แชร์

Pelukan Gadis Kereta yang Menggoda
Pelukan Gadis Kereta yang Menggoda
ผู้แต่ง: Richy

Bab 1

ผู้เขียน: Richy
Namaku Elwin, seorang buruh bangunan bertubuh kekar.

Di lokasi proyek tidak ada wanita, sehingga benar-benar membuatku tersiksa menahan diri. Setiap hari aku hanya berharap saat tahun baru tiba, supaya bisa pulang dan melampiaskan rindu beberapa kali bersama istriku.

Hari itu proyek mulai libur. Demi menghemat sedikit uang, aku membeli tiket kereta lama dengan tempat tidur. Hasrat yang terpendam setahun penuh akhirnya bisa kubawa pulang untuk dilampiaskan.

Baru saja naik ke kereta api, aku sudah merasa tidak tertahankan. Kalau bukan karena ada banyak orang di sini, aku mungkin sudah mengeluarkan kejantananku untuk melampiaskannya.

Yang membuatku lebih tersiksa lagi adalah, di ranjang bawah kereta tidurku ada seorang mahasiswi cantik bertubuh super seksi!

Proyek libur lebih awal, kebetulan juga bertepatan dengan libur kampus. Benar-benar kebetulan yang pas sekali. Dari sudut pandangku, aku bisa melihat bagian dadanya yang terekspos. Ukurannya benar-benar mencolok.

Jauh lebih besar dibanding milik istriku dan terlihat masih sangat muda, mungkin baru berusia awal 20-an. Setiap kali dia bergerak, payudaranya terlihat bergoyang pelan tepat di hadapanku.

Aku yang sudah lama menahan diri, tubuhku langsung bereaksi melihat pemandangan itu. Aku tengkurap di ranjang atas, diam-diam mengintip ke arahnya.

Tanganku tanpa sadar menyelinap ke dalam selimut dan mulai bergerak sendiri. Lalu, kulihat gadis itu mengeluarkan sebuah mainan kecil berwarna ungu dari dalam tasnya, lalu pergi ke toilet dengan tergesa-gesa.

Aku sampai tertegun. 'Setidak sabar itukah gadis zaman sekarang? Sampai nggak bisa menahan diri di kereta?'

Saat dia tidak ada, aku diam-diam turun dari ranjang atas dan mengintip isi tasnya.

Benar saja, di dalam tas bukan hanya ada beberapa mainan kecil, tapi juga pakaian dalam dan stoking yang sudah dilepas. Aku mengambil stoking itu dan mendekatkannya ke hidung, lalu menarik napas dalam-dalam.

"Huu ... ah!"

Aromanya membuatku pening.

Wangi tubuh gadis muda itu begitu kuat, seolah-olah langsung masuk ke paru-paruku, membuat seluruh tubuhku terasa tersengat. Hasrat yang kupendam makin sulit dikendalikan.

Namun tepat saat itu, mahasiswi itu kembali dari toilet. Aku buru-buru memasukkan kembali stoking itu ke dalam tas karena takut ketahuan. Dia berjalan mendekat dengan wajah memerah dan kami saling berpandangan.

Aku menggaruk kepala dengan canggung dan berkata, "Kamu sudah kembali? Kebetulan aku juga mau ke toilet."

Gadis itu mengangguk, lalu pandangannya melirik ke arah tasnya, tepat ke tempat stoking tadi berada. Hatiku langsung berdebar. 'Jangan-jangan, dia melihat sesuatu? Sebaiknya aku cepat pergi.'

Aku menunduk masuk ke toilet, lalu melihat ke lantai.

Astaga!

Di lantai ada genangan cairan yang masih basah.

Sebanyak itu.

Melihatnya saja sudah membuat pikiranku melayang ke mana-mana. Aku menarik napas panjang, lalu merapikan pakaianku dan kembali ke gerbong.

Saat kembali, gadis itu sudah berbaring di ranjang bawah sambil memainkan ponselnya. Aku sengaja melirik tasnya. Stoking tadi sudah tidak ada. Apa dia menyadari bahwa aku pernah mencium stoking itu, lalu dia membuangnya?

Aku sebenarnya ingin bertanya.

Namun, kami hanya orang asing yang kebetulan satu kompartemen. Aku tidak mungkin membuka pembicaraan seperti itu. Akhirnya, aku menahan rasa penasaran dan naik kembali ke ranjang atas.

Rasanya gelisah sekali saat berbaring di sana, seperti ada sesuatu yang mengusik pikiranku terus-menerus. Padahal ada mahasiswi seksi yang berbaring di ranjang bawahku, tapi aku tidak bisa berbuat apa pun. Hatiku benar-benar tergelitik memikirkannya.

