Berhadapan dengan seorang penguasa semesta, Madu Lanang hanya dapat menunduk.Dia terlalu takut menunjukkan wajahnya karena khawatir akan terjadi salah paham akibat dirinya yang belum memahami ekspresi.“Akh, akh, akh, Cu! Apa yang kau inginkan hingga sudi jauh-jauh datang ke mari?” tanya Ki Lurah Badranaya.Tutur bahasanya begitu sopan dan berwibawa, sangat berbeda dengan sosok yang digambarkan Cepot sejak awal.“Ma-maaf Maha Batara, aku diutus sahabatku untuk menemui Batara Astrajingga. Putra dari sang Maha Batara,” jawab Madu Lanang sedikit terbata.Dia sadar, sekali membuat kesalahan, maka hidupnya akan berakhir hanya dengan sekali tiupan napas Ki Lurah.““Akh, akh, akh, siapa sahabatmu itu?” tanya Ki Lurah Badranaya.“Li-lintang A-arundia Masalemba, putra pertama dari pendekar sakti Galuh Wardana, Maha Batara,” tutur Madu Lanang.“Akh, akh, akh, ternyata cucuku sendiri yang mengutusmu. Apa yang dia inginkan, katakanlah,” ujar sang Maha Batara.Entah sudah menjadi ciri khas atau m
閱讀更多