Share

Bab 2

Author: Richy
Aku berbaring di tepi ranjang atas, menjulurkan kepala dan berusaha melihat ke bawah. Aksiku itu kebetulan terlihat oleh petugas kereta yang sedang patroli. Dia langsung menegurku, "Kamu sedang apa? Nggak boleh mengintip penumpang lain."

Lantaran dimarahi seperti itu, aku buru-buru menarik kembali kepalaku. Suara itu juga menarik perhatian mahasiswi di ranjang bawah. Dia segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.

Petugas itu mendekat dan berkata, "Nona, kalau bepergian sendirian harus hati-hati. Kalau ada apa-apa, segera hubungi kami."

Saat berbicara, tatapannya sempat melirik ke arahku. Aku berbaring di atas dengan perasaan campur aduk.

Namun, mahasiswi itu tampak santai saja. Dia tersenyum dan berkata, "Nggak apa-apa. Kakak yang di atas ini orangnya baik, nggak akan macam-macam."

Petugas itu pun tidak berkata apa-apa lagi dan pergi.

Mendengar ucapannya, hatiku terasa berdebar. 'Gadis ini sama sekali nggak keberatan aku mengintipnya. Jangan-jangan, dia punya niat sama aku?'

Padahal tadi dia jelas-jelas melihat aku menyentuh stokingnya, tapi detik berikutnya dia malah memakai stoking itu. Semakin dipikirkan, aku merasa semakin tak percaya. Mahasiswi ini sepertinya sedang sengaja menggodaku.

Aku menunduk sedikit dan mencoba membuka percakapan, "Dik, makasih sudah bantu aku jelasin ya tadi."

Dia tersenyum padaku, lalu kembali menjulurkan kakinya yang memakai stoking dan berkata, "Nggak apa-apa. Kalau Kakak mau lihat ya lihat saja, aku nggak rugi apa-apa juga."

'Astaga, ternyata pemikiran gadis ini terbuka sekali. Malah langsung nunjukkin pahanya yang putih untuk diperlihatkan ke aku.'

Aku pun menjawabnya dengan tersenyum, "Dik, kamu baik juga. Kakimu ini adalah kaki terindah yang pernah kulihat."

Setelah itu, kami lalu mulai mengobrol ringan. Ternyata namanya Rosa, baru masuk tahun pertama kuliah. Dia punya seorang pacar, tetapi pacarnya itu tidak bisa memuaskannya. Baru mulai tidak lama saja sudah langsung selesai.

Rosa pun mulai semakin haus akan sentuhan pria, hingga terpaksa melampiaskannya dengan mainan. Lama-kelamaan, hampir setiap hari dia merasa perlu melakukannya sekali.

Perjalanan kereta kali ini dua hari dua malam. Tadi dia benar-benar tidak tahan, jadi terpaksa ke toilet untuk menyelesaikannya sendiri. Itulah sebabnya aku tadi melihat genangan air di lantai.

Aku tak bisa menahan rasa penasaran dan bertanya, "Sekarang mainan itu masih bisa memuaskan kamu?"

Dia menggeleng dengan getir. "Mainan tentu nggak bisa dibandingkan dengan orang sungguhan. Sentuhan dan suhu tubuhnya berbeda."

Aku tanpa sadar merasa sedikit sependapat. Setahun penuh bekerja di proyek dan hidup jauh dari istri, rasa sepi dan kekosongan itu tentu kupahami.

Sambil mengobrol, tak terasa waktu sudah larut malam. Suara Rosa juga lama-kelamaan jadi semakin pelan. Tanpa sadar, dia telah terlelap.

'Sialan! Aku melewatkan sebuah kesempatan bagus!'

Di saat aku masih merasa menyesal, tiba-tiba terdengar suara desahan yang intim dari bawah. Suara ini jelas sekali dia sedang melakukan hal itu!

Padahal Rosa sedang tidur sendirian, kenapa bisa ada suara seperti itu?

Saat menunduk, aku melihat tubuhnya yang telanjang di luar selimut. Apalagi kedua kakinya yang terbuka lebar itu. Aku melihat jelas bagian tengah selangkangannya yang putih dan lembut. Pemandangan itu benar-benar indah!

Salah satu tangannya terus menggesek di antara selangkangannya dan matanya terpejam erat. Sepertinya dia masih tertidur. Ternyata gadis ini sedang melindur!

Saat ini, dia pasti sedang bermimpi yang tidak senonoh. Dalam mimpinya mungkin sedang diperkosa pria. Wajahnya tampak merah merona, kelihatannya dia sangat menikmatinya. Namun, jari tangannya terlalu ramping sehingga tidak sanggup memuaskan dirinya sendiri.

Aku menatap bagian yang menggembung di bawah selimutku, hatiku tak mampu lagi menyembunyikan kegusaran itu. Di saat tidak ada orang di sekitar, aku perlahan-lahan turun dari ranjang dan berjalan ke sisi ranjang Rosa.

