mengapa, sejak mendengar kata cinta dari Sang Mayor tadi malam, ingin rasanya ia selalu ada di samping laki-laki itu. Cinta bertepuk sebelah tangan saja Anya kecintaan, apa lagi kalau cintanya berbalas, bertambah parah level bucinnya. ​Sekitar pukul sembilan kurang sepuluh menit, motor ojek yang ditumpangi Anya tiba di depan area lobi utama rumah sakit. Setelah melakukan pembayaran dan menyerahkan kembali helm, Anya merapikan sedikit seragam putihnya yang agak kusut karena terpaan angin dijalan. ​Ia menarik dan menghembuskan napas panjang, bersiap mengubah mode dirinya dari seorang istri manja menjadi seorang mahasiswi keperawatan yang sigap

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 93

    Pagi Senin, seperti biasa. Anya dan Bintang bangun pagi-pagi sekali. Mereka memulai aktivitas dengan tugas masing-masing. Anya menyiapkan sarapan, sementara sang Mayor menyiram tanaman dan menyembur pakaian. Setelah sholat subuh berjamaah—pukul tujuh pagi—mereka sudah bertemu di meja makan. Untuk pagi ini, Anya membuat nasi goreng dan telur mata sapi. Soal rasa sudah jauh lebih enak. Sering belajar, ia kini sudah lebih bersahabat dengan dapur dan bumbu-bumbunya. “Sore nanti saya jemput ya?” ucap Bintang di sela-sela sarapan pagi mereka. “Om nggak keluar kota lagi?”“Tidak. Saya cepat pulang hari ini. Ada sedikit urusan di pinggiran kota, sekalian mulai mempersiapkan semua keperluan untuk Latgabma nanti.”“Tinggal dua pekan ya, Om,” cicit Anya dengan suara yang terdengar pilu. Bintang mengulur tangan menyentuh punggung tangan Anya. “Cuma satu bulan …,” ucap Bintang, mencoba menenangkan kegelisahan istrinya. Anya mengangkat kepala dan menoleh. Sebuah senyuman ketegaran ia tunjukk

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 92

    Bintang menghentikan gerakannya sekilas, lalu sebuah senyum penuh arti terbit di wajah lelahnya. Tatapan elang pria itu menggelap, mengunci netra bulat Anya yang kini memancarkan binar menggoda yang sangat berani—sangat kontras dengan air mata yang baru saja ia hapus.“Kenapa? Kamu keberatan?” tantang Bintang dengan suara baritonnya yang merendah, sarat akan pikat yang membuat bulu kuduk Anya meremang halus.​Anya tidak menjawab dengan kata-kata. Sebagai jawaban, ia justru meraih tangan kekar Bintang, lalu menuntun suaminya itu melangkah menuju kamar mandi yang terletak di samping dapur. Keberanian yang tiba-tiba muncul di dalam diri mahasiswi keperawatan itu sukses membuat Bintang terkekeh rendah, membiarkan dirinya dituntun sepenuhnya.​Begitu mereka masuk, Anya langsung menutup pintu dengan rapat. Gemericik air dari shower mulai terdengar, memecah keheningan malam dan menguapkan sisa-sisa ketegangan yang sempat meracuni pikiran mereka seharian ini. Di bawah guyuran air hangat yang

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 9

    Mendengar pengakuan Bintang, tiba-tiba saja Anya tergelak. Seumur mengenal Bintang, tak pernah dia melihat pria ini bersikap ramah padanya. Kenapa malam ini berbeda?Dahi Bintang bertaut. Ia sedikit bingung dengan respon Anya. “Kenapa kamu tertawa?” “Om, Om. Om ini punya kepribadian ganda ya?” tan

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 8

    Rasa tak percaya, tapi ini sungguh nyata. Ada begitu banyak cafe kopi di kota ini, kenapa Anya harus bertemu dengan orang ini? Bagaimana mungkin dunia ini hanya selebar daun kelor, pikirnya.Anya diam. Saking nervous-nya, ia bahkan sampai tak sanggup untuk sekedar menyapa laki-laki yang sudah membu

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 41

    Motor Rangga sudah berhenti di parkiran kampus. Anya langsung turun dan mengucapkan terima kasih pada temannya itu. Namun Rangga justru membalasnya dengan ucapan selamat atas pernikahan perempuan pemilik lesung pipi manis tersebut.“Jujur, aku kaget waktu denger kamu udah nikah. Nggak ada kabar pac

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 33

    Bagaikan punggung yang merindukan bulan. Peribahasa ini sepertinya cocok untuk Anya yang berharap jika Bintang akan menyentuhnya malam ini. Namun ternyata, harapan itu hanya berakhir pupus begitu saja. Pasalnya, bukan tergiur melihat keindahan raga Anya, laki-laki dengan perawakan tinggi dan gaga

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status