LOGIN"Ugh, gatal sekali ... aku kepengin banget." Saat mudik untuk tahun baru, mahasiswi cantik yang tidur di ranjang bawahku di kereta tidur tiba-tiba kambuh penyakit tidur berjalannya. Dia menyilangkan kedua kakinya dan bagian pinggulnya terus menggeliat. Sudah lama aku ingin mencoba menikmatinya. Kini selagi dia masih mimpi, aku pun merangkak ke tempat tidurnya ....
View MoreAku mengundurkan diri dari pekerjaan lamaku dan pindah ke kota lain, mencoba membuat diriku mati rasa dengan kesibukan. Namun setiap kali malam semakin larut dan suasana sunyi, bayangan Rosa selalu muncul tanpa bisa kukendalikan.Setengah tahun kemudian, aku terpaksa kembali ke kota asal untuk perjalanan dinas karena sebuah proyek. Rapat selesai lebih cepat. Aku berjalan sendirian di jalanan yang familier, tanpa sadar langkahku membawaku sampai ke stasiun.Ruang tunggu penuh dengan suara orang yang berbincang. Kebisingannya seperti gelombang yang terus menerpa. Aku mencari sebuah sudut dan duduk di sana, memandang orang-orang yang lalu lalang, sementara hatiku terasa hampa."Pak, kursi ini ada yang duduk?"Suara yang sangat familier terdengar di telingaku. Aku langsung mengangkat kepala. Jantungku seperti dihantam sesuatu dengan keras.Rosa berdiri tepat di depanku. Dia mengenakan mantel panjang warna krem pucat, rambut panjangnya terurai di bahu, dan di tangannya ada koper sederhana.
"Elwin ...." Dia berdiri lalu berjalan ke hadapanku, "Kita cerai saja."Aku terpaku. Kupikir dia akan menangis, marah, bahkan mungkin memukulku. Namun, dia hanya mengucapkan tiga kata itu dengan tenang, seperti pisau yang menusuk tepat ke dadaku."Kenapa?" ucapku akhirnya."Karena di hatimu sudah nggak ada rumah ini lagi." Setelah berkata demikian, dia berbalik masuk ke kamar dan menutup pintu.Malam itu aku tidak tidur. Aku duduk di ruang tamu sambil merokok, sebatang demi sebatang.Aku teringat sikapnya yang begitu mesra saat aku pulang kampung waktu tahun baru. Aku teringat dia takut aku kedinginan dan menambahkan jaket ke tubuhku.Namun sekarang, semuanya sudah berakhir.Keesokan paginya saat aku bangun, Miska sudah pergi. Di atas meja ada secarik kertas.[ Aku ke rumah orangtuaku beberapa hari. Kamu pikirkan baik-baik. ]Aku menatap kertas itu, air mataku jatuh. Aku tahu, ada hal-hal tidak akan pernah lagi bisa kembali seperti semula atau diperbaiki.....Hari ketiga Miska pulang
Melihatku, matanya langsung berbinar. Dia lalu berdiri dan memanggil, "Paman sepupu."Jantungku langsung berdebar. Aku menoleh ke arah Miska, dia sedang tersenyum dan menyapa orang lain, seolah tidak menyadari ekspresiku. Aku tidak menyangka bisa bertemu Rosa di sini, jadi aku cepat-cepat menariknya ke samping."Kenapa kamu ada di sini?"Rosa berkata, "Aku juga datang buat silaturahmi tahun baru. Nggak nyangka bisa ketemu kamu, kebetulan sekali."Di dalam hati aku merasa bersemangat sekaligus takut."Soal kejadian di kereta waktu itu, kamu nggak cerita ke siapa pun, 'kan?"Dia menggeleng. "NGgak. Mana mungkin aku cerita hal seperti itu."Syukurlah.Yang paling aku takutkan adalah Miska tahu. Kalau dia tahu, rumah tangga kami pasti hancur. Aku melewati Rosa dan mulai mengobrol dengan kerabat yang lain.Menjelang siang, aku membantu di dapur mengangkat hidangan. Rosa ikut masuk, lalu mengeluarkan secarik kertas dari sakunya dan menyerahkannya kepadaku."Ini nomor teleponku," katanya. "Ka
Setelah petugas itu pergi, aku akhirnya bisa menghela napas lega. Kalau tadi Rosa mengatakan satu kalimat saja, mungkin aku sudah dibawa pergi. Benar-benar nyaris celaka.Tiba-tiba Rosa menggenggam tanganku, wajahnya memerah saat berkata, "Kak Elwin, sekarang ini aku nggak nyaman sekali. Kamu bisa bantu aku nggak?"Aku tertegun, jantungku langsung berdegup lebih cepat. "Ka ... kamu sendiri yang bilang ya."Dia mengangguk pelan.Selanjutnya, dia menunduk dan mengulum bagian bawahku. Sensasi yang lembut itu langsung membuat tubuhku gemetar.'Ni ... nikmat sekali ...."Gelombang kenikmatan yang kuat itu menjalar ke seluruh tubuh seperti aliran listrik. Aku mencengkeram sandaran kursi, jakunku bergerak naik turun tetapi aku tak berani bersuara ....Seolah-olah setiap sel dalam tubuhku meledak pada saat itu juga.'Ugh ... aku nggak tahan lagi.'Aku langsung menekan Rosa ke bawah dan menindihnya. Rosa refleks membuka kedua kakinya."Aku mulai ya."Setelah bergumul sengit ....Usai bermesraan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.