Aku menikmati pemandangan tubuh ini dalam jarak dekat. Payudaranya yang bulat dan besar itu terpampang di hadapanku. Aku perlahan-lahan mengulurkan tahan untuk merabanya.

Seketika, sebuah sensasi yang lembut menjalar dari telapak tanganku dan membuatku seakan tersengat listrik. Tubuh Rosa bergetar, sepertinya dia sangat menikmatinya.

Konon mimpi adalah cerminan kenyataan. Saat itu, dalam mimpinya dia pasti sedang disentuh seorang pria, dan tampaknya sangat menikmati perasaan tersebut.

Selanjutnya, dia membuka mulutnya perlahan dan mendesah, "Sayang, bawah ... gatal ... aku tersiksa sekali. Cepat bantu aku."

Aku menunduk dan melihat seprai itu telah basah.

Saat ini, semua orang di sekitar telah tertidur. Kalau aku tidak melakukannya sekarang, mau tunggu kapan lagi?

Aku diam-diam merangkak ke atas ranjangnya dan dia pun refleks melebarkan kakinya. Aku mengangkat kakinya ke atas bahuku. Bagian tengah stoking itu bolong, jadi dia bahkan tidak perlu melepas stoking itu sama sekali.

Kemaluanku langsung diarahkan ke bagian vitalnya yang lembut, bagian atas tubuhku terus memancarkan hawa yang hangat.

Lagi pula, sekarang ini Rosa mengira dirinya sedang bermimpi. Jadi, aku pun tidak perlu merasa khawatir. Aku mengangkat pinggulnya dan mendorongnya dengan kuat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pelukan Gadis Kereta yang Menggoda   Bab 7

    Aku mengundurkan diri dari pekerjaan lamaku dan pindah ke kota lain, mencoba membuat diriku mati rasa dengan kesibukan. Namun setiap kali malam semakin larut dan suasana sunyi, bayangan Rosa selalu muncul tanpa bisa kukendalikan.Setengah tahun kemudian, aku terpaksa kembali ke kota asal untuk perjalanan dinas karena sebuah proyek. Rapat selesai lebih cepat. Aku berjalan sendirian di jalanan yang familier, tanpa sadar langkahku membawaku sampai ke stasiun.Ruang tunggu penuh dengan suara orang yang berbincang. Kebisingannya seperti gelombang yang terus menerpa. Aku mencari sebuah sudut dan duduk di sana, memandang orang-orang yang lalu lalang, sementara hatiku terasa hampa."Pak, kursi ini ada yang duduk?"Suara yang sangat familier terdengar di telingaku. Aku langsung mengangkat kepala. Jantungku seperti dihantam sesuatu dengan keras.Rosa berdiri tepat di depanku. Dia mengenakan mantel panjang warna krem pucat, rambut panjangnya terurai di bahu, dan di tangannya ada koper sederhana.

  • Pelukan Gadis Kereta yang Menggoda   Bab 6

    "Elwin ...." Dia berdiri lalu berjalan ke hadapanku, "Kita cerai saja."Aku terpaku. Kupikir dia akan menangis, marah, bahkan mungkin memukulku. Namun, dia hanya mengucapkan tiga kata itu dengan tenang, seperti pisau yang menusuk tepat ke dadaku."Kenapa?" ucapku akhirnya."Karena di hatimu sudah nggak ada rumah ini lagi." Setelah berkata demikian, dia berbalik masuk ke kamar dan menutup pintu.Malam itu aku tidak tidur. Aku duduk di ruang tamu sambil merokok, sebatang demi sebatang.Aku teringat sikapnya yang begitu mesra saat aku pulang kampung waktu tahun baru. Aku teringat dia takut aku kedinginan dan menambahkan jaket ke tubuhku.Namun sekarang, semuanya sudah berakhir.Keesokan paginya saat aku bangun, Miska sudah pergi. Di atas meja ada secarik kertas.[ Aku ke rumah orangtuaku beberapa hari. Kamu pikirkan baik-baik. ]Aku menatap kertas itu, air mataku jatuh. Aku tahu, ada hal-hal tidak akan pernah lagi bisa kembali seperti semula atau diperbaiki.....Hari ketiga Miska pulang

  • Pelukan Gadis Kereta yang Menggoda   Bab 5

    Melihatku, matanya langsung berbinar. Dia lalu berdiri dan memanggil, "Paman sepupu."Jantungku langsung berdebar. Aku menoleh ke arah Miska, dia sedang tersenyum dan menyapa orang lain, seolah tidak menyadari ekspresiku. Aku tidak menyangka bisa bertemu Rosa di sini, jadi aku cepat-cepat menariknya ke samping."Kenapa kamu ada di sini?"Rosa berkata, "Aku juga datang buat silaturahmi tahun baru. Nggak nyangka bisa ketemu kamu, kebetulan sekali."Di dalam hati aku merasa bersemangat sekaligus takut."Soal kejadian di kereta waktu itu, kamu nggak cerita ke siapa pun, 'kan?"Dia menggeleng. "NGgak. Mana mungkin aku cerita hal seperti itu."Syukurlah.Yang paling aku takutkan adalah Miska tahu. Kalau dia tahu, rumah tangga kami pasti hancur. Aku melewati Rosa dan mulai mengobrol dengan kerabat yang lain.Menjelang siang, aku membantu di dapur mengangkat hidangan. Rosa ikut masuk, lalu mengeluarkan secarik kertas dari sakunya dan menyerahkannya kepadaku."Ini nomor teleponku," katanya. "Ka