Belum sampai dua menit, aku sudah tak tahan untuk melirik ke bawah.

Gadis itu menjulurkan satu kaki ke tepi ranjang dengan santai dan mengayunkannya pelan. Stoking yang tadi tidak terlihat, kini sudah terpasang di kakinya.

Aku teringat bahwa stoking yang tadi baru saja kucium itu masih menyisakan air liurku di atasnya, tapi kini sudah terpasang di kaki gadis itu. Pemikiran seperti ini benar-benar membuat darahku berdesir kencang.

Hatiku begitu gelisah dan gusar membayangkannya. Ingin sekali rasanya aku langsung mengangkat kedua kakinya ke bahuku. Akan tetapi, aku tidak bisa berbuat apa pun sekarang. Hanya bisa melihat kaki yang indah itu berayun pelan di hadapanku begitu saja.

Sulit dibayangkan betapa menderitanya diriku saat ini.

Tak lama kemudian, mahasiswi itu membalikkan badan menghadap ke dalam sambil tetap memainkan ponselnya. Selimutnya tidak sepenuhnya menutupi bagian bawah tubuhnya. Bokongnya yang indah tampak terekspos sebagian di luar.

Ternyata gadis ini tidak memakai celana! Di dalamnya hanya ada celana dalam berwarna putih, dibalut dengan stoking berwarna nude. Pemandangan ini hampir saja membuatku mimisan.

Cantik sekali! Seumur hidup ini, aku belum pernah menyentuh gadis secantik ini! Jangankan menidurinya, kalau bisa kuraba sedikit saja juga sudah membuatku puas!

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pelukan Gadis Kereta yang Menggoda   Bab 7

    Aku mengundurkan diri dari pekerjaan lamaku dan pindah ke kota lain, mencoba membuat diriku mati rasa dengan kesibukan. Namun setiap kali malam semakin larut dan suasana sunyi, bayangan Rosa selalu muncul tanpa bisa kukendalikan.Setengah tahun kemudian, aku terpaksa kembali ke kota asal untuk perjalanan dinas karena sebuah proyek. Rapat selesai lebih cepat. Aku berjalan sendirian di jalanan yang familier, tanpa sadar langkahku membawaku sampai ke stasiun.Ruang tunggu penuh dengan suara orang yang berbincang. Kebisingannya seperti gelombang yang terus menerpa. Aku mencari sebuah sudut dan duduk di sana, memandang orang-orang yang lalu lalang, sementara hatiku terasa hampa."Pak, kursi ini ada yang duduk?"Suara yang sangat familier terdengar di telingaku. Aku langsung mengangkat kepala. Jantungku seperti dihantam sesuatu dengan keras.Rosa berdiri tepat di depanku. Dia mengenakan mantel panjang warna krem pucat, rambut panjangnya terurai di bahu, dan di tangannya ada koper sederhana.

  • Pelukan Gadis Kereta yang Menggoda   Bab 6

    "Elwin ...." Dia berdiri lalu berjalan ke hadapanku, "Kita cerai saja."Aku terpaku. Kupikir dia akan menangis, marah, bahkan mungkin memukulku. Namun, dia hanya mengucapkan tiga kata itu dengan tenang, seperti pisau yang menusuk tepat ke dadaku."Kenapa?" ucapku akhirnya."Karena di hatimu sudah nggak ada rumah ini lagi." Setelah berkata demikian, dia berbalik masuk ke kamar dan menutup pintu.Malam itu aku tidak tidur. Aku duduk di ruang tamu sambil merokok, sebatang demi sebatang.Aku teringat sikapnya yang begitu mesra saat aku pulang kampung waktu tahun baru. Aku teringat dia takut aku kedinginan dan menambahkan jaket ke tubuhku.Namun sekarang, semuanya sudah berakhir.Keesokan paginya saat aku bangun, Miska sudah pergi. Di atas meja ada secarik kertas.[ Aku ke rumah orangtuaku beberapa hari. Kamu pikirkan baik-baik. ]Aku menatap kertas itu, air mataku jatuh. Aku tahu, ada hal-hal tidak akan pernah lagi bisa kembali seperti semula atau diperbaiki.....Hari ketiga Miska pulang

