Lintang, Palwa, dan Indrayan terus melesat menuju arah utara.Setelah pembunuh bayaran si tangan kilat, tidak ada lagi halangan yang berarti di perjalanan mereka.Siluman, makhluk sihir, atau bahkan pohon bunga pemakan dewa, semua habis dibantai oleh Lintang.Tidak terasa mereka telah melesat seharian penuh dan kini tengah memasuki malam membuat rombongan Lintang harus menghentikan perjalanan.“Sepertinya tempat ini cocok untuk tempat peristirahatan kita,” ucap Lintang.“Benar tuan Lintang, di sini nyaman,” ungkap Indrayan.“Tapi perutku lapar,” keluh Palwa.“Hahaha, tenang saja. Aku masih memiliki makanan, atau jika kau mau, aku bisa memasakan sesuatu untukmu,” Lintang tertawa kecil.“Ti-tidak tuan Lintang, aku tidak mau merepotkanmu,” sergah Palwa.“Baiklah,” Lintang menggeleng.Dia memberikan setengah tubuh rusa bakar yang sebelumnya tidak selesai Lintang makan.Tentu saja Palwa dan Indrayan sangat senang menerimanya. Mereka begitu kegirangan mendapatkan daging di suasana dingin se
Read more