  • Pelukan Gadis Kereta yang Menggoda   Bab 4

    Setelah petugas itu pergi, aku akhirnya bisa menghela napas lega. Kalau tadi Rosa mengatakan satu kalimat saja, mungkin aku sudah dibawa pergi. Benar-benar nyaris celaka.Tiba-tiba Rosa menggenggam tanganku, wajahnya memerah saat berkata, "Kak Elwin, sekarang ini aku nggak nyaman sekali. Kamu bisa bantu aku nggak?"Aku tertegun, jantungku langsung berdegup lebih cepat. "Ka ... kamu sendiri yang bilang ya."Dia mengangguk pelan.Selanjutnya, dia menunduk dan mengulum bagian bawahku. Sensasi yang lembut itu langsung membuat tubuhku gemetar.'Ni ... nikmat sekali ...."Gelombang kenikmatan yang kuat itu menjalar ke seluruh tubuh seperti aliran listrik. Aku mencengkeram sandaran kursi, jakunku bergerak naik turun tetapi aku tak berani bersuara ....Seolah-olah setiap sel dalam tubuhku meledak pada saat itu juga.'Ugh ... aku nggak tahan lagi.'Aku langsung menekan Rosa ke bawah dan menindihnya. Rosa refleks membuka kedua kakinya."Aku mulai ya."Setelah bergumul sengit ....Usai bermesraan

  • Pelukan Gadis Kereta yang Menggoda   Bab 3

    Tanpa sengaja, aku mengerahkan tenaga terlalu kuat. Sebelum kejantananku sempat menghujamnya, dia sudah tersadar. Dalam kondisi setengah sadar, dia membuka matanya perlahan dan melihat ada seorang pria yang mengangkat kedua kakinya di bahu.Dia terkejut dan berteriak, "Ah! Siapa kamu!"Aku terkejut dan menunduk untuk menutup mulutnya. "Sshh!! Jangan teriak, aku ini Kak Elwin yang tidur di ranjang atasmu."Saat itu, dia baru melepaskan kewaspadaannya dan menatapku dengan ragu. "Kak Elwin ya, kenapa kamu bisa di ranjangku?"Saat ini, dia baru tersadar bahwa aku masih sedang memanggul kedua kakinya. Dia pun buru-buru menurunkan kakinya dengan tersipu. Aku tergagap dan tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya.Di saat aku masih merasa ragu, dia berbalik dan melihat celana dalamnya telah terbuka dan ranjangnya juga telah basah. Kemudian, dia berkata dengan kaget, "Ah? Mimpiku tadi ... benaran ya?"Melihat ekspresinya yang terkejut saat menatapku, aku juga langsung ketakutan. Aku buru-buru

  • Pelukan Gadis Kereta yang Menggoda   Bab 2

    Aku berbaring di tepi ranjang atas, menjulurkan kepala dan berusaha melihat ke bawah. Aksiku itu kebetulan terlihat oleh petugas kereta yang sedang patroli. Dia langsung menegurku, "Kamu sedang apa? Nggak boleh mengintip penumpang lain."Lantaran dimarahi seperti itu, aku buru-buru menarik kembali kepalaku. Suara itu juga menarik perhatian mahasiswi di ranjang bawah. Dia segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.Petugas itu mendekat dan berkata, "Nona, kalau bepergian sendirian harus hati-hati. Kalau ada apa-apa, segera hubungi kami."Saat berbicara, tatapannya sempat melirik ke arahku. Aku berbaring di atas dengan perasaan campur aduk.Namun, mahasiswi itu tampak santai saja. Dia tersenyum dan berkata, "Nggak apa-apa. Kakak yang di atas ini orangnya baik, nggak akan macam-macam."Petugas itu pun tidak berkata apa-apa lagi dan pergi.Mendengar ucapannya, hatiku terasa berdebar. 'Gadis ini sama sekali nggak keberatan aku mengintipnya. Jangan-jangan, dia punya niat sama aku?'Padah

  • Pelukan Gadis Kereta yang Menggoda   Bab 1

    Namaku Elwin, seorang buruh bangunan bertubuh kekar.Di lokasi proyek tidak ada wanita, sehingga benar-benar membuatku tersiksa menahan diri. Setiap hari aku hanya berharap saat tahun baru tiba, supaya bisa pulang dan melampiaskan rindu beberapa kali bersama istriku.Hari itu proyek mulai libur. Dem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status