  • Pelukan Gadis Kereta yang Menggoda   Bab 5

    Melihatku, matanya langsung berbinar. Dia lalu berdiri dan memanggil, "Paman sepupu."Jantungku langsung berdebar. Aku menoleh ke arah Miska, dia sedang tersenyum dan menyapa orang lain, seolah tidak menyadari ekspresiku. Aku tidak menyangka bisa bertemu Rosa di sini, jadi aku cepat-cepat menariknya ke samping."Kenapa kamu ada di sini?"Rosa berkata, "Aku juga datang buat silaturahmi tahun baru. Nggak nyangka bisa ketemu kamu, kebetulan sekali."Di dalam hati aku merasa bersemangat sekaligus takut."Soal kejadian di kereta waktu itu, kamu nggak cerita ke siapa pun, 'kan?"Dia menggeleng. "NGgak. Mana mungkin aku cerita hal seperti itu."Syukurlah.Yang paling aku takutkan adalah Miska tahu. Kalau dia tahu, rumah tangga kami pasti hancur. Aku melewati Rosa dan mulai mengobrol dengan kerabat yang lain.Menjelang siang, aku membantu di dapur mengangkat hidangan. Rosa ikut masuk, lalu mengeluarkan secarik kertas dari sakunya dan menyerahkannya kepadaku."Ini nomor teleponku," katanya. "Ka

  • Pelukan Gadis Kereta yang Menggoda   Bab 4

    Setelah petugas itu pergi, aku akhirnya bisa menghela napas lega. Kalau tadi Rosa mengatakan satu kalimat saja, mungkin aku sudah dibawa pergi. Benar-benar nyaris celaka.Tiba-tiba Rosa menggenggam tanganku, wajahnya memerah saat berkata, "Kak Elwin, sekarang ini aku nggak nyaman sekali. Kamu bisa bantu aku nggak?"Aku tertegun, jantungku langsung berdegup lebih cepat. "Ka ... kamu sendiri yang bilang ya."Dia mengangguk pelan.Selanjutnya, dia menunduk dan mengulum bagian bawahku. Sensasi yang lembut itu langsung membuat tubuhku gemetar.'Ni ... nikmat sekali ...."Gelombang kenikmatan yang kuat itu menjalar ke seluruh tubuh seperti aliran listrik. Aku mencengkeram sandaran kursi, jakunku bergerak naik turun tetapi aku tak berani bersuara ....Seolah-olah setiap sel dalam tubuhku meledak pada saat itu juga.'Ugh ... aku nggak tahan lagi.'Aku langsung menekan Rosa ke bawah dan menindihnya. Rosa refleks membuka kedua kakinya."Aku mulai ya."Setelah bergumul sengit ....Usai bermesraan

  • Pelukan Gadis Kereta yang Menggoda   Bab 3

    Tanpa sengaja, aku mengerahkan tenaga terlalu kuat. Sebelum kejantananku sempat menghujamnya, dia sudah tersadar. Dalam kondisi setengah sadar, dia membuka matanya perlahan dan melihat ada seorang pria yang mengangkat kedua kakinya di bahu.Dia terkejut dan berteriak, "Ah! Siapa kamu!"Aku terkejut dan menunduk untuk menutup mulutnya. "Sshh!! Jangan teriak, aku ini Kak Elwin yang tidur di ranjang atasmu."Saat itu, dia baru melepaskan kewaspadaannya dan menatapku dengan ragu. "Kak Elwin ya, kenapa kamu bisa di ranjangku?"Saat ini, dia baru tersadar bahwa aku masih sedang memanggul kedua kakinya. Dia pun buru-buru menurunkan kakinya dengan tersipu. Aku tergagap dan tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya.Di saat aku masih merasa ragu, dia berbalik dan melihat celana dalamnya telah terbuka dan ranjangnya juga telah basah. Kemudian, dia berkata dengan kaget, "Ah? Mimpiku tadi ... benaran ya?"Melihat ekspresinya yang terkejut saat menatapku, aku juga langsung ketakutan. Aku buru-buru

  • Pelukan Gadis Kereta yang Menggoda   Bab 2

    Aku berbaring di tepi ranjang atas, menjulurkan kepala dan berusaha melihat ke bawah. Aksiku itu kebetulan terlihat oleh petugas kereta yang sedang patroli. Dia langsung menegurku, "Kamu sedang apa? Nggak boleh mengintip penumpang lain."Lantaran dimarahi seperti itu, aku buru-buru menarik kembali kepalaku. Suara itu juga menarik perhatian mahasiswi di ranjang bawah. Dia segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.Petugas itu mendekat dan berkata, "Nona, kalau bepergian sendirian harus hati-hati. Kalau ada apa-apa, segera hubungi kami."Saat berbicara, tatapannya sempat melirik ke arahku. Aku berbaring di atas dengan perasaan campur aduk.Namun, mahasiswi itu tampak santai saja. Dia tersenyum dan berkata, "Nggak apa-apa. Kakak yang di atas ini orangnya baik, nggak akan macam-macam."Petugas itu pun tidak berkata apa-apa lagi dan pergi.Mendengar ucapannya, hatiku terasa berdebar. 'Gadis ini sama sekali nggak keberatan aku mengintipnya. Jangan-jangan, dia punya niat sama aku?'Padah

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status