Melihatku, matanya langsung berbinar. Dia lalu berdiri dan memanggil, "Paman sepupu."Jantungku langsung berdebar. Aku menoleh ke arah Miska, dia sedang tersenyum dan menyapa orang lain, seolah tidak menyadari ekspresiku. Aku tidak menyangka bisa bertemu Rosa di sini, jadi aku cepat-cepat menariknya ke samping."Kenapa kamu ada di sini?"Rosa berkata, "Aku juga datang buat silaturahmi tahun baru. Nggak nyangka bisa ketemu kamu, kebetulan sekali."Di dalam hati aku merasa bersemangat sekaligus takut."Soal kejadian di kereta waktu itu, kamu nggak cerita ke siapa pun, 'kan?"Dia menggeleng. "NGgak. Mana mungkin aku cerita hal seperti itu."Syukurlah.Yang paling aku takutkan adalah Miska tahu. Kalau dia tahu, rumah tangga kami pasti hancur. Aku melewati Rosa dan mulai mengobrol dengan kerabat yang lain.Menjelang siang, aku membantu di dapur mengangkat hidangan. Rosa ikut masuk, lalu mengeluarkan secarik kertas dari sakunya dan menyerahkannya kepadaku."Ini nomor teleponku," katanya. "Ka
Read more